
...~Dia yang memberiku cinta, tapi tidak diberi cinta~...
...(Julian Fernandez)...
***
Setelah berteriak memanggil kumpulan mobil taksi yang lewat. Pada akhirnya satu mobil berhenti di hadapan Keisha. Perempuan itu lantas tersenyum menghampiri Julian yang masih duduk di bangku taman. "Kita harus ke rumah sakit," ujar Keisha sembari tangannya menarik pergelangan Julian untuk mengikutinya.
Tanpa perlawanan remaja itu menurut duduk di kursi penumpang. Mereka menuju ke rumah sakit pusat kota. Dalam perjalanan Keisha menelpon seseorang, teman satu kampusnya. Wanita tampak sedang mengabarkan kalau ia akan pulang terlambat.
Dalam dua puluh menit mobil taksi menepi di halaman gedung putih, Keisha membayar ongkos taksi lalu membawa Julian ke dalam. Baru beberapa langkah masuk ke ruang administrasi, suster di sana langsung menghampiri Julian. Sepertinya ia mengenal Julian dengan baik.
"Julian, kenapa kau bisa kehujanan? Kondisimu baru saja pulih. Dokter Gazen sudah bilang untuk fokus pada penyembuhan."
Mata Keisha menelisik, ia cukup bingung melihat keakraban tenaga medis itu dengan remaja yang ada di belakangnya.
"Ah maaf Nona, dia pasien tetap kami. Julian sudah dirawat di rumah sakit ini sejak kecil. Jadi kami sudah menganggapnya seperti keluarga."
Keisha tersenyum ramah, "Iya saya mengerti." Tidak berselang lama Julian segera dibawa ke ruang rawat khusus. Tubuh anak itu begitu pucat dengan kondisi yang lemah.
Dua jam Keisha di sana mengurus administrasi karena biaya perawatan Julian telah diputus oleh kedua orang tuanya. Sekarang dia masuk ke dalam ruangan Julian berniat berpamitan pergi.
"Kau harus cepat sembuh, aku sudah berbincang dengan Dokter Gazen. Beliau bilang kau tetap bisa meneruskan pengobatanmu. Aku akan mengurus persyaratan untuk pengajuan keringanan biaya perawatan."
Julian masih setia membisu, sampai Keisha selesai berbicara panjang lebar mengenai semua urusan administrasinya. Baru saat jam menunjukkan pukul 11.05 PM wanita itu berpamitan pergi. Saat itulah Julian menoleh memanggilnya untuk pertama kali.
"Kau?" ucapan Julian terhenti sejenak. "Akan mengunjungi ku lagi? Aku ingin berterima kasih." Keisha menoleh tersenyum tulus, "Aku akan sering mengunjungimu. Aku janji."
Siluet wajah Keisha yang bersahaja di terpaksa cahaya lampu di ambang pintu membuat jantung Julian berdetak, senyum wanita itu lembut menatapnya. Seperti monochrome hitam putih sebuah potret vintage yang indah.
Bersamaan dengan bayangan Keisha yang hilang dibalik pintu, begitu juga dengan detak jantung Julian yang mereda. Perlahan Julian meremat seragam rumah sakit di dadanya. Ada hal yang berbeda dengan perempuan itu.
__ADS_1
"Mungkin hatiku cuma tersentuh atas kebaikannya."
***
Beberapa hari berikutnya Keisha menepati janjinya, ia sering berkunjung ke rumah sakit. Sesekali dia akan menengok Julian di ruang rawatnya, memberikan remaja itu buah-buahan segar. Dia mengunjungi Julian sambil melakukan terapi dengan Dokter Gazen mengenai kesehatannya setelah bekas operasi sumsung tulang untuk Siska.
Selama itu juga Keisha sadar, tidak ada seorang pun yang menjenguk Julian selain dia.
"Kau suka bunga?"
Pertanyaan Julian membuyarkan lamunan wanita yang duduk di sampingnya. Mereka sedang berada di taman sore ini. Mencari udara segar sembari melihat pemandangan luar.
"Apa kau mau aku bawakan rangkaian Mawar Kuning besok Julian?" sontak remaja itu menggeleng tidak enak. "Bukan begitu, aku tidak memintamu membawa bunga untukku. Tapi mungkin aku bisa menanamnya untukmu."
Bibir Keisha tersenyum tipis, memandang Julian lagi. "Hm, jadi kau ingin memberiku bunga? Apa ini? Apa tujuanmu Julian katakan?" pemuda berseragam itu memperhatikan alis Keisha yang terangkat. Seketika jarak mereka terlalu dekat, mata Julian mengunci pada manik hitam itu. Membuat dadanya bergemuruh gugup.
"Tidak jadi, aku masuk dulu ke dalam," elak Julian buru-buru menghindar sebelum perempuan ini menyadari perasaannya.
Namun, tanpa diduga Keisha menyusul dari belakang menyampirkan jaket Julian yang tertinggal di punggungnya. Segera Julian berjingkat kaget, ia terlonjak ke samping sampai bahunya membentur dinding tembok lorong.
"Julian, kau tidak apa-apa?"
"Tetap di sana, jangan mendekat!"
Reflek Julian memberikan jarak, ia tidak mau Keisha melihat daun telinganya yang sedikit memerah. Wanita dewasa ini akan tahu ada hal yang aneh pada dia.
"Kau yakin tidak terluka?" raut muka Keisha tampak khawatir. Namun, Julian mengangguk meyakinkan. Kaki Keisha yang mulai berjalan ke arahnya memacu debaran jantungnya. Semakin perempuan ini melangkan bertambah pula kegugupannya.
Deg.
Deg.
__ADS_1
Deg.
"Biar aku periksa tubuhmu?"
Julian memalingkan muka saat kini Keisha berdiri di hadapannya memeriksa bahunya yang sedikit nyeri. "Setelah ini segera temui Dokter Gazen, jangan membuat tubuhmu menambah beban luka lagi."
Suara Keisha yang halus nan merdu terekam di telinga Julian. Bagaimana pun untuk pertama kalinya Julian mengingat suara wanita.
"Aku akan membantumu berjalan."
Tanpa aba-aba tangan Julian telah dikalungkan di leher, bersentuhan dengan kulit bersih Keisha. Dada Julian semakin berdetak, pipinya memanas menahan desiran yang cukup hebat. Entah, baru pertama kalinya dia merasakan hal seperti ini.
"Hati-hati." Dengan penuh kelembutan Keisha memapah Julian, dia tidak menyadari jika remaja di sampingnya sedang memperhatikan ia tanpa berkedip. Keisha tidak akan pernah menyangka remaja berusia delapa belas tahun itu jatuh cinta padanya.
'Dia sangat cantik.'
Pertemuan ia dengan Keisha sore itu ditutup dengan satu kata pujian yang secara tidak langsung membuka pintu perasaan yang begitu indah bagi seorang Julian. Sebuah perasaan cinta.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1
Terima kasih yang masih setia menunggu update MOW ❤❤ Sana sayang kalian semua.