
~Hanya Keluarga yang dapat memberimu kasih sayang tanpa meminta imbalan~
Tiga tahun telah berlalu..
Kehidupan Angga dan Keisha berjalan harmonis, kebahagiaan mereka semakin lengkap semenjak kehadiran putra mereka Hasa Wilson Andreas. Nama belakang putranya sengaja menggunakan nama Tuan Wilson dan keluarganya, hal ini dilakukan semata-mata untuk mengenang kakeknya tersebut.
Sekarang Ottawa sedang dalam musim dingin, dan hari ini bertepatan dengan tahun baru. Maka satu hal yang dapat Angga pastikan, rumahnya akan menjadi hotel dalam beberapa hari ke depan karena ulah keluarganya.
“Ayah pulang,” Angga membuka pintu rumahnya. Hasa kecilnya yang sekarang sudah pandai berjalan menyambutnya di depan pintu. “Ayah,” panggilnya dengan suara cadel.
Bibir mungilnya tampak tersenyum, tangannya yang sudah penuh dengan cokelat ia masukkan ke dalam mulutnya. “Okat,” katanya meminta cokelat pada Angga. Putranya ini memang penggemar makanan manis, permen dan cokelat adalah makanan favoritnya.
Angga segera menggendong Hasa setelah membersihkan sisa salju di jaketnya, ia mengambil cokelat koin berbalut kertas berwarna keemasan di saku jasnya. “Hasa jangan bilang-bilang Ibu ya, kalau Ayah memberi cokelat pada Hasa.” Ucap Angga yang seolah dimengerti Hasa hingga bocah kecil itu meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya yang mengerucut.
“Hasa sayang Ayah,” Hasa mencium pipi ayahnya sehingga meninggalkan bekas cokelat yang ia makan di pipi Angga, pria itu hanya tertawa menerima perlakuan menggemaskan putranya.
Keisha yang datang dari ruang tengah tampak membawa alas kaki putranya. Keisha tersenyum saat melihat suaminya sudah pulang kerja. “Selamat datang,” Keisha menyapa Angga lalu mendekat ke arah pria itu, ia membantu Angga membawa tas kerjanya. “Aku pulang sayang,” ucap Angga seraya mencium kening Keisha.
“Ayah Hasa mau cium Ibu,” ujar Hasa sambil menepuk-nepukkan tangannya, Angga hanya tersenyum lalu membiarkan Hasa melakukan apa yang ia inginkan. “Hasa,” suara Keisha terdengar datar.
“Bagaimana kamu bisa makan cokelat lagi? Ibu sudah bilangkan, jangan makan cokelat itu tidak baik untuk gigimu.” Kebiasaan Keisha yang mengomel saat mengetahui putranya makan manis-manisan mulai kambuh.
Angga sudah hapal betul dengan ini, sejak Hasa lahir istrinya bertambah sedikit cerewet. “Asataga Hasa, berapa banyak cokelat yang kamu makan sayang? Lihatlah mulutmu penuh dengan cokelat.” Keisha mengambil Hasa dari tangan Angga lalu menggendongnya dan memeriksa mulut bocah itu.
Tanpa sengaja Keisha baru menyadari kalau di pipi Angga juga ada bekas cokelat. “Lihat, kamu juga meninggalkan bekas cokelat di pipi Ayah.” Keisha menarik napas sejenak mencoba mengontrol emosinya agar tidak marah pada putranya.
Angga hanya pura-pura tidak tahu, “tidak apa sayang, Hasa tidak sengaja melakukannya.” Bujuk Angga yang membuat Keisha sedikit melunak.
“Sekarang ikut Ibu ke kamar mandi sebentar, kita sikat gigi dan cuci mulut.” Keisha menurunkan Hasa sebentar, meletakkan alas kaki putranya dan tas kerja Angga di meja. Lalu menggendong Hasa lagi.
Angga mengedipkan matanya pada Hasa saat putranya itu melihat ke belakang, ia menunjukkan cokelat koin yang tadi sempat Angga ambil dari tangan Hasa saat Keisha mengambil Hasa tadi. “Jangan bilang Ibu ya,” gumam Angga kecil yang dapat ditangkap oleh Hasa hingga membuat anak itu kembali meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.
“Kenapa kamu tertawa hmm?” Tanya Keisha pada Hasa saat putranya itu terkekeh digendongannya, “Tidak Ibu, Hasa sedang lindu Ibu.” Angga memberi acungan jempol pada putranya, karena Hasa memang sangat pandai mengambil hati Keisha. Putranya ini benar-benar mirip dengannya.
Sementara Keisha membawa Hasa ke kamar mandi, Angga menuju ke ruang tamu. Di sana sudah ada keluarga besarnya yang berkumpul. Inilah mengapa di akhir tahun sejak Keisha melahirkan rumahnya menjadi hotel. Ya karena hampir semua keluarganya akan ada di sini untuk mengunjunginya.
“Aku tahu kau pasti yang mengajari cucuku seperti itu,” tutur Heru seraya membaca majalah. Tadi pria paruh baya itu sempat melihat Angga saat menyuruh cucunya diam dan merayu putrinya.
__ADS_1
Angga hanya tersenyum manis, “Maaf Ayah mertua, aku hanya ingin membantu putraku.” Heru menarik napas lalu meletakkan majalahnya. “Tapi jangan berikan banyak cokelat padanya, itu tidak baik untuk kesehatan giginya.” Ucap Heru lagi, ia melihat ke arah menantunya yang sekarang terlihat semakin dewasa.
“Seharusnya itu juga berlaku untuk anda Tuan,” sahut Sebastian . Pria itu juga datang ke rumah putranya di akhir tahun.
“Tadi saya melihat anda memberikan sepuluh permen pada Hasa. Putraku hanya memberinya satu cokelat, itu tidak seberapa.” Sebastian mulai membela Angga. Heru yang mendapat bantahan dari besannya tidak mau kalah.
“Saya juga melihat anda memberikan cokelat pada cucuku tadi,” bela Heru tidak mau kalau hanya dirinya yang disalahkan.
“Itu masih wajar daripada permen yang anda berikan untuk Hasa, Romi bahkan juga melihat anda memberikan benda manis itu kemarin.” Jawab Sebastian datar masih pada posisinya melihat siaran televisi.
Heru tidak dapat berkata apa-apa, ia kalah orang kalau soal mata-mata. Di sisinya hanya ada Kevin sementara di sisi Sebastian ada Jemy, Romi, dan asistennya Willy yang selalu mendampinginya.
“Hahahaha…,” gelak tawa Angga memecah perseteruan antara kedua kakek itu untuk merebutkan cucunya. “Ayah dan Ayah mertua, tidak perlu berdebat. Aku tahu kenapa Ayah tidak tega untuk menolak memberikan Hasa permen atau cokelat.” Angga menghentikan tawanya.
“Itu pasti karena Hasa bersikap imut, dan merengek sembari berkata ‘Kakek belikan aku Okat, Kakek belikan aku pelmen' benar begitu kan?” Angga semakin tertawa puas sambil menirukan suara cadel anaknya.
Heru langsung melempari Angga dengan majalah di tangannya “Dasar bocah ini!” Geram Heru tapi bibirnya sedikit terangkat. “Jemy jangan biarkan putraku libur dua pekan ini, sibukkan dia dengan pekerjaan kantor. Aku akan membawa cucuku jalan-jalan,” perintah Sebastian pada Jemy yang terlihat duduk di tepi jendela bersama Romi.
Angga langsung dibuat kewalahan saat Ayahnya sudah membuat keputusan seperti itu. “Ayah, aku mohon jangan ya. Maafkan putramu ini,” bujuk Angga.
Sebastian masih diam ia kembali menyaksikan acara televisi berpura-pura tidak mendengar Angga. “Sebagai gantinya aku akan memberitahu apa yang Hasa sukai dan tidak sukai, jadi dia bisa lebih menyukai Ayah nanti, “ rayu Angga lagi.
Bekerja dikantor tanpa libur selama dua minggu masih bisa ia atasi, tapi kalau untuk yang satu ini. Ia tidak bisa, benar-benar tidak bisa, istrinya adalah nomor satu untuknya.
Angga bangkit dari duduknya, lalu menaiki anak tangga. “Ayah dan Ayah mertua, lebih baik kalian tidur saja. Aku tidak akan membiarkan istri dan anakku turun lagi ke bawah setelah ini,” putus Angga yang terdengar seperti ancaman untuk Heru dan Sebastian.
Helen dan Hanum yang menyaksikan Heru dan Sebastian tidak bisa membalas perbuatan Angga tertawa pelan, mereka sedang menidurkan Inara di gendongan Helen karena sejak tadi gadis kecil itu merengek meminta keluar padahal cuaca sedang dingin.
“Setelah ini bawa Inara ke kamar,” pinta Helen yang dibalasi anggukan dari Hanum. “Iya Ibu, nanti jika Kak Kevin mencariku tolong katakan kalau aku sedang menidurkan Inara.” Hanum pun tersenyum dan membiarkan Helen membawa cucunya ke kamar.
Sementara itu Kevin dan Willy sedang berada di halaman belakang dekat kolam, mereka tidak menghiraukan keributan di dalam karena keduanya sedang disibukkan dengan permainan catur.
Kevin sudah kalah tiga kali dari Willy, hingga membuatnya merasa penasaran bagaimana mengalahkan asisten Tuan Sebastian itu.
“Bagaimana bisa kudamu ada di sini?” Tanya Kevin bingung, ia benar-benar tertipu dengan langkah Willy tadi yang menyerahkan menterinya.
“Maaf Tuan Kevin, sepertinya kita harus mengakhiri ini.” Kata Willy sembari mengambil raja yang sudah terkunci pergerakannya dengan pion dan kudanya.
__ADS_1
“Sekali lagi. Kali ini aku pasti menang.” Kevin tetap bersikeras menantang Willy, pria itu hanya mendengus pelan menghadapi sikap keras kepala Kevin. Permainan pun kembali di mulai dari awal, sudah dipastikan mungkin mereka akan bermain sampai menjelang tengah malam.
Untuk Liliyana dan putrinya memang tidak datang ke rumah adiknya tahun ini, biasanya Sebastian ayah angkatnya akan selalu mengajaknya. Tapi karena sekarang Melisa sedang sibuk dalam persiapan ujian kelulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) jadi ia dengan terpaksa menolak tawaran ayah angkatnya tersebut.
Angga baru saja tiba di lantai dua, ia segera membuka pintu kamar. Ternyata rencananya agar menahan Hasa untuk tidak turun ke lantai bawah akan lebih mudah, karena bocah kecil itu kini sudah terbalut piyama tidur, meringkuk di pelukan Keisha.
“Apa dia tertidur sayang?” Tanya Angga sepelan mungkin, Keisha mengangguk. Perempuan itu menaikkan selimut ke atas tubuh Hasa menutupi dadanya.
“Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu, mandilah terlebih dahulu.” Tutur Keisha halus ia secara perlahan-lahan bangkit dari tidurnya, tapi tidak bisa karena Hasa mencegahnya. “Ibu, mau peluk.” Racau Hasa dalam tidurnya, Angga hanya terkekeh kecil saat melihat tingkah putranya.
“Tidak apa, aku bisa sendiri,” ucap Angga, ia tahu bahwa istrinya bangun ingin membantunya. Keisha kembali membaringkan tubunnya, mengusap kepala putranya pelan. “Setelah menidurkan Hasa, aku akan menemanimu makan,” kata Keisha.
Angga hanya mengangguk, ia melepas sepatu dan kaos kakinya. Kemudian menaruh jaket dan jasnya di tempat kotor. “Sayang,” panggil Angga. “Hmm,” jawab Keisha halus agar tidak membangunkan Hasa. “Aku masih tidak menyangka kalau Hasa hadir ditengah-tengah kita,” ujar Angga melepas dasi dan kemejanya. Lalu mengambil pakaian bersih di almari.
“Kamu harus percaya Angga, karena malaikat kecil ini benar-benar ada.” Balas Keisha mengusap pipi gembung Hasa. Angga mendekat ke arah Keisha dan Hasa lalu mencium pipi kedua orang yang dicintainya.
“Ya, memang aku percaya. Karena itulah aku sangat mencintai kalian berdua.“ Ucap Angga, pria itu tidak jadi ke kamar mandi, ia hanya berganti pakaian bersih lalu ikut merebahkan tubuhnya di kasur mendekap istri dan anaknya.
“Kamu tidak mandi?” Tanya Keisha. Angga hanya membenarkan selimut di tubuh Hasa, “Udara dingin, aku tidak ingin mandi.” Jawab Angga yang dibalasi anggukan dari Keisha. “Tidak mau makan?” Tawar Keisha lagi.
Angga tertawa pelan istrinya ini benar-benar peduli padanya. “Aku sudah kenyang hanya dengan melihatmu Nyonya,” jawab Angga nakal. Tangannya mulai bermain di leher istrinya.
“Aw sakit sayang,” jerit Angga saat Keisha menarik daun telinganya. “Jangan panggil aku dengan sebutan itu saat bersama Hasa,” ingat Keisha pada suaminya memperingati kesepakatan yang telah mereka buat ketika Hasa mulai bisa berbicara.
“Iya, iya Ibu. Ayah tidak akan nakal lagi.” Kata Angga seraya mendekatkan dirinya ke arah Keisha, memberi kecupan kecil di pucuk kepala perempuan itu dan juga Hasa kecilnya.
“Mari tidur ini sudah malam,” pinta Angga. Ia mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur. Angga memeluk Hasa dan Keisha seraya memejamkan matanya. Pria itu tersenyum bahagia begitu pun dengan Keisha.
“Aku mencintaimu Nyonya, sampai kapanpun itu. Aku akan tetap mencintaimu dan putra kita, Hasa.” Batin Angga.
TAMAT
Terimakasih atas segala dukungan kalian ya..
PENTING : SEQUEL MY OLD WIFE sudah Terbit judul HARMONI CINTA MELISA ❤️❤️
Salam Sayang
__ADS_1
~As-Sana~