
~Tidak ada yang mengetahui kisah cinta kita kecuali Tuhan, engkau, dan aku~
Hari dimana kebahagiaan itu lengkap dalam hidupnya adalah hari ketika dia mendapatkan pria itu menjadi suaminya. Tapi memang hal yang perempuan itu inginkan tidak selalu berjalan sesuai dengan yang ia harapkan. Helen telah mendapatkan raga Kevin tapi ia belum secara sepenuhnya mendapatkan hati lelaki yang dicintainya itu.
Cara Helen mendapatkan Kevin memang salah, dan ia juga tahu hubungan mereka akan terasa sulit. Namun apalah daya hatinya telah memilih Kevin sebagai tempat berlabuh, satu-satunya laki-laki yang mengisi relung hatinya yang paling dalam. Hingga tidak ada laki-laki lain di sana.
Pada tahun-tahun awal pernikahannya dengan Kevin tidaklah berjalan seperti pasangan pada umumnya yang saling memadu kasih, akan tetapi pernikahan mereka seperti orang asing yang baru saling mengenal.
Banyak hal yang telah terjadi, semenjak Siska dinyatakan meninggal dan kakaknya Keisha sahabat Kevin pergi ke Kanada. Rumah tanggganya dengan Kevin mengalami banyak masa pasang surut. Bukan karena penghianatan diantara keduanya, melainkan karena keraguan dihati keduanya.
"Kak Kevin, pulang malam lagi? Tidak bisakah Kakak sehari saja menemaniku di rumah?" Tutur Helen sembari memegang lengan Kevin.
"Aku ada pekerjaan Helen," tolak Kevin halus seraya menyingkirkan tangan Helen. Pria itu sudah membuka pintu mobil dan bersiap pergi. Tapi Helen segera mencegahnya dengan berdiri tepat di depan daun pintu kendaraan beroda empat tersebut.
"Kakak, aku tahu Kak Kevin sedang tidak bekerja kan? Kakak hanya ingin menghindar dariku!" Helen menajamkan kata-katanya.
Helen sudah menyelidiki tindak tanduk suaminya. Ia sudah beberapa kali mengikuti Kevin saat lelaki itu berkata ada urusan pekerjaan di malam hari. Tapi nyatanya? Kevin tidak pergi ke kantor, melainkan pergi ke bukit dan duduk di sana seperti orang linglung sepanjang malam sambil melihat langit yang luas.
"Jika Kak Kevin masih mengelak, aku punya buktinya." Tukas Helen lagi, ia meraih bahu Kevin dan melihat mata suaminya itu dalam-dalam. Kevin hanya menolehkan wajahnya ke arah lain tidak ingin menatap mata istrinya.
"Kau sudah tahu bukan? Pernikahan kita salah. Banyak yang terluka karena ini. Adikku meninggal dan sahabatku pergi!" Ucap Kevin sedikit membentak. Ia mencoba menyingkirkan tubuh Helen dari pintu mobil, meski sedikit kasar. Namun, perempuan itu masih tidak bergeming dari posisinya.
"Kalau begitu kita akhiri saja hubungan ini Kak! Tapi, setelah itu jangan harap Kakak melihat diriku lagi!" Helen masuk ke dalam mobil dengan cepat dan menyalakan mesin mobil milik Kevin. Entah kemana ia akan pergi? Yang pasti perempuan itu mengemudi dengan sangat cepat.
"Helen! Apa yang ingin kau lakukan?" Teriak Kevin khawatir sembari berlari mengejar mobilnya yang sudah melaju di jalan raya. Beruntung saat itu ada taksi yang lewat, jadi Kevin dapat naik taksi tersebut untuk mengejar istrinya.
Kevin terus berteriak agar Helen menghentikan mobilnya, tapi sepertinya perempuan itu tidak mendengarkan Kevin dan semakin memacu cepat mesin beroda empat tersebut. Mobil itu melaju ke arah dermaga, tanpa mengurangi kecepatannya sedikitpun, menembus palang pembatas dan berhasil masuk ke dalam laut.
Kevin yang melihatnya pun tidak dapat tinggal diam, ia segera menjemburkan dirinya ke laut lepas menyelamatkan istrinya. Beruntung pintu mobil Kevin tidak dikunci dari dalam, jadi saat ia mengeluarkan tubuh Helen tidak terlalu sulit untuknya.
"Kamu gila! Kalau kamu mati! Apa yang akan aku katakan pada Ayah dan Keisha!" Bentak Kevin pada Helen saat melihat perempuan itu sadar dan mengeluarkan air dari mulutnya setelah mendapatkan pertolongan pertama. Namun, Helen hanya menangis tanpa mengatakan apa pun. Kevin yang melihatnya merasa bersalah dan langsung mendekap tubuh Helen dengan erat.
__ADS_1
"Maafkan aku," ucap Kevin lirih. Ia menangkup kedua pipi Helen yang terasa dingin dan pucat, kedua matanya berwarna merah dan sembab.
"Mari kita mulai dari awal." Helen hanya mengangguk kecil kemudian merengkuh tubuh kekar Kevin yang terasa hangat untuknya. "Jangan tinggalkan aku Kak, aku sangat mencintaimu," bisik Helen tepat di daun telinga Kevin. Pria itu hanya mengangguk dan membiarkan Helen memeluknya.
Semenjak kejadian itu, hubungan mereka mulai membaik meski sedikit canggung. Selama lima tahun usia pernikahan mereka, hanya digunakan untuk mengenal satu sama lain. Tidak ada langkah lebih jauh daripada sekedar berpelukan dan berciuman.
Keduanya sama-sama menyibukkan diri dengan kehidupan masing-masing. Helen menamatkan studinya sementara Kevin mengejar karirnya. Hal ini karena memang mereka menikah pada usia yang masih terbilang muda.
Bertambahnya tahun, sedikit demi sedikit Kevin mulai menerima Helen secara sepenuhnya, ia juga sudah menghilangkan rasanya pada Keisha yang sempat ia sadari di waktu terakhir menjelang adiknya meninggal. Tepat pada usia pernikahan mereka yang kedua belas tahun keduanya dikaruniai anak.
Tapi, naas lima bulan setelah kelahiran anaknya hubunganya dengan Helen berakhir. Kebenaran tentang kematian Siska membuat rasa bersalah dalam hatinya tumbuh kembali, semakin besar hingga membuatnya kesulitan untuk menjalani kehidupannya.
"Kak Kevin," ucap Helen begitu saja saat ia melihat Kevin sedang duduk di meja depan mini mart sembari memakan mie instan. Kemeja pria itu terlihat kusut, rambutnya semakin panjang tidak terawat, dan kumisnya mulai tumbuh. Terlihat jelas bahwa selama ini hidup Kevin tidak berjalan baik, karena ia tidak memperhatikan penampilannya.
Helen menuruni taksi, setelah membayar ongkos taksi ia menyeberang jalan dan menghampiri Kevin. Langkahnya sedikit cepat, takut Kevin akan pergi saat mengetahui kehadirannya.
"Sejak kapan Kak Kevin makan-makanan seperti ini?" Helen mengambil gelas mie instan itu dari tangan Kevin secara tiba-tiba hingga membuat mata lelaki itu beralih menatapnya. Kevin hanya mendengus kecil, mengambil sapu tangan dari saku celanannya dan menghapus bekas makanan di bibirnya.
"Bagaimana kabar putriku? Maaf, akhir-akhir ini aku terlalu sibuk bekerja hingga tidak sempat mengunjunginya." Ucap Kevin lagi. Ia mengambil kembali gelas mie instan itu dan memakannya, sesekali Kevin akan meniup mie tersebut sebelum memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Inara baik-baik saja, dia sudah bisa berjalan dengan benar meski terkadang masih terjatuh." Helen memandang ke arah Kevin, terlihat jelas tatapan sendu dari wajah pria itu, matanya berbinar seperti kaca yang sebentar lagi akan pecah.
"Aku bukan Ayah yang baik," ujar Kevin lirih. Ia menghentikan aksi makanya, perutnya sudah mulai terasa mual. Karena sudah tidak berselera makan, Kevin pun berdiri dan bersiap untuk pergi.
"Aku akan mengantarmu pulang, jika terlalu malam. Inara tidak akan bisa tidur karena menunggumu." Kevin mulai berjalan ke arah mobilnya membukakan pintu mobil untuk mantan istrinya. Helen hanya mengikuti perintah Kevin dan segera mendudukkan dirinya di kursi samping kemudi yang Kevin duduki.
Selama perjalanan mereka hanya diam, entah apa yang terjadi pada keduanya? Tidak ada yang membuka pembicaraan. Hati mereka tertutup, ada rasa sakit yang tidak terlihat saat mereka bertemu. Sesampainya di kediaman Heru Prawijaya, ayah mertuanya dulu. Kevin segera menepikan mobilnya. Ia membukakan pintu mobil untuk Helen.
"Tunggu sebentar," kata Kevin ketika melihat Helen hendak memasuki gerbang rumah. Kevin berjalan ke arah bagasi mobil dan membukanya, ia mengambil sesuatu dari sana.
"Berikan ini pada putriku, aku membelinya saat aku melakukan perjalanan dari luar kota kemarin," ujar Kevin sedikit tersenyum sembari menyerahkan boneka Teddy Bear berwarna merah muda yang terdapat pita merah di lehernya. Boneka yang sama, yang pernah diminta Siska, namun saat itu ia tidak dapat membelikannya.
__ADS_1
Helen menerimanya dengan tangan bergetar, ia menutup mulutnya menahan dirinya agar tidak menangis. "Terimakasih," ucap Helen cepat dan segera memasuki rumah. Air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi.
Sementara Kevin, pria itu hanya berdiri di sana menyaksikan kepergian Helen dengan tatapan sendu. "Maafkan aku," kata Kevin dalam hati. Setelah itu ia segera masuk ke dalam mobil, mengendarai kendaraan beroda empat itu menuju ke apartemennya.
Semenjak Kevin resmi berpisah dengan Helen, Kevin menyewa sebuah apartemen yang lokasinya dekat dengan bukit. Daerah yang jauh dari keramaian kota, ia sudah tidak tinggal lagi di kediaman Heru serta tidak lagi bekerja di sana. Kevin memilih keluar dari perusahaan Heru karena tidak enak hati pada pria paruh baya itu yang sudah terlalu baik padanya, tapi ia justru menyakiti hati anaknya.
Ketika tiba di apartemennya, jam sudah menunjukkan pukul 00.15 tepat. Kevin segera memarkirkan mobinya di basement, kemudian ia segera menuju lantai delapan tempat apartemenya berada. Tubuh pria itu semakin berat melangkah saat merasakan perutnya diaduk-aduk.
Kevin membuka pintu ruangan yang bernomor 801B, ia langsung menuju ke kamar mandi sesaat setelah memasuki rungan tersebut. Di kamar mandi Kevin memuntahkan semua isi makanannya. Hal ini sudah sering terjadi padanya, sejak ia mulai mengonsumsi makanan instan dan cepat saji.
Berpisahnya Kevin dengan Helen menjadikan hidup pria itu berantakan. Ia mulai menerapkan pola hidup yang tidak sehat. Tidak ada yang mengingatkannya untuk makan tepat waktu, karena Kevin tidak memiliki seseorang yang dapat melakukan itu untuknya.
Ibunya sudah meninggal setahun setelah kepergian Siska. Jadi Helen dan Inara putrinya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini. Tapi, Kevin justru meninggalkan mereka dan memilih hidup sendiri.
Kevin membersihkan tubuhnya dengan air dingin, kemudian ia mengganti kemeja kotornya yang ternoda bekas muntahannya tadi dengan kaos bersih. Setelah itu Kevin merebahkan dirinya di atas kasur, matanya mengerjap-ngerjap berulang kali karena tidak dapat tidur meski dirinya ingin.
Dengan terpaksa Kevin membuka kotak obat yang tersimpan dalam laci samping tempat tidurnya. Kevin menelan dua pil sekaligus tanpa mempedulikan dosisnya. Setelah efek obat itu bekerja dan matanya mulai mengantuk, ia mengambil figora di atas nakas meja dan mencium foto bayi mungil yang tersenyum manis di sana.
"Tidurlah sayang, Ayah akan menjagamu." Ucapnya pelan sembari memejamkan mata. Setetes air bening keluar dari sudut mata Kevin, membasahi pipinya. Pria itu sedang bermimpi bertemu dengan keluarganya. Semua orang yang telah meninggalkannya.
Sana menangis saat menulis part ini..😢😢
Banyak kisah tokoh yang belum selesai.. jika nanti sampai akhir bulan Agustus kisah mereka semua belum selesai maka MOW akan tetap lanjut untuk menyelesaikannya.. Sana gak mau endingnya gantung reader dan terkesan terburu-buru… Jadi mohon bersabar yaa..
#Sebastian dan Tn.Wilson belum selesai...
#Kevin dan Helen belum selesai..
#Angga dan Keisha belum selesai..
__ADS_1