My Old Wife

My Old Wife
Kelopak Mawar Merah


__ADS_3

~Seperti mawar yang berwarna merah darah, seperti itulah ilustrasi cinta di mata dunia~


Angga baru saja melajukan mobilnya ke arah halaman rumah mereka, Pak Anton satpam baru penjaga rumahnya segera membukakan pintu gerbang untuknya. Romi juga sudah menyambutnya di teras bersama dengan si putih, kelinci kesayangannya. Akhir-akhir ini untuk menemani waktunya pria itu senang memelihara hewan peliharaan. 


Ketika Angga bersama dengan Keisha terlihat keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya menghampiri Romi, pria itu memasang senyum hangat dan menyambut majikannya. 


“Selamat datang Tuan Muda dan Nona Keisha,” sapa Romi ramah. 


“Apa kamu sudah memberi makan si putih, Romi?” Tanya Keisha lembut sembari mengusap kepala hewan berbulu putih bersih itu. 


“Sudah Nona, ia bahkan menghabiskan lima buah wortel hari ini,” jawab Romi sembari memasukkan si putih ke dalam keranjang. 


“Biar aku yang bermain dengannya sekarang, aku merindukannya.” Keisha mengambil keranjang kelinci itu dari tangan Romi dan membawanya masuk ke dalam rumah. Sementara Angga matanya sedari tadi menatap tidak suka pada Romi. 


“Romi, bisakah kamu menjual kelincimu besok?”


Romi yang mendengar permintaan Angga segera menggeleng cepat, dia tidak mungkin menjual si putih karena dia sudah terlanjur menyayanginya. 


“Memangnya kenapa Tuan Muda?” 


“Karena dia sudah mendapatkan perhatian lebih dari istriku, aku tidak menyukainya,” jawab Angga datar tidak ada senyum dibibirnya. 


“Apa Tuan Muda cemburu pada kelinci?” Batin Romi. 


“Anda tidak perlu khawatir Tuan Muda, besok saya akan menjauhkan si putih dari Nona Keisha.”


Angga hanya mengangguk kecil dan melanjutkan langkahnya menuju ke rumah, tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu, jadi Angga kembali membalikkan badan menghadap Romi. 


“Romi bisa kamu membelikanku kacamata?” Ujar Angga sembari mengingat wajah Dokter Andhika di restoran tadi, pria yang berani mengajak istrinya untuk berkencan. 

__ADS_1


“Kacamata?” Romi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dalam pikirannya pria itu bertanya-tanya untuk apa Angga harus membeli kacamata jika dirinya tidak menderita rabun jauh ataupun dekat. 


“Iya, kacamata. Kacamata yang biasa dipakai oleh orang pintar.” Angga kembali mengingat sosok Dokter Andhika yang terlihat dewasa dan terkesan pintar di matanya, dia menduga bahwa Keisha mungkin menyukai tipe pria seperti itu. 


“Orang pintar?” Romi semakin bingung dengan permintaan Angga, Tuan Mudanya kini semakin aneh. Terkadang dia juga bingung menghadapi sikap Angga yang berbeda dari saat dia mengenalnya, pemuda itu dulu terlihat baik-baik saja, tapi sekarang berbeda. Terkadang dia bertingkah konyol , terkadang juga tetlihat manis seperti anak kecil, lalu terlihat polos dan bodoh, mungkin itu ia lakukan untuk mendapatkan perhatian istrinya, Nona Keisha. 


“Jangan banyak tanya, carikan saja.” Pungkas Angga sedikit mulai kesal pada Romi. Saat dia hendak membalikkan badan lagi, langkahnya terhenti karena dia mengingat satu hal lagi yang kurang.


“Dan juga belikan aku sebuket bunga mawar merah yang segar dan berbau harum. Kalau bisa yang baru saja dipetik,” imbuh Angga lagi. Dia mengingat bagaimana tadi Dokter Andhika berani menyentuh tangan istrinya untuk memberikannya satu tangkai bunga mawar yang sudah cukup layu. 


“Baik Tuan Muda, besok akan saya carikan.” Jawab Romi sembari mengangguk paham. 


Angga tersenyum tipis dan kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda yaitu masuk ke dalam rumah. Pemuda itu, melangkahkan kakinya langsung menuju ke kamar, dia dapat melihat Keisha dari atas balkon. Istrinya itu sedang berada di taman belakang bersama dengan si putih. Melihat pemandangan yang indah itu, Angga tersenyum lebar matanya tidak henti-henti memperhatikan Keisha yang sedang asik berbicara dengan si putih. 


“Apa aku seharusnya tidak menjauhkan Nyonya dari si putih? Dia terlihat sedikit bahagia bersamanya. Mungkin nanti aku harus membatalkan permintaanku ini pada Romi.” Batin Angga. 


Keisha melihat ke arah suara itu berasal, dia tersenyum sesaat dan menggeleng kecil, tangannya masih asik memberikan wortel pada si putih yang bergeliat manja di pangkuannya. 


“Tunggu di sana! aku akan turun, dan membawakanmu jaket.” 


Seperti apa yang dikatakan pemuda itu barusan, beberapa menit kemudian dia turun ke lantai bawah dan menuju ke taman belakang. Angga berjalan hati-hati menghampiri Keisha dari belakang tanpa membuat suara sedikitpun, dia tidak ingin mengganggu kegiatan Keisha yang sedang asik bermain bersama si putih. 


Saat dia telah sampai di belakang Keisha, Angga langsung menanggalkan jaket di bahu perempuan itu dan memeluk lehernya dari belakang. 


“Apa aku mengagetkanmu?” Tanya Angga polos seraya menyenderkan dagunya di bahu Keisha. 


“Tidak, aku sudah menduga kamu akan datang.” Jawab Keisha pelan. 


“Ohhh.., jadi sekarang istriku ini sudah bisa mengetahui kapan suaminya akan datang atau tidak?” Angga semakin mengeratkan pelukannya sehingga kepalanya menempel di pipi Keisha. 

__ADS_1


Keisha hanya tertawa kecil mendengar penuturan Angga, perempuan itu mengusap kepala Angga pelan. 


“Ya sudah, ayo masuk ke dalam. Nanti kamu masuk angin. Aku akan memberikan si putih pada Romi terlebih dahulu.” 


Angga melepaskan pelukannya dan membiarkan Keisha untuk menemui Romi terlebih dahulu. Pemuda itu duduk di kursi taman itu, dan memandang ke atas melihat bintang yang bertaburan di hamparan langit yang gelap gulita. 


“Aku menikmati ini, hidupku sekarang terasa lengkap bersama Nyonya, meskipun nanti kami tidak bisa memiliki anak,” Batin Angga. 


Suara dering ponsel tiba-tiba menganggu kegiatan Angga memandang bintang, kini penglihatannya beralih pada ponsel milik Keisha yang tertinggal di sana. Layar ponsel itu menyala dengan gambar kotak pesan berwarna kuning, karena tidak mau melanggar privasi Keisha jadi pemuda itu hanya mengambil ponsel itu dan berniat memasukkannya ke dalam kantong saku celananya. Tapi tanpa sengaja jari telunjuknya menyentuh tanda baca di layar itu, sehingga pesan itu terbuka dengan sendirinya. 


Kakak bisakah kita bertemu di kafe besok, ada yang ingin aku bicarakan padamu, ini tentang Kevin.


Helen. 


Angga mengerutkan alisnya, saat tanpa sengaja dia membaca isi pesan itu. Nama “Kevin” kembali terngiang di kepalanya, dia kembali mengingat saat pria itu terlihat marah-marah di depan restoran bahkan sampai membanting pintu mobil sehingga mengeluarkan suara yang keras.


“Kevin? Kenapa Adik Ipar harus membicarakan suaminya pada istriku?” Tanya Angga mulai penasaran. 


Pemuda itu, pada awalnya tidak terlalu peduli pada Kevin, tapi akhir-akhir ini nama pria itu selalu saja terdengar ditelingannya. Sehingga mengganggunya, telebih dia sempat mengetahui dari Tuan Heru kalau Kevin dulu membuat istrinya terlibat dalam kecelakaan, dan hal itu yang menyebabkan sekarang istrinya susah mengandung karena cedera di bagian perut dalamnya terutama rahimnya. 


_______^_^________


HALLO Reader Author tersayang...


Jangan lupa berikan dukungan pada Author dengan tekan Like + Vote (Sebanyak-banyaknya)+ Komen .. dan Rate Bintang Lima.💟💟


 


 

__ADS_1


__ADS_2