My Old Wife

My Old Wife
Konser Jalanan


__ADS_3

~Terkadang musik dapat memberimu ketenangan disaat pikiranmu berantakan~


Keesokan paginya Keisha segera menggunakan alat penguji kehamilan yang ia beli kemarin bersama Romi. Dirinya begitu gugup untuk masuk ke kamar mandi mengambil benda  pipih tersebut.


Dua buah test pack sudah ada di tangannya. Dengan perasaan campur aduk Keisha menatap hasil pengukuran dari alat itu, matanya yang tadi sudah menerawang penuh harap langsung menjadi sendu saat melihat hanya ada satu garis pada kedua benda tersebut. 


Keisha menarik napas panjang, kakinya terasa berat untuk hanya sekedar berdiri.  Ia membuang test pack itu ke tempat sampah, kemudian perempuan itu berjalan ke tempat tidurnya.


Dia membaringkan tubuhnya lemah seraya melihat ke arah foto pernikahan dirinya dengan  Angga yang tergantung di dinding kamar. Wajah pemuda itu tampak begitu berseri-seri dan mempesona dengan setelan jas formalnya.


“Maafkan aku karena membuatmu tidak bisa menjadi seorang Ayah dari darah dagingmu sendiri Angga. Aku sungguh minta maaf,” ucap Keisha lirih, tangannya menutup kedua matanya  mencoba mengingat kembali memori saat Angga melamarnya di rumah sakit. Ia menjadi merasa bersalah karena telah membuat pemuda itu berjuang terlalu keras hanya untuk seorang perempuan tidak sempurna seperti dirinya. 


“Kamu terlalu sempurna untukku Angga,” kata Keisha lagi. Setetes air bening keluar dari sudut matanya, entah kenapa bola matanya terasa perih sekarang. Perempuan itu mulai berpikir tentang hari tua mereka, jika ia benar-benar tidak bisa memberikan seorang anak untuk suaminya, akankah  suaminya tetap bahagia? 


Meski  pemuda itu tidak pernah menuntut apa pun padanya. Tapi tetap saja, Keisha merasa bersalah akan hal itu. Sekarang usia pernikahannya sudah tiga setengah tahun  dan semuanya masih baik-baik saja. 


Akan tetapi puluhan tahun kedepan, ketika usia mereka sudah tidak muda lagi. Keisha tidak mungkin membiarkan Angga kesepian tanpa kehadiran seorang anak. Karena dia tidak tahu, apakah dia bisa menemani pemuda itu untuk selamanya? Atau justru meninggalkan pemuda itu terlebih dahulu?


Mengingat akan hal itu, membuat pikiran Keisha semakin kacau. Ia mengusap wajahnya kasar dan menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan-lahan untuk menenangkan pikiranya. 


Sebuah notifikasi pesan masuk berhasil menyadarkan dia  dari lamunannya barusan. Keisha mendudukkan dirinya di tepi ranjang, kemudian ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Tatapannya jauh lebih hidup saat membaca pesan singkat itu. 


Selamat pagi sayang, jangan lupa untuk menghabiskan sarapanmu dan meminum vitaminmu tepat waktu. Aku akan mengawasimu dari sini. 


Aku mencintaimu. 


Suamimu yang tampan, Angga. 


Keisha segera mengetik pesan balasan , kemudian ia mengirimkan pesan itu pada Angga. Tidak lupa ia juga mengatakan kata-kata manis untuk pemuda itu, agar hatinya merasa senang.


 Beberapa menit kemudian sebuah panggilan video call masuk. Angga menghubunginya. Keisha membenarkan penampilannya sebentar, dan membasuh bekas air mata di pipinya. Baru setelahnya ia menjawab panggilan video dari pemuda itu dan mulai menyalakan  kameranya. 


“Sayang aku merindukanmu,” ucap Angga yang terdengar antusias di layar kamera. Pemuda itu sedang membenarkan kerah kemeja dan dasinya, rambutnya sudah di sisir rapi. Tampak jelas bahwa ia akan berangkat ke kantor. 


“Aku juga,” kata Keisha sembari tersenyum tulus. Dia merubah posisi ponselnya  menjadi horizontal untuk melihat keadaan ruangan suaminya lebih jelas. 


Terlihat rak buku besar penuh dengan buku tebal disamping almari, kemudian  sebuah sofa kecil lengkap dengan meja bundar berada di sudut kanan ruangan itu. Dalam sekali lihat Keisha tahu bahwa sofa dan meja itu adalah tempat kerja  Angga di kamarnya karena masih ada laptop yang menyala di sana. 


“Apa Jemy tidak bersamamu?” Tanya Keisha saat menyadari kedaan kamar Angga  yang sepi. Karena biasanya Jemy akan selalu ada bersama pemuda itu. Angga mengernyitkan alisnya tidak suka saat mendengar istrinya lebih memilih menanyakan Jemy daripada kabar dirinya. 

__ADS_1


“Dia berada di bawah bersama Ayah dan Kakek,” jawab Angga terdengar sedikit ketus. Keisha yang mengetahui bahwa suaminya mulai cemburu pun tidak dapat menahan senyum. 


“Angga, aku menanyakan Jemy hanya karena aku khawatir padamu. Aku takut jika Jemy tidak ada, tidak akan ada yang menggantikanku mengurusmu di sana.” Mata Angga tampak berbinar mendengar jawaban Keisha, pemuda itu kemudian mengembangkan senyum lebar hingga giginya yang putih tampak dengan jelas. 


“Jadi kamu khawatir padaku?” Tanya Angga lagi memastikan, ia mendudukkan dirinya di sofa  mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol dengan istrinya. Keisha mengangguk sebagai jawaban. Angga semakin melebarkan senyumnya. 


“Tuan Muda, Tuan Wilson dan Tuan Sebastian sudah memanggil anda,” tutur Jemy yang langsung masuk ke dalam kamar Angga tanpa mengetuk daun pintu terlebih dahulu. Angga menatap tajam ke arah Jemy dengan tatapan mematikan. 


“Tidak bisakah kamu lihat, bahwa aku sedang sibuk?” Kesal Angga karena merasa terganggu oleh Jemy. Belum sempat ia bermesraan dengan istrinya, tapi Jemy sudah menyuruhnya  untuk turun. 


“Angga pergilah ke kantor,  Ayah dan Kakek sudah menunggu. Tidak baik membuat yang lebih tua menunggu terlalu lama,” nasihat Keisha pada Angga. Raut wajah Angga terlihat kecewa setelah mendengar ucapan istrinya. 


“Baiklah sayang, aku tutup telponnya.  Aku mencintaimu,” tutup Angga mengakhiri panggilan videonya dengan Keisha. Perempuan itu melambaikan tangan pada Angga dan mengangguk sekilas. 


Setelah panggilan video dimatikan Keisha menarik napas dalam, bersyukur karena Angga tidak menyadari bekas air mata di pipinya. Jika pemuda itu mengetahuinya, entah apa yang akan dilakukan Angga mengingat sifatnya yang demikian. 


Sore harinya Keisha menemui Peter di taman kota seperti janjinya tempo hari. Dia ditemani oleh Romi dan Lianda. Kedua orang itu sempat berdebat sebelum pergi kemari. 


“Kenapa kau harus ikut?” Tanya Romi pada Lianda yang duduk disampingnya di kursi penonton. Lianda hanya memandang Romi malas dan memperhatikan orang-orang yang mulai berdatangan dan mulai berkerumun. 


“Bukan urusanmu,” jawab Lianda ketus. Romi menatap Lianda jengah, kemudian ia mulai melihat keadaan sekelilingnya yang sudah penuh dengan lautan manusia.


Romi berniat menghentikan Keisha keluar rumah sore itu, tapi dia gagal karena  perempuan yang duduk disampingnya ini mengacaukannya. Sungguh Lianda hanya membawa masalah untuknya. 


Kondisi taman kota di Ottawa sudah dipenuhi pengunjung, mereka mulai duduk dibangku memanjang yang memang disediakan untuk melihat konser. Tidak jarang mobil-mobil yang berlalu lalang dijalanan juga ikut menepi untuk melihat pertunjukkan yang akan dimulai.  


Anggota orkesta  mulai memasuki panggung kecil di tengah taman, mereka memegang alat musik mereka masing-masing. Dari jumlah anggota yang ada pada grup mereka dapat diketahui bahwa mereka hanya kelompok orkesta kecil, karena pada regu orkesta yang sebenarnya akan terdapat 100 orang anggota, tapi di regu mereka hanya terdapat 30 orang termasuk konduktor. 


Mata Keisha menelisik setiap orang yang ada di panggung itu, dan pandanganya jatuh pada bocah berusia 10 tahun yang memegang alat musik piano di sana. Tubuh mungilnya yang kecil tampak berjinjit saat menaiki kursi tinggi yang dikhususkan untuk seorang pianis. Ketika konduktor mulai menggerakkan tongkatnya, semua orang mulai memainkan alat musik yang mereka pegang. 


Tidak terkecuali Peter, bocah itu tampak antusias menekan tuts demi tuts pianonya. Nada harmoni yang mendayu-dayu mulai terdengar ditelinga, suaranya begitu tenang mampu menghilangkan rasa duka semua orang. Bunyi dari alat musik woodwind, brass, dan perkusi mulai bersahutan. Mengalun indah membentuk suatu nada simfoni yang syahdu. 


Setelah tiga lagu dimainkan permainan mereka berhenti, semua penonton mulai bertepuk tangan dan memberikan beberapa lembar dollar di wadah yang sudah disediakan. Tidak jarang mereka juga mendekat ke arah para musisi dan meminta sebuah foto sebagai kenang-kenangan. 


“Bibi!” panggil Peter antusias. Anak itu berlari kencang ke arah Keisha hingga membuat topinya hampir terbang beberapa kali karena tertiup angin jika bukan tangannya yang memegangnya. 


Keisha memasang senyum hangat menyambut kedatangan Peter. “Bibi benar-benar datang,” ucap Peter seraya membenarkan rompinya yang sedikit berantakan.


“Tentu saja Bibi datang, Bibi harus menepati janji yang sudah Bibi buat.” Keisha berdiri dari duduknya dan membantu Peter merapikan bajunya. Peter tertawa senang menerima bantuan dari Keisha. 

__ADS_1


“Ini harga untuk roti kemarin Bibi.” Peter menyodorkan beberapa lembar uang dollar ditangan Keisha. Senyumnya mengembang menunjukkann giginya yang putih dan rata. Keisha mengusap kepala Peter, kemudian menerima uang pemberian Peter. 


“Lalu ini untuk harga lagumu,” ucap Keisha seraya menyodorkan lembaran dollar bernilai lima puluhan pada Peter. Mata Peter menatap tak percaya pada jumlah uang ditangannya yang terlalu banyak. 


“Aku tidak bisa menerimanya Bibi, bahkan ini jauh lebih banyak daripada gajiku menjadi pianis,” tolak Peter dan mengembalikan uang itu pada Keisha. Tapi perempuan itu justru memasukkan uang tersebut ke dalam saku celana Peter. 


“Ini hadiah karena kamu telah membuat kesedihanku menghilang.” Keisha mengajak Peter untuk duduk dibangku sampingnya. Romi dan Lianda sedikit bergeser memberi  ruang untuk anak itu duduk.  


“Kalau begitu aku berhutang  beberapa lagu lagi pada Bibi. Aku akan membayarnya dipertunjukanku selanjutnya.” Peter memasang senyum senang, ia mendudukkan dirinya di bangku penonton. Matanya mulai melihat dua wajah asing di samping perempuan itu. Pandangannya jatuh pada lelaki yang menatap datar dan dingin padanya. 


“Apa dia suami Bibi?” Peter menunjuk Romi dengan jari telunjuknya. Romi yang ditunjuk hanya menatap dingin pada Peter. Sungguh pria itu tidak dapat bersikap manis pada anak-anak. 


“Wajahnya benar-benar menyeramkan Bibi, seperti Tuan Voldemort.” Mendengar bocah itu menyamakan wajah Romi dengan karakter tokoh antagonis dari Harry Potter, Lianda tidak dapat menahan tawanya. 


Romi yang mengetahui karakter tokoh tersebut juga mulai membayangkan wajah  Voldemort, mengingat kepala Voldemort yang tidak ditumbuhi rambut. Membuat Romi memegangi kepalanya sendiri. Ia dapat melihat wajah Tuan Mudanya tersenyum sinis dan memegang gunting ditangannya. 


“Tidak-tidak, aku tidak mau kepalaku botak.” Ujar  Romi begitu saja, hingga membuat Lianda semakin tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya. 


“Kamu sangat pandai Nak. Bibi akan membelikanmu ice cream sebagai hadiah.” Puji Lianda sembari menepuk-nepuk bahu Peter. Romi menatap tajam ke arah Lianda, tapi perempuan itu tidak mempedulikannya. Sementara Peter tersenyum senang. 


“Dia bukan suami Bibi, Peter.” Tutur Keisha seraya mengusap kepala Peter.  “Suami Bibi sedang bekerja, dia tidak di Kanada.” Lanjut Keisha lagi. Peter Nampak berpikir sejenak, kemudian dia mengangguk mengerti. 


“Aku yakin suami Bibi pasti memiliki wajah yang ramah seperti Bibi, tidak seperti paman ini.” Tunjuk Peter lagi pada Romi. Keisha hanya tersenyum tulus membayangkan wajah Angga. Sementara Lianda menepuk bahu Romi sedikit memberi semangat. 


“Sabar teman, jika anak ini tidak menyukaimu. Aku yakin masih ada perempuan diluar sana yang menyukaimu.” Kata Lianda sedikit menghibur. Romi hanya menepis tangan rekannya tidak senang. Wajah pria itu semakin ditekuk dan terlihat masam. 


“Kamu belum tahu saja Nak, seperti apa Tuan Muda itu. Wajah Tuan Muda memang seperti pangeran, tapi hatinya seperti nenek sihir.” Batin Romi mengingat dia telah tertipu oleh sikap baik Angga diawal-awal pertemuan mereka. 


Mohon Maaf Sana baru bisa Upadate..


PENTING: Karena kegiatan kampus Sana sudah mulai aktif jadi Sana gak bisa janji Update tiap hari.. Tapi akan Sana usahakan...


Mohon pengertiannya..🙏🙏


Salam sayang As-Sana..


   


 

__ADS_1


__ADS_2