
~Membuat sebuah keputusan tidak semudah membalikkan telapak tangan~
Semua pasang mata menatap pemuda itu, teriakannya yang keras tadi berhasil memekakkan telinga semua penghuni ruangan tersebut.
"Tuan, tolong pelankan suaranya sedikit. Pasien yang lain jadi ikut terganggu," tegur seorang suster yang berada di ruang sebelah dan sedang memeriksa seorang kakek tua.
"Ah, saya mohon maaf. Saya benar-benar tidak bermaksud mengganggu ketenangan kalian. Kakek tolong maafkan saya," tutur Angga seraya membungkuk.
Ruang rawat itu memang bukan ruang rawat VIP, jadi ada beberapa pasien lain yang tinggal di sana, dan ruangan mereka hanya dipisahkan dengan kain pembatas berwarna hijau. Namun, meskipun demikian ruangan itu memiliki luas yang cukup lebar sehingga dapat menampung setidaknya dua puluh orang.
"Pemuda ini sungguh tidak punya sopan santun," batin Heru dalam hati.
Kini Angga mulai berjalan mendekat ke arah ranjang Keisha, dia berdiri tepat disamping ranjang tersebut. Dan dengan tiba-tiba pemuda itu membungkuk di hadapan William dan Heru yang memang sedang duduk di kursi yang disediakan tepat di sisi ranjang pasien.
"Maaf Tuan William, saya tidak bisa membiarkan Anda melamar Nyonya Keisha. Karena saya sudah melamar beliau duluan. Dan untuk Ayah mertua, tolong jangan terima lamaran Tuan William, karena saya sangat menyukai putri Anda." Ucap Angga tegas dalam posisi yang masih membungkuk.
William dan Heru hanya diam tanpa berkata apa pun, Keisha yang berada tepat di samping pemuda itu pun juga hanya dapat diam menunggu reaksi Ayahnya.
"Pemuda ini begitu serius dengan putriku," batin Angga dalam hati.
"Apa aku terlambat? Seharusnya aku lebih cepat melamar Nona Keisha untuk putraku," pikir William dalam benaknya.
Heru mulai membuka suara, dia berdehem sebentar untuk menetralkan suaranya agar tidak terdengar terkejut.
"Apa kau benar-benar serius dengan apa yang kamu ucapkan? Apa kamu dengan sungguh-sungguh menyukai putriku?" Tanya Heru pada Angga.
Kini Angga menegakkan tubuhnya, dia menatap mata pria paruh baya dihadapannya ini dengan lekat-lekat. Hingga menunjukkan sorot matanya yang penuh dengan kesungguhan.
"Saya sungguh-sungguh dengan ucapan saya Tuan, saya benar-benar menyukai Nyonya Keisha," jawab Angga tegas.
Kali ini Angga tidak menyebut Heru dengan sebutan Ayah mertua, dia lebih memilih memanggilnya dengan sebutan "Tuan" untuk menunjukkan keseriusan dalam perkataannya pada orang dihadapanya ini.
"Bukankah kau bilang ingin menikahi putriku karena amanah dari ibumu sebelum meninggal? Lalu apa jaminannya kalau kau tidak akan meninggalkan putriku suatu hari nanti? Karena keputusanmu menikahi putriku hanya sebatas perintah dari ibumu," tutur Heru mencoba menggoyahkan keteguhan hati Angga.
__ADS_1
Namun pemuda itu justru tidak merasa gentar dengan gertakan dari Heru, dia mengangkat telapak tangannya di atas kepala keisha dan mulai mengucapkan suatu sumpah.
"Saya berani bersumpah Tuan, demi almarhum Ibu saya, bahwa saya serius dengan ucapan saya. Saya tidak akan meninggalkan putri Tuan di kemudian hari, dan saya juga tidak akan menghianatinya. Apabila saya nantinya tidak menepati janji saya, saya siap Tuhan mengambil nyawa saya pada saat itu juga," ucapnya penuh keyakinan.
Mendengar sumpah dan janji yang diambil Angga untuk Keisha, membuat semua orang yang menyaksikan hal itu sedikit haru mendengarnya. Tidak terlebih Heru, hati pria itu yang pada awalnya keras seperti batu sekarang sudah mulai sedikit luluh.
Hanum, Kevin, dan Helen yang menyaksikan apa yang baru saja dilakukan oleh pemuda itu juga tak kuasa untuk tidak tersentuh. Akhirnya selama penantian mereka yang panjang, datang seseorang yang benar-benar menyayangi Keisha. Setidaknya mereka berharap kebahagiaan untuk Keisha, sebagai rasa penyesalan karena telah melukai perempuan itu di masa lalu.
Benar, 12 tahun yang lalu saat keluarga Prawijaya masih dalam masa kegelapan, dimana mereka telah ditimpa duka yang sangat mendalam. Enam tahun sebelumnya Heru telah kehilangan orang yang paling mereka kasihi yaitu Mariana istri pertamanya dan Ibu kandung dari Keisha.
Tepat pada saat Keisha berusia 22 tahun, Heru menikah dengan Hanum Ibu dari Helen. Pada awalnya mereka adalah keluarga yang tidak terpandang, Heru hanya seorang pegawai kantor biasa sementara Hanum merupakan pegawai bank swasta.
Pada saat itu Keisha dan Helen duduk di bangku kuliah yang sama, hanya saja Keisha berada di tahun terakhir sementara Helen di tahun kedua. Helen lebih muda dua tahun daripada Keisha. Mereka menjadi saudara sambung setelah orang tua mereka resmi menikah.
Awal mula rumah tangga mereka cukup harmonis, Heru yang selalu menyayangi kedua putrinya dan juga istri keduanya. Namun, semuanya berubah saat suatu insiden terjadi. Hari itu dimulai saat Kevin mulai masuk ke dalam keluarga mereka, yang menimbulkan sedikit keributan antara dia dan istrinya.
"Ayah hari ini aku akan pulang telat," kata Keisha kepada Heru yang masih sibuk membaca koran di pagi hari.
"Kau akan bekerja part time lagi?" Tanya Heru pada putrinya.
"Di akhir pekan, kafe tempatku bekerja didatangi banyak pelanggan. Jadi aku akan lembur hari ini. Ayah tidak perlu menungguku pulang," ucapnya dengan ramah pada Heru.
Heru menarik napas dalam, dia meletakkan koran yang dia baca dimeja. Matanya kembali memandang manik hitam putrinya yang sangat mirip dengan almarhum istrinya.
"Jangan pulang lewat tengah malam, atau Ayah tidak akan mengijinkanmu bekerja lagi," pungkas pria paruh baya itu.
"Baik Ayah, aku tidak akan mengecewakanmu," ujar Keisha dengan seulas senyum di bibirnya.
Pada akhirnya perempuan itu berangkat bekerja. Namun sebelum itu, dia selalu mampir ke toko bunga milik Nyonya Susi, seorang perempuan yang membesarkan kedua anaknya sendirian tanpa bantuan dari suaminya. Keisha selalu menyempatkan datang ke sana untuk sekedar bertegur sapa dan membeli setangkai mawar putih yang merupakan bunga kesukaan Ibunya.
"Selamat pagi Nyonya," sapanya dengan ramah.
"Pagi Nona Keisha, apa Nona akan memesan setangkai mawar putih lagi?" Tanya Nyonya Susi dengan ramah.
__ADS_1
"Iya, tapi kali ini saya ingin memesan sepuluh tangkai mawar putih Nyonya." Jawab Keisha ramah dengan senyum yang masih menggantung di bibirnya.
"Tentu saja Nona. Bunga saya selalu ada untuk Nona."
Perempuan paruh baya itu segera menyiapkan pesanan dari pelanggannya. Sembari menunggu Keisha memeriksa lembaran uang dalam dompetnya, takutnya dia tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar bunga tadi. Meskipun, pada nyatanya dia selalu membayar lebih untuk harga bunga itu. Sebagai bentuk bantuan tidak langsung pada perempuan itu.
Ketika Nyonya Susi telah selesai membungkus bunga yang dipesan Keisha. Seorang bocah lelaki yang berusia 12 tahun dengan seragam merah putihnya memasuki tokonya dengan kondisi yang berantakan, bocah itu terus menangis tanpa henti dan mulai mengadu pada Ibunya.
"Ibu, tadi uangku dirampas oleh kakak-kakak yang memakai seragam SMP. Dia mengambil semua uang yang Ibu berikan padaku, padahal aku ingin menabungnya untuk membeli kado ulang tahun Ibu." Keluh bocah itu dengan nada terisak.
"Angga, jangan menangis sayang. Lihat, wajahmu jadi jelek kalau menangis. Kemari, biar Ibu bersihkan ingus di hidungmu," bujuk Nyonya Susi lembut pada putra semata wayangnya.
Bocah lelaki yang bernama Angga itu menghampiri Ibunya, dia membiarkan perempuan paruh baya itu menghapus air matanya dan ingus yang menempel di hidungnya.
"Jangan menangis, lelaki tidak boleh terlihat lemah. Karena semakin kamu terlihat lemah, mereka akan semakin menindasmu." Ucap Keisha pada bocah itu.
Keisha kemudian memberikan setangkai bunga mawar putih miliknya untuk Angga, dia menepuk pucuk kepala bocah itu dengan lembut.
"Bu siapa perempuan ini?" Tanya Angga polos pada Nyonya Susi.
"Aku pemilik toko bunga ini, panggil aku Nyonya Keisha," balas Keisha masih dengan senyum dibibirnya.
"Perempuan ini berbohong! Ini adalah toko Ibuku, bukan miliknya. Kenapa dia mengaku-ngaku?" Bantah Angga tidak terima.
Nyonya Susi hanya tersenyum ramah, memang benar apa yang dikatakan oleh Keisha bahwa toko bunga itu adalah miliknya. Karena itu merupakan toko peninggalan almarhum ibunya. Namun, karena jadwalnya yang padat dia memberikan toko itu untuk Nyonya Susi agar dirawat dan dikelolanya dengan baik.
___________________________
Hallo Reader!!!!.... :D
Untuk beberapa part selanjutnya akan menceritakan masa lalu Keisha...jadi mohon bersabar yaa....
Seperti biasa.. Author minta dukungannya dengan Like + Komen + Vote (sebanyak-banyaknya) + Rate bintang lima....
__ADS_1
Salam Sayang
~As-Sana~