
~Rasa takut manusia itu seperti benalu yang selalu menempel pada batang pohon akal pikirannya~
Hari berganti menjadi bulan, kandungan Keisha semakin besar. Perut datarnya sekarang terlihat cukup bulat terisi, membuat Angga bahagia karena anaknya akan segera lahir, namun ia juga merasa khawatir takut kehilangan istrinya.
Sejak awal kehamilan Keisha, Dokter Margareth yang khusus menangani istrinya memberitahukan bahwa kandungan perempuan itu lemah sehingga memungkinkan terjadinya hal buruk di kemudian hari.
Di satu sisi Angga ingin bersikap egois agar istrinya melahirkan anaknya ke dunia, tapi di sisi lain ia tidak mau kehilangan perempuan yang dicintainya.
Pikirannya dalam dilema, Angga bahkan sempat berpikir agar menyuruh Keisha menggugurkan kandungannya ketika belum mencapai usia empat bulan, tapi ia tidak tega menyakiti hati perempuan itu. Pada akhirnya ia memilih untuk menghadapinya bersama-sama.
Jalan satu-satunya yang ia punya hanya bersifat tenang dan mendukung istrinya dengan kasih sayang.
Angga tahu benar bagaimana Keisha telah menanti kehamilannya sejak lama. Pria itu paham betul akan perasaan istrinya, meski Angga berpura-pura tidak tahu tapi ia selalu memperhatikan Keisha saat perempuan itu berulang kali terlihat sendu menatap hasil tes packnya beberapa tahun lalu.
Dan di hari jadi pernikahan mereka yang kelima tahun perempuan itu hamil. Sekarang usianya sudah memasuki tujuh bulan, itu berarti dua bulan lagi hari kelahiran buah hati mereka.
Mata Angga mengamati istrinya yang tampak begitu anggun dengan perut buncitnya duduk di kursi goyang, perempuan itu memakai dress berukuran besar berwarna putih dengan motif bunga Kamelia di tepi rendanya.
"Ah semakin hari rasa takutku akan kehilanganmu semakin besar Nyonya, apa yang harus aku lakukan?" Batin Angga seraya memperhatikan Keisha yang tengah merajut pakaian bayi. Tangannya yang ramping karena kekurangan berat badan semakin terlihat jelas.
Jika perempuan lain akan terlihat gemuk saat masa mengandung, maka berbeda dengan Keisha yang terlihat cukup kurus saat ini.
"Angga," Panggil Keisha halu seraya melambaikan tangannya agar suaminya mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Iya sayang," jawab Angga mencoba menunjukkan senyum hangat sebaik mungkin agar Keisha tidak mengetahui kegelisahannya.
Keisha mengusap kepala Angga pelan saat pria itu berjongkok di hadapannya. "Ada apa? Kamu merindukanku?" Kepala Angga mendongak melihat ke arah perempuan pujaannya. "Aku ingin kamu mencoba ini," ucap Keisha tersenyum tulus sembari memasangkan topi rajut di kepala Angga.
Pria itu terkekeh saat topi rajut itu sedikit menyembul ke atas karena kekecilan, "ini tidak muat sayang," jelas Angga tanpa menghentikan tawanya. "Ya sudah, akan aku buatkan yang baru," ujar Keisha menimpali.
Tangan perempuan itu segera mengambil benang wol baru dan mengaitkannya dengan jarum. "Tidak perlu sayang, ini sudah cukup, aku akan memakainya. Lihatlah!" Angga memakai topi rajut itu lagi, sedikit memiringkannya menjadi sebuah model fashion lalu menjepitnya dengan jepitan rambut.
"Ini sempurna," ujar Angga antusias menunjukkan gigi putihnya yang rata.
"Suamiku ini memang pandai," puji Keisha sembari menarik hidup Angga yang mancung.
Angga kembali tertawa, "mana mungkin aku menyia-nyiakan topi rajut yang sudah kau buat dengan susah payah Nyonya," batin Angga. Ia mengingat saat Keisha menghabiskan waktu beberapa hari merajut benda itu dan pakaian bayi untuk calon anaknya.
"Sayang," panggil Angga halus. Keisha hanya berdehem kecil ia kembali memintal benang untuk membuat sepasang sepatu bayi. "Sore ini kamu tidak ingin keluar?" Tanya Angga melepas topi rajutnya lalu melihat ke arah Keisha dengan serius.
"Baiklah kita pergi ke sana," putus Keisha seraya mengusap pipi Angga. Pria itu pun tersenyum manis ke arah istrinya.
Di sore hari mereka benar-benar pergi ke Pasar ByWard, Keisha menunggu di kursi dekat jalur jalan sepeda sementara Angga membeli sirup sugar maple untuk mereka. Ini adalah minuman khas musim semi yang manis dan lembut di bibir. Para pos jualan dibuka sepanjang jalur, mereka sedang menjajakkan jualan mereka.
"Angga," Panggil Keisha saat ia sudah duduk di samping istrinya sembari mulai menyantap sirup sugar maple. "Ada apa?" Angga masih menikmati sirup itu, "lihatlah!" Pinta Keisha antusias seraya menunjuk kereta dorong bayi di depan salah satu toko penjual barang bekas.
Ya, memang pada awal bulan musim semi para orang di Kanada akan terbiasa membuang barang-barang mereka yang sudah tidak terpakai.
__ADS_1
Barang-barang itu akan dijual kembali dan uangnya akan diberikan pada bank pusat untuk tambahan dana pangan nasional. Bisa dibilang ini sebagai bentuk amal secara tidak langsung.
Angga melihat kereta dorong bayi yang ditunjuk Keisha, mata pria itu menyipit. Dalam benaknya ia berpikir dirinya dapat membeli kereta dorong bayi yang masih baru di toko, tapi istrinya justru menginginkan kereta dorong bayi bekas tersebut.
"Jangan dilihat dari luarnya Angga, kualitasnya masih tampak bagus. Dan tidak ada yang rusak parah selain salah satu rodanya yang sudah tipis." Jelas Keisha mencoba menerka jalan pikiran suaminya.
"Kamu tahu uang yang mereka dapatkan akan disumbangkan, setidaknya kita dapat barang yang kita butuhkan dan kita juga membantu orang." Ucap Keisha halus membuat Angga mengangguk mengerti.
Pria itu meletakkan sirup sugar maple di bangku kosong sampingnya, lalu ia bangkit dari duduknya, kemudian memegang pinggang dan tangan Keisha membantunya untuk berdiri. "Ayo kita lihat kereta dorong bayinya sayang," seru Angga bersemangat. Ia menuntun Keisha secara hati-hati menuju ke arah penjual toko barang bekas tersebut.
Seorang wanita paruh baya berambut putih sempurna menyambut kedatangan sepasang suami istri itu dengan hangat. "Apa yang bisa nenek ini berikan pada kalian Nak," ucap Nenek itu membuka pembicaraan. Angga tersenyum manis lalu menunjuk kereta dorong bayi yang Keisha inginkan tadi.
Perempuan tua yang penduduk asli negara itu tersenyum ramah. Ia mengambil barang yang diminta Angga. Keisha pun segera menyentuh kereta dorong bayi itu, hatinya berdesir ia merasa tidak sabar akan kelahiran anaknya.
"Ini terlalu banyak Nak," timpal Nenek itu saat Angga membayar harga kursi roda itu empat kali lipat dari harga aslinya. Bahkan jika dihitung uangnya itu akan dapat membeli empat kereta dorong bayi baru yang biasa dijual di toko.
"Istriku senang Nek, jadi harga ini pantas untuk itu." Angga tersenyum tulus, sembari memberikan beberapa lembar dollar lagi.
"Lalu ini untuk keperluan Nenek pribadi," imbuh Angga lagi.
Perempuan tua itu tersenyum, ia seperti mendapat berkah hari ini karena pria ini memberinya uang lebih untuk dirinya, karena hasil penjualan barang bekas ini memang sengaja akan diberikan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.
"Terimakasih Nak, Nenek doakan semoga istrimu dan bayi dalam kandungannya sehat, semoga keduanya selamat saat prosesi melahirkan nanti." Doa Nenek tadi tulus, membuat Angga merasa senang. Pria itu berharap agar doa-doa yang diberikan orang-orang baik tersebut dapat menjadi kenyataan.
__ADS_1
Mohon maaf ya reader karena Sana cuma bisa ngetik segini, Sana lagi dikejar dead line tugas. Mohon untuk bersabar, Sana tahu reader semua adalah orang baik karena bisa mengerti keadaan Sana dan tidak menuntut untuk UP..
Terimakasih 🙏🙏❤️ ❤️