My Old Wife

My Old Wife
Kencan


__ADS_3

~Setiap waktu yang aku habiskan denganmu seperti air yang terus mengalir, hingga tanpa aku sadari waktu cepat berakhir~


Beberapa saat yang lalu Angga dan Keisha telah tiba di bioskop, mereka berdua memilih untuk menonton film romantis, tapi bukan film romantis yang mereka dapatkan, mereka justru mendapatkan film mayat hidup yang memakan daging manusia yaitu “Zombie”. Keduanya terpaksa menonton itu karena tidak ada pilihan lain. Ada satu film  yang tersisa tapi itu tontonan untuk anak-anak, dan tidak mungkin orang dewasa menontonnya. Setelah film itu selesai ditonton Angga tidak henti-hentinya merasa mual, pemuda itu merasakan perutnya sedang diaduk-aduk. 


“Apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Keisha khawatir melihat suaminya terlihat kurang sehat. 


“Aku tidak apa-apa sayang, hanya saja bayangan mayat hidup itu masih ada di kepalaku.” Ucap Angga dengan nada bergetar, pemuda itu masih mengingat betul ketika para zombie itu mulai mengejar dan menggigit manusia. Meskipun dia tidak takut pada film horor tapi ternyata film satu ini mampu mengguncang jiwanya. 


“Apa kita pulang saja,” tawar Keisha. 


Angga menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. 


“Kalau kita pulang sekarang maka rencana yang sudah aku siapkan untukmu akan gagal Nyonya, seharusnya hari ini menjadi hari yang menyenangkan untuk kita. Tapi karena aku? Semuanya menjadi kacau,” batin Angga sedih.  


“Bisakah kita berjalan-jalan saja, aku ingin lebih lama menghirup udara segar,” Angga menggenggam tangan Keisha meminta bantuan untuk berdiri. 


Pada akhirnya mereka berjalan di trotoar, melihat mobil yang berlalu lalang melewati mereka dan menyaksikan pertandingan basket di lapangan hoki bersama dengan pasangan muda mudi yang lain. Langkah kaki mereka berjalan beriringan seirama dan senada. 


“Sayang, apa kamu pernah bermain basket waktu sekolah?” Tanya Keisha membuka pembicaraan. 


“Aku tidak memiliki kesempatan untuk bergabung dengan kegiatan ekstrakurikuler semasa sekolah, jadi aku tidak bermain sayang, tapi tenang saja suamimu ini pandai memainkan olahraga apa pun,” jawab Angga dengan tetap tersenyum dan menggandeng tangan istrinya lembut. 


Mereka berjalan menikmati hiruk-pikuk kota Jakarta di malam hari yang begitu menyenangkan di pandang mata.


“Kenapa? Itu kegiatan yang menyenangkan, dan aku pikir mungkin suamiku ini akan menjadi idola para gadis,” kata Keisha sembari tersenyum kecil dan mengusap pipi Angga yang putih bersih.


“Karena aku harus bekerja sayang,” Angga mencubit hidung Keisha gemas. 


Jawaban yang diberikan Angga menyentuh hatinya, meskipun pemuda itu berkata dengan nada bergurau tapi tetap saja terdengar menyedihkan. Ada sesuatu yang kosong di hati wanita itu. 


“Mungkinkah sejak sekolah Angga harus membanting tulang untuk memenuhi hidupnya? Aku tidak mengetahuinya,” Tanya Keisha dalam hati.  

__ADS_1


Tiba-tiba saja Angga menarik tangan Keisha dan membawanya berlari kecil menerobos orang yang sedang berjalan santai di sana. 


“Aku baru ingat sayang, ada tempat yang ingin aku kunjungi denganmu.” 


“Mari ajak Nyonya bersenang-senang Angga, jangan membuat istrimu bersedih di hari pertama kencanmu dengannya,” batin Angga. 


Keisha hanya dapat mengikuti langkah Angga yang lebar, yang terus membawanya berlari dan terkadang menyenggol bahu pejalan kaki. Pemuda di hadapanya ini terlihat antusias dan semangat, dia telah melupakan rasa mualnya. Langkah mereka terhenti di sebuah lapangan besar yang ramai dan penuh kerlap-kerlip cahaya di sana. Ya, itu adalah pekan raya dengan bianglala, pertunjukan sulap, dan berbagai macam wahana permainan yang ada.  


“Sayang, maukah kamu ikut denganku,” Angga mengulurkan tangannya pada Keisha dan membawa perempuan itu naik ke bianglala. 


“Kau tahu sayang, kata orang saat lelaki dan perempuan naik bersama di bianglala, mereka berjodoh.” Ucap Angga seraya menatap mata Keisha sambil terkekeh pelan.


“Berarti apa sekarang kita berjodoh?” Tanya Keisha polos. 


“Hahahaha.., pertanyaanmu ini konyol sekali sayang. Kita bukan lagi berjodoh, tapi kita memang ditakdirkan untuk bersama. Jika tidak? Tuhan tidak akan pernah mengirimkanmu padaku sepuluh tahun yang lalu, sayang,” seru Angga sembari mengelus pipi istrinya singkat. 


“Jika Tuhan tidak mempertemukanmu denganku di masa lalu, aku akan tetap mencarimu di masa depan Nyonya, agar kita bisa bersama seperti saat ini,” ujar Angga dalam hati sembari mengumbar senyum sesering mungkin di hadapan wanita pujaan hatinya. 


“Sayang, mendekatlah, aku akan membantumu membersihkan sisa ice cream di wajahmu,” tutur Angga sembari tertawa. 


Pemuda itu mengusap bibir istrinya halus, padahal tidak ada bekas ice cream di sana. Dan pada akhirnya dia mengecup  bibir Keisha singkat dan cepat, hingga tidak disadari oleh perempuan itu. 


“Itu adalah ciuman kita yang tertunda di hari pernikahan sayang,” kata Angga masih dengan senyum terpatri di wajahnya. 


Keisha hanya diam mematung, perempuan itu baru menyadari tindakan Angga. Matanya mengerjap-ngerjap tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. 


“Istriku, mari pulang,” kata Angga membuyarkan lamunan Keisha. 


Pemuda itu menarik tangan Keisha dan menuntunnya berjalan menyusuri jalan, mereka menuju ke halte bus untuk mencari tumpangan untuk pulang ke rumah. Selang tiga puluh menit kendaraan beroda enam itu telah tiba, beberapa orang juga mulai menaiki bus, kali ini mereka tidak berdiri seperti tadi siang, melainkan mendapatkan tempat duduk, mungkin karena hari sudah mulai petang. Kedua insan itu duduk di dekat jendela, memandang ke arah luar melihat pemandangan kota di malam hari. 


“Sayang,” panggil Angga. 

__ADS_1


Perempuan itu langsung menolehkan kepalanya ke arah suaminya, wajah mereka berjarak sangat dekat, hingga kedua orang itu dapat merasakan hembusan napas masing-masing. Dengan sangat lembut Angga mengalungkan tangannya di leher Keisha. 


“Sudah selesai,” ucap Angga. 


Pemuda itu baru saja memasangkan kalung di leher Keisha, sebuah kalung perak yang memiliki liontin ukiran mawar putih. 


“Ini pemberian Ibu untuk putrinya, dia membuatkan kalung ini juga untuk Kak Liliyana,” ujar Angga masih melihat manik hitam milik Keisha yang begitu teduh di matanya. 


“Dan ini,” kata Angga sembari menunjuk cincin yang sudah tersemat manis di jari kelingking Keisha saat hari pernikahan. 


“Ini adalah hadiah dari Ibu untuk menantunya,” sambung Angga lagi. 


Keisha melihat kearah cincin kecil dengan permata sederhana di tengahnya, kemudian dia beralih memegang kalung perak yang sudah terpasang di lehernya. Perempuan itu meraba-raba dan terus merasakan setiap inci dari dua perhiasan itu. Tidak terasa ternyata bulir air mata bening jatuh di pelupuk matanya. 


‘Aku akan pulang sayang, saat kau sudah pulang dari Kanada mari kita tinggal bersama.’


Kata terakhir dari wanita yang sempat menjadi Ibunya untuk sesaat berputar kembali di kepalanya, mata Keisha mulai terlihat seperti kaca yang sebentar lagi akan rapuh dan pecah. 


Angga yang melihatnya langung mengecup sudut mata perempuan itu, dia mendekapnya dengan erat, memberikan hawa ketenangan dan kedamaian berharap perempuan itu tidak akan bersedih lagi. 


“Terimakasih Ibu karena telah menitipkan Nyonya padaku, terimakasih,” batin Angga dalam hati dan berulang kali.


________________^_^


Terimakasih sudah membaca...


Semoga suka 😚😚


Jangan lupa like nya😍


 

__ADS_1


 


__ADS_2