
...~Sejauh-jauhnya ragaku mengelana, tetapi hatiku akan selalu menetap di rumah~...
...(Angga Wilson)...
***
Tepat pukul 11.20 PM Angga baru tiba di bangunan berlantai dua. Keisha menunjukkannya papan nama keluarga Wilson di samping pagar. Ada ukiran nama "Angga" di sana. Lelaki itu tersenyum simpul, ia melihat ke dalam ketika seorang lelaki buru-buru berjalan keluar mendekati mereka. Seorang petugas keamanan juga membantu membuka pintu gerbang.
"Nona Keisha."
Jemy terdiam beberapa menit menyaksikan sosok pria yang pulang bersama Keisha. Wajah pria itu yang cukup mirip dengan almarhum Tuan Wilson membuat ia tak kuasa langsung memeluk tubuh Angga.
"Tuan Angga, hah... saya senang melihat Anda kembali," ucapnya penuh syukur.
Hasa yang keluar membawa boneka beruang kesayangan dengan piyama tidur mengucek mata sebentar. Melihat ke arah sang ibu lalu paman Jemy. "Ibu sudah pulang?" sapanya tersenyum lebar sedikit menguap. Anak itu berjalan ke teras untuk memperhatikan wajah asing yang tampak familiar.
"Seperti Ayah," gumamnya setengah sadar memperjelas pandangannya. Keisha yang menangkap omongan Hasa mendekat, berjongkok menjauhkan tangan putranya dari area mata. "Dia memang Ayah, Hasa. Ayah sudah pulang." Bocah itu memajukan kepala, menoleh pada Keisha lalu melihat ke arah Angga lagi. Bayangan sosok pria yang ia rindu tampak berdiri tersenyum padanya.
"Hasa." Suara Angga yang selalu tenang dan hangat membuat iris hitam Hasa berkaca-kaca. Ada perasaan sayang tak tertahankan.
"Ayah!" serunya berlari melepas boneka beruangnya begitu saja. Melompat langsung ke pelukan Angga, memeluk lehernya Kuat-kuat. "Ayah," katanya lagi merengek manja. Angga cuma tersenyum mengelus punggung putranya sayang. Perlahan-lahan ia ingat tentang anak kecil yang selalu menjambak rambutnya dulu.
"Hasa rindu Ayah. Kenapa Ayah baru pulang?" omelnya menarik pipi Angga bergantian.
"Maafkan Ayah," tutur Angga menciumi wajah si kecil. Jemy cuma melihat haru, ia senang keluarga tuannya telah kembali. Setelah Angga beserta Hasa dan Keisha masuk ke dalam rumah. Jemy segera menghubungi Romi memberikan kabar padanya bahwa tuan mudanya telah ditemukan. Sementara Pak Samm menutup pintu gerbang mengunci pagar.
Bibi Elin yang menerima kabar majikannya telah pulang ke rumah, buru-buru menyiapkan keperluan Angga. Ia menawarkan makan malam dan air hangat untuk mandi. Namun, Angga menolaknya dengan halus. Lelaki itu menggendong Hasa ke kamar mereka. Keisha yang menunjukkan jalan dan letak ruangannya.
__ADS_1
"Malam ini Panda Kecil Ayah tidur di sini," ucapnya membujuk Hasa agar mau lepas dari gendongan, tetapi anak itu menggeleng kencang takut ditinggalkan. Keisha menata bantal dan selimut, mematikan lampu penerangan dengan lentera tidur. Dia juga membantu menanggalkan jaket Angga di gantungan baju.
"Hasa tidak mau Ayah pergi," rengeknya mulai nakal. Angga yang melihatnya seperti ingat sesuatu, jadi ia cuma mengembangkan pipi menciumi wajah putranya kedua kali. Hasa pasti masih takut kalau dia akan menghilang lagi. "Biar aku melepas sepatumu." Sambil duduk di sisi ranjang, Keisha berjongkok hendak menyentuh kaki Angga tapi dengan cepat lelaki itu menolaknya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" dia menghembuskan napas sebentar mendudukkan Hasa di pangkuannya. "Aku tidak mau Ibu melakukan itu, biar aku yang melepasnya sendiri. Hasa duduk di samping Ayah dulu, hmm."
Setelah mendapatkan persetujuan dari bocah berusia empat tahun itu. Angga menundukkan kepala melepas sepatu dan kaos kakinya. Dia menaruh semuanya di tempat yang semestinya. Kemudian menghampiri Keisha menyuruhnya tidur dulu di ranjang menggantikan ia menutup korden jendela dan mengatur suhu ruangan.
Baru setelahnya ia berbaring, memeluk Hasa sayang. "Kenapa menangis? Anak laki-laki Ayah harus kuat," tuturnya membelai pipi gembul Hasa menepuk kepalanya. "Hasa kira ini mimpi, tapi Ibu bilang mulai sekarang Ayah akan bersama kita lagi. Hasa senang mendengarnya," jelasnya sesenggukan. Bagi Hasa kepulangan Angga malam ini yang tiba-tiba seperti sebuah ilusi. Ia takut esok hari ayahnya pergi lagi sama dengan hari-hari yang lalu.
"Dengarkan Ibu, Ayah tidak akan meninggalkan Hasa lagi. Jadi Hasa tidak boleh bersedih," nasihat Keisha mencium pipi putranya memeluk dari belakang. Angga yang memperhatikan itu merasa bersalah. Kepergiannya cukup membawa tekanan psikologis bagi kedua orang yang ia cintai.
"Maafkan Ayah, Ayah janji tidak akan meninggalkan kalian lagi." Dengan perlahan Angga memeluk anak dan istrinya, mencium mereka bergantian. Lalu, menceritakan dongeng tidur. Sepanjang malam lelaki itu terjaga menidurkan Hasa dan Keisha.
***
Keesokan paginya ketika Angga membuka mata, ada beban berat yang menimpa perutnya. Ternyata Hasa tidur di atas tubuhnya. Sedangkan Keisha, wanita itu berdiri di depan cermin mencepol rambutnya asal.
Keisha mendekat memberikan kecupan di pipi. Jika bukan Hasa menggeliat di atasnya, Angga akan membalas ciuaman manis sang istri.
"Nyonya," panggil lelaki itu halus memegang tangan Keisha. "Tidak perlu mengatakan apa pun." Sebelum dia meneruskan kalimatnya Keisha telah lebih dulu mengulas senyum seolah-olah berkata semua akan baik-baik saja.
"Aku mencintaimu." Keisha mengangguk sebagai balasan. Perempuan itu menggendong tubuh Hasa memindahkannya. "Bangun sayang, waktunya sekolah," bisiknya lembut. Hasa mengerang, masih mengantuk tapi ia tidak mau lepas dari Angga. "Biarkan dia libur hari ini, Panda Kecil pasti sangat merindukanku." Tangan Angga membenarkan posisi tidur Hasa, membenahi kancing piyamanya yang terbuka dengan air liur menetes.
Keisha ikut merebahkan tubuhnya, "Terima kasih karena telah menjaga Hasa dengan baik selama aku tidak ada." Mata Angga menatap dalam menunjukkan ketulusan. Keisha menyingkirkan poni pria itu, menyentuh pipinya halus.
"Kami sangat mencintamu Ayah."
__ADS_1
Hati Angga menghangat, seperti ada matahari terbit dalam relung jiwanya yang gelap. Perlahan tubuh Angga bangkit, kepalanya merunduk mencium bibir Keisha, menarik ceruk lehernya untuk memperdalam ciuman mereka. Keduanya menutup mata menikmati sensasi manis yang menyeruak. Namun...
"Hasa tidak lihat."
Suara si kecil terdengar, anak itu tertawa cekikikan menutup mata dengan kedua telapak tangan yang sedikit dibuka. Angga dan Keisha segera melihat ke bawah, saling melempar senyum samar. Putranya sangat nakal.
"Hahaha..., Ayah hentikan! Itu geli."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung
Terima kasih yang masih setia menunggu MOW. Mungkin bisa mampir ke Suamiku Tunanetra dulu selagi menanti Angga dan Keisha ❤