
^^^~Kenangan buruk atau baik akan selalu menjadi bagian hidup manusia yang tak bisa dipisahkan~^^^
As-Sana
***
Seorang anak laki-laki berusia kurang lebih lima belas tahun berjalan mengendap-endap, menyusup keluar dari rumah makan lewat pintu belakang. Anak lelaki itu memakai rompi cokelat berbahan kain katun. Di tangannya membawa satu kantong roti gandum panggang rasa mentega. Dia memberikannya pada gadis yang duduk bersandar pada dinding gang kecil ditemani seekor anak anjing terlantar.
[Aku membawa roti gandum, kamu bisa memakannya bersama Pluto]
Manik cokelat kehitaman gadis berpakaian renda victoria itu menatap penuh tanda tanya.
"Eliot!" suara Ibu Maria -- ibu asuh panti asuhan sudah memanggilnya.
[Ella, aku harus pergi. Ibu kepala panti sudah memanggilku. Besok kita berjumpa lagi.]
Eliot mengembangkan senyum berpamitan, anak tunawicara itu memberikan bahasa isyarat lalu segera masuk ke dalam rumah makan yang biasanya memberikan donasi pada panti yang ia tinggali.
Gadis yang mempunyai tatapan kosong tanpa nyawa itu cuma mampu memandang punggung bocah berompi yang mulai menjauh. Ella mengambil roti gandum itu, ia memakannya tanpa mempedulikan tangannya yang kotor becampur debu. Sesekali Ella akan mengelus bulu Pluto anjing terlantar yang menemaninya setiap hari.
"Pluto makanlah," ucapnya.
Kuku Ella yang panjang tanpa dipotong mengambil secuil demi secuil roti panas itu lalu menyuapkannya pada anjing berbulu panjang yang agak gimbal. Mereka memakan habis roti gandum pemberian Eliot.
Setelah cukup puas megenyangkan perutnya, Pluto pergi ke rumah kotak kardus di belakang bangunan rumah makan tersebut. Sementara, Ella berjalan kecil menyusuri jalan menuju rumah lantai dua yang cukup usang. Dari kejauhan gadis manis yang tak terawat itu mulai mendengar suara teriakan dan benda di banting tanda pertengkaran.
"Kenapa aku bisa menikah denganmu? Pria pengangguran yang hanya bisa makan dan berfoya-foya menghabiskan uang yang aku kumpulkan!"
"Kau pikir aku juga senang menikahi wanita gila harta sepertimu! Yang dipikirannya cuma ada karir, karir, dan karir!"
Gelas dan piring sudah pecah berserakan di lantai. Ada bercak darah menetes bersama benda beling tersebut. Itu adalah darah dari kaki Ella yang tanpa sakit menginjak serpihan kaca demi berjalan menuju tangga lantai atas.
"Ella," suara perempuan yang melahirkan anak itu melembut menyentuh pundak putrinya. "Kenapa kamu menginjaknya sayang? Sini biar Ibu lihat." Anak yang dipanggil hanya menatap kosong tak menjawab.
__ADS_1
"Lihat! Anakmu itu sudah cacat mental! Dia stress karena punya Ibu sepertimu!"
"Alex! Tidak bisakah kau diam? Ella bisa ketakutan. Kamu tidak apa 'kan sayang?" tangan Sahira memeriksa telapak kaki Ella melihat serpihan kaca yang menancap di sana. Namun, anak itu tak menangis sedikitpun. Sejak usia lima tahun tiba-tiba dokter memvonis Ella mulai menunjukkan penyakit asosial.
Alex yang sudah geram dengan tindakan Sahira lantas pergi meninggalkan rumah membawa kunci motornya yang tergeletak di atas nakas.
"Hidupi saja anakmu itu!"
"Alex! Kau mau ke mana!"
Lelaki bermata cokelat terang itu pergi tak mengindahkan panggilan sang istri. Sahira mencoba menyusul suaminya. Namun, percuma watak Alex yang seperti itu tak akan mudah dicegah. Sehingga, pada akhirnya pria yang telah lama hidup dengannya pergi begitu saja meninggalkan tanggung jawabnya pada dia. Sahira cuma meratapi nasibnya sebagai ibu tunggal, mulai malam itu ia harus berjuang untuk menghidupi dirinya dan anaknya.
***
"Hah...hah..." napas Ella memburu. Ia memimpikan masa buruk itu lagi. Dengan cepat Ella meraih gelas di meja samping ranjang tempat tidur. Ia mengacak-acak laci mencari beberapa pil kapsul putih yang langsung ia minum dalam sekali teguk.
Pikirannya cemas, keringat mengucur deras di dahi sampai di leher. Jam di dinding menunjukkan pukul 01.25 AM, waktu dini hari. Perlahan kaki Ella turun dari ranjang menuju kamar mandi, membasuh mukanya dengan air dingin.
"Ini semua karena Angga Wilson. Dia membuatku seperti ini," racaunya mulai menjambak rambutnya kasar.
Selain memori mengenai Sahira, ada lagi satu orang yang ada dalam mimpinya. Dia seorang anak panti asuhan, memakai rompi kain katun yang cukup lusuh. "Apa hubunganku dengan anak itu? Dia selalu ada dalam setiap mimpiku." Netra Ella mengembun penuh air mata, mengingat tentang bocah laki-laki di mimpinya. Seperti ada hal yang hilang. Rasa penyesalan dan sakit yang mendalam.
***
Saat pagi menjelang seperti biasa Eliot akan membersihkan rumahnya. Memberi makan anak-anak Pluto, anjing betina yang meninggal lima tahun lalu. Paman Gio akan mengiriminya susu botol segar hasil perasan untuk pembuatan yogurt serta roti bakar sebagai menu sarapannya.
'Hari ini aku akan bekerja lembur, kalian harus makan lebih banyak,' tutur Eliot dalam hati mengusap setiap kepala anak anjing yang sekarang bisa berjalan lagi setelah sembuh dari sakit.
Seusai melakukan ritual pagi, Eliot bergegas berangkat ke restoran Paman Gio. Di jalan tanpa sengaja ia bertemu temannya Angga. Lelaki tampan berambut hitam legam itu melambai padanya menyuruh Eliot mampir sebentar di toko bunga perempuan anggun yang saat ini menggendong anak kecil berusia tiga tahun.
"Selamat pagi Eliot. Ya Tuhan! Aku sampai merasa tidak enak padamu. Kemarin Eli bilang kau datang ke sini untuk mengembalikan uangku. Sepertinya aku membebanimu karena uang itu." Wajah Angga memelas meminta maaf. Kebetulan tadi pagi Romi tidak menjemputnya. Jadi hari ini ia mengantar Keisha ke toko bunga dulu sebelum pergi ke kantor.
Eliot buru-buru menggelengkan kepala, menolak keras ucapan Angga. Ia mengambil pena lalu merobek secarik kertas note dari sakunya.
__ADS_1
[Tuan Angga, tolong maafkan saya. Anda tidak bersalah. Saya saja yang tidak enak menerima kebaikan Tuan.]
Angga yang membaca surat itu mengerutkan dahi. Kemudian menatap intens pria berseragam merah kuning di depannya. Melihat ekspresi Angga, Eliot takut lelaki itu akan marah.
"Ayah jangan menakutinya," sahut Keisha tiba-tiba.
Angga langsung tertawa, menepuk-nepuk bahu Eliot. "Teman, apa-apaan ini? Kau masih memanggilku Tuan? Tidak ada panggilan 'Tuan' dalam pertemanan, oke? Panggil saja aku Angga, itu tampak lebih enak di dengar."
Mimik muka Eliot kembali normal, ia menarik napas lega. Rasa cemasnya kalau Angga akan marah hilang sudah.
"Oh ya, ini istriku Keisha dan ini putraku Hasa." Keisha yang diperkenalkan oleh suaminya segera membungkuk hormat, Eliot pun sama membalas ucapan perkenalannya.
"Sayang, dia Eliot temanku. Dia akan sering ke toko bunga kita untuk mengantar makanan. Dia bekerja di restoran Paman Gio." Eliot segera memberikan kartu restorannya pada Keisha. "Hasa, berikan itu pada Ibu." Bukan diterima oleh Keisha, si kecil justru yang mengambilnya sebagai mainan. Eliot cuma tersenyum memberikan kartu yang baru.
"Kalau begitu aku berangkat bekerja dulu. Romi pasti akan marah-marah kalau aku terlambat," ujar Angga mencium pipi Hasa dan Keisha bergantian. "Hati-hati di jalan." Keisha melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Sementara, Hasa sibuk dengan mainan baru yang ia dapatkan.
[Kalau begitu, saya juga izin pamit Nona Keisha.]
Eliot membungkuk memberikan catatan lagi pada Keisha, perempuan itu tersenyum ramah mengangguk mengiyakan.
"Sayang, kau tidak boleh memakannya. Itu bukan permen," nasihat Keisha mencubit pipi gembul Hasa yang hendak memasukkan semua kartu merah yang diberikan Eliot ke mulutnya. Hasa yang dinasihati hanya tertawa cekikikan mengalungkan tangannya di leher sang ibu.
.
.
.
.
.
~Bersambung
__ADS_1
Harap sabar alur maju mundur, jangan berprasangka buruk dulu pada semua pemeran dalam cerita Sana. Karena mereka punya kisah masing-masing.