My Old Wife

My Old Wife
Kata Hati


__ADS_3

~Semuanya akan baik jika diselesaikan secara damai~


Sesampainya Nyonya Marine di depan kamar Sebastian, Willy langsung memberi hormat dan mempersilahkan ibu Tuannya itu untuk mendekati ruangan tersebut. Daun pintu yang masih dikunci dari dalam sedikit dipaksa untuk dibuka dengan kunci cadangan yang lain.


"Nyonya, Tuan Sebastian masih___," belum sempat Willy menyelesaikan ucapannya. Nyonya Marine sudah mengangguk paham. Willy pun berhenti berkata lagi, ia membukakan daun pintu lebar-lebar untuk perempuan tua itu masuk ke dalam kamar Sebastian.


Sementara Jemy juga ikut mendorong kursi roda majikannya dan menemani istri Tuannya itu bertemu putranya. Sedangkan Willy menjaga di depan pintu, mengawasi keadaan sekitar serta menunggu laporan tentang kedatangan Angga.


Saat Nyonya Marine masuk ke ruangan pribadi putranya ia hanya dapat melihat kegelapan, cahaya penerangan ruangan itu dimatikan, korden jendela juga masih tertutup rapat tidak membiarkan sedikit pun sinar surya menyelinap masuk ke sana.


Beberapa pecahan kaca figora juga tergeletak di lantai, bunga Tulip yang biasa tampak segar di vas bunga meja kerja putranya juga sudah layu. "Sebas," panggil Nyonya Marine lemah. Dia mencoba berbicara hati-hati dengan putranya. "Lihatlah Ayahmu untuk yang terakhir kali," Tutur Nyonya Marine lagi terdengar lembut.


Jemy mendorong maju kursi roda Nyonya Marine menghampiri putra Tuannya yang tengah duduk berselonjor di lantai. Dalam sekali lihat Nyonya Marine tahu jika putranya sengaja mendudukkan dirinya di sana tanpa kursi rodanya.


Nyonya Marine bangkit mulai berdiri secara perlahan-lahan, langkahnya sedikit tertatih-tatih saat berjalan menuju ke arah Sebastian. "Hati-hati Nyonya." Jemy sudah bersiap membantu Nyonya Marine tapi gerakannya terhenti ketika perempuan tua itu melarangnya.


Sejengkal demi sejengkal jarak antara Nyonya Marine dan Sebastian semakin terkikis. "Dengarkan saja," kata Nyonya Marine pelan. "Ibu tidak memaksamu untuk memaafkan pria itu. Semua keputusan ada di tanganmu." Nyonya Marine mendudukkan dirinya di tepi ranjang mulai mengatur napasnya setenang mungkin untuk berbicara dengan putranya.


"Ibu tahu Ayahmu adalah pria yang angkuh dan keras kepala, ia dingin, sombong dan memiliki tempramental buruk." Nyonya Marine mulai bercerita tentang suaminya.


"Pribadinya sudah kaku sejak kecil, keluarganya mendidiknya secara ketat. Sejak usia belia aku mengenalnya dia terlalu pandai dan dewasa daripada usianya." Jelas Nyonya Marine menarik napas panjang.


"Dia selalu sempurna dalam segala hal, tidak ada yang tidak bisa ia lakukan. Pendidikan bukanlah hal sulit untuknya." Nyonya Marine melihat sekilas ke arah putranya.


"Tapi satu hal yang menjadi kekurangan Ayahmu. Dia tidak bisa mengekspresikan perasaannya." Kali ini Nyonya Marine semakin masuk kepada masa lalunya. "Bahkan sejak kami menikah dan memiliki dirimu, Ayahmu tidak pernah mengatakan cinta pada Ibu."


Nyonya Marine beralih mendudukkan dirinya di samping Sebastian, menggenggam tangannya erat. "Tapi Ibu tahu bahwa dia mencintaimu dan Ibu lebih besar dari yang kita bayangkan." Sebastian masih tidak bergeming dari posisinya.


"Ibu masih ingat, saat kamu masih berusia sepuluh tahun dan kamu terserang demam selama tiga hari. Ayahmu selalu menjagamu di malam hari tanpa kamu ketahui." Tangan Sebastian sedikit bergetar.


"Dia memang keras dalam mendidikmu tapi itu semata-mata agar kamu tumbuh menjadi pria yang sempurna. Tapi satu kesalahannya, dia tidak pernah bertanya apa yang kamu ingin lakukan dan apa yang tidak ingin kamu lakukan." Sebastian masih menatap ke arah lantai dasar ruangannya. Melihat kakinya yang lumpuh. Sorot matanya terlihat redup.


"Saat kau berniat membawa Susi ke rumah ini. Ayahmu memang pernah mengusirmu, tapi ia sebenarnya tidak benar-benar berniat seperti itu. Setiap hari aku dapat melihatnya menatap ke arah gerbang utama berharap kau kembali membawa Susi. Tapi kau tidak pernah datang lagi." Nyonya Marine menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan-lahan.


"Ia terpaksa menggunakan kekuasaannya untuk memanggilmu pulang. Ia menduga bahwa kau akan pulang bersama Susi, tapi ia salah, kau pulang sendirian. Dan pada saat itu juga kau mengalami kecelakaan dan mengalami kelumpuhan." Bibir Nyonya Marine terasa kering entah kenapa buliran bening sedikit merembas keluar dari bendungan yang telah ia buat.


"Dia merasa bersalah padamu dan Susi. Ibu menyadari itu saat Ibu mengetahui Ayahmu menyuruh Jemy untuk memberikan lima puluh persen saham perusahaan pada panti-panti asuhan termasuk tempat Susi dirawat dulu." Sebastian kini sedikit melihat ke arah Ibunya, Nyonya Marine pun tersenyum tulus padanya. Mata Ibu beranak satu itu menunjukkan sinar harapan.

__ADS_1


"Setelah mengetahui kematian Susi, rasa bersalahnya padamu menjadi tidak terkira. Meski ia menutupinya, tapi setiap malam Ibu selalu mendengar ia mengigau menyebut nama Susi berulang kali untuk meminta maaf," sambung Nyonya Marine lagi. Sekarang dia menatap Jemy meminta agar orang kepercayaan suaminya itu melanjutkan kata-katanya.


Seolah mengerti dengan maksud dari tatapan istri Tuannya, Jemy pun mulai angkat bicara. "Tuan Wilson sangat menyayangi anda dan keluarga kecil anda Tuan Sebastian. Sejak kematian Nyonya Susi, kesehatan Tuan Wilson terus menurun, tapi beliau bersi keras tidak ingin dirawat di rumah sakit karena tidak ingin merepotkan kalian semua." Tutur Jemy menambahkan.


Jemy mengingat kembali kenangan ketika ia terus membujuk Tuan Wilson untuk berobat tapi pria tua itu selalu menolak.


"Sebas, Ayahmu adalah tipikal orang yang selalu menahan semuanya sendiri," ujar Nyonya Marine. Tangannya menyentuh kepala putranya. "Ini bukan hanya kesalahan Ayahmu tapi juga Ibu, karena Ibu tidak bisa mengajarkannya cara menunjukkan kasih sayang." Nyonya Marine menatap dalam-dalam manik cokelat kehitaman-hitaman milik Sebastian.


Dengan lembut Nyonya Marine mengusap kepala putranya, ia tidak menyangka jika waktu berjalan terlalu cepat hingga bayi kecilnya telah tumbuh sebesar ini.


"Apa kau masih tidak ingin melihat pria keras kepala itu?" Imbuh Nyonya Marine lagi sangat halus. "Hanya untuk terakhir kali," tambah Nyonya Marine. Sebastian masih menatap kosong di sana, Nyonya Marine tahu jika hati putranya sedikit melunak.


"Ibu percaya padamu, kamu adalah lelaki yang lebih baik dari Ayahmu. Dan kamu mewariskan sifat itu pada putramu." Senyum Nyonya Marine masih mengembang. Perempuan tua itu bangkit dari duduknya berjalan menuju ke kursi roda lagi.


Ia meminta Jemy untuk membawanya kembali ke tempat duka melihat suaminya untuk yang terakhir kali.


_________


Hari semakin sore tapi Angga belum menunjukkan batang hidungnya. Atas perintah Nyonya Marine prosesi pemakaman pun mulai dijalankan. Para rombongan telah diarak ke tempat pemakaman. Peti mati Tuan Wilson juga telah dibawa.


Ratusan orang menangis saat benda persegi itu mulai diturunkan ke liang lahat. Payung hitam digelar memenuhi tempat peristirahatan terakhir Tuan Wilson.


"Kakek..!!!" Teriak Angga kencang, pria itu berlari dengan langkah lebarnya mendekati makam Tuan Wilson yang belum sempurna. Lalu dibelakangnya ada Keisha, Romi, dan Lianda yang tampak berjalan cepat menyusul Angga.


Dan terakhir hal yang paling membuat semua orang bersyukur dalam hati, adalah Sebastian. Pria paruh baya itu datang di saat-saat terakhir pemakaman ayahnya bersama Willy.


Nyonya Marine tersenyum tipis saat melihat putranya hadir, rasa sesak di dadanya sedikit berkurang. "Putramu datang, apa kau melihatnya Wil?" Tanya Nyonya Marine dalam hati. "Ia telah membuka pintu maaf untukmu," gumamnya lagi.


Semilir angin di sore hari menghiasi prosesi pemakaman hari itu. Haru biru pemakaman memenuhi hati semua orang. Langit tampak cerah berawan dan bunga Kamboja berguguran.


Angga mendekat ke peti mati Tuan Wilson, tangannya secara perlahan-lahan menyentuh peti mati yang terbuat dari kayu Jati terbaik. Warna cokelat pekat dalam catnya tampak bersilau ketika diterpa cahaya matahari.


Angga melihat ke arah foto Tuan Wilson yang dibawa ayah mertuanya. Tatapan dingin kakeknya masih ia ingat saat pertama kali mereka bertemu di Montreal, Kanada.


"Maafkan aku Kekek," ucap Angga lirih. Setetes air matanya mengalir. Ah pikiran Angga mulai mengelana mengenang perdebatan dirinya setiap pagi sebelum berangkat ke kantor saat dulu ia masih menerima pembelajaran tentang bisnis dari Jemy.


Angga mengingat wajah angkuh Tuan Wilson tapi juga sedikit lembut. "Selamat jalan." Itu adalah pesan terakhir yang pria itu sampaikan. Kemudian ia berbalih memberikan ruang pada ayahnya Sebastian untuk mendekat.

__ADS_1


Keisha memeluk Angga, perempuan itu menyembunyikan wajah suaminya di samping ceruk lehernya. "Kakek sudah bahagia Angga, jangan bersedih." Bisik Keisha halus di daun telinga Angga.


Meski Keisha juga ingin menangis tapi ia mencoba untuk tetap tegar demi suaminya. Angga hanya mengangguk kecil tanpa mengatakan apa pun.


Hanum mendekati Angga dan Keisha, tangannya yang dingin juga mengusap punggung menantunya. Liliyana hanya melihat dari kejauhan, ia ingin memeluk adiknya juga, tapi melihat istrinya telah melakukannya ia cukup lega.


Sekarang semua perhatian tertuju pada Sebastian yang tampak tenang tidak mengatakan apa pun di depan peti mati Tuan Wilson. Pria paruh baya itu masih setia pada sikap dinginnya tanpa menangis ataupun mengatakan sepatah kata pun.


Namun, tangan Sebastian yang sedikit kekurangan lemak sedikit demi sedikit menyusuri peti mati Tuan Wilson. "Ayah." Sebastian baru membuka mulutnya untuk berbicara. "Pergilah dengan tenang," ucapannya masih terdengar biasa saja.


"Kami semua telah mengikhlaskanmu." Kemudian Sebastian menjalankan kursi rodanya mendekat ke foto milik Tuan Wilson. "Aku memaafkan semua kesalahanmu." Ucapnya lirih tanpa dapat didengar oleh siapa pun.


Setelah mengatakan apa yang ingin ia sampaikan, Sebastian langsung meminta Willy untuk mengantarnya pulang.


Ia memilih untuk tidak menyaksikan sesi penguburan jenazah Tuan Wilson. Willy pun hanya dapat menuruti perintah Tuannya, ia mengantarkan Sebastian sampai di rumah dengan selamat.


"Tuan, anda tidak apa-apa?" Tanya Willy khawatir karena Sebastian menyuruhnya langsung membawanya ke kamar Tuan Wilson setelah mereka sampai di kediaman Keluarga Andreas. Sebastian hanya berdehem kecil lalu memasuki kamar ayahnya tanpa mengatakan apa pun.


Willy hanya dapat menatap punggung Tuannya yang mulai menghilang dibalik daun pintu kamar Tuan Wilson ketika pintu itu di tutup.


Cahaya penerangan yang cukup redup berwarna kekuningan-kuningan dengan korden merah besar membalut dinding ruangan itu menjadi pemandangan pertama yang Sebastian lihat saat masuk ke sana.


"Sudah berakhir." Tarikan napas Sebastian semakin panjang, ia menjalankan kursi rodanya untuk melihat lukisan keluarganya yang terpajang di sana. Wajah dingin ayahnya tersenyum tipis terlihat di lukisan tersebut.


Lukisan itu berisi gambar dirinya yang masih belia duduk bersama ibunya dengan ayahnya yang berada di belakang. Dari sapuan kuas yang halus, lukisan tersebut menunjukkan keharmonisan keluarga mereka meski tanpa saling menunjukkan satu sama lain. Sebuah keluarga yang saling menyayangi dalam diam.


"Aaaaaa....!!" Sebastian menjerit melepas perasaannya, ia menangis di hadapan gambar kedua orang tuanya. Tembok kebencian yang ia bangun begitu kokoh untuk ayahnya Tuan Wilson telah runtuh tepat di hari itu.


Tubuhnya bergetar hebat, mulutnya bungkam tapi hatinya berteriak. Ia mengingat kembali memori saat Tuan Wilson mendidiknya dengan keras tanpa ampun sedikit pun, tapi ketika ia melakukan kesalahan dalam pelajarannya Tuan Wilson tidak marah sama sekali padanya.


"Hanya putraku yang menjadi kebanggaanku."


Kalimat itu adalah kalimat yang sering ia dengar dari mulut ayahnya sejak kecil sampai dengan sekarang sebelum ia meninggal.


Ya, Sebastian mendengarnya lamat-lamat saat Tuan Wilson menghembuskan napas terakhirnya kemarin malam tanpa sepengetahuan orang lain.


Cerita Sebastian dan Tuan Wilson telah selesai...😭😭

__ADS_1


Sekarang kita fokus pada Angga dan Keisha yaa..(Mendekati Tamat)..


Tolong berikan dukungan untuk MY OLD WIFE beberapa chapter terakhir yaa..


__ADS_2