
~Tiada akhir dalam pertemuan, meski perpisahan menanti tapi sebuah awal akan datang~
Keesokan harinya Angga sudah siap dengan pakaiannya yang rapi, dengan kaos putih berlapis blazer berwarna hitam serta jeans berwarna hitam yang berbahan dari kain beludru yang halus. Rambutnya juga sudah diisisir rapi dan tidak lupa syal buatan ibunya yang sudah ia lilitkan di lehernya. Pagi ini pukul 10.15 pemuda itu akan melangsungkan penerbangan ke Singapura. Tapi sebelum itu, Angga lebih dulu datang ke kediaman kakaknya Liliyana. Perempuan yang sudah seperti saudari kandungnya sendiri.
Angga menekan beberapa kali bel rumah minimalis dengan dekorasi bunga lili yang digantung di tiangnya, sementara di halaman rumahnya sudah dipenuhi oleh berbagai macam tanaman bunga. Rumah itu terlihat berwarna warni jika dilihat dari luarnya. Tidak lama setelah bel berbunyi, daun pintu dibuka dan menampakkan seorang perempuan berpotongan cepak sebahu dengan apron di tubuhnya.
"Kakak," sapa Angga dengan senyum yang lebar.
"Sekarang kamu baru ingat kakakmu! Kemana saja kamu selama ini?" Omel Liliyana dengan menjewer telinga Angga.
"Ah iya, iya. Lepaskan aku Kak, ini sakit," ujar Angga sembari memegang lengan Kakaknya yang masih menarik daun telingannya.
"Daddyy!!.. Daddyyy!!.." panggil gadis kecil dengan rambut dikucir dua yang langsung berlari menghamburkan dirinya untuk dipeluk Angga.
"Melisa jangan panggil Om kamu dengan sebutan Daddy lagi. Dia bukan Daddymu!" Ucap Liliyana ketus.
Namun Melisa justru tertawa dan merangkul leher Angga. Angga menggendong keponakannya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Dia mencium pipi Melisa yang berwarna merah seperti jambu.
"Apa Meli merindukan Daddy?" Tanya Angga sembari mengusap hidung si mungil dengan hidung miliknya.
"Ahahahaha.. Daddy geli, jangan lakukan itu lagi. Nanti hidung Meli bisa semakin datar seperti papan gorengan," ujar Melisa seraya tertawa dan menutupi hidungnya dengan tangannya, untuk menghindari aksi jail Angga.
"Siapa yang mengatakannya? Hidung Melisa ini sangat lucu. Daddy jadi ingin memakannya." Goda Angga seraya mencium hidung si kecil.
"Mama yang mengatakannya, Mama bilang hidung Meli seperti papan gorengan karena terlalu kecil," adu Melisa sembari menunjuk ke arah Liliyana. Angga hanya tertawa melihat Kakaknya itu yang diberikan juluran lidah oleh keponakannya.
"Kalau kamu ngomong seperti itu lagi sama Om Angga, Mama gak akan mengajak Meli melihat badut lagi," ancam Liliyana seraya memasang wajah "ngambek".
"Jangan Mama!! Meli ingin lihat Om badut. Om Angga lebih baik pergi sekarang, Meli gak mau Om Angga buat Mama marah dan gak mengajak Meli lihat Om badut lagi," tutur Melisa lucu dan turun dari gendongan Angga dan berganti memeluk kaki Liliyana.
"Hahahaha... iya, iya, Om Angga akan pergi tapi setelah Om Angga bicara sama Mama sebentar."
__ADS_1
Angga datang menghampiri Melisa dan mengusap pucuk kepala gadis mungil itu. Dia memberikan beberapa koin coklat yang memang sengaja dia beli sebelum datang kemari.
"Boleh Om pinjam Mama sebentar?"
Melisa mengangguk memberi jawaban, gadis itu menerima coklat pemberian Angga dan berjalan menuju kamarnya. Meski baru berusia enam tahun tapi Melisa sangat pintar, dia segera mengerti maksud Angga. Dan meninggalkan Mamanya bersama Angga berdua di ruang tamu.
"Jadi kamu benar-benar akan menikah dengan Nyonya Keisha?"
"Iya, aku akan menikah dengannya Kak," kata Angga serius.
Liliyana menghembuskan napasnya sejenak, kini matanya menatap manik mata Angga yang sangat mirip dengan Ibu angkatnya.
"Apa kamu benar-benar mencintainya? Kakak takut kamu tidak akan bahagia, kalau kamu hanya ingin membalas budi atas kebaikannya kepada keluarga kita dulu."
"Aku mencintainya Kak, dan aku juga menghormatinya. Tidak ada paksaan dalam keputusanku ini."
"Baiklah jika itu maumu, Kakak hanya bisa berdoa agar kalian bahagia."
"Aku tahu kamu kemari, ingin menanyakan soal ini," kata Liliyana sembari menyodorkan amplop berwaran cokelat dengan perangko berwarna kekuning-kuningan bertuliskan "Singapore" di sudut kanan atasnya.
"Di sini ada alamat Ayahmu, dan ini__," Liliyana kembali menyodorkan kembali apmplop berwarna putih.
"Ini surat dari Ibu untuk Ayah, Ibu sudah menduga kalau suatu hari nanti suaminya akan datang lagi mencari anaknya."
Baru saja Angga mengambil dua amplop itu, kini Liliyana memberikan kotak perhiasan seperti kubus berwarna hitam.
"Ibu menyuruhku memberikan ini padamu saat kau akan menikah. Dia ingin memberikan hadiah ini untuk calon menantunya. Ibu sudah mempersiapkan semuanya saat Ibu tahu dirinya sakit, dan tidak mungkin dapat melihatmu sampai tumbuh besar," tutur Liliyana lagi. Belum juga Angga mengambil kotak perhiasan itu, perempuan itu mengambil sesuatu lagi dari saku bajunya.
"Dan ini, berikanlah pada Nyonya Keisha. Ibu membuatkan khusus untuk putrinya. Dia juga membuatkan satu untukku, lihatlah," pinta Liliyana seraya menunjuk kalung liontin perak berbentuk bunga mawar di lehernya.
"Terimakasih Kakak," kata Angga seraya memeluk wanita di hadapannya itu.
__ADS_1
"Jangan bersedih. jika kamu merasa kesusahan datanglah padaku, aku dan Meli akan selalu ada untukmu," kata Liliyana seraya mengusap kepala Angga pelan.
"Ibu lihatlah! Putramu sudah sangat besar. Kini dia sudah dewasa, dia juga akan segera menikah. Adikku yang selalu berebut permen denganku sudah tidak manja lagi. Ibu, aku akan menjaga Angga seperti Ibu menjagaku dulu. Terimakasih atas semuanya," batin Liliyana dalam hati.
Setelah cukup lama berpelukan, Angga pada akhirnya berpamitan kepada Kakaknya dan keponakannya yang sangat dia sayangi. Pemuda itu melanjutkan perjalanannya menuju ke bandara.
Nyonya, aku akan berangkat.
Angga Adiputra.
Itu adalah satu kalimat pesan teks yang dikirim pada Keisha sebelum pemuda itu menaiki pesawat. Setelah itu, Angga mematikan ponselnya karena pramugari telah mengingatkannya untuk mematikan sementara alat komunikasi yang di miliki oleh para penumpang.
Di sisi lain, Keisha yang menerima pesan singkat dari Angga, segera membalasnya dengan cepat. Tidak seperti pesan-pesan sebelumnya yang selalu ia abaikan.
Selamat jalan.
Perempuan itu sedang menatap langit yang luas dari balik jendela kantornya. Warna langit yang berwarna cerah menenangkan hatinya.
"Ferdian, apa kau bisa menggantikanku bertemu klien siang ini?" Tanya Keisha masih berdiri dan menghadap kaca transparan itu yang menampakkan gambar gedung-gedung yang menjulang tinggi di bawahnya.
"Iya Kei, tentu saja."
Entah mengapa hati perempuan itu terasa berat, dia sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk bekerja. Mungkin ini karena pemuda yang baru saja dekat dengannya harus pergi sekarang. Meninggalkannya seorang diri bersama dengan kenangan yang pernah mereka lewati meski hanya sebentar.
Di dalam pesawat pemuda itu memandang ke arah jendela kecil disampingnya, dia dapat melihat gumpalan awan putih di sana terhampar luas.
"Aku akan segera kembali Nyonya, tunggulah aku."
_____________^_^
SELAMAT MEMBACA...
__ADS_1
Jangan Lupa tinggalkan Like + Vote + Komen ya... 🤗🤗*