
...~Hatiku sudah terpatri untuk Keisha, jadi biarkan rasa ini tumbuh dan mati juga untuk Keisha~...
...(Julian Fernandez)...
...***...
Angga sampai di rumahnya dengan cepat, Bibi Elin segera menyambut ia di depan gerbang. Rupa-rupanya asisten rumah tangga itu baru saja pulang dari pasar untuk membeli bahan-bahan dapur yang habis.
"Tuan sudah pulang, saya kira tadi sekalian mampir ke toko bunga," kata Pak Samm membukakan gerbang untuk mobil Angga masuk. Pria itu menggulum senyum manis sebagai jawaban.
Siang ini setelah menyelesaikan meeting dengan kliennya rasanya Angga hanya ingin di rumah makan masakan istrinya tercinta. "Ibu di dalam?" tanya Angga menanyakan keberadaan Keisha. "Ibu juga barusan pulang Pak, diantar Tuan Jemmy tadi." Dengan senang Angga memarkirkan mobilnya di garasi. Ia mengambil beberapa bingkisan di kursi belakang sebelum masuk ke rumah. Pak Samm hendak membantunya tetapi Angga menolak secara halus.
"Biar saya saja, ini tidak berat," kata Angga mengurungkan tangan Pak Samm yang hampir terulur membantu. "Oh ya, kalau Pak Samm mau ada beberapa kotak makan di bagasi mobil, tadi banyak karyawan yang cuti kerja, jadi Bapak bisa bawa pulang untuk keluarga di rumah."
Sopir itu tersenyum bahagia merasa bersyukur, "Makasih banyak Tuan Angga."
Seraya mengangguk kecil Angga berjalan mengarah pada pintu yang sudah dibuka lebar. Ia langsung menuju ke meja makan, pria ini yakin istrinya ada di sana. Dan benar dugaanya Keisha tengah menata piring di meja.
"Sayang, kau seperti punya indera keenam, bagaimana kau tahu aku akan pulang ke rumah siang ini?" Angga menempelkan kepalanya ke ceruk leher Keisha, menghirup aroma segar yang menguar di sana. Lelaki ini memeluk perut Keisha dari belakang lalu menempel seperti seekor kucing.
"Angga hentikan, cuci tangan dulu sebelum makan," tegur Keisha karena suaminya mulai menggosokkan pipinya ke pipi Keisha dengan manja. "Aku mau kau menyuapiku nanti," rayu Angga lagi mengigit pipi Keisha gemas. Benda kenyal ini seperti jelly yang lezat bagi Angga.
__ADS_1
"Aw... ah iya-iya Nyonya. Aku berhenti," pekiknya saat daun telinga kirinya mulai di jewer oleh Keisha. Memang dia terlalu nakal dan senang menggoda istrinya. "Cuci tangan, kita akan makan siang bersama." Keisha mencium pipi Angga sekilas sebelum akhirnya melanjutkan kegiatannya.
Masih memegangi telinganya yang memerah akibat jeweran sang istri, Angga diam-diam tersenyum berjalan cepat ke kamar mandi sambil besiul ria. Dia sangat bahagia. "Tuan Angga, Anda sudah pulang?" Jemmy tampak menuruni tangga dengan beberapa peralatan tanam-menanam bunga. Ada sekantong plastik berisi sekop, pot, dan bungkus biji bunga musim dingin.
"Kau mau ke toko lagi? Tidak ingin makan siang bersama kami?"
"Elli sudah pesan makanan dari restoran Paman Gio, saya makan di sana saja. Masih banyak pekerjaan di toko. Biar Nona Keisha tetap istirahat di rumah, saya yang akan mengurus toko hari ini."
"Baiklah, terserah padamu."
Obrolan mereka berakhir dengan masuknya Angga ke kamar mandi dan pamitnya Jemmy kepada Keisha. Suasana sedang tenang, karena si kecil Hasa belum pulang sekolah. Jika sudah ia pasti membuat berbagai macam keributan.
Seusai mencuci tangan, Angga menyingsingkan lengan kemejanya ia telah siap memakan masakan kesukaanya. Semangkuk sup tomat dengan satu goreng ikan pedas berada di piringnya.
Mereka mulai makan dengan hikmat, hanya suara denting sendok yang terdengar dan terkadang kenakalan Angga yang menggoda Keisha. Memang lelaki satu ini tidak bisa diam dan duduk tenang.
"Angga," Keisha berujar cukup tinggi karena sedari tadi kaki Angga di bawah meja menyenggolnya, sampai Keisha berhenti memasukkan beberapa suap nasi ke mulutnya.
"Hahaha..., jangan marah Nyonya. Aku cuma bercanda," guraunya memakan lagi sup yang tinggal tersisa setengah. Tapi baru juga Keisha akan makan lagi gantian tangan Angga yang berjalan ke mana-mana. Ekor mata Keisha membola ia terkejut dengan telapak tangan Angga yang telah berada di bagian atas tubuhnya.
"Aku tidak melakukan apa pun Nyonya? Lihat aku makan dengan benar," elaknya menyendok sup dengan tangan yang lain.
__ADS_1
"Jangan begini Ayah, nanti ada yang lihat."
Suara Keisha melembut, mencoba memberi pengertian.
Tangan Angga semakin berselayar nakal membuka kancing baju Keisha satu atau dua menelusup masuk. "Ayah," Keisha masih bersikap halus. Tetapi tampaknya pria satu itu susah di nasihati. "Kau sangat cantik Nyonya," puji Angga melihat wajah Keisha yang mencoba menahan sesuatu hangat di balik bajunya, di mana jari-jemari suaminya mulai bermain.
"Mau ke kamar?" akhirnya Angga merapatkan tubuhnya kepada Keisha mendaratkan satu ciuman lembut di pipi lantas menggiring perempuan itu berdiri dengan menempel seperti lem tak melepaskan Keisha sejenak pun.
Setengah jam kemudian percintaan singkat mereka berakhir. Angga telah bersiap, ia duduk di tepi ranjang memakai kembali kemejanya. Sesekali Angga akan melihat Keisha yang masih berada di bawah selimut, bahu perempuan itu tampak sedikit penuh tanda merah.
"Hari ini aku dan Romi ada pertemuan dengan klien dari Singapura. Ayah yang mengirimnya, jadi aku pulang agak malam. Jangan menungguku, tidurlah dengan Hasa lebih dulu."
Setelah beres memakai kaos kaki dan sepatunya Angga memberikan ciuman di kening Keisha, mengusap rambut perempuan itu sayang. "Aku pergi, jaga dirimu dengan baik," pamitnya.
"Hati-hati," kata Keisha tersenyum hangat.
Lelaki itu menutup pintu kamar turun lagi ke bawah, senyum lebar dengan wajah berseri-seri tidak luput tersungging di bibirnya. Angga meminta Pak Samm membuka gerbang, ia akan mengeluarkan mobilnya lagi. Tapi baru juga ia akan menyalakan mesin mobilnya Pak Samm datang menghampiri.
"Tuan, ada orang yang mencari Tuan Angga di depan. Katanya ini penting."
Kepala Angga menyembul melalui jendela kaca mobil mencoba melihat siapa gerangan yang ingin menemui dia. "Julian?" Angga menyipitkan mata saat melihat jelas wajah Julian yang menatapnya dari kejauhan.
__ADS_1
***
-Bersambung