
~Kegilaan menghampiri mereka yang terlalu bahagia~
Dada Angga terasa sesak, napasnya memburu udara, mencari sedikit oksigen untuk menenangkan paru-parunya yang mulai kembang-kempis tidak karuan.
Pria itu melepaskan pelukannya secara spontan dari tubuh Keisha, ia beralih melihat wajah istrinya yang sembab karena menangis. Bibir Angga bergetar hebat rasanya ia mulai membisu. "Kamu tidak bercanda kan sayang?" Tanya Angga sedikit tersendat, jantungnya sudah memompa begitu cepat seperti laju rel kereta api. Keisha mengangguk, "aku serius Angga," ujarnya lirih.
Angga mengusap wajahnya kasar, debaran jantungnya mulai menggila. "Hahaha..ini gila!" Angga tertawa hambar, tapi matanya sedikit berkaca-kaca. "Anda tidak membohongiku kan Nyonya?" Tanyanya lagi. Keisha memegang pipi Angga yang putih, "aku benar-benar hamil Angga." Kata Keisha semakin serius.
Angga sedikit menggigit bibirnya, dia sampai kebingungan harus bereaksi seperti apa? Rasanya ada hal aneh yang terus mengisi dadanya, bibirnya bergerak kadang mencoba membentuk sebuah senyuman tapi karena terlalu gugup ia sampai lupa caranya. "Aku akan menjadi Ayah?" Tanyanya lagi yang dibalasi anggukan dari Keisha.
Kebahagiaan yang Angga rasakan semakin bertambah. Pria itu berjongkok sesaat menggigit bibirnya lalu berdiri lagi. "Kamu hamil sayang?" Entah sudah berapa kali pria itu menanyakan hal yang sama jawabannya. Mungkin karena Angga terlalu bahagia mendengar kabar kehamilan istrinya.
Keisha memegang tangan Angga lalu mendaratkannya di perutnya yang rata. "Anak kita ada di sini," ucap Keisha halus yang membuat Angga semakin salah tingkah.
Pria itu tertawa renyah seraya menepuk-nepuk kedua pipinya. "Hahaha..., ternyata ini juga bukan mimpi." Angga menghentikan tawanya ia beralih melihat Keisha yang terlihat khawatir.
"Apa kamu tidak senang karena aku hamil?"
Pertanyaan Keisha seperti pisau yang langsung menusuk ke jantung Angga begitu sakit dan terasa perih. Angga mendekat ke arah Keisha lalu memeluknya erat-erat. "Mana mungkin aku tidak senang? Bahkan sekarang rasanya aku mau mati karena terlalu bahagia." Bisik Angga ditelinga Keisha.
"Terimakasih, terimakasih banyak." Kata Angga berulang kali tanpa henti. Keisha hanya mengusap punggung Angga. Suaminya bertambah emosional. Keisha dapat merasakan debaran jantung dan deru napas Angga yang tidak teratur sama halnya saat ia pertama kali mendengar kabar tidak terduga ini.
"Angga!" Kata Keisha cukup terkejut saat Angga sudah mengangkat tubuh Keisha ke atas. Lutut Keisha secara reflek menekuk karena ditopang tangan Angga.
"AKU AKAN JADI AYAH.......!!!" Teriak Angga menggila hingga membuat para pengunjung di sana menoleh kepadanya. Bahkan anak-anak yang berlarian tadi ikut berhenti dan melihat ke arah pasangan suami-istri itu.
"Paman itu kenapa?" Tanya bocah memakai sarung tangan merah dengan bola salju di genggamannya. "Mungkin Paman itu sedang menyanyi Niel," ujar teman bocah tadi. Keduanya kembali bermain tanpa menghiraukan Angga.
"Angga turunkan aku," pinta Keisha halus. Tapi suaminya itu justru semakin mengangkatnya ke atas.
"Jangan bergerak sayang, nanti kamu terja-----tuh."
Bruk..
Belum sempat Angga menyelesaikan ucapannya, tubuh Keisha sudah menindihnya di atas. Mereka berdua terjatuh. Untung keduanya berada di tumpukan salju yang cukup tebal sehingga saat punggung pria itu membentur tanah ia tidak merasa sakit.
"Hahahaha..., aku terlalu bahagia," ucap Angga tertawa senang. Ia melihat wajah istrinya yang berada tepat beberapa centi di depannya.
__ADS_1
"Terimakasih atas semuanya sayang," ujar Angga menutupi matanya. Sudut mata Angga sudah berair. "Maaf aku menangis," imbuhnya lagi. Keisha meletakkan kepalanya di dada Angga, ia dapat mendengar debaran jantung pria itu.
"Apa terasa sakit sayang?" Angga segera bangkit dari posisinya dan memeriksa keadaan Keisha. "Tidak apa-apa," jawab Keisha yang membuat Angga menghembuskan napas lega.
"Maafkan Ayah ya," ucap Angga langsung mengusap lembut perut Keisha yang terbungkus jaket tebal musim dingin. Keisha hanya tersenyum simpul.
Tidak lama, beberapa orang mulai berdatangan menghampiri mereka berdua. "Kalian tidak apa-apa Nak?"Tanya seorang kakek beruban yang membawa sekop kecil di tangannya. Angga hanya menggelengkan kepalanya kecil. "Aku tidak apa-apa Kakek, hanya istri dan anakku yang sedikit terkejut," jawab Angga jenaka.
Kakek tua itu melihat sekeliling pria itu mencoba mencari kehadiran seorang anak yang dibicarakan Angga. Seolah mengetahui jalan pikiran pria tua beruban itu, Angga langsung menyentuh perut Keisha kembali. "Dia masih di dalam sini Kakek," ujar Angga yang dibalasi senyum tipis oleh kakek tadi.
Ketika kakek itu hendak meninggalkan mereka, Angga mencegahnya. Tangan Angga mencekal tangan pria beruban tadi, " Kakek belum memberikan berkat untuk anakku." Kata Angga tanpa tahu malu. "Angga," tegur Keisha memperingati suaminya agar tidak memaksakan kehendak pada orang yang lebih tua.
"Tidak apa Nak, maaf Kakek lupa memberi berkat pada Ibu dan bayi dalam kandungannya." Kakek tadi berbalik kembali ke arah Angga, tangan pria tua itu menyentuh kepala Keisha lalu mendoakan kebaikan untuk perempuan itu dan janin dalam kandungannya.
Angga tersenyum lebar setelah kakek tadi memberi berkat untuk istri dan anaknya. "Jangan lakukan itu lagi, tidak baik bersikap seperti itu pada orang tua," nasihat Keisha tapi justru dibalasi gelengan kepala oleh Angga.
"Kamu tidak tahu sayang, semakin banyak doa yang diterima anak kita. Maka itu akan semakin baik," elak Angga seraya berdiri.
Pria itu membersihkan sisa salju di baju Keisha dan dirinya. "Paman! Anda tidak apa-apa?" Suara seorang bocah lelaki yang usianya hampir sama dengan Peter. Bocah itu adalah anak yang sempat mengira Angga sedang bernyanyi tadi. "Ayo pergi Niel," ajak temannya. Tapi Niel bersikukuh untuk tetap di sana.
Angga tersenyum tulus saat melihat dua bocah yang cukup peduli padanya. Kedua bocah itu pasti mengkhawatirkan dirinya karena melihat ia terjatuh tadi. "Paman tidak apa-apa," kata Angga ramah. Niel hanya mengangguk mengerti. Kemudian ia pamit untuk undur diri.
"Ah rasanya aku semakin tidak sabar untuk menantikan kelahiran anak kita Nyonya." Cetus Angga sembari mengusap wajahnya lagi. Tangan pria itu menumpu dagunya untuk menengadah menatap langit yang gelap. "Nyonya," panggil Angga halus.
Sebelum Keisha sempat menjawab panggilannya Angga sudah mengangkat tubuhnya menggendong Keisha ala seorang putri. "Angga! Turunkan aku," tutur Keisha lagi. Tapi dibalas tawa yang menggema dari Angga.
"Kamu tidak bisa turun sayang, karena kita akan melakukan perjalanan panjang. Aku tidak mau kamu kelelahan." Angga mulai menunjukkan senyum nakalnya.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Keisha mulai khawatir.
"Kita akan meminta restu pada semua pengunjung yang ada di sini untuk memberkati calon anak kita," jawab Angga enteng semakin menguatkan gendongannya.
"Jangan bercanda Angga, ini tidak lucu." Keisha tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya. Meminta restu pada semua pengunjung itu terasa mustahil apalagi hampir sebagian turis juga berada di sini. Dalam sekali lihat perempuan itu tahu kalau jumlah orang di Rideau Canal Skateway mencapai ribuan orang.
"Aku serius sayang, lihatlah." Pinta Angga ketika suara pria itu mulai terdengar berteriak melakukan apa yang ia katakan.
"Tuan-Tuan dan Nona-Nona! Istriku sedang hamil! Mohon berikan berkat untuk janin dalam kandungannya!" Angga berjalan ke setiap pengunjung yang ada di sana. Pria itu mulai berkoar-koar mengumumkan tentang kehamilan Keisha.
__ADS_1
Dari satu pos ke pos yang lain, Angga terus meminta berkat dari orang-orang yang ada di sekitar gelanggang olahraga ice skating itu. Bahkan petugas pengawas keselamatan pengunjung juga tidak lepas dari daftarnya.
Angga terus mengumbar senyum kepada semua orang yang sudah memberikan restu untuk istri dan calon anaknya. "Paman, Bibi terimakasih atas berkat kalian." Begitulah kira-kira ucapannya kepada semua orang. Tidak jarang mereka juga meminta foto dari Angga, terlebih sebagian orang yang masih mengenali wajahnya sebagai seorang model dulu.
Aksi Angga ini mengundang banyak perhatian massa, hampir seperempat dari pengunjung di area itu membentuk kerumunan berkumpul untuk melihat sepasang suami-istri tersebut. "Kakak bisa berikan tanda tangan untukku," suara gadis yang cukup antusias. Dia adalah salah satu penggemar berat Angga dulu. Tentu pria itu menyetujuinya.
"Berikan berkat untuk calon anakku maka aku akan memberimu sepuluh tanda tangan," jawab Angga yang disambut teriak kegirangan dari gadis berdarah Belanda itu.
Kegaduhan mulai terjadi ketika beberapa pengunjung mengikuti aksi gadis tadi, sebagian besar orang ikut mengerubungi Angga dan Keisha ketika tahu bahwa pria itu adalah mantan model ternama.
Acara berkat memberkati bercampur dengan jumpa fans lama itu terjadi sampai malam menjelang. Tawa riuh serta ucapan doa diterima oleh Keisha dari pengunjung.
Perempuan itu tersenyum hangat, hatinya berdesir mengetahui cinta suaminya yang begitu besar untuknya. "Semoga doa dari orang-orang baik ini, dapat menjagamu tetap kuat di kandungan Ibu Nak," itulah kata Keisha dalam hati seraya mengulurkan tangannya menerima berkat dari semua orang.
_____
Keesokan paginya di kediaman Angga, Romi tampak membawa setumpuk majalah dan koran di tangannya. Romi menggelengkan kepalanya melihat Angga yang tersenyum lebar tidak merasa bersalah sedikitpun atas masalah yang telah ia perbuat.
"Tuan Muda, lihatlah." Perintah Romi yang hanya dibalasi deheman kecil dari Angga, karena pria itu masih asik membuatkan susu untuk Keisha sebelum istrinya bangun.
"Anda menjadi tranding topik di kolom berita hari ini," tutur Romi seraya menunjuk header kolom artikel di surat kabar dan majalah harian Ottawa. Angga tidak menanggapi Romi sama sekali ia masih fokus menyeduh air hangat di susu bubuk dalam gelas yang telah ia siapkan untuk Keisha.
"Ah saya bisa gila kalau harus membereskan semua masalah anda, Tuan Muda." Keluh Romi frustasi karena merasa diabaikan oleh Angga. Kolom artikel itu berisi tentang kembalinya mantan model ternama Asia, "Angga Adiputra" di dunia permodelan.
Acara berkat memberkati yang dilakukan Angga kemarin malam secara tidak langsung membuka peluang Angga untuk masuk kembali ke dunia entertainment tersebut.
"Itu bukan salahku, aku hanya meminta berkat untuk calon anakku. Jadi jangan salahkan aku kalau ada penggemar lamaku yang mengenaliku." Jawab Angga santai berlalu pergi dari Romi menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya lagi.
Romi hanya dapat menatap punggung Tuan Mudanya dengan kesal. Romi memang senang saat mengetahui Keisha hamil tapi kegaduhan yang telah dibuat Angga harus membuat Romi bekerja dua kali ekstra lebih berat. Karena dia tidak mungkin membiarkan Angga menjadi model kembali ketika putra Tuanya Sebastian itu sedang mengurus bisnis kakeknya saat ini.
"Oh ya Romi, hari ini aku tidak berangkat ke kantor. Aku akan menemani istriku untuk periksa ke Dokter Kandungan." Kata Angga saat ia menaiki anak tangga terakhir.
Romi semakin pusing setelah mendengar ucapan Angga. "Jadi saya harus mengurus masalah wartawan sendirian?" Tanya Romi yang dibalasi dehemen kecil dari Angga.
Rasanya kepala Romi berdenyut dan mulai terasa pening. Romi tidak menyangka jika melayani Angga membuat nyawanya sebagian mulai meninggalkan raganya. "Sabar Romi, ingat Tuan Sebastian yang mempekerjakanmu." Batin Romi mencoba menenangkan pikirannya dengan mengenang Tuannya Sebastian.
Terimakasih karena masih setia mengikuti My Old Wife.
__ADS_1
Salam sayang.
Angga & Keisha 💌