My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 13 Berjumpa


__ADS_3

^^^~Tidak ada yang lebih indah dalam hidup ini, selain bersama orang yang kita sayang~^^^


As-Sana


***


Tiga hari kemudian rangkaian acara pembukaan pagelaran seni "Mario Art De La Vi" mulai diselenggarakan. Festival seni ini dimulai dengan dibukanya skate way Rideau Canal dalam acara pesta kembang api malam hari.


Keisha yang menerima undangan dari pemilik galeri memilih menghadiri acara ini bersama Angga dan Hasa. Orang-orang membentuk kerumunan mengitari area skating gelanggang Rideau Canal. Semua tampak bersuka cita. Banyak pos penjual makanan yang berjajar di sepanjang jalur.


Si kecil berada di tengah-tengah kedua orang tuanya, ia diapit oleh ayah dan ibunya. Sesekali kaki mungil Hasa akan melompat sambil berjalan menikmati keramaian yang ada.


"Ayah lihat! Ada pelmen melah muda!"


Jari telunjuk Hasa mengarah pada penjual gula kapas raksasa di sana. Angga yang melihat itu menoleh pada Hasa, mencubit pipinya gemas. Makanan manis ini cukup langka dijual di musim dingin.


"Itu bukan permen Panda kecil, itu adalah gula kapas. Makanan kesukaan Ibu."


Dengan jahilnya Angga menarik hidung Hasa sampai memekik kesakitan. Bocah gembul itu mencebikkan bibir memberengut mengusap pipinya bekas cubitan sang ayah. Keisha menggendong Hasa mencium hidung putranya yang imut.

__ADS_1


"Kenapa sayang?" tanya Keisha membelai pipi sang buah hati. "Hasa malah sama Ayah! Ayah nakal!" tuturnya lucu. Angga yang mendengarnya terkekeh semakin gemas dengan tingkah anaknya satu itu.


"Baiklah-baiklah, sebagai permintaan maaf. Ayah akan membelikan Panda kecil ini dan Ibu gula kapas raksasa," bujuknya mencium pipi gembul Hasa.


Sejenak Angga menyingsingkan lengan blazer-nya, ia meninggalkan anak dan istrinya di sana, lalu mulai bergabung dengan kerumunan yang ada. Untuk membeli gula kapas raksasa dibutuhkan kesabaran ekstra karena antriannya yang begitu panjang seperti lajur kereta api.


Sementara Angga mengantri, Keisha mengajak Hasa menunggui suaminya dengan melihat pernak-pernik cahaya lampu-lampu gantung yang berkilau warna-warni.


"Satu gula kapas raksasa tanpa pewarna," ucap mereka bersamaan.


Saat tanpa sengaja mereka berdiri berdampingan, dua lelaki itu menyebutkan pesanan yang sama. Angga yang tak mengira ada orang yang memiliki selera sama dengan istrinya menoleh, menyaksikan fitur rupawan lelaki asing bermata batu rubi. Manik hijau kebiruan menyerupai milik Peter, cuma punya pria ini lebih terang sedikit.


Julian yang mendapati perhatian dari lelaki berwajah Asia dengan pakaian kasual menatap balik lelaki itu sebentar. "Kita memesan gula kapas yang sama." Pertama kali Angga berkata menyapa Julian. "Sebuah kebetulan," jawab Julian seadanya.


"Iya, sangat kebetulan. Apa kau menyukai gula kapas tanpa warna? Biasanya orang-orang akan suka yang berwarna-warni." Kedua tangan Angga disilangkan ke depan, bersedekap dada untuk menetralisir hawa dingin yang mulai menyerang.


Penjual makanan telah menyerahkan satu gula kapas yang sudah jadi. Lagi-lagi Angga maupun Julian menengadahkan tangan bersiap menerima makanan manis tersebut. "Hahaha, bahkan kita sekarang memiliki gerakan yang sama." Angga tertawa merasa lucu dengan tindakannya.


Dari jarak kejauhan ekor mata Angga bisa menangkap bayangan Hasa kecilnya yang tengah melambai menunggunya bersama wanita yang ia cintai.

__ADS_1


Julian hendak mengambil gagang gula kapas itu, tetapi Angga segera mencegahnya. "Bisa kau berikan ini padaku? Istri dan anakku sudah menunggu di sana." Jari telunjuk Angga menuntun Julian melihat seorang anak kecil yang tengah bersuka cita ditemani perempuan yang hanya terlihat punggungnya dari belakang.


"Kau memiliki anak yang tampan." Dengan senang hati Julian memberikan gula kapas yang mungkin seharusnya ia miliki. "Terima kasih, apa kau datang ke sini bersama keluargamu juga?" Tatapan Julian kosong lalu menggendikkan bahu. "Hanya ditemani seorang kekasih."


Reflek mendengar lelaki yang baru ia temui sedang berkencan dengan kekasihnya, Angga mendekat lalu berbisik. "Kau harus memberikan kekasihmu kenangan manis malam ini. Karena malam ini merupakan malam romantis." Julian yang menerima saran dari Angga mulai memejamkan mata membayangkan wajah Keisha dalam benaknya. .


Angga yang melihat lelaki itu tampak bahagia berdoa agar hubungan sepasang kekasih ini bisa bertahan lama sampai maut yang memisahkan mereka. Sambil membungkus gula kapas yang ia terima, Angga segera berlari meninggalkan Julian menghampiri Keisha dan Hasa.


"Keisha," gumam Julian.


Deg.


Kaki Angga langsung berhenti, ia tak salah dengar. Pria asing itu menyebut nama istrinya.


.


.


.

__ADS_1


.


~Bersambung


__ADS_2