
~Yang membuatmu bahagia bukan orang lain, melainkan dirimu sendiri~
Suara burung Camar terdengar bersahutan, langit berwarna Jingga karena terpaan cahaya matahari di pagi hari menambah elok suasana hari itu. Hari ini adalah hari pertama musim gugur di Ottawa, Kanada.
Rerumputan segar membentang di taman, dan pohon Maple berjajar di sepanjang jalan, warna daunnya yang bervariasi terlihat indah dipandang mata. Sugar Maple yang menghiasi jalanan di Ottawa terlukis luar biasa sempurna di saat musim gugur.
“Tuan Muda, kenapa anda baru pulang,” ungkap Romi terkejut saat ia mendapati pemuda memakai hoodie gelap dengan tudung di kepalanya, masker, dan kacamata terselip di daun telinganya tiba-tiba muncul di pintu belakang rumah dan membekap mulutnya.
“Hust, tidak bisakah kau pelankan suaramu sedikit,” keluh Angga pada Romi. Dia mendorong Romi masuk ke dalam dan langsung menutup pintu belakang dengan cepat, Romi yang mendapat paksaan dari Angga terpaksa menurutinya dan mengurungkan niatnya untuk membuang kantong sampah yang sudah ada di tangannya.
“Apa anda diikuti orang lagi?” Tanya Romi penasaran pada Angga. Karena setiap Tuan Mudanya pulang pasti ada orang yang membuntutinya, tentu saja mereka adalah para penggemar Angga. Sekarang Angga telah menjadi model terkenal di negara ini, sejak kedatangannya di negeri Pecahan Es karirnya melejit dengan pesat, terutama berkat parasnya yang murni keturunan orang Asia.
Mereka telah tinggal di Kanada selama enam belas bulan, dengan ini juga sudah lebih dari dua tahun pernikahannya dengan Keisha.
“Dimana istriku?” Tanya Angga secara langsung sembari menyandarkan dirinya di kursi. Dia begitu merindukan Keisha dan ingin memeluknya karena sudah dua hari Angga tidak bertemu dengan istrinya akibat sibuk bekerja. Agensi milik rekan Nona Anggie yang ada di Kanada, jauh lebih besar daripada yang diikutinya dulu, jadi tidak heran jika jadwalnya dua kali lebih padat dari sebelumnya.
“Nona Keisha sedang melakukan terapi dengan Dokter Gazen,” jawab Romi jujur. Romi kembali bermaksud membuang kantong sampah di tangannya, namun langkahnya langsung terhenti saat Tuan Mudanya bilang akan menyusul istrinya.
“Anda yakin tidak ingin istirahat dulu Tuan Muda, anda baru pulang ke rumah.”
“Mana bisa aku duduk tenang di rumah jika tidak ada istriku. Ya sudah, aku pergi dulu.” Angga menaikkan kembali masker untuk menutupi wajahnya, dan memakai kembali kacamata hitam di daun telinganya. Dia harus tetap menyembunyikan wajahnya jika di luar rumah, jika tidak entah apa yang akan terjadi pada dirinya. Bisa-bisa dia pulang dengan tubuh yang sudah acak-acakan karena ulah para penggemarnya.
Romi mendengus pasrah, dalam hati dia kasihan melihat Tuan Mudanya. Karena harus selalu menyamar setiap keluar dari rumah, memang menjadi orang terkenal itu menyusahkan.
Angga berjalan gontai menuju ke taman, dia sudah hapal betul jika istrinya setiap pagi akan melakukan terapi dengan Dokter Gazen di taman dekat rumahnya. Daun-daun pohon Maple yang bertebaran di jalan menemani langkahnya, dan menjadi mainan tersendiri untuk kaki Angga.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit lamanya, Angga dapat melihat taman yang cukup ramai dengan hiruk pikuk manusia. Mereka sedang asik menikmati musim gugur, bahkan tidak jarang mereka mengambil foto selfie dan bermain-main di air danau kecil di dekat taman tersebut.
Dari kejauhan Angga dapat melihat sosok yang ia kenal, perempuan yang dicintainya. Istrinya sedang duduk di bangku taman dengan pakaian hangat dan syal yang melilit di lehernya, wajahnya putih bersih seperti salju terlihat tenang memandang ke arah danau.
Angga menghampirinya secara perlahan-lahan, tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Ketika ia telah sampai dibelakang Keisha, dia langsung memeluk leher istrinya dan menyandarkan kepalanya di bahu Keisha, yang sekarang telah menjadi tempat ternyamannya bersandar saat lelah.
“Angga,” sapa Keisha ramah. Dia sudah tidak terkejut lagi atas tindakan suaminya, ia telah terbiasa dengan sentuhan Angga.
“Aku merindukanmu sayang.” Angga semakin mengeratkan pelukannya, dan menghirup harum istrinya yang memiliki serbak harum Jasmine, wangi kesukaannya.
Keisha menggenggam tangan Angga yang dingin, kemudian mencium pipi pemuda itu.”Kamu belum tidur,” tanya Keisha saat dia melihat kantung mata berwarna cokelat kehitam-hitaman di bawah guratan kelopak mata Angga, ketika dia mengambil kacamata hitam yang terselip di daun telinganya.
“Kemarilah, tidurlah sebentar.”
Angga melepaskan pelukannya, kemudian berbaring di bangku taman yang panjang itu, dengan kepalanya berada di pangkuan Keisha.
“Ini terasa nyaman,” puji Angga saat membaringkan tubuhnya seraya meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya. Kemudian dia melingkarkan tangannya di perut Keisha, dan membenamkan wajahnya di sana.
__ADS_1
Keisha mengusap pucuk rambut Angga dengan sayang, dan sesekali menyingkirkan poni Angga yang menutupi matanya.
“Nyonya terasa begitu hangat,” batin Angga dan semakin mengeratkan pelukannya seraya memejamkan matanya.
“Tidurlah,” ucap Keisha sembari mencium kening Angga. Dia mengusap lembut pipi Angga yang putih bersih seperti bayi.
Semilir angin di musim gugur terasa sejuk dan dingin, namun ada kalanya juga terasa hangat saat membawa hawa udara kering. Ditambah dengan daun Maple berguguran jatuh ditanah, menjadi suasana yang begitu harmonis untuk sepasang kekasih.
Tidak hanya Angga dan Keisha yang menikmati suasana itu, melainkan juga semua pasangan yang ada di sana. Mereka sedang mengabadikan momen mereka di hari pertama musim gugur, musim yang membawa warna pelangi pada Ottawa.
“Nona Keisha____,” ucapan Dokter Gazen terhenti saat melihat gerak bibir Keisha yang menyuruhnya agar tidak berisik.
Beberapa waktu lalu, Dokter Gazen meninggalkan Keisha untuk membeli sebotol air mineral untuk mereka berdua. Tapi tidak disangka saat dirinya kembali, ia sudah melihat Angga, suami Keisha sedang tertidur pulas di pangkuan perempuan itu. Hubungan pasangan itu memang sudah terlihat harmonis di mata Dokter Gazen sejak mereka pertama kali menemuinya.
“Kalau begitu kita lanjutkan terapinya besok Nona,” pamit Dokter Gazen pada akhirnya. Dia meletakkan sebotol air mineral di taman bangku yang kosong disebelah Keisha, kemudian dia berpamitan untuk pergi.
Keisha hanya mengangguk sebagai jawaban, setelah itu dia kembali mengusap pucuk kepala Angga, dan sesekali menghalangi cahaya yang hendak mengenai wajah suaminya.
Angga tertidur di pangkuan Keisha, cukup lama. Pemuda itu begitu merasa nyaman berada didekat istrinya, sentuhan dari Keisha mampu menghilangkan semua penatnya selama beberapa hari terakhir.
“Nyonya,” panggil Angga halus dengan suara parau khas bangun tidur, dia menggosok matanya dan melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.
“Astaga, Nnyonya ini sudah siang! Dan anda tidak membangunkan saya,” kata Angga terkejut dan merasa bersalah karena telah tidur dipangkuan istrinya hampir selama empat jam.
“Jangan lakukan ini lagi Nyonya, saya tidak mau kondisi kaki anda semakin buruk,” racau Angga dengan wajah bersedih. Keisha langsung mengangkat dagu suaminya agar melihat ke arah wajahnya, perempuan itu tersenyum tulus.
“Aku melakukannya dengan senang hati, jadi jangan bersedih hmm.”
Melihat senyum dari Keisha jantung Angga berdetak lagi, pemuda itu langsung menghamburkan dirinya untuk memeluk istrinya.
“Anda selalu membuat saya jantungan Nyonya.”
Keisha hanya tertawa kecil menanggapi sikap Angga, ia dapat merasakan detak jantung suaminya yang berdegup cukup kencang. “Ayo pulang, aku lapar.” Ucap Keisha pelan. Angga langsung melepaskan pelukannya, dan melihat wajah istrinya yang sedikit pucat. Ada rasa bersalah dalam hatinya.
“Aku telah membuat Nyonya menderita,” batin Angga lirih.
Melihat Angga yang masih setia menatapnya dengan tatapan bersalah, hati Keisha sedikit bersedih. Ia segera menangkup kedua pipi Angga dan memberikan ciuman kecil di bibir semerah Cherry pemuda itu.
“Lihatlah, daun Maple ini lebih terlihat tampan darimu,” ujar Keisha tersenyum kecil sembari mengambil daun Maple yang terjatuh di tudung kepala Angga.
Angga yang mendengar istrinya lebih memuji daun Maple daripada dirinya mencebik lucu, pemuda itu merasa sedikit tersaingi.
“Kalau begitu menikah saja dengan daun Maple itu Nyonya, jika dia lebih tampan dari saya.” Kata Angga terdengar sedikit ketus namun bibirnya sedikit terangkat ke atas.
__ADS_1
“Hmm, boleh juga. Atau Dokter Gazen? Bagaimana menurutmu? Bukankah dia juga pantas menjadi pengantin pria?” Keisha sengaja membuat Angga semakin terlihat cemburu, dengan begitu suaminya ini akan melupakan rasa bersalahnya tadi.
“Saya akan pulang, anda tunggulah Dokter Gazen datang.” Terdengar nada ketus dari bibir Angga, dia paling tidak suka jika mendengar nama pria lain dari mulut istrinya.
Keisha tertawa senang, usahanya telah berhasil. Sekarang wajah suami tercintanya itu jauh terlihat berbinar di matanya.
Angga masih dalam mode ngambek, jadi dia benar-benar berjalan ke arah jalan pulang sendirian. Dia meninggalkan Keisha di bangku taman.
“Angga,” panggil Keisha halus.
“Angga!” Panggilnya sedikit berteriak.
Namun Angga masih saja berjalan di depan tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Pemuda itu sedikit marah.
“Aww…”
Mendengar suara Keisha yang merintih kesakitan Angga langsung berbalik dan menghampiri istrinya.
“Bagaimana bisa anda terjatuh.” Kesal Angga sembari memeriksa tangan dan lutut Keisha. Melihat Angga yang terlihat khawatir Keisha hanya tersenyum senang, suaminya ini memang tidak bisa berlama-lama memarahinya.
“Bisa kau gendong aku? Kakiku kram.” Keisha mengalungkan tangannya di leher Angga dengan sedikit manja. Mendapat perlakuan kekanak-kanakan dari istrinya Angga hanya tertawa kecil, ia bergegas membungkukkan badannya bersiap menggendong Keisha di punggungnya.
“Kemari, suami tampanmu ini akan menggendongmu.” Keisha segera mengalungkan tangannya di leher Angga. Kemudian dia menyandarkan kepalnya di bahu suaminya, rasanya begitu nyaman ada rasa senang dan tenang dalam hatinya.
“Terimakasih untuk semuanya.” Bisik Keisha di telinga Angga. Pemuda itu hanya tersenyum dan mengeratkan gendongannya pada istrinya. Ada rasa bahagia yang tidak dapat ia katakan dalam hatinya.
_____^_^______
Sana sengaja buat part ini lebih panjang dari biasanya agar kalian puas bacanya.. karena hari ini malam minggu 😊😊
Bagi yang tanya Helen dan Kevin,.. Mereka ada partnya sendiri..
Untuk saat ini mari fokus pada Angga dan Kei dulu🤗🤗🤗
Salam sayang As-Sana😁
__ADS_1