My Old Wife

My Old Wife
Apa Alasannya?


__ADS_3

~Di setiap tindakan manusia, pasti tersembunyi maksud tertentu di belakangnya~


Angga menatap ke arah Sebastian dengan tidak suka, atas dasar apa Ayahnya tidak merestui hubungannya? Jika dia sudah mengawasinya sejak kecil, dia pasti tahu bahwa anaknya mencintai wanita itu. Lalu kenapa dia tidak merestuinya?


"Aku akan tetap menikahinya meskipun Ayah tidak merestuiku," sanggah Angga tegas.


"Jika itu maumu! Maka kakekmu akan menghancurkan perusahaan perempuan itu!" Kata Sebastian tidak kalah sengitnya.


Sebastian menghela napas sejenak, dia memandang mata putranya dengan tatapan iba. Dia tahu bagaimana rasanya tidak mendapatkan restu seperti dirinya dulu.


"Angga, jangan keras kepala. Hubunganmu dengan Nona Keisha hanya akan membawa luka untukmu," tutur Sebastian lagi.


Lelaki paruh baya itu menghampiri putranya, sekarang jarak mereka hanya tinggal sejengkal.


"Saat waktunya tiba, mereka akan meminta pewaris darimu karena hanya kamu satu-satunya putra Ayah, dan jika kamu dan Keisha tidak memberikan pewaris untuk mereka. Maka dapat dipastikan mereka akan memintamu untuk meninggalkan Keisha dan menikah dengan wanita lain," jelas Sebastian lagi.


"Aku dapat mengadopsi anak Ayah," kata Angga lagi.


"Mereka ingin kekayaan yang mereka miliki di berikan pada darah daging mereka bukan orang asing," kata Sebastian lagi.


"Maka putuskan saja hubunganku dengan keluarga ini Ayah."


Plak...


"Kamu gila!! Kalau kamu memutus hubungan dengan keluarga ini! Berarti kamu juga memutus hubungan dengan Ayah!! Ayah tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!!" Sebastian meninggikan suaranya. Pria itu sedang dirundung amarah saat ini. Hatinya benar-benar kacau saat mengetahui putranya ingin memutuskan hubungan dengan dirinya.


"Kalau begitu restui aku Ayah, aku hanya membutuhkan restu dari Ayah bukan Kakek dan Nenek," tutur Angga. Pemuda itu masih merasakan nyeri di bagian pipinya akibat tamparan Sebastian tadi.


"Tetap.Tidak. Bisa." Ucap Sebastian penuh penekanan di setiap katanya.


"Kalau begitu aku pergi Ayah. Selamat tinggal." Angga membalikkan tubuhnya bersiap untuk segera keluar dari kamar itu.


Sebastian langsung mencegah putranya, dia menggenggam lengan Angga dengan kuat. Pria paruh baya itu tidak ingin kehilangan putranya lagi untuk yang kedua kali.


"Baik, Ayah akan merestuimu," kata Sebastian pelan.


Dia memilih untuk mengalah pada putranya, dia mencoba untuk tidak bersikap egois. Angga pun mengurungkan niatnya dan dia menghadap pria paruh baya dihadapannya ini.


"Tapi, Ayah hanya bisa memberikanmu waktu selama tiga tahun. Setelah itu, Ayah tidak bisa menjamin Kakek dan Nenekmu untuk tidak mengganggumu. Dalam kurun waktu itu, berusahalah agar Keisha segera mengandung anakmu agar mereka tidak bisa memisahkanmu."


"Terimakasih," Angga mengagguk sebagai tanda mengerti.

__ADS_1


"Meski nanti Nyonya tetap tidak mengandung, aku akan tetap bersama dengan Nyonya dan tidak akan pernah melepaskannya," batin Angga pelan.


"Semoga nasib buruk tidak menimpa kepadamu putraku, semoga hubunganmu tidak berakhir menyedihkan sepertiku," kata Sebastian dalam hati.


Kemudian Angga bersama Sebastian keluar dari ruangan itu. Di depan ruangan itu, para pelayan, pengawal, dan orang kepercayaannya telah menanti mereka.


"Salam hormat Tuan Besar," kata mereka serempak.


"Tolong rahasiakan kedatangan putraku dari Ayah dan Ibu, jangan biarkan mereka mengetahui kalau putraku telah datang kemari," perintah Sebastian secara tegas pada semua orang yang ada di sana.


"Romi." Sebastian memanggil pengawalnya yang paling setia.


"Ikutlah bersama dengan Angga, sekarang tugasmu adalah menjaganya," titah Sebastian lagi.


"Iya, Tuan Besar."


Lelaki yang menyambut Angga di depan tadi menghampiri Angga dan memberikan hormat padanya.


"Segera tinggalkan negara ini, dan kembalilah ke Indonesia." Pinta Sebastian.


"Lian, ambilkan koper putraku. Dan urus segera keperluannya, ikutlah bersama Romi dan jagalah menantuku untukku," perintah Sebastian lagi kepada perempuan yang memakai gaun merah tadi. Dia merupakan dokter pribadi Sebastian, namun sekarang dia akan menjadi dokter pribadi untuk keluarga putranya.


"Ayah__,"


Angga memanggil Sebastian untuk yang terakhir kali, karena mungkin beberapa tahun ke depan dia tidak dapat melihat pria paruh baya itu.


"Ini adalah surat yang ditulis Ibu untukmu." Kata Angga sembari menyodorkan surat pemberian Liliyana kepadanya sebelum berangkat.


"Terimakasih." Sebastian mengambil amplop itu dari tangan putranya. Rasanya begitu berat melepas kepergian putranya.


Setelah itu Angga bersama dengan Lianda dan Romi menuju ke bandara, mereka akan kembali pulang ke Indonesia.


Sementara itu, Sebastian kembali ke kamar pribadinya. Pria paruh baya itu mengeluarkan foto almarhum istrinya yang masih dia letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya. Sebastian membuka amplop yang diberikan Angga untuknya, surat dengan kertas yang usang ada di dalamnya. Tinta dari tulisan itu pun sedikit luntur, karena telah disimpan beberapa tahun lamanya.


Sebastian Suamiku,


Aku tahu kamu meninggalkanku dan anak kita karena Ayah dan Ibu mertua memaksamu untuk melakukannya. Itu setidaknya yang aku percaya selama ini. Tapi, satu tahun setelah kepergianmu keluargamu datang padaku dan mengatakan bahwa kamu meninggalkanku dan putraku karena kamu tidak ingin kehilangan harta warismu.


Sebastian, aku mencintaimu secara tulus bukan karena hartamu. Aku tahu, kamu adalah orang terpandang dan diriku hanyalah perempuan rendahan yang bahkan telah dibuang oleh orang tuanya di panti asuhan. Aku tidak bisa memberikan apa pun padamu, sebagai imbalan atas apa yang pernah kau lakukan untukku dulu. Kau menentang keluargamu untuk menikahiku. Dan kau bahkan sempat hidup menderita denganku dan meninggalkan semua kemewahan yang sudah sedari kecil kau rasakan.


Saat kau bekerja siang dan malam melakukan pekerjaan berat untuk mencari uang biaya kelahiran anak kita, aku bersedih. Aku bahkan menangis dalam tidurku, aku merasa bersalah karena membuat Tuan Muda sepertimu menjadi rakyat biasa.

__ADS_1


Saat kau menyuapiku dengan tangan yang melepuh, aku tidak bisa untuk tidak menangis. Sebastian, meski kamu meninggalkanku dan putra kita Angga sendirian malam itu di tengah hujan yang lebat. Aku tidak bisa membencimu, aku tetap mencintaimu. Karena kamu adalah Ayah dari anakku, dan lelaki pertama yang aku cintai.


Saat aku mendengar berita bahwa kapal pesiar yang kau tumpangi malam itu, dan akan membawamu ke Singapura mengalami kecelakaan. Aku tidak bisa berhenti menangis. Aku selalu berdoa pada Tuhan, agar dia selalu menjagamu dalam perlindungannya. Dan Tuhan mendengar doaku, karena mereka masih dapat menyelamatkanmu.


Lalu saat putra kita kejang-kejang dan butuh pertolongan aku sangat membutuhkan kehadiranmu, tapi aku bisa apa? Aku bahkan tidak dapat menghubungi nomormu. Tapi, perempuan berhati baik menolongku. Dia menyelamatkan putra kita, jika tidak ada dia mungkin saja Angga sudah tidak ada di dunia ini.


Sebastian, aku juga telah mengadopsi seorang anak perempuan yang terlantar di jalanan, Liliyana. Saat aku melihatnya, dia mengingatkan diriku di masa lalu. Aku tidak ingin anak itu, mengalami nasib yang sama sepertiku. Aku harap kau juga mau menerimanya menjadi putrimu. Meski dia bukan darah dagingmu.


Sebastian, saat kau menerima suratku mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Satu tahun setelah kau pergi meninggalkanku, dokter mendiagnosa bahwa aku terkena kanker otak dan hidupku tidak akan lama lagi. Di setiap hariku aku selalu berdoa, setidaknya Tuhan memberikanku kesempatan satu kali saja untuk melihat wajahmu. Tapi Tuhan tidak mengabulkannya, aku meninggal tanpa dapat melihat orang-orang yang aku cintai, baik dirimu maupun putriku Keisha.


Sebastian suamiku, tiada hari aku tidak mengingatmu. Bahkan dalam tidurpun aku masih dapat melihat wajahmu dalam mimpiku, aku tidak tahu kenapa aku bisa sangat mencintaimu dan tidak bisa melupakanmu.


Saat surat ini datang padamu, aku yakin kau pasti telah bertemu dengan Angga, putra kita. Aku tidak ingin meminta pertanggung jawabanmu karena telah meninggalkanku. Aku hanya ingin kamu menjaga putraku dengan baik menggantikanku.


Semoga kamu selalu bahagia suamiku..


~Istrimu Susi~


Setelah membaca surat dari istrinya, Sebastian tidak berhenti menangis. Air mata mulai mengalir di pipinya, pria paruh baya itu mulai meyesali atas tindakannya. Seandainya dia tidak meninggalkan istrinya pada saat itu, maka istrinya tidak akan mengalami masa-masa yang sulit.


Istrinya tidak akan kesakitan sendirian melawan penyakit itu. Dia akan ada disisinya untuk mendekapnya, memberikannya semangat dan juga memberikan pengobatan yang terbaik untuknya. Sehingga wanita itu tidak perlu meninggalkan dunia ini, dia dapat melihat putranya bertumbuh besar.


Sebastian, lihatlah putra kita telah kahir!


Sebastian dia mirip sepertimu..


Hahahaha.. Sebastian lepaskan aku, jangan menggelitikku itu geli.


Sebastian aku mencintaimu.


Kata-kata Susi yang pernah di dengarnya di masa lalu kembali terngiang di kepalannya. Memorinya akan wanita yang pernah dicintainya kembali mengisi hatinya. Suara tawa, tangis, dari istrinya kembali terdengar di telinganya.


"Seandainya aku tidak lumpuh, aku akan meninggalkan rumah ini, dan bersamamu sayang. Seandainya..., seandainya saja kamu bertahan sebentar..."


Kecelakaannya malam itu, merenggut kebahagiannya, dia berpisah dengan istrinya dan dia juga mengalami kelumpuhan. Sungguh, harinya begitu berat karena Tuhan mengambil semua yang sangat dia butuhkan. Dia benar-benar tidak berdaya dan tidak mampu berbuat apa pun, dia hanya dapat menjaga putranya dari jauh dan melihatnya tumbuh berkembang tanpa berada di sisinya.


____________^_^


JANGAN LUPA TINGGALKAN VOTE+ LIKE + KOMEN yaaaa.


Biar author semangatt updatenya..🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2