My Old Wife

My Old Wife
Kesepakatan


__ADS_3

~Kesepakatan tidak akan terjadi jika keduanya tidak menyetujui~


“Nyonya?” Ujar Angga cukup terkejut saat mengetahui bahwa istrinya Keisha telah berada di pintu masuk Kafe dengan pakaian formal yang selalu melekat ditubuhnya saat perempuan itu bekerja di kantor dulu. 


Ekspresi Angga langsung berubah kikuk, dia mencoba menurunkan atensi amarahnya karena Angga tidak ingin istrinya ini melihat sosok lain dalam dirinnya. Angga melepas perlahan kerah kemeja Tuan Wilson dan memasang senyum samar, lamat-lamat bibir Angga berbicara sehalus mungkin pada Tuan Wilson. “Jika Kakek berkata yang bukan-bukan pada istriku, maka dapat ku pastikan Kakek pulang dengan keadaan tidak utuh,” ucap Angga sembari tersenyum manis. 


Ia menepuk bahu pria tua itu dengan lembut sebagai tanda peringatan kalau ancamannya tidak main-main. Baru setelahnya Angga mendudukkan dirinya kembali di kursi. 


Pemuda itu beralih melihat ke arah Keisha, bibirnya sedikit terangkat ke atas menunjukkan senyum terbaiknya. Angga sedang bersikap manis. Romi yang melihatnya menggelengkan kepalanya samar mengagumi akting Angga yang cukup lihai di depan istrinya. 


“Sayang, kenapa kamu kemari? Apa kamu merindukanku?” Kata Angga sedikit nakal sembari mengedipkan matanya sekilas pada Keisha. Tuan Wilson yang melihat perubahan sikap cucunya hanya dapat mengernyitkan alisnya tidak mengerti. Bisa dipastikan bahwa pria tua itu sedang berpikir keras atas perubahan sikap Angga yang tiba-tiba. 


“Romi bisa kau sisihkan sedikit tempat duduk untuk istriku, kasihan jika dia harus berdiri di sana terlalu lama.” Pinta Angga pada Romi ramah, sudah jelas bahwa secara tidak langsung Angga menyuruh Romi berganti tempat duduk dan membiarkan kursinya ditempati Keisha. Romi yang mengerti kode dari Angga pun segera berdiri dan mempersilahkan Keisha untuk duduk di sebelah Angga. 


“Silahkan Nona, saya akan duduk di kursi yang lain.” Romi menarik kursi di sebelah Angga. Pada awalnya Keisha sedikit tidak enak pada Romi, namun saat Angga memegang tangannya lembut seolah-olah mengatakan padanya tidak apa-apa. Keisha pun duduk di kursi tersebut. Dan Angga memasang senyum ramah padanya. 


“Kamu ingin pesan makanan apa sayang? Biar aku memesankannya.” Angga mengambil buku menu dan mencoba memilihkan beberapa makanan yang sesuai untuk istrinya. Tuan Wilson yang sedari tadi melihat tindak tanduk Angga hanya memandangnya datar, pria tua itu sedang mengamati perempuan yang diperlakukan oleh cucunya begitu lembut. Dalam sekali lihat dia pun mengerti bahwa perempuan itu adalah Keisha Prawijaya.


Romi yang sedari tadi memperhatikan tingkah Tuan Mudanya dari seberang hanya dapat meneguk ludahnya pasrah. “Semoga anda kuat melihat sikap Tuan Muda yang seperti ini Tuan Wilson.” Batin Romi dalam hati. Tidak berselang lama Jemy datang menghampiri mereka, dia segera berdiri di samping Tuan Wilson dan menunduk hormat.


“Tuan Wilson, semua yang Tuan perintahkan tadi telah saya lakukan. Para rekan bisnis kita sudah menarik modalnya dari Jewelry Group.” Ujar Jemy melapor pada Tuan Wilson. Namun, Tuan Wilson hanya bersikap tenang tanpa memberikan respon apa pun. Jemy pun merasa bingung dibuatnya, hingga pandangannya jatuh pada perempuan berbalut pakaian formal yang sedari tadi ditatap oleh pria tua itu. 


Mendengar nama Jewelry Group disebut oleh Jemy, Angga langsung menatap tajam ke arah bawahan Kakeknya itu. Jika istrinya sampai memperhatikan perkataannya dan mengetahui semunya, Angga tidak akan memaafkannya. 


“Sayang makanlah,” kata Angga mencoba mengalihkan perhatian. Tapi hal tersebut tidak berhasil karena Keisha lebih dulu melihat ke arah Tuan Wilson. Tatapan mereka bertemu cukup lama. 


“Saya tidak akan menceraikan Angga, jika Kakek menginginkan perusahaan saya. Saya akan memberikannya pada Kakek dengan senang hati.” Tutur Keisha tegas tanpa keraguan sedikitpun.


Angga yang pada awalnya berniat menyuapkan sesendok dessert ke mulut Keisha pun berhenti saat mendengar ucapan istrinya. Ia terkejut karena perempuan itu sudah mengetahui semuanya.  Angga melirik ke arah Romi meminta penjelasan, tapi Romi justru beringsut dan pura-pura tidak tahu seraya meminum minumannya. 

__ADS_1


Beberapa waktu lalu Romi mendapatkan pesan singkat dari Keisha untuk menyampaikan pesan pada suaminya bahwa ia akan ke Indonesia bersama Lianda untuk menyelesaikan masalah perusahaan. 


Mengetahui rencana dari Keisha, Romi segera memberitahukan kebenaran tekait  masalah yang muncul di perusahaanya yang tidak lain disebabkan oleh Kakeknya Angga, Tuan Wilson Andreas. 


Setelah mendengar kabar dari Romi, Keisha segera membatalkan penerbangannya dan berakhir menyusul suaminya di Kafe sesuai dengan alamat yang Romi berikan.  


Tuan Wilson meletakkan tangannya di atas meja, pandangannya terarah pada Keisha dan kemudian beralih melihat cucunya. “Nona Keisha, seharusnya anda tidak menikah dengan cucu saya,” kata Tuan Wilson dingin. Ia kembali menengadahkan tangannya meminta dokumen perceraian baru dari Jemy. 


“Tanda tangani dokumen ini Nona, maka semuanya akan selesai. Anda mendapatkan perusahaan Anda dan saya mendapatkan cucu saya,” imbuh Tuan Wilson lagi. Matanya masih setia memasang pandangan yang membunuh ke arah Keisha. 


Angga yang sudah tidak tahan dengan sikap Kakeknya yang keterlaluan segera mengambil dokumen cerai itu dengan cepat dan merobeknya. 


“Jangan dengarkan omongan pria tua ini, Nyonya. Dia sudah gila!” Ucap Angga sedikit menekan dan penuh emosi. Angga sediikit takut jika nanti istrinya sampai berubah pikiran, kemudian berakhir menandatangani berkas terkutuk itu.


Keisha mengusap tangan Angga yang sudah terkepal kuat mencoba menangkannya. “Jika Kakek menginginkan Jewelry Group, saya akan menyerahkannya. Tapi, jika Kakek menyuruh saya untuk bercerai dengan cucu Kakek. Saya tidak bisa melakukannya.” 


“Nyonya, anda tidak perlu melakukan ini,” sergah Angga berusaha agar Keisha menarik perintahnya pada Fina tadi. 


Namun, Keisha tidak mengindahkan ucapan Angga, dia hanya tersenyum ramah pada suaminya sembari menggenggam tangannya lembut. Entah kenapa melihat sikap dari Keisha, Tuan Wilson tersenyum samar, wajahnya tidak menyeramkan seperti sebelumnya. 


“Aku tidak akan menyuruh cucuku bercerai denganmu, asalkan dia mau ikut pulang bersamaku ke Singapura selama satu tahun.” Tuan Wilson menarik napas sejenak dia menyandarkan punggungnya pada kursi, pikirannya mulai menerawang masa lalu mengingat wajah menantunya Susi. 


“Jika Angga bersedia ikut bersamaku ke Singapura, dan mengurus perusahaanku di sana. Aku tidak akan memaksannya bercerai denganmu,” sambung Tuan Wilson meneruskan ucapannya yang belum selesai tadi. Nada bicara pria itu terdengar rendah menunjukkan kesungguhan dalam setiap kata-katanya.


Angga tampak bingung sesaat, jika kakeknya menyuruhnya pergi ke Singapura untuk mengurus perusahaannya, kenapa tidak mengatakannya lebih dulu di awal-awal pertemuan? Kenapa harus mengancamnya dengan surat perceraian terlebih dahulu? Padahal bila kakeknya berbicara baik-baik padanya, mungkin dia akan dengan senang hati menurutinya. 


“Aku akan menuruti permintaan Kakek, asalkan aku pergi ke Singapura dengan istriku.” 


“Tidak bisa.”

__ADS_1


“Kalau begitu aku tidak mau, Kakek sama saja memisahkan aku dengan istriku perlahan-lahan. Satu tahun bukanlah waktu yang singkat.” Kata Angga tidak terima. 


“Terserah padamu, mau bercerai atau ikut denganku!” Tukas Tuan Wilson mutlak tanpa dapat diganggu gugat.  


Keisha menatap dalam ke manik cokelat kehitam-hitaman milik pria tua itu, dari pandangannya dapat terlihat jelas suatu kepedihan di sana. Namun dengan sikap angkuh dan sombongnya serta wajah datarnya semua tertutupi. Hingga tidak ada seorangpun yang dapat melihatnya. 


“Pergilah Angga, aku akan menunggumu di sini.” Tutur Keisha halus sembari menggenggam tangan suaminya yang cukup dingin. Angga berbalik melihat ke arah Keisha dengan tatapan memohon agar istrinya menarik kata-katanya. Akan tetapi, perempuan yang dicintainya itu hanya tersenyum tulus sembari mendongakkan wajahnya. 


__________


Setelah melakukan pertemuan dengan cucunya sore tadi, terdapat perasaan lega tersendiri  di dada Tuan Wilson. Malam ini ia menginap di hotel bintang lima yang terdapat di Ottawa. Besok pagi pria tua itu berencana akan meninggalkan Kanada bersama cucunya ke Singapura.


Sudah lebih dari lima belas menit Tuan Wilson menatap gelapnya langit malam dari balkon kamar hotelnya. Taburan bintang di langit beserta sinar rembulan yang redup kekuning-kuningan menjadi lukisan yang menyenangkan untuk matanya. Ia duduk dikursi goyang sembari menikmati teh herbal yang telah disiapkan Jemy untuknya.


"Jemy, dalam satu tahun ajarkan semuanya pada cucuku." Tuan Wilson meletakkan cangkir tehnya di meja menunggu Jemy menuangkan secangkir lagi untuknya dari teko.


"Baik Tuan," jawab Jemy disela-sela kegiatannya menyeduh teh untuk Tuannya. Belum sempat Tuan Wilson menyesap tehnya kembali, seteguk darah segar dan kental keluar dari mulutnya. Jemy langsung mengambil sapu tangan bersih dari kantongnya dan membantu membersihkan sisa cairan merah berbau anyir itu dari bibir pria tua itu.


"Tuan anda tidak ingin memberitahu kondisi anda pada Tuan Sebastian," tutur Jemy cukup khawatir melihat kesehatan Tuannya yang semakin hari terus menurun. Tuan Wilson tidak mengomentari apa pun terhadap pertanyaan Jemy. Ia hanya memandang langit malam yang luas. Tatapan datar dan dinginnya masih setia di sana menerawang wajah cucunya Angga yang terlihat cukup bahagia bersama istrinya tadi.


Tuan Wilson memang berniat menjodohkan Angga dengan Ammely Thompson anak dari rekan bisnisnya. Tapi itu bukan tanpa alasan. Sebulan setelah pria tua itu mengetahui bahwa selama ini putranya Sebastian menyembunyikan cucunya darinya. Tuan Wilson merasa marah tapj juga senang mengetahui bahwa dia memiliki seorang cucu.


Ia mulai melakukan penyelidikan dan mencari informasi tentang kehidupan Angga. Kemudian saat ia tahu bahwa cucunya juga sudah menikah dia cukup senang, namun saat Tuan Wilson mengetahui bahwa istri cucunya memiliki riwayat medis yang cukup mengejutkan karena perempuan itu sulit mengandung.


Tuan Wilson berasumsi bahwa pernikahan cucunya tidak bahagia terlebih istrinya itu lebih tua darinya. Jadi Tuan Wilson bersikukuh menyuruh Angga menceraikan Keisha dan mencarikan wanita lain yang lebih muda serta seribu lebih cantik dari Keisha. Namun ternyata dia salah, setelah melihat sikap Angga yang begitu posesif pada Keisha. Sudah terlihat jelas bahwa cucunya benar-benar mencintainya.


"Aku sudah cukup puas dengan keadaanku yang seperti ini. Putraku maupun cucuku tidak perlu mengetahuinya." Tutur Tuan Wilson pelan, Jemy hanya mengangguk mengerti.


Maaf Sana membuat Reader menunggu lagi🙏🙏 Karena MOW akan segera tamat Sana meminta dukungan lebih jika kalian menyukai karya ini.. Seikhlasnya saja.. 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2