
~Apa yang manusia alami di dunia ini telah di takar oleh Tuhan, kapan ia akan menangis? Dan kapan ia akan tersenyum? Semua akan tiba pada waktunya~
Seiring berjalannya waktu kesedihan atas kematian Tuan Wilson sedikit demi sedikit terkikis. Mereka tetap mengenang sosok Tuan Wilson sebagai orang yang dihormati dan penting bagi hidup mereka.
Rutinitas kembali berjalan, roda kehidupan diputar seperti sebelumnya. Sudah lebih dari satu bulan mereka dalam suasana duka, baru memasuki bulan ketiga semua orang kembali tampak bersemangat, terlebih saat Angga mengumumkan tentang kehamilan Keisha yang ia sembunyikan dari keluarganya sampai suasana mereka kembali membaik.
Baik keluarga Angga maupun Keisha sangat bahagia mendengarnya, mereka mengucap syukur atas kehamilan Keisha. Heru ayah mertuanya juga semakin posesif pada putri sulungnya, hingga ia terkadang memarahi Angga jika sampai pria itu lalai menjaga Keisha.
Seperti pagi ini, baru saja Angga membuka matanya sebuah panggilan video dari Heru sudah menyambutnya. Wajah ayah mertuanya terlihat garang menatapnya dengan tajam. "Pagi Ayah mertua," sapa Angga sembari menguap menahan kantuk. Semalam ia begadang mencari penjual manisan yang masih buka karena Keisha memintanya.
"Sekarang sudah jam berapa kau baru bangun?" Lontaran pertanyaan terdengar ketus dari mulut Heru, sungguh ayah mertuanya ini cukup bermulut pedas.
Angga mengucek matanya asal, ia mengintip jam dinding di samping almari. "Apaa?!!!" Teriak Angga saat mengetahui jarum telunjuk yang lebih pendek telah menunjukkan angka sembilan.
"Kenapa Ayah mertua baru membangunkanku? Aku jadi terlambat membuatkan susu untuk istriku!" Angga segera menyingkap selimutnya memakai alas kaki kemudian membuka daun pintu kamarnya tergesa-gesa menuju ke dapur.
Heru berniat memarahi Angga justru dirinya yang diomeli oleh menantunya. "Ayah mertua tahu! Kalau jam 07.00 tepat, Nyonya Keisha harus minum susu. Lalu ia harus sarapan agar perutnya tidak kosong dan meminum obat kehamilannya dengan benar!" Omel Angga mulai menyalakan kompor merebus air hangat, sementara tangannya memegang ponselnya menerima panggilan video dari Heru.
Heru hanya dapat bungkam tidak dapat membantah ucapan menantunya, "Dimana putriku?" Mendengar pertanyaan ayah mertuanya Angga mulai menyadari kalau Keisha tadi tidak ada di kamarnya.
Angga mulai cemas, ia mematikan kompornya. Kemudian memanggil Romi. "Romii....!!" Tidak ada jawaban, pria itu baru menyadari kalau mungkin Romi sudah berangkat ke kantor pagi tadi mengingat sekarang adalah hari aktif bekerja.
Sekarang Angga dan Keisha bersama Romi serta Lianda telah kembali ke Ottawa. Mereka tidak lagi di Singapura.
"Kau mau keluar dengan pakaian seperti itu?" Heru mengingatkan menantunya kalau pria itu masih memakai pakaian tidur. Angga hanya menatap tampilannya sekilas, ia memang masih memakai celana pendek selutut dan piyama tidur berlengan pendek.
"Ah aku tidak peduli!" Rutuk Angga langsung mengambil jaket tebal miliknya yang tergeletak di sofa karena ia lupa menaruhnya digantungan baju semalam.
Heru hanya dapat menggelengkan kepalanya, sikap menantunya memang tidak banyak berubah masih saja ceroboh seperti dulu saat ia melamar putrinya. "Ayah aku matikan panggilan videonya sebentar, aku akan mencari istriku dulu." Belum sempat Heru menjawab, Angga sudah mematikan panggilannya.
__ADS_1
Ia segera mengambil kunci mobil di atas meja dekat TV, lalu keluar dari rumah menuju ke garasi. Langkahnya cepat masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin beroda empat itu. Angga segera melajukan mobilnya di jalanan kompleks saat penjaga keamanannya sudah membuka gerbang.
Belum sempat mobilnya keluar secara sepenuhnya dari area kompleks ia melihat Keisha tengah turun dari taksi dengan beberapa kantong sayuran di tangannya. "Sayang..!!" Teriak Angga mematikan mesin mobilnya lalu keluar menghampiri Keisha.
Keisha tersenyum tulus saat melihat suaminya, "kamu sudah bangun?" Tanya Keisha tapi Angga telah menarik tangannya memeluk istrinya. "Aku takut sekali tadi! Aku kira kamu hilang," racau Angga dengan napas naik turun.
Keisha terkekeh pelan. "Aku hanya pergi ke pasar sebentar Angga." Keisha menunjukkan barang belanjaannya.
"Lain kali kalau mau belanja. Kamu bisa minta aku atau Romi untuk menemani. Ingat kamu sedang mengandung." Omel Angga. Sungguh sekarang pria itu semakin bertambah cerewet semenjak tahu istrinya hamil. "Iya, iya, suamiku." Keisha menarik hidung Angga hingga membuat pria itu memekik kesakitan.
"Ya sudah ayo pulang, biar aku yang membawa kantong belanjaannya." Angga menuntun Keisha masuk ke dalam mobil. Mereka kembali ke rumahnya. Di dalam mobil Keisha terus saja melihat wajah suaminya yang menurutnya semakin mempesona.
"Aku berdoa semoga anak kita mirip dengan Ayahnya." Kata Keisha membuat Angga tersenyum manis. "Kalau mirip Ibunya aku juga akan senang, karena Ibunya sangat cantik." Ujar Angga tertawa pelan, ia melajukan mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumah menuju garasi.
Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, Angga meminta Pak Samm penjaga keamanannya untuk mengunci pintu gerbangnya karena ia tidak akan keluar lagi. Setidaknya itu yang Angga pikirkan, ia ingin menghabiskan waktu berdua bersama istrinya.
Keduanya masuk ke dalam rumah, Keisha berjalan menuju kulkas untuk memasukkan semua sayur dan buah yang ia beli.
Ia sedang dalam mode manja sekarang, Keisha yang mengerti kode suaminya segera menghentikan aksinya memasukkan buah ke dalam kulkas ia beralih mengajak Angga untuk duduk di meja makan bersamanya.
"Lihat aku sudah makan, sekarang kamu juga harus makan." Pinta Keisha seraya menyuapkan sesendok bubur gandum ke dalam mulutnya. Akhir-akhir ini perempuan itu tidak bisa makan-makanan kasar karena mual, jadi ia menggantinya dengan bubur.
Angga mengangguk antusias, ia mulai menyantap sup tomat asam manis kesukaannya bersama dengan udang tepung yang digoreng kecokelat-cokelatan. "Rasanya aku bisa hidup seratus tahun lebih lama kalau melihat Nyonya makan seperti ini." Batin Angga menghentikan aktivitas makannya dan justru memandangi Keisha menikmati buburnya.
Keisha yang menyadari Angga menghentikan makannya merasa bingung. "Apa sup tomatnya tidak enak?" Tanya Keisha khawatir. "Aku akan membuatkan yang baru kalau kamu tidak suka," tambahnya lagi.
Angga menggeleng pelan, ia meletakkan sendoknya di atas piring. "Aku sudah kenyang karena memandangimu makan." Ucapnya nakal seraya mengedipkan satu matanya. Ia mulai menggoda Keisha.
Keisha yang mengerti tanda-tanda jahil suaminya segera menyelesaikan acara makannya. "Segera selesaikan makanmu dan kita istirahat," ucap Keisha pada akhirnya hingga membuat Angga tersenyum penuh kemenangan karena itu berarti ia dapat bermesraan dengan istrinya.
__ADS_1
"Sayang," panggil Angga.
"Hmm," jawab Keisha halus.
Angga beranjak dari duduknya berjalan ke arah istrinya dan memeluknya dari belakang. Ia berniat mencium bibir Keisha untuk mendapatkan kecupan pagi.
Tapi sebelum niatnya itu tersampaikan, ponsel Keisha berdering. " Kau mau apa?!" Tukas lelaki paruh baya yang tidak lain adalah ayah mertuanya sendiri Tuan Heru. Pria paruh baya itu sedang melakukan panggilan video dengan putrinya.
Angga tersenyum jenaka, bibirnya sudah sangat dekat dengan wajah Keisha tapi gagal karena ulah ayah mertuanya. "Aku hanya ingin membersihkan sisa bubur di mulut istriku Ayah mertua," jawab Angga mencari alasan seraya mengusap sedikit sisa bubur yang menempel di sudut bibir perempuan pujaannya.
"Kenapa Ayah mertua harus menelepon disaat seperti ini," gerutu Angga.
Keisha terkekeh pelan saat aksi suaminya tertangkap basah ayahnya. "Tadi Angga hanya ingin menciumku Ayah," jawab Keisha yang membuat jantung Angga berdetak dua kali lebih cepat.
Ia tidak percaya kalau istrinya mau mengatakan itu pada Heru. "Apa benar?" Tanya Heru dari balik layar, tatapannya masih mengintimidasi.
"Ah, itu? Be-nar." Jawab Angga sedikit ragu-ragu seraya memegang tengkuk lehernya.
"Maafkan aku Ayah mertua, aku janji akan membelikan Ayah mertua seratus bunga mawar kalau aku berkunjung ke Indonesia." Bujuk Angga, sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Aku tidak butuh bunga mawar, lagi pula kenapa kau harus meminta maaf? Lakukanlah aku tidak akan melihat." Kata Heru biasa, seraya memutar kursi kerjanya menghadap ke belakang.
Angga tersenyum puas, ia segera melakukan apa yang ia inginkan. "Apa sudah selesai?" tanya Heru. "Sudah," sahut Angga.
Heru langsung membalikkan kursinya untuk melihat putri dan menantunya. Tapi saat berbalik ia justru melihat Angga masih memperdalam ciumannya. "Bocah sialan!" Umpat Heru murka karena ternyata Angga membohonginya. Pemuda itu masih menempelkan bibirnya di bibir Keisha.
"Maaf Ayah mertua aku kelepasan," jawab Angga polos setelah selesai melakukannya, hingga membuat Heru memanas sampai ke ubun-ubun.
"Saat cucuku lahir nanti! Aku akan ke Kanada dan memberimu pelajaran...!!" Ancam Heru yang justru di balasi tawa oleh Angga.
__ADS_1
"Hahaha..., Aku menantikannya Ayah." Jawab Angga tanpa dosa.
"Aw.., sakit sayang!" Protes Angga saat Keisha langsung menarik daun telinganya hingga ia mengaduh kesakitan. Heru tertawa puas melihatnya, hukuman putrinya sudah cukup mewakilinya.