My Old Wife

My Old Wife
Waktu


__ADS_3

~Kehidupan akan terus berjalan dan semuanya tidak akan pernah kembali terulang~


Malam itu juga Lianda melakukan pemeriksaan terhadap Keisha, setelah pemeriksaan dijalani Angga mengetahui semuanya bahwa istrinya pernah mendonorkan sumsum tulang dan sempat mengalami cedera saraf tulang belakang hingga menyebabkannya terkena “paraplegia” yaitu penyakit yang menyebabkan tubuh mengalami kelumpuhan secara bertahap terutama bagian kaki. 


Mendengar penjelasan dari Lianda membuat hati Angga merasa nyeri, selama ini istrinya telah mengalami masa-masa sulit seorang diri. Setelah pemeriksaan dilakukan, Keisha menceritakan semuanya pada Angga, tentang dirinya di masa lalu dan saat ia berada di Kanada. 


“Kenapa anda baru menceritakan ini pada saya Nyonya?” Angga menatap istrinya dengan tatapan sendu seraya menggenggam tangannya erat. 


“Semuanya baik-baik saja sekarang, itu hanya masa lalu.” Keisha memeluk Angga dan mengusap kepalanya lembut memberikan rasa ketenangan untuk pemuda itu. Keduanya tidak dapat tidur malam itu, mereka berdua terjaga satu sama lain. 


Di sisi lain, kediaman Heru Prawijaya Kevin pulang dengan langkah berat, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 00.30 lewat tengah malam. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri. Kemudian dia duduk di balkon untuk merenungi semua kesalahannya di masa lalu. Sementara istrinya Helen terlihat tidur dengan mata sembab, menandakan bahwa perempuan itu baru saja menangis tadi.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Kevin memandang ke arah langit mencoba untuk mencari jawaban atas segala pertanyaannya. 


Semenjak malam itu baik kehidupan Angga dan Keisha maupun Kevin dan Helen sedikit berubah. Angga mulai disibukkan dengan jadwalnya yang cukup padat dalam dunia permodelan, sementara Keisha masih menjalankan aktivitasnya di kantor dengan ditemani oleh Romi. Mereka hanya menghabiskan waktu bersama di saat malam hari.


Namun, perhatian Angga tidak pernah kurang pada istrinya, meski jadwalnya padat ia masih sempat untuk mengajak Keisha makan siang dan menjemputnya di waktu pulang dari kantor. 

__ADS_1


“Jangan terlalu lelah sayang, kamu harus menjaga kesehatanmu. Ingat pesan Dokter, kakimu belum sembuh benar.” Angga menyuapkan sesendok nasi lengkap dengan lauknya ke mulut Keisha. Mereka sedang makan malam di restoran, sementara Romi hanya melihat dari kejauhan dia duduk di meja lain. 


Sedangkan Kevin, pria itu terlalu sibuk di kantor bahkan dia sering menginap di sana dan jarang pulang ke rumah. Masa-masa ini adalah masa yang sulit bagi Helen, mengingat kandungannya juga semakin bertambah besar. Helen hanya dapat menghibur dirinya sendiri dengan merajut pakaian bayi untuk anaknya, perempuan itu kini menyibukkan dirinya dengan hal-hal berbau kesenian untuk melupakan kesedihannya. 


“Apa Kak Kevin juga tidak pulang malam ini?” Tanya Helen dari balik telepon, dia sedang memanggil Kevin lewat telepon kantor karena jika melalui ponsel pribadi milik Kevin, pria itu tidak akan mengangkatnya.


“Maaf Bu Helen, Pak Kevin juga tidak dapat pulang malam ini. Beliau berpesan pada saya untuk menyampaikan pada anda agar tidak menunggunya.” Suara itu berasal dari salah satu staff di sana, Nona penjaga resepsionis yang sudah sering menerima panggilan dari Helen. 


“Terimakasih. Sampaikan pada Kak Kevin untuk makan tepat waktu.” Helen menutup panggilannya dengan hati kecewa. Dia mengusap perutnya yang sudah mulai besar, usia kandungannya sudah mencapai sembilan bulan. 


Melihat kondisi dari perubahan sikap Kevin, Heru mulai merasa cemas, sesekali dia sengaja menyuruh Kevin untuk pulang makan siang dan melihat istrinya. Tapi, menantunya itu cukup keras kepala. Jadi Heru tidak dapat berbuat apa-apa dia hanya dapat melihat kehidupan mereka dari jauh, karena dia tidak punya hak untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya.


“Ambilah cuti dua hari ini, antarlah Helen untuk memeriksa kandungannya. Kau sudah terlalu sibuk bekerja, istrimu sebentar lagi akan melahirkan. Jadi luangkan waktumu sedikit untuk bersamanya,” nasihat Heru pada Kevin. 


“Maaf Ayah, banyak laporan yang belum aku kerjakan.” Tolak Kevin. 


Heru membanting map yang ada di tangannya ke atas meja, dan menatap geram pada Kevin. “Biarkan Nina yang mengerjakannya! Jangan menghindar dari Helen terus-menerus. Ingat! Semua kesalahan yang dilakukan oleh Helen di masa lalu, kau juga turut terlibat di dalamnya. Jika kau merasa bersalah pada putriku Keisha, dia sudah bahagia dengan Angga! Jadi tindakanmu ini hanya akan menyakiti dirimu sendiri.” Heru meninggalkan ruangan Kevin dengan geram dan membanting pintunya cukup keras. Bersamaan dengan itu, Rafi terlihat memasuki ruangan. 

__ADS_1


“Ada apa dengan paman?” Tanya Rafi pada Kevin. 


Kevin hanya diam, dia tidak berencana menjelaskan apa pun pada Rafi, Kevin hanya kembali bekerja dan menyelesaikan semua  laporannya. Rafi yang diabaikan oleh Kevin pun hanya pasrah, dan berlalu pergi dari sana untuk menemui Nina sesuai dengan tujuan awalnya kemari.


Sudah lebih dari satu pekan Kevin tidak pulang ke rumah, Hanum juga merasa cemas karena melihat kondisi putrinya yang cukup menyedihkan. Dia juga merasa bersalah atas apa yang terjadi pada rumah tangga putrinya saat ini. 


“Sayang, apa kamu mau minum susu? Ibu akan membuatkannya,” tawar Hanum pada Helen. Putrinya hanya mengangguk sebagai jawaban. Sekarang Helen lebih pendiam tidak seperti dulu yang terlihat ceria dan selalu tersenyum. 


Hari-hari yang telah dilalui Helen merubah sikapnya, hampir semua yang ada padanya termasuk gaya penampilannya. Helen sekarang lebih senang memakai pakaian panjang dan wajah tanpa riasan. Perempuan itu sudah lama meninggalkan dunia make up sejak Kevin mulai menjauhinya, baginya kecantikan sudah tidak penting lagi karena suaminya pun tidak akan kembali pada dirinya jika dia berdandan. 


“Kak Kevin, apa kamu lapar? Aku akan menyiapkan makan malam untukmu?” Tawar Helen pada suaminya. Setelah sekian lama Kevin baru pulang ke rumah, penampilannya terlihat acak-acakan, rambutnya sudah panjang dan kumisnya juga sudah mulai tumbuh. 


“Tidak perlu, aku sudah makan diluar. Kau tidurlah terlebih dahulu, aku akan menyelesaikan pekerjaanku lagi.” Kevin menolak Helen secara halus saat tangan perempuan itu memegang lengannya.


Helen hanya tersenyum sebagai jawaban, setelah itu dia melangkah ke tempat tidur merebahkan dirinya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Secara diam-diam dia melihat Kevin yang mulai menyalakan laptop dan duduk di sofa,  saat dia melihat secara seksama ke arah suaminya, Helen dapat melihat kantung mata besar berwarna cokelat, terlihat jelas bahwa Kevin kurang tidur dan terlalu memforsir tenaganya untuk bekerja. 


Dalam hati Helen bersedih tidak terasa air matanya pun  juga ikut tumpah, dia membungkam mulutnya dan mengatur napasnya agar suara tangisnya tidak terdengar di telinga Kevin. Dia memejamkan matanya mencoba untuk tidur meski pikirannya menolak akan itu. 

__ADS_1


“Aku merindukanmu Kak,” gumam Helen kecil di sela-sela tangisnya. 


     


__ADS_2