
^^^~Cinta akan selalu menghampiri orang-orang yang baik~^^^
As-Sana
***
Vancouver, Kanada - Winterlude
Gestur wajah lelaki itu terus menguar menunjukkan kesukaan. Ia meraba kanvas berpoleskan chat minyak dengan sapuan kuas. Di sana, dalam lukisan itu terdapat gadis cinta pertamanya. Perempuan bertahi lalat di sudut mata yang memiliki hati malaikat. Dia laksana dewi yang turun ke bumi sebagai malaikat penolong hanya untuk dirinya - Julian Fernandez.
"Hei bung, sudah berapa lama kau memandangi lukisan ini?"
Lelaki bermata kehijauan batu rubi itu melepaskan kacamata sejenak, pahatan wajah tanpa bingkai kacamata itu semakin bertambah rupawan diterpa cahaya rembulan dari celah ventilasi udara.
Kemeja dilapisi rompi hitam itu pun berkilau, karena pemiliknya berdiri di bawah lampu temaram keemasan. "Sampai hatiku bosan," jawabnya meletakkan kembali kanvas kulit yang lebih dari dua puluh tahun ia simpan.
Pria yang menjadi dokter pribadinya menggelengkan kepala mendengar jawaban yang sama dari pasiennya setiap kali ia menanyakan tentang lukisan wanita berwajah Asia di sana.
"Cinta yang bodoh," tutur sang dokter.
"Baiklah, aku harus pergi. Ingat, Julian kau harus menjaga kesehatanmu. Jangan terlalu sering membuka galeri pertunjukan seni. Jika tidak ada orang yang menggantikanmu."
Julian merupakan seorang pelukis ternama berasal dari Vancouver. Karirnya melejit pesat saat memenangkan kategori lukisan ekspresionisme di pagelaran seni terbesar di Montreal. Saat itu lukisan wanita ini yang ia tawarkan pada para penikmat seni.
"Selamat malam Keisha, aku akan tidur terlebih dahulu."
Pamitnya meletakkan kembali bingkai kanvas di dinding menutupnya dengan kaca transparan agar tak ada debu yang menempel di sana.
***
__ADS_1
Di Ottawa, petang juga menyapa. Siang telah berganti malam. Tadi sepanjang sore hari Angga dan Keisha berada di toko bunga. Sekarang mereka tengah bermain di taman kota menghabiskan waktu bersama sebagai keluarga kecil yang bahagia dengan Hasa mereka.
Putranya itu berjalan ke sana ke mari menendang bola karet merah. Sesekali, si kecil akan terjatuh lalu tertawa puas melihat ke arah ayah dan ibunya yang duduk di bangku taman memandangnya dari kejauhan.
"Hasa semakin bertambah besar, dulu ia tidak bisa berjalan dengan lancar. Sekarang ia bahkan bisa berlari."
Angga membuka suara menyaksikan tumbuh kembang putranya yang kian hari meninggalkan masa kanak-kanak. Perempuan yang duduk di sampingnya mengangguk mengiyakan.
Keberadaan Hasa di tengah-tengah mereka seperti sebuah keajaiban yang tak terduga. Takdir yang tak pernah mereka sangka sebelumnya, setelah sekian banyak hal yang terjadi dalam hubungan keduanya di masa lalu.
"Nyonya." Lelaki itu menggenggam tangan wanitanya lembut, menyalurkan rasa hangat.
"Setiap kali aku melihat Hasa, aku bisa melihat istriku di sana. Perempuan yang aku cintai ada dalam wajah putraku. Senyumnya yang manis, tawanya yang lucu, dan nakalnya yang membuatku selalu senang." Sejenak, Angga bergeming menatap langit luas nan jauh dari mata. Kemukus lintang-gumintang menghias langit Ottawa yang hitam di kala malam.
Dalam keheningan Keisha menjawab, "Aku juga sama. Hasa selalu mengingatkan ku padamu. Dia memiliki sifat nakal dan jahil sepertimu. Aku rasa dia adalah Anggaku yang kecil. Anak yang memanggilku pertama kali di toko bunga almarhum ibu."
Keduanya terdiam, mengingat Susi wanita yang paling mereka cintai. Lewat perempuan itu juga takdir ia dan Angga dipertemukan. Keisha bahkan tidak akan menyangka bahwa suaminya di masa depan pada saat itu adalah anak kecil yang menangis karena uangnya di rebut kakak kelasnya.
"Aku berjanji, saat ini dan nanti. Aku akan selalu mencintaimu. Tidak ada wanita lain. Walaupun nantinya istriku ini telah menjadi nenek terlebih dahulu, cintaku tidak akan kurang dan akan selalu bertambah." Keisha tersenyum mendengar penuturan pria yang duduk di sampingnya. Ia yakin Tuhan memang mengirim Angga untuk dirinya.
"Terima kasih Angga," jawabnya tersanjung menitikkan air mata.
"Apa-apaan ini? Istriku menangis di depanku? Tidak ada air mata hanya ada senyuman. Kau mengerti sayang?" Angga menaikkan kedua alisnya mengangkat dagu Keisha. Pria itu menyeka sedikit bulir bening di pipi lalu hendak menciumnya.
"Tidak Angga, enam hari lagi."
Hukuman yang diberikan Keisha masih berlaku, pria itu mengingatnya. Ia hampir lupa masa hukuman karena memberi cokelat si kecil tidak akan hilang sebelum satu pekan.
"Aku lupa sayang, berikan aku satu kesempatan saja ya?" rayunya mencondongkan badan mulai memajukan bibir.
__ADS_1
Lelaki itu benar-benar menjatuhkan harga dirinya jika di depan Keisha, lebih tepatnya ia tidak akan malu merayu atau menggoda istrinya.
Namun, Keisha masih menggeleng menempelkan jari telunjuknya di bibir prianya. "Enam hari lagi ya, Ayah harus bersabar," ucapnya tertawa kecil. Hilang sudah harapan Angga, ia harus bersabar sampai enam hari ke depan.
"Tidak masalah, aku masih bisa mendapatkan kecupanku. Ayo berikan," godanya lebih lanjut mulai nakal. Entah sejak kelahiran Hasa lelaki itu bertambah genit. Sungguh di luar dugaan.
"Hasa! Sudah selesai mainnya. Kemari biar Ibu bersihkan bajumu."
Angga tertawa ia tahu istrinya lebih pintar darinya. Tentu saja, jika si kecil sudah datang. Maka ia harus mengalah, tidak mungkin ia menggoda Keisha di hadapan Hasanya.
"Ibu! Hasa datang!" serunya gembira membawa bola karet di tangan.
Anak itu melompat menerjang pelukan ibunya menempelkan debu yang sama di baju Keisha. Angga yang melihatnya cuma tersenyum, mengambil bola mainan Hasa untuk disimpan.
"Mau main kuda-kudaan?"
Hasa menepukkan kedua tangan antusias. Ia mengangguk kuat menerima tawaran sang ayah. "Baiklah Panda kecil, waktunya naik ke punggung Ayah. Kita akan mengelilingi taman ini bersama." Angga mulai mengangkat tubuh mungil Hasa, menggendongnya di punggung sambil berlari kencang. Anak itu tertawa merasakan terpaan angin yang menerbangkan rambutnya.
"Hahaha... Hasa suka naik kuda! Hasa suka!"
"Pegangan yang kuat Panda kecil, kita akan melompati parit. Oh awas paritnya terlalu dalam!" tutur Angga seolah-olah ia benar-benar akan melewati kubangan air penuh jebakan padahal itu hanya sebuah pipa air taman yang sengaja ditinggalkan di sana.
Semua orang yang menyaksikan tingkah ayah dan anak itu tertawa. Mereka terhibur, cukup senang dengan drama yang Angga buat.
.
.
.
__ADS_1
.
~Bersambung