
~Mungkin senyum adalah cara menyapa yang paling ramah pada seseorang, namun tidak jika orang itu bukan seseorang yang kamu hendaki~
Keisha sekarang sedang memberi makan si Putih, kelinci itu menghabiskan hampir lima buah wortel seorang diri belum termasuk dengan anak-anaknya. Setelah cukup puas bermain dengan si Putih, Keisha melanjutkan kegiatannya di kamar, dia akan menghubungi Rafi untuk menanyakan perihal perkembangan perusahaannya hari ini.
Meski dia telah menitipkan perusahaannya pada orang-orang kepercayaannya, namun dia tetap harus mengontrol perusahaannya tersebut dari jarak jauh. Hal ini tentu merupakan bentuk rasa pertanggung jawabannya sebagai pemilik Jewelry Group.
"Hallo Raf," sapa Keisha terlebih dahulu.
"Hallo Kei, dimana Angga? Apa suamimu itu ditangkap wartawan lagi?" Rafi memang mengetahui tentang kabar Angga bahwa pemuda itu cukup terkenal sebagai model pendatang baru di Kanada. Karena secara diam-diam dia menjalin komunikasi dengan Angga tanpa sepengetahuan Keisha, sepupunya.
"Angga sedang bekerja." Terdengar gelak tawa cukup nyaring dari balik telepon.
"Iya, iya, aku tahu. Suamimu itu memang terlalu sibuk, sehingga para gadis juga ikut mengejarnya. Sayangnya, dia sudah menikah. Jika tidak? Mungkin sudah banyak yang mengantri untuknya." Rafi masih tertawa lepas, pria itu sengaja memanasi Keisha. Agar perempuan itu sedikit cemburu. Tapi seperti biasanya Keisha selalu bisa berpikiran jernih dan tidak pernah menanggapi bercandaan Rafi.
"Aku percaya pada Angga, dia bukan lelaki sepertimu yang suka menyakiti hati wanita." Keisha mengingat bagaimana sikap Angga padanya, melihat dari cara Angga memperlakukannya, sudah terlihat jelas bahwa suaminya itu tidak akan berbuat macam-macam di luar sana.
"Kau menyindirku?" Ucapan Keisha seperti bom atom untuknya. Ya, Rafi dulu adalah seorang playboy tapi sekarang dia sudah berubah. Cintanya hanya untuk satu wanita yaitu tunangannya dan calon istrinya.
"Aku tidak mau berdebat denganmu. Aku mau bertanya bagaimana kondisi perusahaanku saat ini? Apa semuanya baik-baik saja?" Tidak ada jawaban dari Rafi, hanya terdengar dengungan bunyi telepon saja.
"Raf?" Panggil Keisha lagi, tapi sepupunya juga belum memberi jawaban.
"Raf, apa kau masih di sana?"
"Ah iya Kei, maaf aku sedang menandatangani beberapa berkas terlebih dahulu. Soal perusahaanmu semuanya baik, aku dan Ferdian serta sekertarismu Fina bisa mengatasi semuanya. Kau tidak perlu cemas, fokus saja pada penyembuhanmu." Kata Rafi dengan tempo yang agak cepat.
"Ya sudah, aku masih ada rapat setelah ini. Kita sambung lagi di lain waktu." Rafi mengakhiri panggilannya dengan tergesa-gesa dan itu cukup disadari oleh Keisha.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" Melihat dari gelagat Rafi barusan Keisha merasa curiga bahwa sepupunya menyembunyikan sesuatu darinya. Untuk memastikan keraguannya, Keisha mengirim pesan pada Ferdian asistennya untuk mengirim semua berkas laporan akhir bulan ini padanya.
__ADS_1
Namun, Ferdian hanya membaca pesan tersebut, tanpa ada niatan membalas pesan sahabatnya. Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Keisha, tapi itu bukan dari Ferdian melainkan dari suaminya Angga.
Jangan lupa makan dan minum obat sayang.
Saumi tercinta.
Keisha tersenyum tulus setelah membaca pesan dari Angga, dia segera mengirim pesan balasan bahwa dia sudah meminum obat dan makan dengan baik. Keisha juga mengingatkan agar Angga tidak lupa makan siangnya dan istirahat dengan cukup.
Di tempat lain, Angga yang mendapat pesan balasan dari istrinya tersenyum senang pemuda itu bahkan membacanya berulang kali. Romi yang mengetahui bahwa perilaku aneh Tuan Mudanya kembali kambuh segera menyadarkan Angga.
"Tuan Muda," Romi masih setia menyenggol lengan Angga pelan.
"Apa? Jangan ganggu aku!" Ketus Angga pada Romi, dia kembali menggulir layar ponselnya dan melihat gambar istrinya yang tengah duduk santai di taman belakang rumah.
"Manis," puji Angga saat melihat foto Keisha yang sedang tersenyum dengan si Putih di pangkuannya.
"Jika kamu iri, menikahlah." Cetus Angga tidak senang. Romi hanya mendengus pasrah, sifat menjengkelkan dari Tuan Mudanya telah kembali.
Sementara Angga dan Romi masih sedikit beradu mulut, pria paruh baya yang datang dari arah pintu masuk restoran tengah memperhatikan keduanya dengan tatapan intens.
Tuan Wilson, baru saja tiba di alamat restoran yang dikirim Romi. Dia langsung mendudukkan dirinya di kursi meja depan Romi dan seorang pemuda yang memakai hoodie abu-abu serta kacamata hitam lengkap dengan masker di wajahnya.
Romi dan Angga memang tiba di Montreal lebih cepat dari Tuan Wilson, karena kakek tua itu harus menghadiri beberapa pertemuan bisnis terlebih dahulu.
Angga masih sibuk dengan layar ponselnya dia tidak memperhatikan jika kakeknya telah tiba, Romi yang mengetahui kedatangan Tuan Wilson sejak tadi sudah memperingatkan Angga, tapi Tuan Mudanya itu sepertinya sengaja melakukannya.
"Salam Tuan Wilson," sapa Romi menunduk hormat.
Tuan Wilson hanya menganggukkan kepalanya kecil sebagai tanda bahwa dia menerima salam dari Romi.
__ADS_1
"Cucuku?" Mengerti dengan perkataan Tuan Wilson, Romi langsung menunjuk Angga yang duduk di sampingnya.
"Ini adalah Tuan Angga, putra Tuan Sebastian." Romi mencoba memperkenalkan Angga pada kakeknya. Tuan Wilson beralih melihat ke arah Angga, terpancar jelas raut ketidaksukaan darinya.
"Apa tidak ada yang mengajarkan sopan santun padanya?" Nada Tuan Wilson terdengar menekan dan menatap ke arah Romi.
Angga yang merasa bahwa kakeknya cukup emosi tersenyum senang. Angga memang sengaja melakukannya. Dia ingin membuat pria tua itu jengkel padanya.
"Oh Kakek sudah datang? Maaf aku tidak tahu," kata Angga polos sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia masih memegang ponsel di tangannya.
"Bisa kau hormati orang yang sedang berbicara padamu." Nada yang diucapkan Tuan Wilson terdengar dingin, Romi yang mendengarnya pun sedikit terintimidasi.
Angga menaruh ponselnya di atas meja, kemudian dia melepas kacamatanya serta menurunkan maskernya. Dia menaruh kedua siku tanganya di papan meja kemudian menjadikan kedua telapak tangannya sebagai penyangga dagunya.
"Katakan, ada urusan apa kakek menemuiku?" Kata Angga dengan senyum manis di bibirnya. Tuan Wilson mengatupkan rahangnya terlihat jelas wajah kesal saat melihat sikap cucunya yang tidak menaruh hormat padanya sama sekali.
"Berhenti bermain-main. Aku tahu Ibumu tidak memberikan pendidikan yang layak padamu, sehingga tingkahmu seperti ini."
Angga mengernyitkan alisnya tidak suka. Mendengar Tuan Wilson menyinggung ibunya, hatinya sedikit memanas. Atas dasar apa pria tua itu berhak mengomentari didikan ibunya? Karena selama kecil yang mendidik Angga hanya Nyonya Susi, bahkan ayahnya Tuan Sebastian ataupun kakeknya ini tidak pernah mengajarkan apa pun padanya.
"Tanda tangani berkas ini," ujar Tuan Wilson bersamaan dengan salah satu orang kepercayaannya yang menyodorkan selembar dokumen pada Angga.
"Anda tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan dalam hidup saya!" Ucap Angga menekan, dengan wajah merah padam. Dia sudah tidak bisa lagi berpura-pura baik dihadapan kakeknya. Setelah mengetahui bahwa dokumen yang disodorkan oleh Jemy orang kepercayaan Tuan Wilosn tadi adalah dokumen perceraian.
___________
Sana akan Update lagi nanti sore/malam.
Happy Reading.
__ADS_1