
^^^~Bagiku cinta itu nestapa, karena dia cuma membawa duka~^^^
-Ella Jinsky-
***
Seorang perempuan bermata amber dengan bulu mata lentik terpoles maskara itu tengah memperhatikan laki-laki berkemeja hitam menawan yang sedang membeli parfum di “Movio Rose”. Pandangannya jatuh pada manik hitam khas orang Asia yang menambah kesan kharismatik.
Lelaki itu begitu muda, memiliki senyum manis, dan tubuh proposional. Wajahnya juga tampan seperti yang diberitakan. Ciri-ciri yang sama persis dengan apa yang ia baca dari majalah fashion beberapa tahun lalu. Idola para wanita dan model lelaki pendatang baru di Ottawa, yang dikabarkan pensiun secara tiba-tiba dari dunia entertainment setelah mendapatkan penghargaan gold medal di FAE (Famous Agency Entertainment).
“Ella, apa yang kamu perhatikan?”
Sherin mengikuti pandangan temannya, ia bisa menangkap potret seorang lelaki dari balik etalase kaca di Movio Rose. “Angga Wilson?” perempuan itu mengerutkan dahi menjentikkan jarinya mengalihkan perhatian Ella Jinsky dari sosok Angga yang sedang berada di Movio Rose membeli parfum kesukaan sang istri.
"Oh Ella, no! Jangan pernah kamu mendekati Angga, aku dengar hubungan dia dan istrinya sangat harmonis. Lelaki itu sangat mencintai istrinya, saat dia menjadi model tidak pernah sekalipun ada skandal yang memberitakan dia dekat dengan perempuan lain.” Wanita yang dinasihati Sherin justru tertawa kecil menyesap jus alpukat yang ia pesan satu jam lalu.
Ella mengambil tisu, membersihkan sisa minuman di sudut bibir.
“Dia menikah muda dan dia punya satu putra. Aku sudah dengar semua beritanya Sherin, bahkan aksi hebohnya tiga tahun lalu saat dia menggemparkan Rideau Canal Skate Way hanya untuk meminta berkat untuk calon anaknya. Sungguh lelaki menarik,” terangnya.
Sherin memicingkan mata merasa bingung dengan pola pikir wanita yang sudah lebih dari lima tahun ini melajang tanpa hubungan. Padahal Ella begitu cantik dan memiliki segalanya. Dia juga seorang desainer ternama, anak dari pejabat pemerintah di gedung putih.
“Kau menyukai Angga?” Ella menggendikkan bahu saat mendengar pertanyaan tiba-tiba dari teman karibnya. “Bisa jadi?” jawabnya terpotong, “Kau tahu aku tidak percaya ada lelaki yang hanya mencintai satu wanita seumur hidupnya. Meskipun itu Angga Wilson sekalipun, aku yakin dia tidak benar-benar menyukai istrinya. Terlebih aku mendengar istrinya orang biasa, usianya lebih tua, dan bukan wanita yang bisa dibilang menarik bagi seorang pria sepertinya."
Buru-buru Sherin menutup mulut Ella, membungkamnya rapat-rapat agar tidak mengucapkan kata-kata itu begitu keras. “Hust…, pelankan suaramu. Jika Angga mendengar ini kau bisa tamat. Selain mantan model, dia juga anak pengusaha ternama. Angga bisa menuntutmu kalau dia mau.” Ella cuma tersenyum tipis tidak mempedulikan ucapan Sherin yang menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri melihat pria yang masih asik berada di Movio Rose.
Angga yang menjadi topik pembicaraan dua wanita itu sedang fokus memilih bau parfum yang disukai Keisha, wangi segar tidak terlalu menyengat di penciuman. Tadi ketika ia pergi dari kantor dan melewati Movio Rose, tiba-tiba lelaki itu mengingat bahwa botol parfum yang disimpan sang istri di laci meja rias akan segera habis.
“Tuan jadi beli yang mana?” pegawai toko bertanya sopan. Pemuda itu melayani Angga dengan sabar, membiarkan pembelinya memilih dengan puas.
__ADS_1
Ada dua botol parfum dalam genggaman Angga, dia bingung harus memilih yang mana. “Entah, mungkin yang ini? Tapi istriku biasanya suka warna putih. Tunggu, apa di sini menjual parfum yang bisa membuat seorang istri memaafkan suaminya?” tanyanya yang dibalasi senyuman dari pegawai toko. “Tuan sedang bertengkar dengan istri Anda?” Angga ragu-ragu mengangguk mengiyakan. Sebenarnya bukan permasalahan besar, cuman kalau dibiarkan bisa menjadi beban untuk Angga.
“Sebenarnya tidak ada parfum yang bisa membuat seorang istri memaafkan suaminya. Namun, parfum yang tercium dari banyaknya cinta yang Tuan berikan, saya yakin sudah cukup mampu meluluhkan hati istri Anda.”
Jawaban yang diberikan pegawai toko membuat Angga terkekeh, dia memijat keningnya pelan. Astaga, ia lupa kalau istrinya adalah tipikal wanita yang sederhana, hatinya terlalu baik. Tidak mungkin perempuan itu memikirkan parfum apa yang ia pakai. Selagi Angga memberinya dengan tulus, maka Keisha akan menerimanya dengan senang hati. Ia jadi repot karena hukuman yang diberikan agar tak menyentuh istrinya selama seminggu.
“Hahaha… baiklah, berikan aku parfum rose gold. Istriku biasanya menyukai wangi yang menenangkan.”
Penjaga toko segera mengemas barang yang diminta Angga, sebuah parfum dari sulingan bunga mawar merah yang dicampur serbuk kelopak peony. Acara memilih parfum telah selesai, Angga segera meninggalkan Movio Rose menuju parkiran. Pria itu tersenyum senang, usul dari Romi untuk pulang lebih dulu ternyata tidak sia-sia, dia bisa sedikit menghibur hatinya dengan membeli kado kecil untuk Keisha.
Sebelum memasuki mobil, Angga mendapatkan video call dari Jemy. Di layar ponsel ia bisa melihat tingkah Hasa yang dipangku Peter menjambak rambut Jemy dengan rakus. Anaknya memang nakal, sangat aktif dan suka merepotkan orang lain. “Tuan Angga,” suara Jemy tampak memelas. Lelaki yang dulunya merupakan orang kepercayaan Wilson kakeknya terlihat menyedihkan.
“Kau kenapa Jemy? Apa kau ingin memintaku mengirim pemotong rambut dari salon untuk memangkas rambutmu?” kekeh Angga jahil menaikkan alisnya. “Anda tidak perlu melakukannya, Tuan Kecil sudah mencabuti rambut saya sekarang.”
Angga tertawa membuka pintu mobil meletakkan parfum yang ia beli di samping kursi kemudi. Pria itu mulai menyalakan mesin mobil menjalankannya perlahan. “Ayah!” Hasa beralih naik di atas kepala Jemy mencoba merebut ponsel yang lelaki itu pegang.
“Hasa jangan naik-naik, nanti jatuh,” tutur Peter mencoba menurunkan Hasa dari kepala Jemy, akan tetapi anak itu merengek memeluk leher Jemy kuat-kaut. “Ayah! Hasa sedang naik kuda,” katanya cekikan menarik-narik rambut Jemy seperti pegangan pelana kuda.
“Ibu bisa marah kalau Hasa nakal, jadi sekarang turun dan jadi anak baik. Nanti, Hasa bisa main kuda-kudaan denga Ayah,” bujuknya yang berhasil membuat Hasa menggerakkan kakinya mencoba turun dari pundak Jemy. Peter yang melihat bocah kesayangannya turun mulai mengambil tubuh Hasa secara perlahan-lahan agar tidak jatuh.
“Anak baik, sekarang biarkan Ayah bicara dengan Paman Jemy.”
Tangan mungil Hasa langsung menyerahka ponsel pintar itu kepada pemiliknya. Jemy cuma menghembuskan napas kasar mengetahui tuan kecilnya begitu patuh pada ayahnya. Dalam hati Jemy memuji Angga yang pandai mengambil hati Hasa.
“Di mana istriku Jemy?”
“Nona Keisha sedang merangkai bunga di dalam.”
“Baiklah sebentar lagi aku ke sana, katakan pada istriku untuk menungguku.”
__ADS_1
Muka Hasa muncul kembali sebelum Jemy mematikan ponselnya, anak itu menepuk layar kamera begitu antusias. “Dada Ayah,” ucapnya mengakhiri panggilan memberikan ciuman jarak jauh dengan air liur yang mulai menetes.
Pipi Angga di condongkan seolah-olah ia menerima ciuman jarak jauh dari si kecil. Lelaki itu membalas Hasa dengan melambaikan tangan lalu mengedipkan mata sebagai tanda sayang. "Hasa bertambah pintar saja,” puji Angga meletakkan kembali ponsel di kursi samping kemudi. Ia kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.
“Aaaa…!”
Saat mobil Angga berbelok di persimpangan. Seorang perempuan tiba-tiba muncul di hadapan Angga menabrak mobilnya. Dengan reflek pria itu langsung memijak rem sampai kepalanya terbentur setir mobil.
“Untung aku tidak membawa Nyonya atau Hasa, kalau tidak nyawa mereka bisa bahaya,” gumam Angga mengusap keningnya yang agak memar akibat benturan tadi. Perlahan Angga menengok keluar, membuka pintu mobil melihat siapa gerangan yang telah menyebrang sembarangan di jalanan ramai seperti ini.
Perempuan lain datang dari tepi jalan menghampiri mereka. “Ella, kau tidak apa-apa?” tanyanya. Mata Angga memicing menyaksikan dua wanita muda berpakaian modis berada di depannya. “Apa temanmu terluka?” Angga mencoba berjongkok melihat betis wanita yang ia tabrak sedikit memar mulai membiru. “Tunggu sebentar, akan aku panggilkan ambulan.” Angga masuk lagi ke dalam mobil menekan digit angka darurat layanan umum yang bisa ia hubungkan dengan petugas rumah sakit.
Ella yang menyaksikan bagaimana mantan model itu terlihat panik tersenyum senang. ‘Dia sama dengan lelaki lain,’ batin Ella memperhatikan Angga sibuk menghubungi ambulan.
“Apa kau gila menyeberang seperti itu?” bisik Sherin di telinga sahabatnya.
Ella tersenyum mengedipkan mata. “Tuan, maafkan saya yang tidak melihat jalan saat menyeberang. Tapi bisakah Anda mengantarkan saya ke rumah sakit?” Sherin membuka mulutnya lebar-lebar ketika Ella secara langsung meminta bantuan Angga. Lelaki berkemeja hitam itu berbalik, memasang senyum tipis.
“Maaf Nona, tapi saya tidak bisa. Saya sedang buru-buru, istri dan anak saya sudah menunggu. Nona tenang saja, saya sudah memanggil ambulan. Mereka akan segera datang.”
Sherin menutup mulutnya tak menyangka kalau ternyata akan sulit sekali mendekati sosok Angga.
Ella yang mendengar jawaban dari Angga, tersenyum kecut, “Iya, tidak apa-apa Tuan. Terima kasih,” jawabnya membiarkan Angga memasuki mobilnya lagi lalu melenggang pergi ke jalan raya berbaur dengan kendaraan roda empat lainnya.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung