My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 16 Mendekati


__ADS_3

^^^~Selama pondasi hubungan itu kuat, maka kerikil atau batu sandungan tidak akan pernah bisa menghalangi jalan~^^^


As-Sana


***


Ella memasuki ruangan di mana Angga Wilson berada. Hari ini ia resmi menjadi salah satu rekan kerja Wilson Enterprise. Lelaki nan rupawan yang selalu Ella coba curi perhatiannya itu kini sedang menandatangani beberapa dokumen di meja kerjanya. Bingkai kacamata menggantung di atas cuping hidung Angga menambah kesan menawan dan bijaksana.


"Permisi Tuan."


Ekor mata Angga melirik sekilas langsung mempersilahkan Ella duduk, tampaknya lelaki itu terlalu disibukkan dengan pekerjaan. "Jadi kau membawa proposalmu?" tanya Angga to the point tanpa basa-basi. Ella segera mengangguk menyodorkan map yang ia bawa. "Kapan desainnya akan jadi?" ternyata mantan model itu cukup cekatan daripada tampilan luarnya.


"Bulan ini saya pastikan desainnya telah siap." Angga mengangguk membaca sejenak beberapa tawaran yang ada di sana. "Baiklah, aku menyetujuinya. Nanti, sekertarisku Merry yang akan mengurus sisanya." Ella tercengang. Ia salah praduga, saat masuk ke perusahaan ini wanita itu berharap akan bekerja langsung di bawah Angga ternyata dia akan di tugaskan dalam pengawasan Merry sekertarisnya. Tampaknya jalan mendekati Angga dan mengetahui semua tentangnya akan menempuh jalan yang sulit.


Angga menjentikkan jari di depan Ella, "Kenapa? Apa ada masalah?" Mimik muka Ella berubah normal, ia menggeleng mengusir lamunannya.


"Berikan ini pada Romi, dia akan menunjukkan di mana meja kerjamu."

__ADS_1


Sebelum Ella pergi, ia tak sengaja melihat bingkai pigora perempuan beserta anak kecil yang dipajang di atas meja kerja Angga, merasa ada kesempatan agar lebih dekat dengan pria Asia itu Ella mengulas senyum lalu bertanya, "Tuan memiliki putra yang tampan."


Kepala Angga mendongak, mengikuti arah pandang Ella pada foto Keisha dan Hasa. "Terima kasih," ucap Angga singkat. "Dan wanita itu?" sudut mata Ella melirik masih tersenyum. "Dia istriku, katakan apa kau berpikir istriku cantik?" mimik muka Angga berseri-seri setiap kali membahas tentang Keisha. Ella yang melihatnya menahan geram, "Menurut saya dia wanita biasa. Ehm... maksud saya bukan ingin menghina istri Tuan Angga, cuma ... dia terlihat tidak cocok dengan Tuan."


Alis Angga segera bertemu, saling menaut dengan dahi mengerut. "Maksudmu?" nada suara Angga terdengar datar dan mengintimidasi berbeda dengan cara bicara lelaki itu yang biasanya selalu ceria.


Bergegas Ella menggerakkan tangannya memberi isyarat minta maaf lantas membungkuk. "Bukan... saya tidak bermaksud seperti itu. Saya cuma berpendapat kalau Tuan Angga mungkin akan mendapatkan perempuan yang lebih baik daripada Nona Keisha. Tapi, saya tahu Tuan Angga mencintainya. Dalam cinta semua akan terlihat sempurna."


Gestur wajah Angga tetap tidak bisa ditebak, apakah pria ini marah atau tidak?


"Saya benar-benar minta maaf." Ella membungkuk lagi. Ia tak bisa memberikan kesan buruk kepada Angga. Hembusan napas berat keluar dari mulut Angga, ia mengambil foto Keisha lalu menciumnya di depan sang desainer yang akan menjadi mitra barunya.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Angga ketika memperhatikan perempuan itu berdiri dengan kaku terlihat kurang nyaman.


Dengan cepat Ella menggeleng, mengulas senyum manis. "Saya tidak apa-apa, kalau begitu saya pamit Tuan Angga." Angga pun membiarkan wanita berkemeja merah hari itu keluar dari ruangannya. Kemudian, Angga beralih mengambil foto Keisha memandangi wajah istrinya begitu lama. "Nyonya, tetaplah yang utama untukku. Walau sampai kami tua pun aku berjanji tidak akan pernah berpaling darinya."


Netra Angga menatap langit-langit ruangan, ia mengenang kisahnya bersama Keisha. Semua hal yang telah ia lalui untuk mendapatkan wanita itu. Setelah perjuangannya yang cukup sulit dulu. Mana mungkin ia akan melepaskan Keisha sekarang?

__ADS_1


***


Di galeri Julian baru saja membungkus lukisan Keishanya dengan kain putih. Ia telah menempatkan lukisan itu di tempat paling pas yang akan dilihat banyak pengunjung pada pegelaran seni Mario Art De Lavi, yang akan diadakan dua hari lagi.


"Tuan Julian, nama apa yang akan Anda pakai untuk lukisan ini?"


Laki-laki yang ditanyai pemilik galeri cuma tersenyum simpul meraba sapuan kuas membentuk wajah perempuan di sana. "My Beatiful Wife," jawabnya singkat tetapi penuh makna. Pemilik galeri mengangguk segera mencatat nama yang akan lukisan ini pakai. "Saya seperti pernah melihat perempuan dalam lukisan itu Tuan. Tapi entah di mana? Saya tidak mengingatnya."


Ekspresi muka Julian tidak dapat diartikan, ia terkejut. Ini bukan pertama kali seseorang bilang bahwa ia seperti pernah melihat Keishanya. Bahkan penjual toko kemarin menanyakan hal yang serupa.


'Mungkinkah kau telah kembali ke Ottawa Keisha?'


.


.


.

__ADS_1


.


~Bersambung


__ADS_2