
~Langkah-langkah manusia yang terasa berat adalah saat mereka mulai menjalani kehidupan mereka~
Dua puluh satu hari telah berlalu sejak pernikahan Keisha dan Angga. Selama kurun waktu tiga minggu itu telah terjadi berbagai macam peristiwa yang memenuhi kehidupan mereka berdua baik kunjungan Tuan Sebastian, aksi jahil Angga yang tiada hentinya mengerjai Keisha, serta bertamunya Heru ke rumah mereka hanya untuk sekedar melihat putrinya, dan kegiatan baru Romi yang sekarang suka memelihara kelinci karena tidak ada hal besar yang harus dilakukan pria itu setiap hari, kecuali menjaga rumah saat kedua majikannya pergi.
Masa libur Keisha dan Angga juga selesai, mereka harus kembali ke aktivitasnya di kantor sementara Angga mulai terjun di dunia permodelan karena tuntutan kontrak dengan agensi Flow X. Entertainment Industry milik Nona Anggie Nicolin. Ya, pemuda itu telah dinyatakan lulus sidang skripsi satu pekan yang lalu dan telah menamatkan studinya di pendidikan fotografi. Sekarang statusnya sedang dalam masa transisi menuju manusia dewasa seutuhnya bukan mahasiswa yang duduk di bangku perkuliahan.
Kini Angga sedang melakukan pemotretan dengan fotografer kepercayaan Nona Anggie Nicolin. Dalam pemotretan perdananya pemuda itu menjadi model untuk pakaian kasual dan santai dari desainer ternama di kota itu. Mendapatkan brand pakaian untuk Angga bisa dibilang cukup mudah, karena banyak perusahaan fashion yang meminta jasanya sebab wajah dan tubuh atletisnya yang mendukung.
“Kita ambil tiga foto lagi, ini yang terakhir,” ujar sang fotografer, Tuan Jeremy.
Setelah pengambilan scene terakhir, Angga dapat beristirahat dengan tenang. Hari ini begitu melelahkan untukya, dia telah mengambil foto untuk tiga brand fashion sekaligus. Tentu ini adalah permintaan Nona Anggie yang terus memaksanya beberapa hari terakhir, karena biasanya dirinya hanya akan melakukan pengambilan foto hanya untuk satu model pakaian dalam satu hari tapi kali ini langsung tiga sekaligus.
“Kerja bagus sayang, sekarang kamu bisa istirahat,” puji Nona Anggie pada Angga. Pemuda itu hanya memasang wajah datar tidak ada senyuman dalam dirinya. Dia benar-benar merasa dimanfaatkan oleh perempuan di hadapannya ini untuk kepentingan bisnisnya.
“Bolehkah aku pulang sekarang?” Angga memainkan ponselnya dan mengetikkan pesan teks untuk istrinya bahwa dia akan menjemputnya karena pekerjaannya telah selesai.
“Tentu saja, kamu bebas sekarang,” tutur Nona Anggie dengan senyum ramah.
Semenjak Angga masuk dalam agensinya keuntungan yang diperoleh perusahaannya meningkat sepuluh persen padahal pemuda itu baru bekerja bersamanya selama satu minggu.
Tanpa membuang waktu Angga langsung berganti pakaian dengan blazer dan kaosnya tadi, pemuda itu berpamitan pada staf lain dan segera meninggalkan kantor itu untuk menjemput Keisha di kantornya.
“Bagaimana hasilnya?” Tanya Nona Anggie pada Jeremy setelah Angga pergi.
“Sangat memuaskan,” puji Jeremy bangga pada foto-foto Angga yang ada di kameranya. Dia memberikannya pada Nona Anggie untuk melihatnya sendiri, perempuan itu tersenyum puas
“Bagus tidak sia-sia aku kehilangan modal di awal, karena pemuda ini menghasilkan jauh lebih banyak uang,” batin Nona Anggie senang. Perempuan itu telah mengalami kerugian waktu awal-awal Angga menjadi modelnya saat pemuda itu terlibat hubungan dengan Keisha Prawijaya putri Tuan Heru.
Namun, itu tidak berpengaruh sekarang karena ternyata Angga memberikan keuntungan jauh dari ekspetasinya. Citranya sebagai menantu dari pengusaha properti ternama di negeri ini, dan suami dari pemilik Jewelry Group justru meningkatkan popularitasnya di dunia permodelan.
Sayang, aku sudah sampai.
Istriku Tercinta.
Satu pesan lagi berhasil dikirim oleh Angga, pemuda itu telah sampai di perusahaan Keisha. Dia menepikan mobilnya di tempat parkiran dan berjalan masuk ke gedung tinggi itu. Sekarang dia memiliki kebebasan untuk masuk ke sana, tanpa harus dihalangi oleh penjaga keamanan dan Nona penjaga resepsionis.
__ADS_1
“Selamat sore Tuan Angga,” sapa Pak Hasan selaku kepala penjaga keamanan di sana.
“Sore juga Pak. Omong-omong saya senang melihat gaya baru rambut Bapak, jadi terlihat lebih muda,” kata Angga sembari tersenyum jahil. Lelaki paruh baya di depannya kini benar-benar telah mencukur habis rambutnya tanpa sisa sehelai pun, sesuai dengan janjinya dulu.
“Ah terimakasih atas pujiannya,” jawab Pak Hasan cepat agar pemuda itu bergegas pergi dari hadapannya atau dia akan menertawakannya habis-habisan.
“Segeralah pergi Nak, dirimu membawa ketidak beruntungan untukku,” batin Pak Hasan penuh harap.
“Kalau begitu saya masuk dulu, istri saya sudah menunggu,” ucap Angga bangga. Pemuda itu merasa puas karena telah membuat security itu mati kutu di depannya, lelaki paruh baya itu dulu selalu mencegahnya menemui Keisha dan bahkan sempat meremehkannya kalau dia tidak akan bisa bersanding dengan bosnya.
Angga memasuki kantor itu dengan senyum lebar di bibirnya, pemuda itu menikmati kebebasannya sekarang. Saat dia tiba di meja resepsionis, Mita Nona penjaga resepsionis yang juga turut serta mempersulit dirinya dulu sekarang bersikap sedikit ramah dengannya.
“Sore Nona,” sapa Angga.
“Bu Keisha ada di lantai lima Tuan, beliau masih menghadiri rapat dewan direksi,” tutur Mita tanpa basa-basi.
“Terimakasih atas informasinya,” kata Angga dengan senyum manis.
Saat Angga berjalan ke arah lift untuk menuju lantai lima, dia membalikkan badannya sesaat dan menghadap ke arah perempuan tadi.
“Tidak Tuan, saya sudah cukup dengan gaji saya. Anda tidak perlu berbaik hati,” bantah Mita tidak senang.
“Bagaimana bisa Bu Keisha menikah dengan pemuda itu? Dia sungguh menyebalkan,” gerutu Mita dalam hati.
“Baiklah, kalau begitu. Pertahankan kinerja Anda Nona,” timpal Angga lagi sembari masuk ke dalam lift dan menekan angka lima.
Di dalam lift pemuda itu tidak henti-hentinya tertawa, dia selalu saja senang datang ke kantor ini dan sesekali bersikap jahil pada para staf yang sempat menjadi musuh bebuyutannya dulu. Namun meski begitu, dia masih pada batas wajar dan tidak bertindak berlebihan mengingat mereka juga bekerja di perusahaan milik istrinya dan membantu mengembangkan perusahaan tersebut.
Setelah sampai di lantai lima Angga duduk di sofa tunggu luar ruangan, selang tiga puluh menit para pria berjas rapi lengkap dengan dasinya keluar dari ruangan transparan dengan kaca buram itu secara bergantian, mereka adalah dewan direksi pemilik saham di perusahaan ini. Bersamaan dengan itu, Keisha beserta Ferdian dan Fina juga terlihat meninggalkan ruangan itu. Melihat wajah istrinya, Angga langsung memasang senyum hangat dan menghampirinya.
“Sayang,” sapa Angga terlebih dahulu.
“Apa kamu sudah lama menungguku?” Tanya Keisha sembari menggandeng tangan Angga.
“Tidak, aku baru saja sampai,” jawab Angga dengan senyum manis untuk menutupi kebohongannya kalau sebenarnya dia sudah datang cukup lama, pemuda itu tidak ingin membuat istrinya merasa bersalah.
__ADS_1
“Fin nanti kamu kirim laporannya padaku lewat e-mail saja, aku akan pulang dulu bersama Angga.” Keisha memberikan map kerjanya pada Fina dan mengambil tas kerjanya di ruang direktur sesaat setelah itu dirinya pulang bersama suaminya.
Ferdian yang melihat sikap lembut Keisha pada pemuda itu hanya bisa menggelengkan kepalanya kecil, dia tidak menyangka kalau perempuan yang gila kerja seperti sahabatnya itu sekarang dapat meninggalkan pekerjaannya dengan mudah untuk orang lain.
Pemuda itu sudah benar-benar memenangkan hati Keisha, perempuan yang terkenal hidup dan matinya untuk perusahaan dan sering bekerja lembur sampai larut malam hingga melupakan kehidupan pribadinya dulu.
“Sayang apa kamu sudah makan?” Tanya Angga perhatian.
“Tadi siang aku sudah makan,” jawab Keisha pelan sembari melihat Angga menyetir mobil.
Sepuluh menit lalu mereka telah meninggalkan perusahaan dan sekarang dalam perjalanan pulang.
“Kalau begitu , kita cari makan dulu. Aku tidak ingin istriku ini kelaparan karena suaminya tidak memberikannya makan hahaha,” jawab Angga dengan terkekeh kecil dan menyentuh pipi Keisha.
“Suamiku ini sudah memberiku makan setiap pagi dengan senyumnya yang manis,” ujar Keisha sembari menarik hidung Angga yang mancung.
“Hahaha.., karena aku terlalu tampan,” tawa Angga lepas dan berbalik mencubit hidung Keisha seperti yang dilakukannya pada Meli kecil keponakannya.
Mereka berdua tertawa di dalam mobil, sekarang Keisha sudah mulai terbiasa dengan sikap Angga padanya. Pemuda itu selalu bisa membuatnya tersenyum.
“Kevin,” ucap Keisha dengan sendirinya saat melihat adik iparnya itu baru saja keluar dari restoran dalam keadaan marah dan membanting daun pintu restoran tersebut. Angga pun juga ikut menoleh saat mendengar Keisha menyebut nama suami adik iparnya, Helen.
_______^_^________
MOHON MAAF
Pembaca Setia My Old Wife🙏🙏
Karena kemarin saya gak bisa Up sebab badan saya kurang sehat...
Sebagai permintaan maaf nanti saya akan up lagi.., mohon ditunggu dengan sabar yaa😊😊
Salam sayang
~As-Sana~
__ADS_1