
...~Manik hitam yang selalu hangat menatapku kini berbeda. Dia seolah-olah berada jauh dariku~...
-Keisha Prawijaya-
***
"Kakak!" seruan seorang gadis menghentikan langkah kaki Angga. Hari ini pekerjaannya sebagai kasir di mini mart berakhir dengan cepat. Sehingga ia bisa pulang lebih awal.
Angga berbalik, iris hitamnya berkilat di bawah penerangan trotoar. Dari jarak kurang dari tujuh meter dia bisa melihat bayangan Sonia mendekat ke arahnya. Gadis itu berlari dengan ransel punggung serta jaket merah maroon yang terombang-ambing.
"Kenapa Kakak tidak menungguku?" gerutunya memanyunkan bibir manja. Gadis berusia delapan belas tahun itu memeluk Angga sebentar. "Aku tidak tahu jika kamu akan datang menjemputku," sahut Angga menarik hidung Sonia sampai memekik kesakitan. Lelaki itu tersenyum lebar menepuk kepala Sonia.
"Sudah makan?" Sonia menggelengkan kepala tersenyum samar. "Anak ini! Kau sengaja tidak makan sebelum Kakak pulang 'kan?" Angga menjewer daun telinga Sonia pelan. "Baiklah kita makan dulu sebelum pulang," tawarnya yang langsung dibalasi anggukan semangat dari Sonia.
Mereka berjalan mengikuti jalur pejalan kaki, mencari rumah makan sederhana. Keduanya segera duduk di salah satu meja yang berada di luar. Cuma ada beberapa kursi yang ditata rapi.
"Makan apa pun yang kau mau." Tanpa malu Sonia membuka buku menu memilih satu hidangan nasi kari pedas. "Kakak mau apa?" Sonia menyerahkan buku menu. Namun, Angga menutupnya memesan hal yang sudah sering ia makan. "Satu sup tomas asam manis." Alis Sonia mengerut, ini seperti menu harian yang tidak pernah lupa dimakan Angga. Tidak di rumah maupun di resto ia selalu memesan makanan yang sama.
"Ayolah Kak, pesan yang lain. Kakak 'kan sudah setiap hari makan itu. Saat di rumah kita bahkan bisa membuatnya."
"Tidak apa."
Hembusan napas berat keluar dari mulut Sonia. Entah bagaimana caranya agar ia bisa membujuk kakaknya yang seperti seorang vegetarian. Tidak ada menu lain selain sup tomat yang tampak tidak sedap di makan.
Angga sendiri bingung, kenapa ia begitu menyukai sup tomat? Padahal tidak ada yang spesial dalam menu masakan tersebut. Sambil menunggu pesanan datang Angga meminta catatan belajar Sonia untuk memeriksanya. Dia harus memastikan gadis ini belajar dengan benar di sekolah.
"Aw.. Kakak!" pekiknya.
__ADS_1
"Kau membolos lagi. Bagaimana bisa guru walimu sampai memberikan tanda merah pada buku harianmu."
Perempuan berambut pirang bergelombang itu bersedekap dada mencebikkan bibir. Seharusnya tadi ia mengambil buku harian itu sebelum Angga melihatnya. "Cuma satu mata pelajaran, aku tidak akan tertinggal," cetusnya. Ekor mata Angga melirik penampilan Sonia dari atas ke bawah. Dia menangkap kerah baju aneh di balik jaket gadis bedarah campuran Kanada-Belgia.
"Lepas jaketmu."
"Kenapa? Kakak ingin melakukan sesuatu padaku?" tanyanya menyilangkan tangan di dada. Buru-buru Angga memukul tangan Sonia dengan buku yang ia pegang. "Jangan coba-coba membodohi Kakak, cepat lepas jaketmu," ucapnya tegas.
Sonia memberengut perlahan membuka ritsleting jaketnya. "Ampun Kak, ampun," ujarnya berulang kali saat Angga memukulnya bertubi-tubi dengan buku tebal pelajarannya. "Ah..., kau membuat Kakak pusing. Lihat, seragam apa yang kau pakai? Itu bukan seragam anak SMA. Kau pasti membolos untuk berkeliaran di luar sana."
Tidak ada rasa bersalah di wajah Sonia, dia cuma nyengir kuda, menunjukkan deretan aksen giginya yang rata. "Ehmm... sebenarnya aku mengambil kerja part time di kedai." Mata Angga melotot. "Eits.., tenang dulu Kak. Itu cuma kedai kopi bukan tempat yang aneh-aneh. Jam kerjanya juga jelas hanya lima jam. Beneran aku gak bohong. Please!"
Dua jari Sonia diangkat membentuk lambang janji. Dia mengganggukkan kepala untuk meyakinkan Angga. Pria bermanik hitam pekat itu memijat keningnya frustasi. Bingung menghadapi kenakalan Sonia.
"Kapan tenggat waktu terakhir bayar biaya bulanan?"
"Besok Kakak berikan uangnya. Keluar dari pekerjaan part time mu dan fokus sekolah. Kau mengerti." Suara Angga melunak, mengusap kepala Sonia sayang. Gadis itu menitikkan air mata sedikit. "Jangan menangis, kau sudah besar." Angga tersenyum lebar menyerahkan semangkuk kari hangat yang baru saja tiba. Laki-laki dengan rambut hitam legam itu memakan lahap sup tomatnya.
'Kak Angga terlalu baik denganku dan almarhum Ibu. Dia membantu dan menjaga kami, meski kami bukan keluarganya,' batin Sonia menghapus jejak air mata di pipi.
Baru beberapa suapan sup yang masuk ke mulut Angga. Pria itu menghentikan tindakannya, jantungnya berdebar aneh saat menangkap suara perempuan yang lewat.
"Keisha, aku akan mengantarmu sampai di rumah."
Pandangan Angga mencoba mencari sumber suara yang menyita perhatiannya. Namun, ia belum berhasil menemukan siapa pemilik suara tersebut.
"Terima kasih Julian, tapi Jemy telah menunggu di mobil aku bisa pulang sendiri. Ayo Hasa."
__ADS_1
Netra Angga menjelajah di antara ribuan pejalan kaki. Kenapa dia harus tertarik pada suara perempuan itu. Wanita yang kini berjongkok di hadapan seorang anak kecil. Dia sedang memakaikan syal hangat di leher putranya.
Keisha tersenyum lembut, mencium pipi tembam bocah laki-laki yang tampak membawa beberapa alat lukis di tangan. Kemudian ia dan Hasa memasuki mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.
"Kakak, kenapa Kakak menangis?"
Angga terhenyak oleh pertanyaan Sonia. Bibirnya tercekat, ada yang mengganjal di tenggorokan.
Segera Angga menyeka matanya. Dia sendiri bingung, kenapa air matanya jatuh begitu saja? "Ada debu yang masuk ke mataku, Sonia," sanggahnya menutupi.
Angga menyematkan senyum lebar, memakan kembali supnya yang mulai dingin.
'Kenapa aku seperti mengenalnya? Kenapa jantungku berdebar saat mendengar namanya? Apa yang salah denganku? Siapa perempuan itu?'
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung