
...~Sejenak beban kita akan hilang, apabila melihat senyum orang yang paling kita sayang~...
As-Sana
***
Roda waktu kian berputar, merubah siang menjadi malam dan sore menjadi pagi. Tak luput Tuhan tetap mengawasi mahluk-Nya, melihat mereka, menyaksikan bagaimana takdir di antara manusia-manusia itu berjalan semestinya.
Seperti pagi-bagi biasanya Angga akan mengantar Keisha ke toko bunga, lalu menjemput istrinya di sore hari. Tidak ada yang berubah, rutinitas itu selalu saja berulang. Hingga suatu ketika ada hal yang membuat keduanya melakukan hal yang berbeda.
Petang itu, ada acara penting. Tiba-tiba pihak kantor pusat cabang milik perusahaan kakeknya yang ada di Montreal menghubungi, memberitahukan kepada Angga untuk datang ke sana tanpa diwakili siapa pun. Kebetulan Merry juga sedang cuti kerja karena urusan pribadi. Sementara, Romi menemani Lianda ke rumah sakit memeriksakan Bernard yang terkena demam berdarah.
Ponsel Angga baterainya menipis, dia mencharger- nya di ruang kerja sembari memeriksa dokumen. "Tuan Angga, tiket pesawat ke Montreal telah dipesan. Saya memesan dua tiket penerbangan." Nona yang bekerja di devisi hubungan komunikasi publik memberitahukan pada Angga tentang tiket pesawat yang siap ia gunakan untuk terbang hari ini. "Satu tiket lagi untuk siapa?" pandangan Angga yang tadinya jatuh pada deret kalimat berisi laporan di sana mendongak menatap karyawannya.
"Romi tidak ikut, Merry juga," terang Angga lebih lanjut.
"Tapi Tuan Angga tidak mungkin pergi ke sana seorang diri. Anda tetap membutuhkan orang untuk membantu."
Hembusan napas berat keluar dari mulut Angga, ia menutup dokumen sejenak, ekor matanya berpaling melihat perempuan bersetelan kantor tersebut. "Tidak apa aku pergi sendiri," potong Angga cepat mengambil keputusan. Pegawai wanita itu mengangguk mengiyakan tak berani lagi bertanya.
Ponsel Angga tetap dalam mode mati, ia ingin menghubungi Keisha tapi dirinya tidak bisa. "Tolong hubungi istriku kalau aku akan ke Montreal, aku takut dia akan menunggu." Lagi-lagi perempuan itu mengangguk sebagai jawaban. Angga menyandarkan punggungnya di kursi, menatap foto anak dan istrinya sebentar sebelum mengambil jas beserta barang-barang yang ia perlukan. Lelaki itu mengambil tiket, bergegas keluar dari kantor menuju bandara Ottawa.
Setelah kepergian Angga, pegawai wanita yang diperintahkan oleh bosnya tadi menerima panggilan lain dari klien. Jadi ia melupakan pesan penting Angga untuk menghubungi sang istri.
***
Sampai malam menjelang larut, Keisha masih setia menunggu di toko. Tadi, ia menolak tawaran Jemy yang mau memberi ia tumpangan karena tahu suaminya akan menjemput dia dan Hasa.
__ADS_1
Setiap lima menit sekali, Keisha akan mengecek ponselnya membuka kotak pesan untuk mencari nama Angga. Namun, satu pun tak ada pesan masuk dari pria itu. Keisha cemas, pikirannya kalut takut terjadi sesuatu pada ayahnya Hasa.
"Nona Keisha, kenapa masih di sini?" salah seorang warga sekitar yang membuka gerai di sana menghampiri Keisha yang berdiri di depan toko sembari menggendong Hasa.
Keisha tersenyum ramah sebelum menjawab, "Saya sedang menunggu suami saya Nyonya." Hasa mulai rewel, pipi anak itu digigit nyamuk sampai meninggalkan bekas kemerah-merahan. "Lebih baik, tunggu di dalam saja Nona. Kasihan Hasa nanti dia bisa masuk angin," nasihatnya.
Keisha mengangguk, dia segera membawa masuk Hasa saat tetangga toko bunganya pergi.
"Ibu, Ayah mana? Hasa mau tidul," sahut si kecil mengucek mata sambil menguap beberapa kali. Terlihat jelas rasa kantuk di kelopak matanya yang mulai sayup-sayup tertutup.
Keisha mengusap kepala anaknya pelan, membujuknya halus, "Hasa tidur dulu ya. Ibu akan membangunkan Hasa kalau Ayah sudah sampai." Hasa menyetujui dengan memejamkan mata, ia tertidur di kursi panjang yang biasa di gunakan pembeli untuk menunggu karangan bunganya jadi.
'Angga, apa yang terjadi padamu?'
Tak ayal karena jam terus bergerak maju, Keisha menelpon Jemy menanyakan kabar sang suami apakah sudah tiba di rumah atau belum? Namun, Jemy mengatakan kalau Angga sejak sore tadi belum juga sampai di sana.
"Apa sampai sekarang Tuan Angga belum menjemput Nona?" nada suara Jemy terdengar khawatir. Lelaki itu berpikir kalau mungkin Keisha dan Angga sedang berjalan-jalan sebentar. "Jemy bisa ka jemput Hasa di toko sekarang?" setelah mendapat jawaban iya dari Jemy, Keisha menutup panggilan kembali keluar melihat area sekitar.
"Badai ini akan berlangsung selama dua hari, sehingga pemerintah menghimbau kepada masyarakat sekitar untuk tidak melakukan perjalan jauh terlebih dahulu. Tetap menjaga keselamatan dengan berdiam diri di rumah masing-masing.."
Layar televisi raksasa itu telah mati, Keisha cuma melirik samping kanan dan kirinya mencoba mencari mobil suaminya yang melintas.
"Keisha," suara lelaki memanggil perempuan itu dari samping. Itu adalah sosok pria yang ia temui bersama Angga di pagelaran Mario Art De Lavi. "Kenapa kau masih ada di sini? Apa Angga tidak menjemputmu?" enggan menjawab Keisha diam seribu bahasa. Tidak, ia harus menjaga jarak dengan Julian selama Angga tidak bersamanya.
Netra Julian melihat bayangan Hasa yang tidur meringkuk di kursi, kebetulan dinding toko bunga Keisha terbuat dari kaca tembus pandang yang tebal. "Aku akan mengantarmu dan Hasa pulang." Kini Julian mencoba menawarkan bantuan. "Tidak perlu, Jemy akan menjemputku," tolak Keisha sebisanya.
"Ini sudah malam, tidak baik kalau terus berada di luar. Lagi pula aku cuma mengantar. Tidak ada niat atau maksud tertentu. Jika bukan untukmu, maka terimalah tawaranku untuk Hasa."
__ADS_1
Tak henti-hentinya Julian meraih hati Keisha, dia tidak mau ada hal buruk yang menimpa perempuan itu jika tetap berada di sini. Terutama ini adalah Ottawa, kota kosmopolitan tempat kejahatan juga marak terjadi.
Jam telah menunjukkan pukul 10.00 pm, tetapi baik Jemy maupun Angga tak kunjung tiba di sana. Selama waktu itu juga Julian terus menunggu, tak meninggalkan Keisha walaupun wanita itu telah menolaknya.
"Bagaimana? Apa akan tetap menolak niat baikku?"
Dengan berat hati Keisha hendak mengangguk, tapi ia segera urungkan. Ia tidak mau suaminya bersedih jika mengetahui ini. Jadi Keisha mencari taksi yang lewat mencegatnya, dia menggendong Hasa menaiki taksi membiarkan Julian tetap berada di sana, menatap kepergiannya dalam kebisuan.
"Ibu," gumam Hasa. "Tidurlah, Ibu akan menjagamu," ucapnya mengecup pipi Hasa.
Dari dalam kaca mobil belakang, Keisha bisa melihat bayangan Julian yang masih setia menatap kepergiannya tanpa bergeming dari posisi. Tatapan mata laki-laki itu menunjukkan kesedihan yang tak terlukiskan. Begitu dalam dan sulit untuk diselami.
'Aku memang tidak tahu kamu siapa? Tapi, rasanya aku sangat mengenalmu. Tapi maaf, aku harus menjaga perasaan suamiku. Karena dia yang paling terluka jika kau tetap memandangku penuh cinta seperti itu.'
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung
Sana sedih karena tidak ada yang merindukan MOW saat Sana tidak update. Pembaca MOW juga semakin berkurang. Semoga ini bukan karena S2 MOW tidak semenarik MOW S1. Jadi kalian meninggalkan MOW perlahan-lahan.