
~Tiada janji yang sulit untuk ditepati, kecuali jika janji itu akan menjadi alasanmu terluka~
Setelah mengantar Tuannya, Willy juga berpamitan undur diri. Saat daun pintu benar-benar tertutup rapat, kini tinggal dua orang yang ada di sana, seorang pria paruh baya dengan kursi rodanya bersama perempuan berkacamata menggunakan dress ungu muda panjang dengan tahi lalat di sudut matanya.
Pria paruh baya itu menjalankan kursi rodanya mendekat ke arah jendela, dia memandang ke luar melihat pohon palem yang menjulang tinggi dengan daunnya yang melambai-lambai tertiup angin dan rantingnya yang mulai kecokelatan karena tersengat sinar matahari.
“Seandainya aku memiliki keberanian yang tinggi seperti pohon itu, maka aku akan hidup bahagia sekarang bersama putraku dan istriku,” ucap Sebastian rendah namun terdengar berat.
Kini matanya beralih memandang ke arah langit yang dilukis oleh Tuhan dengan warna jingga merah ke kuning-kuningan yang sangat menawan. Kemudian pria paruh baya itu berbalik melihat ke arah perempuan yang telah menjadi menantunya. Tatapan hangat ia tunjukkan dengan senyum tipis di bibirnya.
“Nona Keisha, bisakah saya minta satu hal padamu,” tutur Sebastian sembari menatap dalam mata perempuan di hadapannya.
Keisha mengangguk dan memberanikan diri untuk mendekat ke arah pria paruh baya yang sudah menjadi Ayah mertuanya.
“Aku ingin kamu selalu mendampingi putraku,” sambung Sebastian lagi.
“Dia sangat mencintaimu, meski aku sempat melarangnya untuk menikahimu, tetapi dia justru ingin memutuskan hubungannya denganku, dia memilih bersama dengamu daripada aku,” jelas Sebastian lagi dengan sorot mata yang sendu.
“Aku mohon padamu agar menggantikanku menjaga putraku.” Kini suara Sebastian terdengar berat dan serak.
“Anda tidak perlu memintanya Ayah mertua, aku akan menjaga Angga karena dia suamiku.” Jawab Keisha mencoba meyakinkan pria di hadapannya ini yang terlihat begitu rapuh tapi sebelumnya bersikap tegas.
“Terimakasih,” ucap Sebastian lirih. Mata Sebastian mulai menelisik dan menatap setiap inchi wajah Keisha. Meskipun pahatan wajahnya sangat berbeda jauh dengan istrinya, tapi dia dapat melihat bayangan istrinya pada perempuan itu. Sosok wanita yang sangat ia rindukan.
“Nona Keisha, bisakah aku minta satu hal lagi darimu?”
Keisha mengangguk lagi sebagai jawaban, perempuan itu dapat melihat mata penuh damba dan kesedihan dari wajah Ayah mertuanya.
“Bolehkah aku memelukmu?”
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Keisha langsung menghamburkan dirinya pada lelaki paruh baya itu. Dia memeluk Ayah mertuanya walaupun hanya pada bagian kepalanya karena terhalang oleh badan kursi roda.
__ADS_1
Dekapan yang begitu hangat dirasakan oleh Sebastian, perasaan yang sudah dua belas tahun ini ia lupakan, dan tidak pernah lagi ia mengingat kapan terakhir kali dirinya pernah diperlakukan seperti ini selain Susi istrinya.
“Susi aku merindukanmu,” batin Sebastian lirih.
Setelah cukup lama rasa rindunya tersalurkan pada almarhum istrinya. Sebastian melepaskan pelukannya, dan menengadahkan wajahnya menghadap Keisha. Matanya merah namun tidak berair.
“Terimakasih,” ujar Sebastian pelan.
“Jika Ayah merindukan Ibu lagi, Ayah bisa memelukku,” tawar Keisha dengan senyum di bibirnya.
Saat Sebastian memeluk tubuh Keisha tadi, perempuan itu dapat merasakan tubuh Sebastian bergetar namun segera ia tutupi, dan bahkan ketika tangan lelaki paruh baya itu hendak menyentuh kepala Keisha, dia juga mengurungkannya tapi ujung jarinya berhasil menyentuh beberapa helai rambut Keisha sehingga perempuan itu mengetahuinya. Mata Keisha melihat mata Ayah mertuanya yang tertuang banyak kesedihan di sana, tapi sorot matanya sangat tegar dan mengaburkan luka tersebut.
“Seberapa lama Anda akan menahannya Ayah? Kenapa Anda begitu kuat? “ Batin Keisha.
Keadaan hening sejenak tidak ada percakapan di antara keduanya. Mereka hanya saling melihat satu sama lain, ketika Keisha sibuk dengan pikirannya sendiri Sebastian sudah bersiap untuk pergi.
“Nak, mari keluar. Semua orang telah menunggu kita di sana,” kata Sebastian seraya menjalankan kursi rodanya mendekat ke arah daun pintu.
Keduanya meninggalkan ruangan itu dengan perasaan cukup lega, meski masih banyak hal yang ingin mereka utarakan, tapi tetap tidak dapat tersampaikan karena hati mereka tidak mengijinkannya.
Setelah daun pintu di buka, semua pasang mata melihat ke arah Keisha dan Sebastian dengan tatapan bertanya-tanya, terutama pemuda yang sedari tadi pikirannya sudah berkeliaran ke mana-mana mengkhawatirkan istrinya.
“Kei,” sapa Heru terlebih dahulu. Lelaki itu juga merasa cemas terhadap putrinya, dia takut Sebastian akan mengatakan hal yang tidak-tidak.
Keisha tersenyum membalas panggilan dari Ayahnya, kini mata perempuan itu hanya fokus pada satu subjek yaitu suaminya Angga. Pemuda itu pasti mengkhawatirkannya.
Keisha mendorong kursi roda Sebastian menghampiri Angga, ketika telah sampai di hadapan pemuda itu Keisha melepaskan pegangannya pada kursi roda Sebastian, tidak butuh waktu lama tangan Angga telah menarik tubuh Keisha dan mendekapnya dengan erat, seolah-olah berkata agar perempuan itu tidak pergi dari sisinya.
“Nyonya,” panggil Angga tanpa ia sadari begitu pelan hanya Keisha yang dapat mendengarnya.
“Aku tidak apa-apa,” jawab Keisha seraya mengelus pucuk kepala suaminya lembut.
__ADS_1
Angga semakin mengeratkan pelukannya, pemuda itu menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Keisha untuk menghirup aromanya agar rasa takutnya sedikit terobati.
Pemandangan tersebut menjadi hal yang baru bagi anggota keluarga itu, mereka dapat melihat betapa Angga sangat mencintai Keisha dan tidak ingin kehilangannya, semuanya tersenyum haru, tak terkecuali Sebastian. Lelaki paruh baya itu bersuka cita dalam hati. Setidaknya putranya akan mendapatkan kebahagiaan di keluarga ini.
“Lebih baik kita makan sekarang, Bi Asih sudah memasak makanan yang enak, nanti makanannya keburu dingin,” kata Hanum mencoba mencairkan suasana.
“Ayo paman, perutmu harus segera diisi, agar paman tidak kehilangan banyak berat badan seperti patung pancuran yang ada di taman kota hahahah….,” timpal Rafi terkekeh pelan sembari merangkul bahu Heru dan menarik lelaki itu untuk menuju ke ruang makan.
“Untung kau keponakanku, jika tidak aku sudah menenggelamkanmu ke laut,” timpal Heru kesal seraya memukul kepala Rafi pelan dengan buku majalah.
"Ah maafkan keponakanmu yang tampan ini paman," balas Rafi lagi seraya menjewer telinganya sendiri.
Pada akhirnya suasana kembali mencair tidak tegang seperti tadi, tapi meskipun begitu Angga dan Keisha masih berada di ruangan terpisah karena belum bisa bergabung dengan anggota keluarga yang lain. Sementara Sebastian, lelaki itu memilih untuk berpamitan pulang kembali ke Singapura karena tiket penerbangannya tinggal satu jam lagi. Romi juga ikut mengantarkan Tuannya sampai di depan rumah bersama dengan anggota keluarga yang lain.
Acara keluarga itu berjalan harmonis sampai menjelang malam dan mereka menghabiskan waktu dengan bermain serta bersenda gurau. Meskipun demikian dalam benak mereka masih penasaran dengan apa yang dikatakan Tuan Sebastian pada Keisha, karena perempuan itu tidak memberitahukannya dan bersikap biasa saja.
Angga juga sudah merasa sedikit tenang, pemuda itu pada akhirnya tertidur di sofa dalam dekapan Keisha. Sehingga Keisha dan Romi sepakat untuk pulang setelah menunggu Angga bangun meski tengah malam sekalipun. Karena mereka tidak tega melihat wajah Angga yang kusut dan menyimpan banyak beban di pikirannya. Keisha mengusap rambut suaminya secara hati-hati dan sesekali mencium keningnya.
“Terimakasih karena telah mencintaiku Angga, aku sangat beruntung karena memiliki suami sepertimu, terimakasih,” batin Keisha seraya menghapus bekas air mata di sudut mata pemuda yang sudah mulai mengisi relung hatinya yang sempat kosong.
_________^_^________
TERIMAKASIH...Karena masih sabar menanti My Old Wife... Mohon maaf karena alurnya memang lambat...
Semoga kalian menikmatinya....
HAPPY READING..
Tinggalkan Like + Komen + Vote yaaa...❤❤
__ADS_1