My Old Wife

My Old Wife
Pernyataan Cinta di Saat Turun Hujan


__ADS_3

~Kebahagiaan akan selalu datang pada mereka yang sudah lama menantinya~


Seusai memilih gaun pengantin, Hanum, Angga, dan Keisha menyusul Helen yang memang sedari tadi berpisah dari mereka saat memasuki butik. Helen memilih untuk datang ke ruangan sebelah yang memang dikhususkan untuk menyiapkan foto prewedding. Ya, gedung itu bukan hanya butik penjual gaun pengantin, gaun pesta, dan pakaian formal serta pakaian santai. Tetapi juga memiliki ruang khusus untuk melakukan pemotretan pasangan pengantin. Maka dari itu, Hanum mengajak calon menantunya dan anaknya ke toko butik langganannya agar tidak menyita banyak waktu.


"Kakak! Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggu selama tiga puluh menit," gerutu Helen kepada Keisha. 


"Tadi, Kakak Iparmu menahan Kakakmu untuk datang kemari, mereka sedang menikmati waktu berdua," kata Hanum sembari tertawa kecil. Dia sedang menggoda Angga. Pemuda itu melihat Helen dengan tatapan bersalah. 


"Apa pasangan pengantinnya sudah datang?" Tanya sang fotografer menyela pembicaraan mereka. 


"Iya Pak, ini mereka," Helen menunjuk Keisha dan Angga seraya menggandeng tangan mereka berdua. 


"Kalau begitu, segera ganti baju kalian," pinta sang fotografer. 


Tanpa aba-aba Helen langsung menarik kedua pasangan itu dan mendorong mereka ke pintu masuk ruang ganti. Tidak selang beberapa lama Angga sudah lebih dulu keluar dari ruang ganti tersebut. Dia memakai jas abu-abu dan kemeja hitam, tanpa dasi. Keranya sedikit terbuka karena tema yang dipilih oleh Helen ternyata adalah mafia.


"Kakak cepat keluar, calon suamimu sudah keluar sejak tadi. Apa kamu mau membuat Kakak Ipar menunggu?" Helen menggedor pintu ruang ganti Keisha.


"Helen apa tidak ada pakaian yang lain?" Sahut Keisha lirih dari balik pintu. 


"Tidak ada Kak, hanya itu. Ayolah pakai saja, itu sesuai dengan tema," ujar Helen sambil tersenyum senang. 


"Nyonya apa Anda butuh bantuan?" Tawar Angga. 


"Tidak perlu," Keisha keluar dan membuka kenop pintu.


Angga terkejut dengan penampilan Keisha, dia memakai gaun berwarna merah selutut dan bagian bahunya tidak ada, baju itu cukup terbuka. Penampilan Keisha yang sekarang seperti bukan dirinya, Keisha terus menutupi bagian bahunya dengan tangannya. Dia menyilangkan kedua tangannya bermaksud untuk menutupi pakaian yang sedikit kurang bahan itu.


"Jangan melihat," pinta Keisha pada Angga. 


Pemuda itu bergegas mengalihkan pandangannya. Dia membuka jasnya pelan-pelan dan memakaikannya di bahu Keisha tanpa melihat ke arahnya sedikitpun. Setelah jas itu terpakai secara sempurna di tubuh Keisha, perempuan itu baru menurunkan tangannya. 

__ADS_1


"Kita ganti tema saja," ucap Angga. 


"Tapi__?" Sanggah Helen.


"Nyonya, gantilah dengan pakaian Nyonya yang tadi," pinta Angga yang dibalasi anggukan dari Keisha. 


"Kakak Ipar? Tidak apa sekali-kali melihat Kak Keisha memakai pakaian itu," gerutu Helen tidak terima karena apa yang sudah dia siapkan sia-sia.


"Helen, Nyonya Keisha tidak nyaman memakainya. Aku juga tidak ingin Nyonya memakai pakaian itu dan dilihat oleh lelaki lain," kata Angga sembari mengingat kalau fotografer di sana juga seorang lelaki.


"Baiklah," ujar Helen pasrah.


Tidak lama Keisha keluar dari ruang ganti dengan gaun panjang berwarna cokelat muda yang dipakainya tadi. Angga langsung menghampiri Keisha dan menggenggam tangannya. Pemuda itu membawa Keisha ke dalam toilet dan membasuh wajah dan kepala perempuan itu dengan air, dia juga melakukan hal yang sama pada dirinya.


"Maafkan aku Nyonya, karena tubuh Anda akan sedikit basah," tutur Angga lembut.


"Tidak apa-apa," jawab Keisha pelan.


Pemuda itu tersenyum manis ke arah Keisha, dan menunjukkan giginya yang putih. "Baiklah ayo kita lakukan pemotretan," Angga menarik Keisha keluar dan menuju ke booth tempat pengambilan gambar yang sudah di siapkan dengan background gelap di dindingnya.


"Ini untuk menyesuaikan tema Pak, 'Pernyataan Cinta di Saat Turun Hujan'." Jawab Angga. 


"Oh baiklah, kita mulai sekarang," ujar sang fotografer sembari mengatur lensa kameranya.


Karena Angga seorang model sekaligus juga kuliah di jurusan fotografi, tentu dia tidak kesulitan dalam membuat pose yang akan bagus di tangkap oleh layar kamera. Angga membuat dirinya menghadap ke arah Keisha, dimana perempuan itu memegang kedua bahunya karena kedinginan.


Angga menggunakan jasnya sebagai tudung di atas kepala calon istriya seolah-olah melindunginya dari guyuran hujan. Rambut pemuda itu dibiarkan tidak rapi dan poninya menutupi matanya, air guyuran di kran tadi membuat air masih menetes di pucuk-pucuk rambutnya. Sama persis dengan saat seseorang telah basah kuyup karena hujan. 


"Aku mencintaimu," ucap Angga.


Deg...Deg..Deg..

__ADS_1


Jantung Keisha berdetak dengan kencang, perempuan mulai merasakan debaran di dadanya saat pemuda itu mengatakan cintanya barusan.


"Apa yang sedang terjadi padaku? Kenapa ini terasa begitu nyata?" tanya Keisha sembari melihat ke arah Angga yang masih menatapnya dalam dengan tetesan air yang jatuh di bulu mata pemuda itu.


Cekrek...


Cekrek...


Scene tadi sangat bagus, sang fotografer memperoleh gambar yang luar biasa. Saat pemuda itu tengah menatap mata pasangannya dengan dalam, dan sang perempuan sedang mendongak melihat wajahnya. Kemudian, tetesan-tetesan air menghiasi wajah mereka serta membasahi sebagian tubuh mereka. Scene itu terlihat natural, sehingga membuat fotografer itu tersenyum puas atas hasil kerja kerasnya. 


Dua jam kemudian acara pemotretan itu selesai dengan berbagai macam model gaya yang diambil. Setelah itu, Angga dan Keisha segera mengganti pakaian mereka dengan pakaian kering, Angga memakai bajunya yang tadi, sementara Keisha memakai baju yang dibelikan Hanum beberapa saat lalu ketika mengetahui baju putrinya telah basah dan tidak mungkin dapat dipakai lagi.


Rencana memilih gaun pengantin dan pemotretan berjalan dengan lancar hari itu, dan mereka telah kembali ke kediaman Heru Prawijaya malam harinya. Hanum dengan sengaja mengajak Helen untuk masuk ke dalam rumah dan hanya menyisakan Angga dan Keisha di depan gerbang rumah mereka. 


"Nyonya, maafkan saya karena telah membuat Anda kedinginan tadi," ujar Angga seraya melepas blazer-nya dan memakaikannya di tubuh Keisha.


"Sekarang Nyonya masuklah, ini sudah malam. Besok adalah hari pernikahan kita, aku tidak ingin Nyonya sakit," imbuh Angga lagi. Pemuda itu berjalan ke arah mobilnya dan bersiap untu membuka pintu mobil.


"Angga," panggil Keisha hingga membuat pemuda itu menghadap ke arahnya. 


"Jangan berbicara formal padaku, kita akan menikah dan menjadi pasangan suami istri," Keisha menatap mata pemuda itu lekat-lekat.


"Iya, akan saya usahakan. Mari memulainya secara perlahan-lahan," jawab Angga yang dibalasi anggukan dari Keisha.


"Selamat malam Nyonya," kata Angga seraya memasuki mobilnya, dan menunggu Keisha masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


"Hati-hati di jalan," ucap Keisha sembari melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumahnya. 


"Saya sudah tidak sabar menunggu hari esok Nyonya," batin Angga seraya tersenyum senang. Pemuda itu menyalakan mesin mobilnya dan menuju ke apartemennya. Sementara itu, Keisha tengah menyaksikan mobil Angga keluar dari area perumahan, dia melihatnya dari balik kaca jendela kamarnya.


"Besok aku akan menikah Ibu, dan aku tidak akan sendirian lagi Ibu. Calon suamiku telah datang. Dia begitu baik dan sangat menyayangiku, aku dapat melihat cinta di matanya untukku. Ku harap aku dapat membalas cintanya," kata Keisha dalam hati.

__ADS_1


Keisha menutup jendela kamarnya dan merebahkan dirinya di kasur, dalam hening perempuan itu berpikir mungkin aku harus memberikan like dan vote untuk author agar semangat menulis.


HAPPY READING🤗🤗


__ADS_2