
...~Ketika Takdir telah ditentukan maka itu akan terjadi, jodoh, maut, dan rezeki semua telah ditakar sesuai porsinya oleh Tuhan~...
As-Sana
***
Hari yang membawa pelangi di bumi Ottawa akhirnya tiba. Semua seniman berbakat berkumpul dalam satu tempat yaitu pagelaran seni Mario Art De Lavi. Sesak lautan manusia memenuhi galeri dari bahu jalan dekat gedung putih sampai dengan anak sungai Rideau Canal.
Berbagai macam karya seni dipajang di sepanjang jalan tersebut. Tenda-tenda berwaran-warni memenuhi jalur, puluhan buket bunga yang diambil dari beberapa toko termasuk Anggasa Florist dihias pada setiap pintu masuk yang bercabang dari berbagai arah.
Panel-panel lukisan dibuka, jepretan foto-foto ditempel, para musisi juga diundang untuk turut serta memeriahkan acara. Termasuk Niel, violinis berbakat pemenang award untuk permainan biola kategori anak 15 tahun. Bocah laki-laki yang ditemui Keisha di gelanggang Rideau Canal saat ia masih mengandung Hasa.
“Ayo Niel, kau harus bersiap. Sebelum Ibu guru datang kau harus sudah ada di panggung.”
“ Tunggu Jacob, aku akan mengantarkan anak ini dulu.”
Tanpa diduga tadi Hasa membuntuti Niel, anak itu mengekori Niel karena tertarik dengan Lala – biola kesayangannya. Seorang Niel tentu tidak tega meninggalkan bocah kecil itu sendirian. Jadi ia menggendong Hasa menanyakan di mana orang tuanya. Si kecil yang ditanya cuma meneteskan air liur memasukkan semua jarinya ke dalam mulut lalu menggeleng kecil.
“Di mana Ibumu dan Ayahmu?” Niel mencubit pipi gembul Hasa. Namun, anak itu tertawa geli justru membagi air liurnya dengan kemeja Niel yang akan ia gunakan untuk pertunjukkan. “Lihat, dia sepertinya memang anak nakal. Kau bertanya apa? Dia justru mengotori bajumu,” gerutu Jacob menyentil dahi Hasa sampai Panda kecil ayahnya itu meringis kesakitan.
“Jangan Jacob, kau melukainya. Kau tidak apa-apa? Apa dahimu sakit?” Niel mengusap-usap dahi Hasa membuat anak itu senang mencium pipi Niel. Violinis itu tersenyum tipis membawa Hasa mencari ibunya. Namun, beruntung baru lima belas menit Niel mengajak Hasa berkeliling ia bertemu seorang bocah lelaki memakai topi bludru yang berlari ke arahnya. Dari kejauhan ia terus memanggil-manggil nama Hasa.
__ADS_1
“Hasa! Ya Tuhan! Kau membuat Kak Peter khawatir. Bibi Keisha bisa marah padamu kalau kau nakal lagi.”
Napas Peter tersengal karena berlari mencari Hasa yang tiba-tiba menghilang dari pengawasannya ketika Bibi Keisha dan Bibi Eli sedang sibuk menyiapkan bunga untuk pelanggan.
“Dia adikmu?” mata biru kelautan milik Niel bertemu dengan netra hijau menyerupai batu rubi milik pianis tersebut.
Peter mengangguk cepat, mengambil alih Hasa dari gendongan Niel. “Terima kasih karena sudah menjaga adikku,” ujar Peter menjabat tangan sang violinis “Sama-sama,” jawab Niel singkat.
Jacob segera menarik bahu Niel berpamitan pada Peter. “Pelmen, Hasa mau pelmen milik Kakak tadi.” Hasa merengek menunjuk string biola yang di bawa Niel pergi menuju area panggung. Peter menepuk jidatnya frustasi, pantas Hasa mengikuti violinis tadi ternyata anak ini mengira alat musik dawai berwarna cokelat keemasan itu sebagai permen kesukaannya.
“Astaga! Hasa sayang. Nanti Kak Peter belikan cokelat, sekarang kita kembali ke Ibu ya. Ibu akan cemas kalau Hasa tidak ada di sana.” Buru-buru Peter menggendong Hasa membawanya pergi kepada Keisha. Dalam gendongan pianis itu Hasa selalu menarik-narik rambut Peter menjadikannya mainan. Apalah daya Hasa hanya seorang anak kecil yang terlalu aktiv di masa tumbuh kembangnya. Jadi Peter cuma bisa membiarkannya bermain sepuasnya.
Keisha yang tak tega mengetahui malaikat kecilnya bersedih segera memegang dagu anak itu, mendongakkan kepalanya. “Ibu tidak akan marah kalau Hasa minta maaf dengan Kak Peter sekarang. Ingat anak laki-laki harus berani mengakui kesalahannya, hmm.” Segera Hasa memeluk kaki Peter memberikan beberapa mainan dalam sakunya sebagai permintaan maaf. Peter yang gemas dengan tingkah Hasa menggendongnya ke udara menggelitik perutnya sebentar sampai anak itu tertawa geli tak bersedih lagi. Setelah itu, ia berpamitan pada Bibi Keisha kalau dia akan pergi melakukan pertunjukan bersama regu orkestranya.
“Nona Keisha, Nyonya pemilik galeri ingin bertemu dengan Anda.” Eli melapor dari arah samping, pegawai toko itu sedang mengikat pita di tangkai bunga dibantu Jemy.
Keisha mengangguk lalu masuk ke dalam gedung galeri. Wanita bersweter hangat itu membawa Hasa dalam gendongannya, ia menemui Bibi pemilik galeri yang saat ini tampak berdiri bersama seorang lelaki. “Nyonya, apa Anda mencari saya?” tanya Keisha halus dari arah belakang.
Hasa yang sedikit mulai bosan memainkan syal yang melilit di leher sang ibu. Anak itu membuat Keisha menundukkan kepala memperbaiki syalnya untuk menutupi bekas ruam kemerahan yang ditinggalkan Angga tadi pagi. Wanita itu tak menyadari jika kini seorang lelaki berbalik, menatapnya penuh damba dengan perasaan rindu yang tak terlukiskan.
“Nona Keisha sudah datang, kebetulan sekali. Tuan Julian yang ingin menemui Anda.”
__ADS_1
“Maaf Nyonya, Hasa memang sedikit nakal.”
Keisha mendongakkan kepala melihat pada dua orang yang berdiri di hapannya. Seorang perempuan cantik paruh baya dan lelaki tampan yang saat ini menitikkan air mata. Manik hijau kebiruan pria asing itu berembun, penuh dengan kabut kesedihan. Namun, bibirnya tersenyum manis memperlihatkan kebahagiaan pada Keisha.
“Lama tidak bertemu,” sapa Julian terlebih dahulu.
“Ibu.” Hasa justru menarik lagi syal Keisha sampai terlepas. Bocah nakal itu tertawa sambil memainkan benda rajut tersebut. Membiarkan Julian melihat banyak tanda cinta di sana, sebuah bekas ciuman yang biasa ditinggalkan lelaki untuk wanitanya.
.
.
.
~Bersambung
Yang ingin tahu cerita Niel dan Peter bisa baca Harmoni Cinta Melisa.
Baca juga Suamiku Tunanetra. Klik profil Sana untuk membacanya.
Salam sayang dari As-Sana.
__ADS_1