My Old Wife

My Old Wife
Kebahagiaan yang Tidak Tertahankan


__ADS_3

~Kehadiran buah hati dalam hubungan pernikahan bagaikan mata air di tengah gurun pasir~


Sore harinya Angga sudah bersiap untuk menjemput istrinya, pria itu tidak henti-hentinya melihat penampilannya di cermin. Sesekali ia menyisir rambutnya dengan tangan, mengusap minyak gel untuk merapikan rambutnya.


Poninya yang sudah mulai menutupi dahinya ia singkirkan, kemudian ia juga menyemprotkan parfum bau mints ke leher dan beberapa bagian tubuhnya. "Sempurna," puji Angga bangga pada maha karya dalam merubah penampilannya.


Memakai setelan kantor hampir setiap hari membuatnya sedikit bosan, jadi ia kembali mengenakan jaket blazer tebal berwarna putih kesukaannya. Lalu memakai dalaman sweeter hangat hitam polos berlengan panjang. "Akan aku buat Nyonya jatuh hati lagi padaku," pikir Angga masih setia memperhatikan penampilanya di hadapan cermin rias milik istrinya.


Hari ini Angga sengaja pulang lebih awal agar ia dapat bersiap-siap terlebih dahulu. Pria itu ingin terlihat sempurna di mata wanita pujaanya.


Angga bahkan sudah membeli sebuket bunga mawar kuning, sekotak cokelat putih, dan surat kasih sayang. Sungguh pria itu menganggap hari jadi pernikahannya sebagai hari yang paling spesial.


"Semoga Nyonya juga menyukai ini." Angga mengambil amplop berwarna cokelat dalam tas kantornya, amplop tersebut berisi beberapa foto bayi yang sudah Romi dapatkan informasinya. "Aku harap Nyonya mau mengadopsi anak denganku," ujar Angga lagi tampak antusias dengan mata berbinar-binar.


Setelah menyiapkan segala keperluan yang ia butuhkan untuk menghabiskan waktu bersama istrinya malam ini. Angga segera berangkat ke toko bunga istrinya untuk menjemput Keisha.


Dalam perjalanan pria itu tidak henti-hentinya bersenandung ria sembari menyalakan musik kesukaannya. Hatinya berdebar-debat ingin segera menemui Keisha dan memeluknya.


Tidak butuh waktu lama, Angga sudah sampai di depan bangunan dipenuhi dengan tanaman bunga musim dingin. Salju putih menjadi hal utama yang Angga sentuh saat ia memijakkan kakinya di pelataran toko bunga denga desain khas Roma, namun bernuansa modern karena atap bangunan itu yang tidak menonjol seperti bangunan yang lain.


Hiasan lampu gantung berwarna-warni dengan etalase kaca besar menjadi pemandangan utama ketika ia melihat toko bunga "Anggasa Florist". Pria itu menekan bunyi bel beberapa kali menunggu seseorang untuk membukannya.


"Selamat datang Tuan, bunga apa yang anda inginkan?" Sapa Elly ramah. Elly tidak menyadari jika yang datang adalah suami majikannya. Jika tidak? Mungkin ia akan langsung menyuruh Angga masuk tanpa harus menawarkan bunga terlebih dahulu.


Angga memperhatikan kondisi sekitar, ia tidak menangkap sosok bayangan yang ia cari. "Dimana istriku Elly?" Matanya menjelajah ke setiap sudut ruangan. "Nona Keisha sedang beristirahat di dalam Tuan," tutur Elly seraya memberi jalan bagi Angga untuk masuk.


Angga mengangguk paham, ia segera melangkah menuju ke bilik kecil yang berada di belakang. Elly hanya menatap Angga dari balik punggungnya. Perempuan itu mengelus dadanya karena merasa takjub dengan penampilan suami majikannya.


"Sungguh Nona Keisha sangat beruntung, ia mendapatkan Tuan Angga yang tampan dan sangat menyayanginya. Aku berdoa agar Tuhan juga mengirimkan lelaki seperti Tuan Angga untukku." Gumam Elly kecil seraya menggelengkan kepalanya berulang kali.


Perempuan itu berjalan keluar menuju ke pekarangan untuk mengecek bunga yang masih segar dan dapat dipetik untuk dijual besok. Ia meninggalkan kedua majikannya di dalam.


Angga membuka kenop pintu secara perlahan-lahan, pria itu berjalan mengendap-endap bermaksud mengejutkan istrinya. Tapi bukan ia yang membuat istrinya terkejut, Angga justru dikejutkan dengan pemandangan yang ia lihat saat ini.


Keisha tengah tertidur sembari memeluk kemejanya di kursi goyang. Wajahnya begitu teduh hingga membuat Angga tidak dapat mengalihkan pandangannya.


Pria itu menaruh buket bunga dan cokelat di meja dekat pintu, lalu ia berjalan mendekat ke arah Keisha yang sedang tertidur di dekat jendela.


Semilir angin musim dingin menerpa wajah perempuan itu, hingga menyibakkan beberapa helai rambut hitam legam milik Keisha. Butiran salju tipis juga terlihat menempel di pucuk kepala istrinya karena daun jendela samping masih terbuka lebar.

__ADS_1


"Anda begitu ceroboh Nyonya, bagaimana anda bisa tidur dengan keadaan seperti ini?" Batin Angga dalam hati. Perlahan-lahan pria itu melepas blazer tebal miliknya dan menyelimutkannya pada Keisha.


Tangannya menyentuh kemeja miliknya yang masih dipeluk Keisha, tanpa ia sadari bibir pria itu terangkat membentuk senyuman. "Ah entah kenapa rasanya aku ingin mencium Nyonya saat ini," jerit Angga dalam hati sembari mengeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengusir bayangan liarnya.


Menyadari ada suatu pergerakan di tubuhnya, Keisha membuka matanya perlahan. Ia melihat sosok pria yang sudah lama ia nanti kehadirannya tepat berada di hadapannya. Pria itu terlihat menawan bahkan semakin mempesona dengan pakaian kasual.


"Maaf karena aku membangunkanmu sayang," tutur Angga penuh rasa bersalah. Keisha segera menggelengkan kapalanya kecil, lalu ia memperbaiki posisi duduknya.


"Seharusnya kamu membangunkanku sejak kamu datang ke sini," ucapnya dengan tersenyum lebar. Perempuan itu bangkit dari duduknya lalu membersihkan sisa salju dikepalanya. Setelah itu ia mendekat ke arah Angga memasangkan kembali blazer milik pria itu yang ia lepas untuk menyelimutinya.


Lalu Keisha juga mengambil sarung tangan di laci kecil meja, kemudian memasangkannya di kedua tangan suaminya. "Udara sedang dingin, jadi kamu harus tetap menjaga tubuhmu tetap hangat." Ujar Keisha seraya memasukkan satu persatu jari jemari Angga ke dalam benda kain tersebut.


Angga hanya diam seraya memperhatikan setiap inchi pahatan wajah istrinya di hadapannya.Jarak mereka yang cukup dekat membuat jantung Angga berdetak lebih cepat. Pria itu hampir kehilangan akal sehatnya.


Secara perlahan-lahan ia mendekatkan wajahnya ke arah Keisha. "Nyonya," panggilnya halus. Keisha mendongak melihat ke arah Angga, tapi pria itu sudah menarik tengkuk lehernya dan membenamkan ciuman di bibirnya. Ia dapat melihat Angga menutup kedua matanya mencoba meresapi perasaan itu.


Keisha hanya menurut, sampai Angga sendiri yang melepaskannya. "Terimakasih," ucap Angga setelah menyalurkan rasa rindunya. Keisha hanya mengangguk kemudian tangannya beralih meraih syal yang tergantung di gantungan baju, lalu melilitkannya di leher Angga.


"Sekarang suamiku ini akan baik-baik saja, aku tidak perlu khawatir lagi kalau dia akan kedinginan." Tutur Keisha halus seraya memperbaiki kerah blazer Angga. Pria itu hanya tertawa kecil menerima perhatian istrinya.


"Jadi sekarang kita sudah bisa pergi?" Tanya Angga antusias yang dibalasi anggukan oleh Keisha. Angga semakin gembira dan menautkan jari-jemarinya di jari ramping Keisha lalu memasukkannya ke dalam kantong blazer-nya.


Sebelum pria itu keluar dari bilik kamar minimalis tersebut, Angga tidak lupa mengambil buket bunga mawar kuning dan cokelat di meja tadi lalu memberikannya pada perempuan itu.


Keisha menerimanya dengan senang hati, tanpa suaminya mengatakan apa pun, perempuan itu sudah tahu maksud dari Angga, karena mawar kuning memiliki filiografi "kesetiaan dalam sebuah hubungan".


"Terimakasih," ucap Keisha tulus yang dibalas senyum lebar dari Angga. "Sama-sama sayang," jawab Angga singkat. Hati Keisha begitu hangat sekarang, kebahagiaan mulai memenuhi relung hatinya. Ia juga sudah tidak sabar memberitahukan tentang kabar kehamilannya pada Angga.


Mereka melakukan perjalanan cukup lama, tempat yang mereka datangi pertama kali adalah restoran. Angga memang sudah menyusun rencananya, sebelum ia menghabiskan waktu bersama Keisha nanti alangkah lebih baiknya kalau ia memberi makan istrinya terlebih dahulu.


Acara makan berjalan lancar, mereka tidak memilih restoran yang mahal, justru Angga mengajak Keisha makan di restoran sederhana namun memiliki suasana kekeluargaan.


Setelah mengisi perut wanita yang dicintainya, Angga membawa Keisha pergi ke Rideau Canal Skateway tempat yang paling banyak dikunjungi pada musim winterlude seperti sekarang.


Ketika Angga dan Keisha menjejalkan kakinya di daerah itu, kedua pasang mata suami-istri itu dapat melihat gedung perlemen menjulang tinggi sebagai background-nya. Pohon-pohon Akasia mengering berwarna cokelat hanya menampakkan ranting tanpa dahannya.


Dari ujung danau Dow' Lake sampai dengan kunci Hartwell dapat dilihat lautan manusia bermain ice skating di gelanggang arena skating yang terbuat dari aliran sungai Rideau Canal yang membeku. Para turis bersuka ria, tawa anak-anak dan orang dewasa menggema memenuhi langit sore di Chateau Laurier.


Angga mengajak Keisha untuk terjun ke jalur permaian ice skating, tapi tampaknya perempuan itu menolak. Keisha beberapa kali menggelengkan kepalanya saat Angga menuntunnya masuk ke arena skateway.

__ADS_1


"Kenapa sayang?" Tanya Angga halus tangannya masih setia menggenggam tangan Keisha saat sebagian kaki Angga sudah menjejak di atas permukaan gelanggang Rideau Canal.


"Aku tidak bisa Angga," tolak Keisha halus. Angga mengembangkan senyumnya. "Aku akan menjagamu, saat kamu terjatuh aku akan menangkapmu." Bujuk Angga lagi, tapi Keisha kembali menggeleng pelan.


Pada akhirnya Angga menyerah ia tidak bisa memaksa kehendak istrinya. "Ya sudah kita berjalan-jalan saja sambil melihat-lihat," kata Angga mengalah membuat Keisha mengangguk antusias. Entah kenapa sekarang perempuan itu tampak menggemaskan di mata Angga.


Setelah Angga mengembalikan sepatu perlengakapan ice skating ke tempat penyewa, pria itu membawa Keisha berjalan-jalan melihat keadaan sekitar yang tampak ramai.


Angga masih menggenggam tangan istrinya dibalik kantong blazer-nya. Mata pria itu berbinar ketika melihat sekumpulan anak kecil bermain bola salju di dekat pos skateway.


"Kau tahu sayang?" Angga melihat beberapa anak lelaki yang berlarian melempar bola salju pada temannya.


"Jika kita memiliki anak mungkin itu akan menyenangkan." Angga mencoba perlahan-lahan membuka hati Keisha, agar saat nanti dia mengatakan bahwa ia ingin mengadopsi seorang bayi untuk Keisha rawat maka perempuan itu tidak terkejut dan berakhir menolak.


"Mereka pasti akan membuat hari tua kita bahagia," ujar Angga seraya melihat seorang anak perempuan yang tengah menangis dan digendong ibunya. "Sayang, apa kamu mau merawat seorang bayi untukku?" Kini Angga menoleh ke arah Keisha yang berada di sampingnya.


Tapi tanpa diduga ia justru melihat perempuan itu menitikkan air mata. "Kenapa kamu menangis sayang? Aku tidak memaksamu mengandung anakku. Aku hanya ingin mengadopsi seorang anak untuk kita rawat." Angga mengusap air mata di pipi bersih milik istrinya.


"Jangan bersedih, jika kamu tidak setuju aku tidak akan melakukanya." Jemari tangan Angga mengusap air bening di sudut mata Keisha.


Perempuan itu semakin menangis membuat Angga kebingungan. "Sayang, tenanglah." Karena tidak tahu harus melakukan apa, pada akhirnya Angga menarik tubuh Keisha memeluknya dengan erat seraya mengusap punggungnya. "Maafkan aku," ucap Angga merasa bersalah.


Keisha menggelengkan kepalanya ia menarik leher Angga kuat-kuat. "Kamu akan jadi Ayah, Angga. Kita akan jadi orang tua." Kata Keisha sedikit terisak pelan.


Angga semakin mendekap istrinya dalam. "Iya sayang, suatu saat kita akan jadi orang tua." Pria itu masih belum memahami perkataan istrinya. Karena yang ada dipikiran Angga bahwa ketika ia mengadopsi anak nanti maka dia dan Keisha otomatis akan menjadi orang tua asuh anak itu.


"Aku hamil Angga."


Deg..


Jantung Angga berhenti berdetak mendengar kalimat keramat itu, nyawanya seolah-olah meninggalkan raganya untuk sementara.


___________^_^


Sana Update panjang, semoga puas.


Terimakasih atas Like + Vote + Komen + Rate Bintang Lima yang sudah diberikan.


Salam sayang.

__ADS_1


~Angga & Keisha~✉


__ADS_2