My Old Wife

My Old Wife
Sampai Tujuan


__ADS_3

~Sejauh apa pun kaki melangkah, tujuannya akan tetap menuju ke keluarga~


Setelah tiba di Bandar Udara Internasional Singapura, Angga bergegas memesan taksi. Pemuda itu menunjukkan alamat yang tertulis dalam amplop surat tersebut. Pak Supir mengemudikan mobilnya sesuai dengan alamat yang Angga berikan. Pemuda itu tidak ada waktu untuk mengagumi keindahan negara itu, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah segera meminta restu pada Ayahnya dan kembali pulang ke Indonesia secepatnya.


Seandainya Angga datang ke Singapura untuk berwisata, pastinya dia akan datang ke Merlion Park yang berada di One Fullerton Rd, yang merupakan taman publik yang menjadi ikon Singapura dengan patung berbentuk ikan duyung dengan kepala Singanya. Tiket masuk ke taman itu juga gratis, karena memang dibuka untuk umum. Apabila Angga diberi kesempatan kesana dia pasti sudah melakukan foto selfie di depan patung Merlion. Dan mengabadikan momennya mengunjungi negara itu.


Akan tetapi, nasib berkata lain. Pemuda itu datang ke sana karena harus meminta restu pada Ayahnya, Tuan Sebastian. Dia tidak ingin berlama-lama di sana, karena calon istrinya telah menunggunya untuk pulang. Ayah mertuanya Tuan Heru juga memberikan waktu padanya sampai pekan depan, jika dia tidak kembali? Entah apa yang akan dilakukan oleh Ayah mertuanya itu.


Mungkin dia akan menikahkan putrinya dengan lelaki lain. Meskipun publik telah mengetahui hubungannya dengan Keisha. Tapi tidak menutup kemungkinan Tuan Heru akan menyiapkan skenario untuknya, sehingga pernikahan mereka dapat dibatalkan.


"Tuan, kita sudah sampai," ucap Pak Supir memecah lamunan Angga yang sedari tadi memikirkan tentang nasib pernikahannya jika sampai dia tidak segera pulang.


"Terimakasih Pak." Angga bergegas turun dari mobil berwarna kuning itu, dan memberikan beberapa lembar dollar kepada Pak Supir sebagai ongkos telah mengantarnya.


Setelah membayar ongkos taksi, Angga berjalan menuju ke bangunan megah di depannya. Pemuda itu melihat bangunan menjulang tinggi layaknya sebuah istana, berwarna cream dengan tiang-tiangnya yang tinggi. Pagarnya terbuat dari kualitas besi terbaik, sekali melihatnya maka orang akan langsung mengetahuinya. Rumah itu memiliki halaman yang luas dengan taman dan kolam ikan di samping, serta kaca-kaca lebar di dinding atas lantai tiga.


"Tuan, ingin bertemu dengan siapa?" Tanya seorang berperawakan tegap dengan jas hitam dan kacamata terselip di telinganya. Pria itu sepertinya adalah seorang bodyguard yang menjaga keamanan rumah tersebut.


"Saya ingin bertemu dengan Tuan Sebastian, apa beliau ada di dalam?" Jelas Angga.


Lelaki berjas hitam itu memandang Angga dari atas ke bawah, dan dia juga menatap wajah Angga secara intens.


"Ini adalah putra Tuan Sebastian, Tuan telah berpesan untuk menjemputnya di bandara, tapi dirinya justru sudah datang kemari. Jika Tuan tahu kalau putranya datang kemari dengan taksi, maka kami akan dipecat." Batin Romi yang sudah menjadi pengawal Sebastian sejak kecil dan mengenal watak Tuannya.


Saat dia melihat wajah Angga, Romi langsung tahu bahwa pemuda di hadapannya ini adalah putra Sebastian. Karena fitur wajah pemuda itu memiliki gambar wajah yang sangat mirip dengan Sebastian, yang membedakan hanya warna matanya yang hitam legam berbeda dengan milik Sebastian yang berwarna agak kecokelatan.


Tanpa banyak bicara, Romi memberikan kode kepada rekan-rekannya untuk membantunya. Beberapa orang yang memakai seragam seperti mereka langsung datang menghampiri Angga, dia mengambil alih koper milik Angga dan menggiring pemuda itu masuk ke dalam kediaman Sebastian.

__ADS_1


"Mari saya antar Tuan Muda, untuk menemui Tuan Besar," kata salah seorang dari mereka.


Angga yang diperlakukan demikian pun merasa bingung, bagaimana tidak? Sebelum dia memperkenalkan diri atau bahkan menyebutkan namanya, para orang-orang itu seperti sudah tahu bahwa dia adalah putra dari Sebastian. Angga digiring ke ruangan yang terlihat harmonis dengan warna dasar cream dan vanila. Lampunya yang berwarna keemasan menggelantung di langit-langit atapnya.


"Tunggulah disini Tuan Muda, sebentar lagi Tuan Sebastian akan datang." Tutur salah satu dari mereka secara hormat.


"Dimana koperku?" Tanya Angga yang menyadari kopernya telah hilang dari pandangannya.


"Kami menyimpannya di tempat yang aman Tuan Muda, Anda tidak perlu khawatir," ucap mereka lagi.


Angga hanya menghela napas panjang, dia merasa tidak enak diperlakukan seperti sekarang. Rasanya dia ingin segera pergi dari rumah ini, kedatangannya masuk ke rumah itu bisa diibaratkan seperti seorang kasim yang masuk ke istana raja.


"Selamat datang Tuan Besar," kata mereka secara serempak dan menunduk hormat.


Pemuda itu mengarahkan pandangannya pada laki-laki paruh baya yang memiliki paras tegas, rahang yang kuat, hidung mancung, dan berperawakan tinggi apabila dia tidak duduk di kursi roda. Ya, lelaki yang dipanggil sebagai Tuan Sebastian itu adalah seorang lumpuh yang kini didorong oleh wanita muda berpenampilan anggun dengan gaun merah cerah di belakangnya.


"Akhirnya kamu mencariku, apa kamu sekarang datang untuk meminta restu dariku?" Sebastian menjalankan kursi rodanya yang memang secara otomatis dapat bergerak sendiri apabila dia menekan beberapa tombol remote kontrol di tangannya. Pria itu mendekat ke arah Angga. Memandang putranya lekat-lekat.


"Panggil aku Ayah, apa Ibumu tidak mengajarimu sopan santun?" Nada yang dikeluarkan oleh Sebastian terdengar sarkastik.


"Ibuku selalu mengajariku sopan santuan Tuan, Anda tidak perlu cemas. Tapi, maaf kalau itu menyangkut Ayah saya, sepertinya beliau tidak terlalu peduli akan hal itu," ucap Angga menyindir.


Karena sedari kecil dia bahkan sudah ditinggal Sebastian, bagaimana mungkin pria itu akan mengajarinya tentang banyak hal atau sopan santun, mengajarinya membaca saja tidak pernah.


"Ikutlah denganku, kita bicara di dalam," pinta Sebastian seraya memutar kursi rodanya dan berjalan menuju ke salah satu bilik kamar yang besar di rumah itu.


Angga hanya menurut, dia mengikuti Sebastian dari belakang. Memang tidak pantas jika masalah keluarga dibicarakan di depan orang banyak.

__ADS_1


"Masuklah," perintah Sebastian pelan.


Angga pun masuk ke dalam ruangan itu, di sana dia dapat melihat berbagai macam foto tergantung di dinding kamar itu. Foto-foto itu adalah fotonya dan Susi, Ibunya.


"Selama ini aku selalu mengawasi Ibumu dan dirimu, meski aku tidak bersama dengan kalian," kata Sebastian pelan.


Lelaki itu berbalik dan melihat putranya, dia dapat melihat sosok wanita yang pernah dicintainya juga di dalam diri Angga, namun wanita itu telah meninggal sebelum dia sempat meminta maaf padanya.


"Aku meninggalkan dirimu dan Ibumu demi melindunginya dari orang tuaku, mereka memiliki kekuasaan untuk membunuh kalian jika aku tidak menuruti kemauannya," ujar Sebastian lagi.


"Sekarang Ibuku telah jatuh sakit, dan ayahku sibuk mengurusnya, jadi kau sementara akan aman sekarang," kata Sebastian lagi.


Angga menatap mata milik Ayahnya, ada kesedihan di sana. Dia merasa bersalah karena telah membenci lelaki di hadapannya ini.


"Ibu telah meninggal sepuluh tahun yang lalu Ayah."


"Aku tahu."


"Jadi sekarang kau datang kemari untuk meminta restu dariku, untuk menikahi wanita yang telah menolong kalian dulu bukan?"


Sebastian telah mengetahui semuanya yang terjadi pada Angga, dia telah mengirim mata-mata sekaligus orang untuk melindungi putranya di sana jika dia dalam bahaya. Tapi untunglah kehidupan Angga berjalan normal dan pemuda itu dapat bebas melakukan apa pun yang dia inginkan.


"Iya, aku akan menikah dengannya," jawab Angga pelan.


"Aku tidak bisa merestuinya," kata Sebastian lirih.


__________________^_^

__ADS_1


HALLO reader... jangan lupa tinggalkan Vote + Like + Komen yaa...😁


Nanti Author UP Lagi.. ditunggu yaa..😊😊


__ADS_2