
...~Apa kasih sayang itu ada? Kalau iya, kenapa rasa itu tidak pernah singgah di hatiku~...
...(Ella Jinsky)...
...***...
Kedua bola mata Ella dan Sonia saling mengunci satu sama lain, seolah-olah mereka tengah berbicara panjang lebar. Tatapan mereka terpotong saat Eliot melewati keduanya. Lelaki ini meletakkan pesanan milik Sonia di meja gadis itu. Ia memanggil Sonia yang tampak termenung dengan melemparkan satu kertas yang sudah diremas-remas.
[Apa kau tidak jadi makan?]
Sonia melihat Eliot sekilas, bukan masalah ini yang ia pikirkan tapi tentang desainer yang duduk di sana. Ia harus berbicara dengan Ella sebelum perempuan itu pergi.
"Ah, Kak Eliot bisa bungkus saja makanannya. Ehm, sepertinya aku akan memakannya di rumah. Please?" mohonnya memberikan tatapan memelas. Tentu Eliot tidak bisa menolak, itu juga sebagian dari pekerjaannya untuk melayani pelanggan.
Sonia tersenyum lebar berterima kasih setelah Eliot beranjak pergi membawa nampan yang tadinya berisi menu yang ia pesan. Sonia segera melihat ke arah di mana Ella duduk, tetapi kakaknya itu telah pergi dari restoran. Sonia Buru-buru mengejar. Kali ini ia tidak mau kehilangan jejak Ella lagi.
Beruntung bayangan Ella masih terlihat samar-samar. Wanita yang dicintai Eliot itu tampak akan menaiki bus. Sebelum itu terjadi Sonia berlari sekencang mungkin, langsung meraih pundak Ella kasar. Sampai si pemilik bahu tersentak kaget dengan mata membeliak penuh amarah.
"Apa kau tidak punya mata?" nada suara Ella ketus tanpa ada rasa toleransi. Ia memang paling tidak suka orang asing menyentuh dia sembarangan. Ya karena, salah satu efek dari penyakit asosialnya masih belum sembuh benar.
"Kak Ella, akhirnya aku menemukanmu." Kedua tangan Sonia merengkuh punggung Ella tetapi dengan keras desainer itu mendorong tubuhnya menjauh sampai tersungkur ke trotoar.
"Kau sudah tidak waras! Jangan asal memeluk orang sembarangan!"
Bibir Sonia meringis menahan sakit, sikunya sedikit lecet akibat benturan tadi. "Kak aku Sonia, anak angkat Ibu Sahira."
Deg. Kelopak mata Ella menyipit, jantungnya berpacu cepat saat mendengar nama "Sahira" disebut. Wanita itu telah membuangnya, menelantarkan dia di panti asuhan. Untuk apa sekarang dia mencarinya? Tidak berguna. Ella membuang muka kesal, ia meremat ujung jaketnya. Lebih baik pergi daripada berurusan dengan gadis aneh ini.
__ADS_1
"Kak Ella!" tangan Sonia meraih pergelangan kakaknya. "Jangan menyentuhku!" bentaknya kasar. Tatapannya tajam tidak bersahabat. "Kak Ibu sangat merindukanmu. Ibu menyayangimu."
Seringai tipis muncul di bibir Ella, pembohong besar. Gadis ini seorang pembohong ia hanya menipunya. "Apa kau pikir aku percaya padamu? Itu tidak akan pernah. Wanita busuk itu pasti hanya merindukan uangnya!"
Hati Sonia sakit mendengarnya. Seperti ada puluhan petir yang menyambar Samar-samar. Mendera lalu mengguyur dadanya dengan luka yang perlahan mematikan.
"Kak, Ibu sudah meninggal. Ibu Sahira sudah meninggal."
Senyum Ella semakin mengembang lebar, ia tertawa seperti orang gila. Pertama, gadis ini tidak waras. Ia datang tiba-tiba lalu berbicara soal Sahira. Wanita terkutuk itu. Lalu sekarang ia memberitahukan kalau perempuan laknat itu telah meninggal. Yang benar saja?
"Ck, ck, kau pandai bersandiwara. Perempuan itu punya seribu nyawa. Kau tahu kata pepatah orang yang banyak berbuat dosa akan memiliki umur panjang. Dan orang yang berhati baik akan mempunyai umur pendek. Jangan bilang macam-macam. Sahira yang setiap malam menjual tubuhnya pasti masih hidup dengan uang-uang di sekelilingnya."
"Kak!"
"Jangan coba-coba menamparku! Kau paham?" tangan Sonia yang hendak melayang segera Ella pegang lalu menghempaskannya.Ella membersihkan sisa debu di jaketnya akibat ulah Sonia, ia melangkah pergi.
'Apa dia pikir aku bodoh? Percaya begitu saja. Gadis sinting.'
Ella memilih pergi, ia mengabaikan teriakan Sonia di belakang. Desainer ini menaiki bus, ia akan kembali ke butiknya. Lebih baik merancang desain baru untuk memperbaiki kesalahannya daripada berkeliaran di jalan membuat ia semakin emosi.
Seandainya Ella tahu kalau yang dikatakan Sonia benar. Entah apa yang akan wanita itu lakukan? Mungkin ia akan frustasi atau memilih bunuh diri.
***
Kunjungan wali murid Hasa telah selesai. Nanti putranya itu akan ia jemput saat pulang sekolah. Sekarang Angga bersama Keisha meninggalkan gedung sekolah Hasa. Mereka menuju ke rumah. Karena alasan wali murid, Angga mendapatkan cuti kerja dari Romi hari ini.
"Kau sangat senang?"
__ADS_1
Keisha melihat senyum prianya yang tak pernah surut, bahkan semakin mengembang. Angga menoleh, tiba-tiba dia mengambil tangan Keisha yang berada di pangkuan perempuan itu lalu menciumnya. "Hmm, aku senang karena kita bisa berdua sekarang," jawabnya jujur tanpa berbohong.
Keisha tahu suasana hati suaminya sedang baik. "Ayah." Pria yang ia panggil menoleh sejenak, mengalihkan perhatiannya dari menyetir mobil. "Iya," jawabnya.
Sebuah kecupan mendarat di pipi Angga, membuat pipinya bersemu merah. Bibir Angga sampai tersenyum tertahan. Lihat, pikiran Angga mulai eror kalau menerima kecupan manis dari istrinya.
"Tetap lihat jalan," peringat Keisha tertawa kecil menutup mulut. Angga tersenyum lebar memelankan laju mobilnya.
"Sayang, kamu sengaja mengejutkanku?"
"Tidak, aku tidak sengaja melakukannya."
Gigi Angga yang putih semakin terlihat, "Aish kenapa tadi menciumku tiba-tiba?" tanyanya lagi mengerling nakal. "Ohh aku tahu, pasti karena Hasa mendapatkan nilai baik di sekolah. Jadi kamu memberikan aku hadiah." Perkataan Angga terhenti, ia mendekatkan kepalanya kepada Keisha. "Kalau begitu berikan Ayah satu hadiah lagi," bujuk Angga menghentikan mobilnya di tepi jalan. Menyodorkan pipi satunya ke arah Keisha.
"Ayo cepat berikan? Hmm." Angga menaik turunkan alisnya menunggu. "Baiklah Ayah akan tutup mata. Sekarang Ayah tidak lihat, jadi Ibu harus segera memberi satu kecupan."
Lelaki ini memang nakal, Angga akan mencari setiap kesempatan yang ada untuk memperoleh keuntungan dari istrinya. Tetapi lima menit berlalu tidak ada kecupan yang mendarat di pipinya. Angga mengintip, ternyata perempuan yang ia cintai justru memakan ice cream pemberian Hasa tadi sebelum mereka pergi.
"Ayah mau?"
Bibir Angga tersenyum menolak, ia cukup kecewa. "Hahahaha, kalau begitu kita pulang saja," putus Angga pada akhirnya. Tetapi detik berikutnya sebuah ciuman singkat menyapu di bibirnya. Penuh rasa ice cream yang manis nan dingin. "Ayo pulang," kata Keisha tersenyum tipis yang berhasil menghipnotis Angga sebentar.
Pria itu tertawa lagi, memakan satu sendok ice cream dari suapan sang istri. "Sangat manis, aku menyukainya," ucapnya mengusap bibir Keisha dengan ibu jarinya. Keisha hanya tersenyum menyuapi Angga satu suap lagi makanan kesukaan panda kecil mereka.
***
~Bersambung.
__ADS_1
Maaf ya telat update, Sana sedang kejar jam tayang di sebelah untuk menyelesaikan kisah Anjani Kaisar dan Alka Lusia. Terima kasih yang masih setia menunggu.