My Old Wife

My Old Wife
Tidak Berkaca dari Cermin


__ADS_3

~Terkadang orang itu suka menilai orang lain, tapi dirinya lupa untuk melihat pada bayangannya sendiri~


Mobil putih dengan sirene merah itu telah sampai di rumah sakit, ketika melihat seorang perempuan yang terbaring di atas ranjang dorong khusus mengangkut pasien, para suster bersama dengan petugas kesehatan lainnya langsung melakukan tugasnya untuk melakukan penanganan pertama. 


Sudah lebih dari dua jam Helen berada di dalam ruang pemeriksaan bersama dengan dokter kandungan, Keisha sedari tadi berada di luar ruangan mulai merasa cemas dan gelisah, dia juga telah menghubungi keluarganya yang lain untuk datang kecuali Angga suaminya karena dia tidak ingin membuat pemuda itu juga ikut cemas di tengah pemotretannya. 


Tidak lama perempuan memakai jas berwarna putih keluar dari ruangan itu, dia tersenyum ramah pada Keisha. 


“Bagaimana keadaan adik saya Dok?” Tanya Keisha sedikit gugup takut terjadi sesuatu pada adiknya dan calon keponakannya. 


“Kondisi adik Nona sudah membaik, dia sedikit mengalami stress dan tekanan psikologi, sebaiknya dimasa kandunganya yang sekarang dia tidak terlalu banyak berpikir,” jelas Dokter itu dengan seulas senyum di bibirnya. Tapi melihat raut wajah perempuan itu masih terlihat cemas, Dokter itu meneruskan ucapannya. 


“Kandungan adik Nona cukup kuat. Jadi bayinya masih selamat, beruntung tadi adik Nona segera dibawa ke rumah sakit.” Saat mendengar penuturan dari Dokter tersebut Keisha menarik napas lega, dia mengucapkan syukur dalam hati. 


“Nona bisa melihat adik Nona sekarang, saya permisi terlebih dahulu.” 


Keisha mengangguk kecil dan membiarkan Dokter itu lewat, dia menarik kenop pintu dan melihat Helen yang tengah terbaring lemah di sana dengan jarum infus di tangannya, beserta pakaian khas rumah sakit, bekas darah di kakinya juga telah dibersihkan. Keisha menghampiri Helen dan duduk di kursi samping ranjang pasien. 


“Helen,” sapa Keisha terlebih dahulu sehalus mungkin. 


“Maafkan Kakak,” ucap Keisha sembari mengusap rambut Helen yang tergerai panjang. 

__ADS_1


Helen langsung bangkit dari tidurnya dan memeluk pinggang Keisha, perempuan itu menyembunyikan wajahnya di dada Keisha. 


“Seharusnya aku yang minta maaf Kak, aku bersalah, maafkan aku yang sudah bersikap egois,” suara Helen lirih dengan isak tangis yang tertahan di bibirnya. Keisha mengusap punggung Helen mencoba menyalurkan rasa kenyamanan.


“Kakak sudah memaafkanmu sejak dulu, sudah jangan bersedih lagi. Nanti kasihan bayi dalam kandunganmu,” Keisha menghapus air mata Helen dia membiarkan adiknya itu kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. Melihat Helen sudah cukup tenang, dia merasa lega. Tidak lama setelah itu terdengar suara pintu terbuka, terlihat sosok pria berkemeja biru melangkah masuk tergesa-gesa. Dia adalah Kevin, adik iparnya. 


Kevin melihat Helen sekilas yang terlihat berantakan, kemudian dia beralih memandang Keisha yang duduk di samping istrinya. Tanpa sengaja bekas cakaran kuku dan rona merah di pergelangan  tangan Keisha menyita perhatian Kevin. Tanpa banyak bicara pria itu langsung menghampiri Helen dan mencengkram tangan Helen kasar. 


“Apa kamu mencoba menyalahkan Keisha lagi atas masalah kita? Aku tidak menyangka kamu tidak berubah sama sekali Helen. Aku menyesal menikah denganmu, sangat menyesal!” Ucap Kevin penuh penekanan. 


Helen yang mendapat perlakuan dari Kevin dengan kasar, mengerang kesakitan merasakan cengkaraman Kevin di tangannya yang begitu keras. “Kak Kevin,” panggil Helen lirih. Tapi Kevin tidak peduli, dia justru semakin mengeraskan cengkaramannya di tangan Helen. Keisha yang melihat Helen kesakitan segera bertindak berusaha melepaskan cengkaraman lelaki itu, tapi nihil usahanya sia-sia karena tenaga Kevin jauh lebih kuat. 


“Setelah dia berbuat buruk padamu, kamu masih ingin menolongnya Kei?” suara Kevin mengeras. Dia kembali memanggil Keisha dengan namanya seperti dulu saat mereka masih berteman, tanpa mempedulikan statusnya sebagai kakak iparnya. 


“Perempuan ini bukan lagi istriku! Aku akan menceraikannya! Meski dia melahirkan anakku nanti, aku tidak akan membiarkannya merawat anakku. Aku tidak mau anakku didik oleh seorang iblis!” Murka Kevin, rahangnya mengatup keras. Helen hanya menangis tersedu-sedu. Pipi perempuan itu sudah basah oleh air mata. 


“Bahkan jika Tuhan baik padaku, anakku tidak lahirpun aku tidak menyesal. Aku tidak mau anakku lahir dari Rahim wanita ini, dia membuatmu menderita. Adikku meninggal, dan Dokter Andhika kehilangan pekerjaannya. Mau sebesar apa lagi dosanya? Bahkan sekarang dia berani melukaimu Kei,” kata Kevin dengan nada tetap tinggi. Pria itu menatap tajam ke arah Helen penuh kebencian. 


“Kevin! Jaga ucapanmu!” Keisha turut serta meninggikan suaranya, dia benci mendengar kata Kevin yang berdoa agar anaknya meninggal. Sungguh pria itu membuatnya kesal sekarang. 


“Apa kamu tidak berkaca pada dirimu sendiri? Bagaimana kamu bisa hanya menyalahkan Helen? Kamu juga turut andil dalam kesalahannya. Jika Siska meninggal itu sudah takdir, Tuhan menyayanginya maka dia mengambil nyawanya. Kamu tidak tahu bagaimana rasa sakit yang diderita gadis itu, setiap aku datang dia selalu menitikkan air mata dalam tidurnya. Dia menahan sakit kemoterapi, dia mencoba bertahan hanya untuk dirimu. Berharap Kakaknya datang menjenguknya. Tapi apa? Bahkan kamu tidak pernah mengunjunginya! Kamu terlalu sibuk bekerja.” Kata Keisha geram seraya menunjuk wajah Kevin dengan jari telunjuknya. 

__ADS_1


“Dan Dokter Andhika, dia sudah memaafkanmu. Dia paham, mungkin kamu bersikap demikian karena kamu telah kehilangan adikmu. Seandainya dia mau, saat kamu mau menarik kasusnya ke jalur hukum. Dia bisa membalikkan tudinganmu, tapi pria itu mengalah dan justru memilih pergi dari dunia medis, seperti apa yang kamu inginkan.” Jelas Keisha lagi dengan amarah yang memuncak. Dia begitu kesal dengan kebodohan yang dilakukan oleh sahabatnya ini di masa lalu. 


Setelah mendengar penuturan Keisha, Kevin sedikit mengendurkan cengkramannya di pergelangan tangan Helen. Mata pria itu kosong, hatinya mulai sesak, dadanya terasa nyeri. Dia mulai mengingat perbuatannya dulu, sungguh dia merasa malu dan juga marah pada dirinya sendiri. 


Dia kembali mengingat kejadian di taman bermain itu, jika dia dapat menolak Helen saat itu, mungkin hal ini tidak terjadi. Tapi apa? Dia justru menikmati ciuman Helen saat  itu dan melupakan segalanya. Ya dia yang bersalah, semuanya tidak akan seperti ini jika saja dia tidak terlalu bodoh di masa lalu.


Kevin juga mulai mengingat raut wajah Siska yang selalu cemberut saat dia telat mengunjunginya, karena dia baru sempat ke sana setelah pulang kerja di malam hari. Mata pria itu berkaca-kaca, tidak terasa setetes air bening lolos di pelupuk mata pria itu. Ya, dia sedang menangis dalam diam, menangisi semua perbuatannya di masa lalu.    


_____^_^______


HALLO READER Kesayangan Sana..😁


Maaf ya telah membuat Reader murka, sedih, kecewa, bahkan ada yang sampai emosi hehehe..


Sana senang sekali karena ternyata kalian begitu menghayati cerita My Old Wife.. kalian juga mendalaminya.. Sana jadi terharu huhuhu....


Maaf karena selalu membuat Reader menerka-nerka dengan alur cerita Sana.. Moga terhibur...


Salam Sayang


~As-Sana~

__ADS_1


 


__ADS_2