My Old Wife

My Old Wife
Berpenampilan Berbeda


__ADS_3

~ Segalanya akan terasa berbeda jika kamu tidak terbiasa~


Pagi-pagi buta Romi sudah mulai mencari benda yang dipesan oleh Tuan Mudanya tadi malam. Untuk menemukan kacamata yang sesuai dengan Angga tentu tidak sulit untuk Romi, karena ada beberapa layanan optik yang buka dua puluh empat jam, dan itu merupakan layanan optik di rumah sakit tempat kerja Lianda, rekan kerjanya bersama Tuan Sebastian yang diutusnya untuk bersama-sama menjaga putranya dan menantunya.


Sementara untuk bunga mawar, pria itu harus berjuang cukup keras untuk mendapatkan sebuket bunga pesanan Angga, karena memang tidak ada toko yang buka di pagi-pagi buta, dan terpaksa Romi pulang tanpa membawa sebuket bunga melainkan satu pot bunga mawar yang masih segar dari perkebunan Liliyana, kakaknya Angga. 


“Apa kamu sudah membawanya?” Tanya Angga sepelan mungkin agar Keisha tidak terbangun. 


“Sudah Tuan Muda.” Romi menyodorkan kacamata yang masih tersegel dalam kotak kemasan. 


“Lalu bunganya?” Tanya Angga lagi sedikit tidak sabar.


“Maaf Tuan Muda, saya hanya dapat membawa ini.” Romi kembali menyodorkan pot bunga yang dibawanya tadi. 


“Astaga, kenapa kamu memberiku pot bunga? Aku meminta buket bunga bukan pot, memangnya siapa yang akan menanamnya?” Keluh Angga terlihat frustasi, acara kejutannya ini akan tersinyalir gagal. 


“Tapi Tuan Muda, tidak ada toko bunga yang buka pukul 04.00 pagi, mereka akan buka pada pukul 07.00 tepat,” bela Romi. 


“Ya sudah berikan.” Pada akhirnya Angga menerima dengan terpaksa pot bunga itu yang tanahnya masih terlihat basah karena embun pagi. 


“Kamu boleh pergi, dan ingat untuk membuat sarapan.” Perintah Angga lagi. 


“Ya Tuan Muda,” jawab Romi singkat dan bergegas pergi dari kamar Angga. Pria itu menuruni anak tangga menuju dapur untuk memasak, ini sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari, mempersiapkan segala keperluan Keisha dan Angga adalah tugasnya, dia juga tidak keberatan karena memang tidak ada pekerjaan yang harus dia lakukan selain membersihkan rumah, menjaga rumah sampai majikannya pulang, merawat si Putih, dan memberikan laporan pada Tuan Sebastian setiap hari. 


Karena Angga dan Keisha tidak mau dia temani sebagai pengawal, alhasil dia beralih tugas menjadi penjaga rumah sekaligus merangkap menjadi asisten rumah tangga meskipun tidak secara sepenuhnya, karena Angga selalu membantunya. 


Sementara Keisha, Angga selalu melarangnya melakukan pekerjaan rumah agar perempuan itu tidak terlalu kelelahan, mengingat istrinya juga sibuk bekerja di kantor, namun tidak jarang Keisha juga sedikit membantu mereka setelah memaksa Angga berulang kali.


Sekarang Angga telah berada di dapur dan membantu Romi memasak nasi goreng dan telur dadar, tidak lupa mereka juga selalu menambahkan kacang polong dan paprika dalam  olahan nasi goreng itu karena Keisha menyukainya. 


“Tuan Muda, apa anda yakin berpenampilan sepert ini?” Tanya Romi sembari memperhatikan Angga yang menyiapkan piring dan sendok di meja makan. Pemuda itu telah berpenampilan rapi dengan kemeja putih berkera, kacamata yang terselip di daun telinganya, dan sisiran rambutnya yang rapi.


“Memangnya kenapa? Apa ini terlihat buruk?” Tanya Angga tanpa memalingkan wajahnya sekalipun ke arah Romi karena pemuda itu sedang asik menata buah di piring. 


“Tidak, hanya saja Tuan Muda sedikit terlihat aneh,” kata Romi jujur. Tidak biasanya Tuan Mudanya itu menggunakan style seperti ini, biasanya dia selalu memakai kaos dan blazer serta jeans, tapi kali ini dia memakai kemeja rapi rambutnya disisir sampai licin tidak seperti biasanya yang dibiarkan berantakan dengan poni di dahinya. 


“Aneh? Kau mengataiku.” Angga menoleh ke arah Romi dengan tatapan membunuh karena tidak terima. Romi segera menggeleng cepat saat ditatap Angga demikian. Pria itu segera membungkuk hormat untuk meminta maaf, dia tidak ingin membuat masalah dengan Angga. 

__ADS_1


“Segera siapkan ini, aku akan membuat susu terlebih dahulu untuk istriku,” pungkas Angga pada akhirnya. Dia berjalan ke arah kompor dan memulai memasak air serta memasukkan beberapa bubuk susu ke dalam gelas. 


Setelah ritual pagi itu selesai, baik menyiapkan makanan dan minuman, waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Terlihat Keisha menuruni tangga dan mulai menuju dapur seperti biasanya, tapi saat dia sampai di dapur mata perempuan itu menangkap sosok asing yang sedang duduk di meja makan, pria berkemeja putih dengan kacamata di daun telinganya. 


“Pagi Romi, apa kamu melihat suamiku? Aku tidak menemukannya di kamar,” tanya Keisha seraya berjalan mendekat ke meja makan dan mengambil segelas susu. 


“Nyonya tidak melihatku? Bagaimana mungkin aku yang sebesar ini tidak terlihat?” Batin Angga.


Romi hanya tersenyum kikuk, dia tidak berani melihat ke arah Keisha secara langsung karena sedari tadi Angga menatapnya dengan tatapan penuh peringatan. Seolah-olah berkata padanya untuk diam dan tutup mulut. 


“Ehemm...., ehemm....,” Angga berdehem dengan sengaja agar perempuan itu menoleh kepadanya.


“Angga?” Kata Keisha tidak percaya dengan yang dia lihat, penampilan suaminya sungguh berbeda dari biasanya sampai ia tidak mengenalinya. Karena saking terkejutnya Keisha hampir tersedak saat meminum susu, untung Angga yang berada tidak jauh darinya segera menghampirinya dan membantu menepuk punggungnya agar merasa baikan. 


“Kalau minum hati-hati sayang, lihat kamu jadi tersedak,” omel Angga pada akhirnya.


Keisha menenangkan dirinya sesaat dan beralih memperhatikan suaminya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Penampilannya sama persis dengan Dokter Andhika kemarin. 


“Kenapa kamu berpenampilan seperti ini?” Keisha menerima uluran tangan Angga yang menggiringnya duduk di kursi meja makan. 


“Apa ini terlihat buruk?” Tanya Angga masih setia menyentuh bagin belakang kepalanya. 


“Iya, kamu terlihat buruk.” Kata Keisha seraya memperhatikan wajah suaminya yang mulai sedikit terlihat kecewa. 


“Jadi kamu lebih menyukai si Tuan Kacamata daripada aku? Apa dia lebih tampan dariku?” Tanya Angga lagi sedikit gelisah. 


“Dokter Andhika memang tampan, bahkan semua suster di rumah sakit mengejar-ngejar dia,” kata Keisha masih dengan senyum di bibirnya. Angga yang mendengar Keisha memuji pria itu langsung memasang wajah datar, pemuda itu menoleh ke arah lain dan mengabaikan istrinya saat ini dia dalam mode marah. 


Keisha yang melihat tingkah suaminya tersenyum kecil, dia sedikit terhibur karena telah mengerjai Angga. 


“Apa kamu marah?”


“Tidak.”


“Kalau begitu aku akan berkencan dengan Dokter Andhika besok.”


“Jangan!!!!”

__ADS_1


“Aku tidak mengizinkannya.”


Keisha kembali menarik bibirnya ke atas menyunggingkan seulas senyum. 


“Kalau begitu lihat kemari,” pinta Keisha sehalus mungkin. 


“Tidak mau,” tolak Angga bersikukuh dan masih menghadap lurus ke depan tanpa melihat ke arah Keisha.


“Masih tidak mau melihatku?” Keisha menangkup kedua pipi Angga dan menghadapkan wajah pemuda itu padanya. 


“Lihat, suamiku lebih tampan kalau seperti ini,” puji Keisha seraya mengambil kaca mata Angga dan menaruhnya di atas meja, kemudian tangannya kembali mengacak anak rambut Angga agar poninya jatuh di dahinya seperti model rambut Angga biasanya. 


“Aku menyukai Angga yang seperti ini, jauh lebih tampan, bahkan dari Dokter Andhika sekalipun.” Puji Keisha lagi masih setia mengacak rambut Angga pelan dan terseyum manis.


Mendapat perlakuan demikian dari perempuan yang dicintainya, mata pemuda itu seperti terpaku pada wajah Keisha yang bersih dengan tahi lalat di sudut matanya. Jantung Angga memompa lebih cepat dari biasanya, dirinya seperti terhipnotis sesaat hingga tanpa sadar ia langsung memeluk Keisha dan berkata “Ah Nyonya anda membuat jantungku berdetak seribu kali lebih cepat,” kata itu lolos begitu saja dari mulut Angga tanpa ia rencanakan sekalipun. 


Keisha hanya mengusap kepala Angga berulang kali dengan lembut dan tertawa kecil. Perempuan itu tidak terkejut saat Angga memanggilnya dengan sebutan itu lagi, karena memang pemuda itu selalu memanggilnya demikian kalau dia berkata jujur dari hatinya seperti saat kunjungan Tuan Sebastian dulu.


“Iya, aku tahu.” Jawab Keisha seraya mengecup pelipis Angga.  


Romi yang melihat pemandangan itu hanya dapat memegang dadanya yang juga ikut tersentuh.


“Kenapa Nona Keisha dan Tuan Muda begitu romantis, aku tidak sanggup melihatnya.” Batin Romi. 


_____^_^_____


HALLO Reader kesayangan Sana..(:


Sana mohon maaf kalau alurnya lambat ya.. Sana tahu kalian pasti menantikan percakapan Helen dan Keisha.. tapi mohon bersabar yaa.. hehehe..


Nanti Sana UP 2 EPS lagi.. tapi siang yaa...(:


Berikan Like + Vote + Komen untuk mendukung Sana.... Karena alhamdulillah MOW telah dikontrak oleh pihak NT& MT


 


 

__ADS_1


__ADS_2