My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 36 Salju Pertama Ottawa


__ADS_3

...~Langit tak pernah mengeluh saat dia disapu hujan, dia juga tak membantah ketika turunnya salju, dan tak menolak saat terjadinya terik mentari. Karena langit tahu akan ada waktunya ia beristirahat di suatu hari. Masa di mana bebannya akan terbayarkan dengan kesabaran~...


...(Secuil Kata Bumi )...


...As-Sana...


***


Butiran salju menebal, Angga telah membawa Keisha masuk ke dalam mini mart. Lelaki itu menyiapkan kursi yang terbaik di ruang belakang. Memberikan Keisha jaketnya yang hangat. Angga memutuskan akan melanjutkan pekerjaannya sampai shift kerjanya selesai. Karena bagaimanapun ia tetap harus bertindak profesional. Memisahkan urusan pribadi dengan pekerjaan.


"Kenapa wajahmu tersenyum bahagia seperti itu? Kau menang lotre ya?" temannya mengikut lengan Angga yang tampak memandang ke arah lain. "Oh..., kau membawa Kakak Iparmu ke mari." Muka Angga menoleh, penuh tanda tanya. Dia menatap teman kerjanya itu lekat-lekat minta penjelasan.


"Aish..., jangan marah karena aku mengomentari Kakak Iparmu."


"Dia bukan Kakak Iparku," sergah Angga cepat-cepat sebelum kesalahpahaman ini melebar ke mana-mana.


"Lalu siapa? Pacar? Itu tidak mungkin."


"Dia istriku."


Temannya tertawa tidak percaya. Pasalnya di tempat kerja ini hanya Angga yang terdaftar sebagai pemuda lajang saat melamar. Lalu, bagaimana ia bisa punya istri tiba-tiba? Sangat mustahil.


"Jangan bercanda. Sudah fokus saja bekerja, kau jadi tambah gila karena tidak segera menikah hahahaha."


Keisha melambaikan tangan, mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja. Angga yang melihatnya tersenyum simpul menganggukkan kepala mengerti. Dengan semangat Angga kembali ke aktivitasnya menjadi seorang kasir. Sampai malam menjelang baru ia selesai. Detik itu juga Keisha tetap menunggu. Dia mengabari orang di rumah akan pulang terlambat. Hasa juga bersama Julian sekarang.


Seusai keluar dari mini mart, Angga berjalan berdampingan di samping sang istri. Sesekali dia melirik wajah Keisha diam-diam. "Ehm..., Nyonya tidak marah?" wanita itu menoleh tersenyum manis. "Untuk apa aku marah, tidak ada yang perlu disalahkan. Karena Ayah telah kembali." Bibir Angga di tahan bergerak, ia menutup mulutnya menyembunyikan perasaan bahagia.

__ADS_1


"Ya karena saya telah membuat Nyonya bersedih selama satu tahun. Bahkan, setelah kita bertemu saya tidak ingat apa pun. Sebelum perlahan-lahan memori itu bermunculan."


Keisha tertawa kecil, tawa yang mampu membuat Angga yang melihatnya berdebar lagi dan lagi. Perempuan itu benar-benar seperti bom waktu bagi Angga, suka membuat ia tak mau menghentikan setiap kejadian yang ada. Seperti saat ini, ketika mereka bersama.


"Seharusnya aku yang bersyukur karena Ayah tak sampai membenciku."


"Itu tidak akan terjadi!" intonasi Angga menolak tegas ucapan perempuan di sampingnya. "Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membencimu. Karena aku akan terluka jika menyakiti perasaan wanita yang ku cintai."


Keisha memiringkan kepala melihat Angga. "Jika itu terjadi aku yang paling menyesal Angga. Karena tidak bisa berbuat apa pun untuk membuatmu sadar. Tapi itu tidak akan terjadi sekarang. Jadi aku senang. Setidaknya kau masih bisa mengenaliku."


Angga menghentikan langkah kakinya, beberapa meter lagi mereka akan tiba di jalan raya besar yang padat kendaraan roda empat. Lelaki itu menelisik wajah Keisha, dengan jelas ia bisa melihat kecantikan dan keteduhan dari wanitanya.


Tangan Angga langsung menarik Keisha dalam pelukan enggan melepaskan. Dia mengusap punggung Keisha pelan, menyisir rambutnya yang hitam legam.


"Bagaimanapun sesulit apa pun. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Karena, kau satu-satunya wanita yang berharga dalam hidupku saat ini. Tidak ada yang lain."


Keisha tersenyum tulus, ada banyak kebahagiaan yang memenuhi rongga paru-parunya. "Ya, aku percaya Ayah akan selalu menemukan jalan untuk pulang. Karena Hasa juga telah lama menunggu." Pelukan Angga mengendur, ia lupa dengan si kecil. Memorinya belum kembali sepenuhnya. Masih ada banyak hal yang terlewat.


Perlahan ibu jari Keisha membelai pipi merah Angga, menangkup wajahnya. "Hasa sudah menunggu di rumah. Putra kita tumbuh dengan pintar, dia mulai bersikap mandiri." Melihat ekspresi mendamaikan dari sang istri. Angga mengangguk senang. Dia menggandeng tangan Keisha memasukkannya ke saku mantel jaket.


"Aku tidak sabar bertemu dengannya."


Keisha tersenyum manis, "Ayah biasa memanggil anak itu dengan sebutan 'Panda Kecil' karena ia sangat nakal." Angga terkekeh, menatap jalur jalan memanjang di seberang. "Sepertinya dia anak yang manis."


"Biasanya Ayah yang mencurikan cokelat dan permen untuknya saat kecil, dan aku akan marah karena tahu kalian memakan itu diam-diam."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Ya, Ayah adalah teman terbaik Hasa."


"Ah aku ingin ingat semuanya. Apa yang sudah aku lakukan selama ini!" gusar Angga frustasi. Keisha tersenyum senang, mulai menceritakan lagi semua kenangan yang pernah mereka lewati bersama.


"Oh ya sayang."


"Hmm."


"Selama aku tidak mengingat apa pun seseorang telah membantuku. Tapi sekarang dia telah meninggal. Putrinya yang saat ini tinggal denganku di kontrakan. Aku ingin mempertemukanmu dengannya, apa kau tidak keberatan?"


"Dia adalah orang yang menolong suamiku. Mana mungkin aku keberatan, aku justru sangat ingin menemuinya."


"Terima kasih. Sonia pasti senang bertemu denganmu."


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2