My Old Wife

My Old Wife
Karangan Bunga


__ADS_3

~Suatu saat akan tiba waktunya manusia meninggalkan dunia ini menuju ke tempat Sang Pencipta~


Dengan perlahan Angga membuka kenop pintu kamarnya, istrinya Keisha masih tampak terlelap. Mungkin perempuan itu kelelahan karena kemarin ia harus menerima berkat semua orang hingga tengah malam.


Angga meletakkan nampan dengan segelas susu yang tadi ia buat di atas meja kecil samping tempat tidur. Pria itu merangkak perlahan menaiki ranjang lalu membaringkan tubuhnya di samping Keisha. Mata Angga melihat napas Keisha yang tampak tenang.


"Aku masih tidak percaya kalau kamu benar-benar mengandung sayang. Aku mengira itu tidak akan pernah terjadi." Gumam Angga pelan seraya menyingkirkan anak rambut Keisha yang menutupi matanya.


"Kau tahu sayang, sebelum menikah denganmu, aku sudah siap menerima semua resiko yang akan aku terima." Angga memperbaiki posisinya menghadap ke langit-langit ruangan. Tangannya mencoba meraih sesuatu di udara.


Ia mengingat kembali perkataan ayah mertuanya Tuan Heru tentang Keisha dulu, jika putrinya mungkin tidak akan dapat memberikannya keturunan.


"Tapi Tuhan begitu baik, karena dia masih memberi kesempatan untuk kita menjadi orang tua." Angga menolehkan wajahnya melihat ke arah Keisha lagi.


"Aku berjanji akan menjagamu dan calon anak kita dengan baik di masa depan," ucapnya tersenyum tulus seraya mencium kening Keisha.


Dengan perlahan Keisha membuka matanya saat jari-jemari tangan mengusap pipinya. Mata perempuan itu dapat melihat suaminya tersenyum manis ke arahnya. "Pagi sayang," sapa Angga tanpa menurunkan sudut bibirnya yang terangkat ke atas.


"Maaf karena aku bangun kesiangan Angga. Tunggu sebentar, aku akan menyiapkan sarapan dan pakaianmu untuk berangkat ke kantor." Tutur Keisha sambil menyingkap selimut yang masih membalut tubuhnya, lalu bersiap berdiri untuk melakukan apa yang dia katakan. "Segera mandi, hmm." Keisha mencium pipi Angga sekilas lalu mencepol rambutnya asal.


Tapi Angga justru menarik tangan Keisha mencegah perempuan itu untuk pergi. "Hari ini aku libur sayang, kita akan memeriksakan kandunganmu ke Dokter," ujar Angga pelan seraya menarik pinggang Keisha dan meletakkan kepalanya di perut istrinya. Keisha hanya tersenyum simpul lalu mengusap kepala Angga.


Rasanya hati perempuan itu menghangat mengetahui kasih sayang suaminya untuk calon anak mereka. "Kalau begitu aku akan menyiapkan sarapan pagi untukmu lebih dulu." Secara perlahan tangan Keisha melepas pelukan Angga, tapi pria itu terlalu kuat memeluknya.


"Angga," panggil Keisha halus. Tapi Angga masih belum juga melepaskan pelukannya. "Hanya lima menit." Akhirnya Keisha pasrah dan membiarkan Angga memeluknya lebih lama. Pria itu tertawa karena melihat istrinya mengalah padanya.


Ketika Angga tengah asik menggoda istrinya ponsel miliknya yang ia letakkan di atas nakas berdering. Angga menggerutu dalam hati karena ada telepon masuk di pagi-pagi buta. Dengungan nada terhubung terdengar ketika panggilan itu diangkat.


"Tuan Muda," sapa suara seseorang yang ia kenal. Angga masih memeluk istrinya sambil menerima panggilan.


"Ada apa Jemy?" Orang yang menghubungi Angga adalah Jemy asisten kakeknya, Tuan Wilson. "Jemy?" Panggil Angga lagi. Hanya ada dengungan nada terhubung yang panjang di sana.


"Jemy katakan sesuatu!" Seru Angga sedikit meninggi. Jemy masih belum menjawab membuat Angga semakin khawatir. Secara perlahan Angga melepaskan pelukannya pada Keisha dan memfokuskan pendengarannya pada panggilan Jemy.


"Jemy!" Panggil Angga lagi. "Tuan Muda," jawaban Jemy terhenti sejenak. Terdengar hembusan napas berat di sana. "Tu-an Wilson telah tiada," kata Jemy parau yang membuat Angga langsung mematung sesaat.

__ADS_1


Ia sudah mendengar dari Romi jika kakeknya sakit, dan dia berencana menjenguknya bersama Keisha akhir pekan ini. Tapi kabar dari Jemy seperti sebuah tamparan untuk Angga, begitu mengejutkan dan tiba-tiba.


"Apa maksudmu Jemy?!" Tanya Angga masih tidak percaya. "Tuan Wilson meninggal kemarin malam Tuan Muda, tepat pada pukul 23.40 menit." Jelas Jemy lagi. Kemarin malam Angga merayakan tentang kabar kehamilan Keisha, dan malam itu bertepatan dengan kematian kakeknya.


"Maafkan saya Tuan Muda, Tuan Sebastian memerintahkan saya untuk tidak menghubungi Tuan Muda di malam hari. Romi juga belum mengetahui tentang kabar ini." Suara Jemy terdengar bergetar.


Angga langsung menutup teleponnya, hatinya berdesir hebat. Kali ini berbeda dengan debaran yang ia rasakan kemarin malam, debaran ini begitu menyakitkan hingga membuatnya sesak napas.


Keisha segera menghampiri Angga, perempuan itu khawatir melihat perubahan raut wajah suaminya yang tampak suram. Meski Tuan Wilson pernah berniat memisahkan dia dan istrinya tapi Angga tahu bahwa kakeknya tidak benar-benar ingin melakukannya. Ia melakukan itu hanya untuk memastikan kebahagiaan dirinya semata.


"Ka-kek meninggal Nyonya," kata Angga sedikit bergetar. Keisha langsung memeluk Angga dalam dekapannya memberinya sedikit rasa tenang.


"Seharusnya aku menjenguknya kemarin saat Ayah sudah memintanya." Keisha dapat merasakan debaran jantung Angga tidak menentu. Kulitnya terasa dingin, ia tahu bahwa suaminya sedang dalam ketakutan yang amat luar biasa.


"Tenang Angga," ucap Keisha mencoba sedikit memberi kekuatan untuk pria itu, meski dirinya juga terpukul. "Aku bersamamu jangan takut," bujuk Keisha seraya mencium pelipis Angga beberapa kali. Angga memeluk Keisha erat tidak ingin melepaskannya. Rasanya ada sesuatu yang hilang dihatinya.


Kematian kakeknya cukup mengguncang jiwanya, Angga mulai mengingat kembali kematian Ibunya Nyonya Susi. Ia merasakan trauma yang berkepanjangan karena peristiwa itu. Ketika ia ditinggal sendirian bersama Liliyana kakak angkatnya seorang diri untuk bertahan hidup.


"Aku takut Nyonya," ucap Angga semakin tipis hampir tidak terdengar. Keringat dingin mulai muncul di dahinya.


Setelah mendengar kabar kematian Tuan Wilson, Angga memerintahkan Romi memberikan masalah kantor dan media massa terkait berita yang meliput dirinya tadi malam kepada sekertarisnya Merry, yang tidak lain adalah mantan manajernya saat ia menjadi model dulu.


Kemudian Angga bersama Keisha ditemani Romi dan Lianda langsung menuju ke bandara, mereka memesan tiket penerbangan pesawat tercepat ke Singapura.


Dalam perjalanan Romi tidak mengatakan apa pun pada Tuan Mudanya, ia cukup paham dengan situasinya. Selain itu Romi juga mengkhawatirkan kondisi Tuannya Sebastian.


_________


Di kediaman Keluarga Andreas, suasana berduka menyelimuti rumah bak istana itu. Peti mati dengan rangkaian bunga setaman menghiasi ruangan tersebut. Sebuah foto berbingkai besar dengan kalung bunga terpajang rapi di ruang utama. Para keluarga besar datang untuk mengucapkan bela sungkawa atas kematian orang terhormat bagi mereka.


Jemy sedari tadi mengurus segala keperluan prosesi pemakaman dan upacara doa. Sementara Willy masih setia berada di depan kamar Tuan Sebastian menunggu Tuannya untuk keluar ruangan. Sejak kemarin sore Sebastian berada di dalam kamar kesayangannya, bahkan ketika Tuan Wilson dinyatakan meninggal tadi malam pria itu tidak juga keluar dari sana.


"Tuan Muda sedang dalam perjalanan Tuan," lapor Willy yang hanya dibalasi deheman kecil dari dalam ruangan. Willy hanya bisa pasrah tidak dapat melakukan apa pun, ia tahu bagaimana kondisi Tuannya. Mengingat hubungan Tuannya Sebastian dengan ayahnya yang cukup rumit.


Jemy terlihat tergesa-gesa menghampiri Willy, dia memberi laporan jika sudah tiba saatnya untuk prosesi pemakaman. Selain itu Jemy juga melaporkan tentang istri Tuan Wilson yang sedang perjalanan dari rumah sakit kembali ke kediaman Keluarga Andreas.

__ADS_1


"Tuan Sebastian, Nyonya Besar akan segera datang." Suara Jemy terdengar halus seraya mengetuk daun pintu beberapa kali. Tapi tidak ada Jawaban dari sana. "Apa kita akan tetap melakukan prosesi pemakaman tanpa kehadiran Tuan Muda dan Tuan Sebastian?" Bisik Jemy di telinga Willy.


"Jika sampai sore Tuan Muda belum tiba dan Tuan Sebastian tidak membuka pintu juga, kita akan melakukan upacara terakhir untuk Tuan Besar tanpa mereka," jawab Willy sedikit kecewa. Jemy mengangguk mengerti. Setelah itu Jemy kembali menyambut tamu yang hadir termasuk keluarga Heru Prawijaya.


Di tempat berkabuh Heru terlihat cemas, sedari tadi pikirannya berkeliaran tentang menantunya Angga dan putrinya Keisha. Melihat raut wajah suaminya yang cukup resah Hanum mencoba menenangkannya. "Tenang suamiku, semuanya akan baik-baik saja," ujar Hanum pelan yang dibalasi anggukan dari pria paruh baya itu.


Kevin bersama keluarga kecilnya juga hadir, enam bulan yang lalu setelah ia keluar dari rumah sakit, Kevin kembali menikah dengan Helen. Mereka berkomitmen akan membesarkan Inara bersama.


"Kak Kei juga belum datang, aku jadi semakin cemas." Tutur Helen sambil menggendong Inara yang sekarang sedikit berat. "Semoga mereka tiba sebelum prosesi pemakaman dimulai," ucap Kevin seraya mengambil alih Inara dari gendongan istrinya.


Selain keluarga Heru, Liliyana kakak angkatnya Angga bersama putrinya Melisa juga tampak khawatir. Melisa menggenggam tangan Liliyana erat.


"Mama kenapa Daddy juga belum datang? Bibi Keisha juga tidak ada di sini?" Liliyana hanya mengusap rambut putrinya pelan. "Om Angga akan segera tiba, sekarang lebih baik Meli doakan yang terbaik untuk Eyang." Melisa mengangguk kecil bibir mungilnya kembali memanjatkan doa untuk Tuan Wilson.


Setelah Sebastian mendengar bahwa istrinya Susi mengadopsi seorang anak angkat, sejak saat itu juga Sebastian menjalin hubungan baik dengan Liliyana.


Sebastian bahkan menawari Liliyana untuk tinggal bersamanya, tapi perempuan itu menolak. Liliyana ingin tetap berada di Indonesia agar dapat merawat makam ibu angkatnya menggantikan adiknya Angga.


Sampai menjelang siang hari, prosesi pemakaman belum juga dilakukan. Mereka masih menunggu kehadiran Angga dan Keisha yang masih dalam perjalanan dari Kanada. Terlebih Sebastian juga belum terlihat sejak tadi pagi di ruang duka hingga membuat para tamu undangan merasa kasihan pada jenazah Tuan Wilson.


Nyonya Marine, istri Tuan Wilson juga telah tiba. Perempuan beruban itu diantar oleh pihak rumah sakit, beberapa suster juga menemaninya.


Ketika melihat peti mati suaminya hati Nyonya Marine bergetar hebat, ia merasa menjadi istri yang tidak berguna karena tidak dapat menemani suaminya di saat-saat terakhirnya.


"Jemy dimana putraku?" Tanya Nyonya Marine pada orang kepercayaan suaminya.


Jemy menunduk hormat. "Tuan Sebastian masih ada di dalam kamarnya Nyonya, beliau belum keluar sejak kemarin sore." Mendengar penjelasan Jemy, Nyonya Marine sedikit memahami situasinya. "Lalu cucuku dan istrinya?" Tanya Nyonya Marine lebih lanjut.


Perempuan tua itu sempat bertemu Keisha dulu, saat Angga mengenalkan dia sebagai istrinya untuk pertama kali ketika Keisha datang ke Singapura untuk mencari Kevin.


"Tuan Muda dan Nona Keisha masih dalam perjalanan Nyonya," jawab Jemy. Nyonya Marine mengangguk, ia menyentuh selang infus di tangannya yang masih menempel lalu mencabutnya. "Nyonya!" Seru seorang suster yang mendampingi dirinya.


"Jemy antarkan aku pada putraku, aku ingin berbicara dengannya," imbuh Nyonya Marine sembari menjalankan kursi rodanya. Jemy segera menurut dan mendorong kursi roda istri Tuannya menggantikan suster tadi.


Mohon maaf Sana telat Update hehehe, Sana hari ini lagi banyak tugas kuliah jadi baru sempat ngetik lagi..

__ADS_1


Terimakasih atas segala dukungan kalian untuk My Old Wife..


__ADS_2