My Old Wife

My Old Wife
Memilih Gaun Pernikahan


__ADS_3

~Di antara seribu luka yang ada, menyisakan senyuman pada akhirnya~


Setelah melakukan perjalanan cukup lama, tibalah mereka di toko butik langganan Hanum. Angga segera menepikan mobilnya dan memarkirkan di tempat yang sudah disediakan. Mereka berempat memasuki bangunan toko butik dengan desain antik tersebut dengan senang hati.


Di dalam dua pegawai dibutik itu menyambut Hanum dan keluarganya dengan hangat, sang pemilik toko juga menemui mereka dan mempersilahkan mereka memilih gaun untuk Keisha dan Angga. Sebelum datang kemari, Hanum sudah menghubungi pemilik butik tersebut terlebih dahulu, agar saat dia datang dengan keluarganya semua sudah dipersiapakan.


"Nyonya, ini adalah gaun pengantin yang Anda pesan untuk putri Anda," tutur pemilik butik mencoba mengenalkan desain rancangannya pada Hanum.


"Jika Anda tidak suka, kami masih punya rancangan yang lain," imbuh wanita itu lagi.


Hanum mengeceknya dengan seksama, mulai dari bahan kain, model jahitan, pernak-pernik, dan warnanya mudah luntur atau tidak.


"Sayang, apa kamu menyukainya?" Tanya Hanum pada putrinya yang turut serta melihat gaun yang ia pegang.


"Aku suka Ibu, itu tampak sederhana dan tertutup," kata Keisha dengan senyum di wajahnya.


Hanum sudah mengerti akan selera putrinya, semenjak dia menjadi Ibunya Keisha, putri sulungnya itu tidak pernah memakai pakaian yang ketat dan terbuka, dia lebih suka memakai pakaian yang sederhana, tertutup, dan berwarna peach tidak mencolok.


"Kalau begitu, kamu coba pakai ini. Ibu ingin melihatnya," perempuan itu memberikan gaun itu pada putrinya dan menyuruhnya ganti pakaian di ruang ganti.


Sementara Angga, pemuda itu memakai pakaian apa pun yang ada di sana tetap menawan, sejak masuk ke butik itu banyak pegawai yang sudah menawarinya berbagai macam desain rancangan. Dan bisa dibilang menentukan pakaian untuk Angga adalah yang paling mudah, karena dia terlihat cocok memakai apa pun. Jadi Angga telah lebih dulu mencoba beberapa gaun pengantin pria daripada Keisha.


"Ibu mertua, apa ini tidak berlebihan?" Pemuda itu sedang memegang beberapa kantong yang berisi jas, kemeja, dan celana yang serasi dengan warnanya dan sempat dicoba Angga tadi.


"Aku hanya butuh satu pakaian saja untuk hari pernikahanku, Ibu mertua tidak perlu membelikan semua ini untukku," kata Angga sedikit tidak enak.


"Anggap saja itu hadiah dari Ibu, lagi pula semuanya pantas untukmu. Kamu juga tidak punya setelan jas dan kemeja bukan?" kata Hanum tidak menerima penolakan.


"Baiklah, aku akan mengambilnya.


Terimakasih," ucap Angga pasrah.


Hanum mendekat ke arah Angga dia menepuk pundak pemuda itu yang jauh lebih tinggi darinya. "Anak pintar," puji Hanum. Angga langsung memasang senyum lebar kepada perempuan paruh baya itu. "Kalau Ibu ingin membelikan semua baju di butik ini, aku akan menerima dengan senang, biar Ayah mertua cemburu padaku.. hahaha.." kata Angga sembari tersenyum nakal. Hanum langsung mencubit telinga Angga. Dia merasa Angga seperti anak kecil yang sedang menggoda Ibunya.


"Kamu ingin membuat Ibu bangkrut, hmm??"

__ADS_1


"Bukan Ibu yang akan bangkrut, tapi Ayah mertua," kata Angga sedikit tertawa kecil.


Hanum semakin menarik telinga Angga, hingga pemuda itu mengaduh kesakitan. Perempuan itu juga ikut tertawa kecil, calon menantunya ini punya selera humor yang bagus. Setidaknya hidup putrinya akan semakin berwarna jika bersama dengan pemuda ini.


"Ah iya Ibu, lepaskan, jangan menjewer aku lagi. Ibu jadi mirip seperti Kak Liliyana. Mudah marah," celetuk Angga tanpa sengaja.


"Mudah Marah?" Hanum menautkan alisnya.


"Ternyata menggoda Ibu mertua jauh lebih menyenangkan dari pada Ayah mertua," ujar Angga dalam hati.


"Ah tidak-tidak, Ibu adalah Ibu mertua yang paling baik sedunia," puji Angga dia mencoba mengambil hati Hanum.


Hanum melepaskan jewerannya di telinga Angga, wajah perempuan itu menjadi sendu.


"Aku bukan Ibu yang baik," kata Hanum.


"Aku telah membuat putriku menderita dulu, bagaimana bisa aku menjadi Ibu yang baik?" batin Hanum.


Angga yang melihat raut wajah Ibu mertuanya berubah langsung merasa bersalah. Pemuda itu mencoba untuk membuat sebuah lelucon, tapi belum dia mengucapkan leluconnya justru dia diam mematung.


"Cantik," kata Angga tanpa sadar.


"Ibu bagaimana penampilanku? Apa Ibu suka?" Keisha masih memandang ke bawah merapikan gaunnya yang sedikit terlipat dibagian bawahnya.


"Iya, aku suka Nyonya," celetuk Angga tanpa sengaja.


Mendengar suara orang yang dikenalnya Keisha langsung menengadahkan wajahnya, betapa terkejutnya Keisha ketika sudah melihat Angga di sana bersama Ibunya.


"Ah Angga mulutmu ini, sungguh tidak bisa dikontrol," rutuk Angga menegur dirinya sendiri dalam hati.


"Terimakasih atas pujiannya," kata Keisha sembari tersenyum.


"Kalau begitu ambil gaun yang ini saja, karena calon suamimu juga menyukainya," tutur Hanum.


"Ibu, bisakah aku membeli semua pakaian yang ada di butik ini?" kata Angga dengan tetap memandang ke arah Keisha tanpa berkedip.

__ADS_1


"Memangnya untuk apa semua baju itu?" Hanum melihat Angga yang masih tidak berhenti menatap putrinya.


"Untuk calon istriku, biar setiap hari aku bisa melihatnya seperti ini," kata Angga asal. Hanum langsung menyenggol bahu Angga.


"Jangan membuat Ibu mual," ketus Hanum.


Tapi Angga justru tersenyum lebar dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Keisha tersenyum melihat pemandangan itu, entah kenapa hatinya merasa damai.


"Angga," panggil Keisha halus.


"Iya, Nyonya," jawab Angga masih dengan senyum dibibirnya.


"Kemarilah," pinta Keisha lagi.


Pemuda itu melangkah menghampiri calon istrinya, dia sekarang tepat berada di dahadapan Keisha. Perempuan itu tersenyum ramah pada Angga.


"Astaga, aku mau mati! Nyonya terlalu manis," jerit Angga dalam hati.


Jantungnya berdetak tidak karuan saat dia berada di hadapan Keisha, pemuda itu mencoba untuk mengontrol detakannya tapi sia-sia. Jantungnya semakian tidak terkendali, dia mulai measa gugup.


"Kenapa Nyonya memanggilku?" batin Angga.


Keisha mengangkat tangannya dia meletakkan telapak tangannya di atas kepala Angga, perempuan itu mengusap kepala Angga pelan.


"Kau jadi semakin nakal sekarang, kau pintar sekali menggoda orang, calon suamiku ini bermulut manis," kata Keisha pelan dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya.


"Hahaha.. Nyonya, jika Anda mau? Saya akan selalu berkata manis pada Anda setiap hari, sampai Anda tidak akan kekurangan kadar gula lagi," ucap Angga sembari terkekeh pelan.


Tanpa disadari oleh Angga, Keisha telah beralih menarik kera blazer pemuda itu sehingga membuat kepala pemuda itu sedikit menunduk dan dekat dengan kepalanya.


"Aku menantikannya," kata Keisha dengan senyum tipis di bibirnya.


"I-Iya," jawab Angga terbata-bata.


Jantung Angga berpacu dengan cepat, seperti kereta api yang tidak mau berhenti. Dan seperti petir yang bergemuruh terlalu keras.

__ADS_1


Deg... Deg... Deg..


"Semoga Nyonya tidak menyadarinya" batin Angga.


__ADS_2