My Old Wife

My Old Wife
Mulai Menjauh


__ADS_3

~Semuanya akan mulai terasa asing ketika sudah tidak ada lagi kesamaan di antara kita~


Sementara itu di kediaman Heru Prawijaya suasana begitu menegangkan di meja makan, sedari tadi hanya terdengar suara bunyi sendok dan piring yang berdenting karena saling bergesekan. 


Heru yang mulai menyadari bahwa suasananya terlihat tidak enak, segera membuka pembicaraan, pria paruh baya itu merasa ganjal dengan sikap Hanum yang tidak tersenyum sedikitpun sejak tadi malam, dan sikap Helen serta Kevin yang terlihat dingin dan kaku. 


“Sebenarnya ada apa ini? Kenapa semua orang terlihat tegang?” Tanya Heru pada intinya tanpa basa-basi sekalipun. 


“Tidak ada apa-apa Ayah, semuanya hanya merasa sedikit lelah saat ini. Biar aku ambilkan Ayah lauk lagi,” tawar Hanum mencoba mencairkan suasana. 


“Jangan mengalihkan pembicaraan, aku tahu pasti telah terjadi sesuatu di rumah ini yang tidak aku ketahui,” sanggah Heru mencoba untuk tetap menuntut jawaban. 


“Ayah aku kembali ke kamar dulu, perutku mulai merasa mual,” ujar Helen mencoba menghindar dari pembicaraan ini. Perempuan itu segera menaiki anak tangga dan kembali ke kamarnya di lantai dua. Heru yang melihat sikap Helen tidak seceria biasanya berbalik bertanya pada Kevin.


“Kevin, apa kamu bertengkar dengan istrimu?” Mata Heru menatap tajam ke arah Kevin, tapi tatapan itu diabaikan oleh pria itu, justru Kevin mengambil tas kantornya di kursi sampingnya dan berpamitan berangkat ke kantor terlebih dahulu. 


Karena merasa semua orang mengabaikannya pada akhirnya Heru mengalihkan perhatiannya pada Hanum istrinya. 


“Katakan apa terjadi sesuatu kemarin? Kenapa sejak aku pulang ke rumah tadi malam, semua orang mulai bertingkah aneh? Kevin bahkan berani mengabaikanku.”


Heru mulai merasa curiga kalau ada sesuatu yang disembunyikan darinya, karena bahkan menantunya yang tidak pernah membantahnya sekalipun dan menurut padanya kali ini mengabaikannya, kemudian Helen yang selalu bercerita banyak hal saat di meja makan sekarang hanya diam dan terus menunduk, mata putri bungsunya itu bahkan tidak berani melihat ke arahnya. 


“Mereka bertengkar hebat kemarin,” jelas Hanum pada akhirnya karena dia sudah tidak dapat lagi menutupi semuannya dari suaminya. 


“Apa alasan yang membuat mereka bertengkar?” Heru menghentikan aktivitas makannya dan menatap mata istrinya lekat-lekat meminta penjelasan. 


“Aku tidak tahu, Kevin hanya bilang kalau Helen telah membohonginya, hanya itu. Selebihnya aku tidak tahu, dan setelah pertengkaran itu mereka jadi semakin menjauh,” tutur Hanum seraya menundukkan pandangannya.


“Kau tidak membohongiku?” Selidik Heru lagi mencoba mencari tahu keberanannya lebih dalam, karena dia tidak mau istrinya itu juga ikut membohonginya. 

__ADS_1


“Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya.’ Jawab Hanum seraya mendongak menatap manik hitam milik Heru. 


“Setelah aku pulang dari kantor sore ini, kita selesaikan masalah ini.” Pungkas Heru pada akhirnya, dia mengambil tas kantornya dan bergegas pergi dari sana, pria paruh baya itu mengendarai mobilnya sendiri karena hari ini dia tidak berangkat bersama Kevin. 


Setelah kepergian Heru dan Kevin, beberapa jam kemudian Helen juga terlihat turun dari tangga dengan tas kecil di tangannya, perempuan itu telah berpenampilan rapi bersiap untuk pergi. 


“Kamu mau kemana sayang?” Tanya Hanum ramah meninggalkan sebagian pekerjaan dapurnya, dia berjalan menghampiri putrinya agar dapat melihatnya dengan jelas.


“Aku ada urusan di luar Ibu, aku pamit dulu,” jawab Heleh buru-buru, kalau Ibunya sampai mengetahui maksudnya untuk menemui kakaknya Keisha untuk berbicara soal Kevin, ibunya pasti akan melarangnya. 


Tepat pada pukul 10.00 pagi, Helen sudah tiba di Kafe, dia menunggu kedatangan Keisha dengan perasaan campur aduk  tidak karuan. Sudah lebih lima belas menit kakaknya juga belum datang, ia semakin merasa cemas. Namun, setelah itu dia melihat Keisha menuruni taksi dan berjalan masuk ke Kafe itu, Helen yang melihat itu pun tersenyum hangat dan mempersilahkan Keisha duduk dan memesankan minuman untuknya. 


“Ada apa kamu memanggilku kemari?” Tanya Keisha dengan nada biasa. 


Helen menarik napas panjang dan mengeluarkannya sejenak, dia mulai membuka percakapan. 


“Kevin sudah mengetahui kebenarannya Kak, dia sudah tahu semuanya. Kecuali soal Kakak yang mendonorkan sumsung tulang untuk Siska,” sambung Helen lagi, matanya sedikit berkaca-kaca. 


“Lalu apa hubungannya denganku? Aku sudah tidak ada keterkaitannya dengan masalah itu, Helen. Masalah Siska dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri, jadi wajar kalau aku berusaha menolongnya.” 


Helen semakin erat menggenggam tangan Keisha, dan mulai memohon. 


“Kak Kei, Kevin ingin bercerai denganku Kak. Padahal aku tengah mengandung anaknya. Aku takut…, aku takut.., jika Kevin mengetahui kalau Kakak yang mendonorkan sumsum tulang itu dia akan kembali pada Kakak, aku tidak mau Kevin meninggalkanku Kak. Jadi aku mohon bantulah aku,” ucap Helen dengan nada sedikit bergetar. 


“Helen dengar, aku sudah tidak ada urusan dengan Kevin. Aku sudah menikah dengan Angga, dia suamiku sekarang. Aku harap kamu menyelesaikan masalahmu ini baik-baik dengan Kevin.” Tutur Keisha pada akhirnya sembari memegang bahu Helen yang bergetar karena menahan tangis. 


“Kak tolong bicaralah pada Kevin agar dia tidak menceraikanku, aku mohon Kak. Dan aku harap Kakak tidak kembali kepada Kevin saat dia meminta untuk bersama Kakak. Aku tahu Kak Kei masih sangat mencintainya, Kakak bahkan rela melakukan apa pun di masa lalu untuknya,” ujar Helen lagi dan menggenggam tangan Keisha semakin erat beserta keringat dingin yang mulai keluar di dahinya. 


“Kakak tidak bisa membantumu, Kakak tidak ingin terlibat dalam urusan rumah tangga kalian. Lebih baik kamu selesaikan masalahmu dengan Kevin sendiri,” tolak Keisha secara halus. 

__ADS_1


“Kakak pasti tidak mau membantuku berbaikan dengan Kevin karena Kakak ingin balas dendam denganku kan? Iya kan Kak? Kakak senang kalau nanti Kevin meninggalkanku dan kembali mengejar-ngejar Kakak!” Nada Helen semakin tinggi, entah apa yang sedang merasukinya saat ini dia begitu marah pada Keisha. Sementara Keisha yang mendapat murka Helen hanya diam, dia berusaha memahami perilaku adiknya itu, karena mungkin Helen sedang stress apalagi dia sedang mengandung jadi emosinya naik turun. 


“Aku tahu Kak, Kak Kei masih mencintai Kevin kan? Bahkan sampai sekarang sekalipun meski Kakak sudah menikah dengan Angga!” Bentak Helen lagi pada Keisha. 


“Helen tenangkan dirimu.” Keisha mencoba menyentuh bahu Helen untuk memberikan rasa aman di sana tapi perempuan itu bergegas menepisnya. 


“Kakak jangan pura-pura baik lagi di depanku, aku tahu semuanya. Meski aku sudah berusaha bersikap baik pada Kakak atas kesalahanku di masa lalu, Kakak masih tidak bisa memaafkanku kan? Iya kan Kak?” Maki Helen lagi. 


Melihat emosi yang menggebu-gebu dari Helen, Keisha mulai merasa cemas takut kalau perempuan ini mulai hilang kontrol dan mulai mengucapkan hal yang tidak ia inginkan. Jadi dia memilih untuk segera pergi dari sana. 


“Kakak mau kemana? Aku belum selesai bicara.” Helen memegang tangan Keisha erat tidak melepaskannya meskipun Keisha sudah berdiri dan siap untuk pergi. 


“Aku masih ada meeting lagi dengan klienku, jadi aku pergi dulu.” Elak Keisha mencoba mencari alasan, meskipun pada kenyataannya Ferdian asistennya sudah mewakilinya bertemu klien saat dia datang kemari tadi. 


“Kakak tidak bisa pergi begitu saja.” 


Helen menarik tangan Keisha kuat saat perempuan itu hendak berjalan pergi. Keisha mencoba melepaskan tangannya dari Helen, tapi perempuan itu semakin mencengkram pergelangan tangannya hingga kukunya bahkan berhasil menggores kulit Keisha. Ketika Keisha mulai merasakan perih di pergelangan tangannya, dia terpaksa menghempaskan tangan Helen secara kasar. 


Pegangan itu berhasil terlepas, tapi tubuh Helen sedikit  terhuyung kebelakang, dan alhasil perutnya terbentur sudut siku meja hingga membuat perempuan itu mengerang sedikit kesakitan. Keisha yang melihat adiknya kesakitan segera menolongnya, tapi uluran tangannya segera ditepis oleh Helen. 


“Ah perutku.., perutku..,” rintih Helen. 


Semua pengunjung yang ada di kafe tersebut bergegas menghampiri mereka mencoba melihat apa yang terjadi. Dan ketika semua pasang mata melihat cairan merah segar keluar dari kaki bersih perempuan itu, semuanya panik. Keisha yang melihat adiknya mengalami pendarahan segera memanggil ambulan, dan dia tetap bersikukuh menolong Helen meski perempuan itu menolaknya.  


______^_^______


Hallo Reader.. satu Eps dulu ya.. nanti saya up malam lagi... 


Moga 2 masih setia menanti My Old Wife🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2