My Old Wife

My Old Wife
Kisah yang Terpendam


__ADS_3

~Hanya kekecewaan yang terasa ketika hati sudah dikhianati~


Kevin telah sampai di restoran yang dimaksud oleh Dokter Andhika, dengan segera ia melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung bernuansa Eropa tersebut. Kevin memilih meja yang berdekatan dengan kaca jendela, sehingga ia dapat mengetahui kedatangan Dokter Andhika nanti. Setelah memesan beberapa hidangan khas Perancis, Pastry dan Croissant yang diatasnya dibalut mentega. Kevin juga memesan coffee  hitam dengan campuran susu tanpa gula. 


Dia memang sengaja datang terlebih dahulu sebelum Dokter Andhika, dengan maksud untuk memperbaiki citranya dan berniat meminta maaf. Pria itu telah siap jika nanti Dokter Andhika akan marah atau memukulnya, dia akan menerima semuanya. 


Tidak butuh waktu lama, sekitar dua puluh menit mobil silver milik Dokter Andhika juga telah terparkir di depan restoran, pria itu terlihat memasuki restoran setelah melihat keberadaan Kevin di meja paling sudut dekat kaca jendela luar. Seperti hari-hari biasanya Dokter Andhika terlihat rapi dengan kemeja putih warna favoritnya dan kacamata yang terselip indah di daun telinganya. Penampilannya memang selalu menunjukkan kesan pria dewasa. 


“Terimakasih telah datang kemari,” ujar Dokter Andhika terlebih dahulu dan mendudukkan dirinya di salah satu kursi di depan meja Kevin. 


“Iya,” jawab Kevin singkat sesuai dengan sifatnya yang sedikit dingin. 


Dokter Andhika memesan minuman terlebih dahulu, sebelum membicarakan maksud tujuannya mengundang Kevin. 


“Maksudku mengundangmu kemari untuk____.” Belum sempat Dokter Andhika menyelesaikan kalimatnya, Kevin sudah memotong ucapannya. 


“Maaf,” kata itu lolos dari bibir Kevin, dia sengaja memotong pembicaraan Dokter Andhika, agar pria itu tidak salah paham bahwa dia masih marah padanya. 


Dokter Andhika menarik napas dalam, dia baru menyadari bahwa sikap Kevin yang terlihat tenang, namun matanya menujukkan rasa kegelisahan ternyata adalah untuk meminta maaf padanya. 


Dia meletakkan tangannya di atas meja, kemudian menyangga dagunya dengan kedua tangannya, matanya menatap penuh perhatian pada Kevin mencoba menyimak apa yang akan disampaikan oleh pria dihadapannya ini. 


“Maafkan aku karena telah salah paham padamu selama ini, maaf karena telah menuduhmu membunuh adikku padahal kau tidak melakukannya.” Ucap Kevin cepat tanpa jeda sedetikpun, terdapat rasa gugup dalam setiap kata-katanya. 


“Hanya itu?” Dokter Andhika membenarkan posisinya dia menyandarkan dirinya di sandaran kursi dan melihat Kevin dengan dalam. 


“Tidak ada lagi yang mau kau sampaikan?” Tanya Dokter Andhika sembari menyesap minuman yang sudah dia pesan tadi. 


“Aku sudah tahu semua kebenarannya tentang kematian adikku, istriku membohongiku.” Kata Kevin lirih, terdapat rasa bersalah yang besar di matanya untuk Dokter Andhika saat ini. 


“Apa kau tahu siapa yang mendonorkan sumsung tulang untuk adikmu?” 

__ADS_1


Kevin menggeleng sebagai jawaban bahwa dia tidak mengetahuinya. Pria itu semakin merasa bersalah, karena bahkan dirinya tidak tahu orang berhati malaikat yang menolong nyawa adiknya, jika ia tahu pasti dia sudah membalas budi saat itu juga. 


“Huh…, kau benar-benar bodoh,” kesal Dokter Andhika pada akhirnya. 


“Aku sudah memaafkanmu. Kata maafmu tidak aku perlukan. Itu tidak berarti untukku, karena semua sudah terjadi, dan aku tidak bisa mengulang waktu yang sudah berlalu.”


Dokter Andhika mengambil sesuatu dalam tasnya, sebuah amplop berwarna cokelat yang berisi beberapa dokumen rumah sakit. 


“Bukalah! Dan baca sendiri,” perintah Dokter Andhika pada Kevin seraya menyodorkan amplop itu padanya. 


“Aku sedang tidak memalsukan apa pun, tidak ada gunanya aku membohongimu,” timpal Dokter Andhika lagi. 


Kevin mengambil amplop tersebut, ia membuka selotip yang masih merekat disana, kemudian beberapa hasil rekam medis terpampang secara nyata di hadapannya. Gambar rontgen tulang punggung, bagian perut dalam, dan tulang kepala. 


Melihat semua gambar-gambar medis itu, mata Kevin membola ketika dia mendapati nama orang yang dia kenal di sana, adiknya “Siska” dan sahabatnya “Keisha”.


“Apa maksudnya ini?” Kevin menaruh gambar-gambar tersebut kembali di atas meja, dan menunjuk beberapa bagian tertentu dari gambar itu dengan jari telunjuknya. 


“Ini, lihatlah susunan tulangnya.” Jelas Dokter Andhika menunjuk beberapa ruas tulang punggung yang sedikit berlubang dan sudah terlihat tak utuh. 


“Ini milik adikmu, Siska.” Dokter Andhika menaruh gambar rontgen tadi, dan mengambil gambar rontgen yang lain.


“Lalu, ini milik Nona Keisha.” Dia menunjuk gambar yang hampir sama dengan tadi, tapi sedikit berbeda. 


Kevin semakin mengerutkan alisnya, dia masih bingung dengan apa yang ingin dijelaskan oleh Dokter Andhika. Pria itu masih berusaha mencernanya, namun nihil karena dia bukan seorang dokter maupun perawat, maka dia tidak mengerti apa pun. 


“Nona Keisha mendonorkan sumsung tulang belakangnya untuk adikmu.”


Deg…


Ucapan Dokter Andhika barusan seperti pisau yang langsung menancap di hati Kevin, meninggalkan bekas luka di sana namun tidak terlihat. Mata Kevin terlihat redup, menunjukkan hatinya yang tidak siap menerima kebenaran baru yang cukup menyakitkan. 

__ADS_1


“Apa maksudmu?” 


“Malam itu, tulang sumsung milik Siska telah rusak dan dia butuh pengganti tulang sumsung yang baru. Nona Keisha mendonorkan tulang sumsungnya untuk Siska.”


Kevin langsung bangkit dari duduknya, hati pria itu memanas. Dia mendekat ke arah Dokter Andhika dan menarik kerah kemejanya, matanya merah dan tangannya terkepal. 


“Jangan membohongiku! Bagaimana bisa Keisha mendonorkan sumsum tulangnya untuk Siska! Sementara dirinya masih mengalami cedera!” 


Kevin mengingat kembali kejadian dua belas tahun yang lalu, ketika dokter mengatakan bahwa sahabatnya mengalami luka di bagian organ dalamnya bahkan sampai bagian rahimnya. 


Dokter Andhika pun ikut bangkit dari duduknya, dia menyingkirkan tangan Kevin dari kerah kemejanya dan memberi satu pukulan di pipi pria itu hingga meninggalkan bekas kebiru-biruan di sana. 


Satu layang pukulan yang diterima oleh Kevin membuat semua pengunjung yang lain melihat ke arah mereka dengan tatapan bertanya-tanya, bahkan pelayan restoran pun turut serta menghampiri mereka berdua. Namun, suasana kembali damai saat Dokter Andhika menjelaskan bahwa pukulan itu hanya sebatas tanda persahabatan karena mereka sudah lama tidak bertemu. 


“Duduk,” titah Dokter Andhika tegas kepada Kevin. 


Kevin langsung mendudukkan dirinya di kursi kembali, sambil sesekali mengusap pipinya yang terasa nyeri dan panas. 


“Mau percaya padaku atau tidak, itu terserah padamu. Aku hanya memenuhi tugasku sebagai seorang Dokter, tidak lebih.” 


Dokter Andhika kembali memasukkan dokumen rekaman medis tersebut ke dalam tempatnya, dan menutupnya rapat-rapat lalu menyerahkan kembali benda itu kepada Kevin. 


“Ini memang akan menyakitkan untukmu saat mengetahui semuanya, tapi ini bukan satu-satunya hal yang ingin aku sampaikan padamu.” Jelas Dokter Andhika kembali. 


“Ini sudah lebih dari sepuluh tahun, tentu cedera Nona Keisha akan pulih. Namun, orang yang melakukan operasi bahkan saat tubuhnya dalam kondisi yang sama buruknya. Apa yang akan bisa terjadi?” 


Mata Kevin membola, mendengar penuturan Dokter Andhika. Dia mencoba berpikir apa maksud kata-kata dari pria ini? 


“Aku menduga Nona Keisha sedang mengalami fase kelumpuhan sedikit demi sedikit.” 


Kevin langsung bangkit dari duduknya dan kembali menarik kerah Dokter Andhika, terkandung banyak emosi yang sudah tidak tertahankan lagi di dadanya. 

__ADS_1


“Apa maksudmu? Cepat katakan!” Murka Kevin dengan tatapan tajam pada Dokter Andhika. Amarahnya sudah sampai di ubun-ubun dan siap meluap kapan saja. 


__ADS_2