My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 22 Menitipkan Rindu


__ADS_3

...~Terkadang kau tak sadar, jika ada orang yang selalu memperhatikanmu dari kejauhan~...


As-Sana


***


Sosok Julian yang telah berpenampilan rapi segera memasuki kawasan kompleks, ia kemari di antar oleh taksi sesuai dengan alamat yang diberikan bibi pemilik galeri. Benar, Julian sedang berkunjung ke rumah Keisha. Lelaki itu semakin yakin kalau bangunan berlantai dua ini adalah rumah kekasih ilusinya, karena di depan pagar ada tulisan kediaman keluarga Wilson. Nama belakang yang sama dengan milik Angga, suami Keisha.


Bibi Elin yang kebetulan tengah menyalakan lampu taman dari samping halaman mencoba mencari tahu siapa gerangan yang datang ke rumah tuannya di malam hari seperti ini? Wanita paruh baya itu segera meletakkan selang yang ia bawa beralih berjalan ke depan menemui Julian.


Penjaga keamanan rumah Angga juga menanyai pelukis terkenal itu, untuk mengetahui maksud kunjungannya. "Tuan sedang mencari Ibu?" Elin mengangkat suara, ia mendengar perbincangan Julian dengan Paman Samm sedikit. "Ibu sama Tuan lagi pergi, tidak ada orang di rumah. Kalau ada titipan pesan nanti biar saya yang sampaikan," tawar Elin ramah.


Julian tersenyum menyerahkan satu tote bag berisi satu set alat lukis lengkap kanvas dan kuasnya. "Berikan ini untuk Hasa, dia suka melukis." Julian sempat mengetahui berita dari bibi pemilik galeri jika anak Keisha telah mencoret-coret kanvas yang sebetulnya telah siap dilukis.


Dari situ, Julian bisa mencium ada ketertarikan tersendiri bagi anak itu terhadap dunia seni. "Tidak ada pesan untuk Ibu dan Tuan Angga?" Elin bingung, ia tidak mengerti dengan lelaki ini. Tadi ia menanyakan Keisha, tetapi sekarang seusai memberikan alat-alat lukis ini untuk anak majikannya justru Julian pergi tanpa mengatakan apa pun.


"Tidak ada, katakan saja. Jika Hasa ingin belajar melukis, Ibu atau Ayahnya bisa memintaku untuk menjadi gurunya."

__ADS_1


Sebuah kartu nama Julian tinggalkan pada Elin, lalu dia berpamitan keluar berjalan lagi menuju jalan raya. Pak Samm yang menyadari ada mimik muka ketulusan dari pria itu mengatakan pada Elin agar memberikan saja benda-benda itu pada Hasa. Ia bisa merasakan kalau tidak ada niat jahat dari Julian.


***


Gedung putih yang berada di dekat kebun binatang dipenuhi lautan manusia. Mereka tengah berobat atau melakukan pemeriksaan. Walau malam seperti ini, rumah sakit itu tetap beroperasi seperti di siang hari. Luka Eliot telah dijahit, robekan sedikit di kulit kepalanya sudah diberi obat dan diperban.


Ketika, Eliot membuka mata ia bisa melihat bayangan Ella kecil yang tersenyum padanya. "Kau sudah sadar?" kelopak mata Eliot mengerjap, ia senang. Karena menemukan teman kecilnya.


"Baiklah, karena kondisimu sudah mulai membaik. Jadi aku tidak perlu lagi menjagamu. Tanggung jawabku telah selesai."


Ya, selama Eliot dinyatakan mengalami guncangan pada otak belakangnya akibat benturan papan reklame yang berat dengan kerangka besi itu, dia dinyatakan koma. Setelah melakukan operasi kecil dan tak sadarkan diri selama hampir satu pekan, Ella yang terus menungguinya.


Eliot cuma bisa memandang punggung Ella yang kian menjauh tak bisa ia gapai. Kepalanya masih cukup pusing kalau digunakan bergerak. "Dokter, pasien telah sadar." Seorang suster yang membawa catatan medis beserta bolpoin di tangan segera datang mulai mengecek kondisi tubuh Eliot. Paman Gio pemilik restoran tempat ia bekerja juga ikut masuk ke ruangan. Tampak jelas raut kelegaan dari lelaki paruh baya tersebut.


"Eliot, Paman senang kau baik-baik saja. Gadis itu menjagamu dengan baik. Dia juga yang membayar biaya pengobatanmu." Paman Gio memeluk Eliot, mengusap punggungnya. Setelah dipenuhi rasa kecemasan akhirnya pegawai yang sudah ia anggap layaknya anak sendiri telah tertolong dari maut.


"Kondis Tuan mulai pulih, setelah ini saya akan menuliskan resep yang bisa membantu Tuan mengurangi pening di kepala. Untuk berjaga-jaga, Tuan harus banyak beristirahat selama dua minggu ini, jangan memaksakan diri untuk bekerja."

__ADS_1


Dokter itu tahu bagaimana pasiennya dengan baik, karena saat Eliot datang dengan luka parah. Lelaki tersebut masih memakai seragam pelayan restoran. Bahkan catatan tagihan dan pembayaran masih ada di genggaman tangannya serta saku bajunya.


Eliot mengangguk sebagai jawaban, ia meminta maaf pada Paman Gio karena akan membuat lelaki itu kerepotan tanpa kehadirannya. "Pulihkan kondisimu dulu, baru setelah itu kau bisa bekerja sepuasmu," nasihatnya.


Mengenang tentang Ella, buru-buru Eliot mengambil kertas kosong di atas nakas samping ranjang yang ia tempati. Dia menuliskan beberapa kalimat kepada Paman Gio. Sebelum Paman Gio menjawab, dokter cantik yang berdiri di samping mereka berkata.


"Sepertinya rumah sakit mempunyai nomor gadis itu, jika Tuan mau nanti akan kami berikan."


Senyum Eliot segera terbit, ia berterima kasih banyak. Dengan begini, jejak Ella tak hilang begitu saja. Ia masih bisa menemui gadis itu lagi dan mencoba membuat Ella ingat tentang dia. Teman masa kecilnya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


~Bersambung.


__ADS_2