My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 7 Pria Pengantar Pizza


__ADS_3

^^^~Cinta adalah ketulusan. Di mana kau bisa tanpa syarat mencintainya. Orang yang kau sayang~^^^


-Eliot Naver-


***


“Eliot!”


Paman Gio – pemilik resto memanggilnya, pria berseragam merah kuning segera muncul dari belakang membawa lap di tangannya. Dia Eliot Naver – seorang tunawicara. “Kau bisa mengantarkan ini ‘kan?” Eliot mengangguk antusias menerima bingkisan kotak kardus cokelat berisi satu pizza toping keju mozzarella.


“Bagus, antar ini ke toko bunga ‘Anggasa Florist’. Tuan Angga tadi memesannya.” Paman Gio menepuk bahu Eliot, membuat pria bermata biru dengan rambut cokelat itu tersenyum samar mulai membersihkan bekas angus di sebagian lengan tangannya.


Dengan semangat, Eliot mengambil secarik kertas kecil di laci serta bolpoin merah kesayangannya. Ia harus terus membawa alat komunikasinya apabila hendak menemui pelanggan.


Eliot mulai menyiapkan sepeda, menuntunnya di jalur kendaraan roda dua lalu mengayuh pedalnya. Kebetulan letak toko Anggasa Florist tidak terlalu jauh, cuma beberapa meter dari restoran. Jadi ia bisa tiba di sana dengan cepat.


Saat Eliot sampai, ia disambut Jemy yang sedang menyiram bunga di halaman depan. Pria tunawicara itu membunyikan lonceng toko, menyuguhkan senyum tulus. Angga yang mendengar tanda kedatangan orang segera keluar mencari tahu siapa yang datang. Suami Keisha itu menyambut Eliot ramah.


[Ini pesanan pizza untuk Tuan Angga.]

__ADS_1


Secarik kertas dengan tulisan kalimat itu ia serahkan pada Jemy. “Terima kasih,” ucap Angga langsung mengambil kotak pizza tersebut dari tangan Eliot saat ia turut serta membaca surat kecil tadi. “Dan ini uangnya.” Angga menyodorkan beberapa lembar uang dollar bernilai puluhan. Melihat jumlah uang yang ia terima dari pelanggannya terlalu banyak Eliot buru-buru menggeleng.


[Tuan, uang Anda lebih. Saya akan menukar uangnya lebih dulu untuk kembalian.]


Kembali kertas note itu diberikan pada Angga, dari cara pria bermata biru laut ini berkomunikasi Angga sedikit berani bertanya, “Maaf, apa Anda kesulitan bicara?” Eliot mengangguk mengiyakan. Lalu ia menulis surat lagi memberikannya pada lelaki tampan berwajah Asia di depannya.


[Saya seorang tunawicara sejak lahir. Saya berharap Tuan tidak mempermasalahkan ini, karena saya yang mengantarkan pizza untuk Tuan.]


Dengan cepat Angga menggeleng, memerintahkan Jemy masuk ke dalam membawakan pizza tersebut “Tidak masalah, saya justru senang. Oh ya, untuk uang kembalian. Kau tidak perlu memikirkannya. Ambillah anggap itu bonus dariku. Dan … lain waktu aku ingin kau yang mengantarkan makanan lagi kemari.”


Menerima respon yang begitu baik, Eliot langsung menyentuh tangan Angga mengucapkan terima kasih berulang kali.


Mendengar perkataan dari pria asing ini, hati Eliot tersentuh, ia tak pernah menemui orang yang begitu baik seperti Tuan Angga. Lelaki berambut hitam legam yang dengan ramah tidak mempersoalkan keterbatasannya. Bahkan menawarkan pertemanan dengannya untuk pertama kali.


“Hei kenapa menangis? Apa aku menakutimu? Karena tiba-tiba memintamu sering berkunjung ke toko bunga istriku?”


Segera Eliot menggeleng cepat, menulis sesuatu tentang apa yang ia pikirkan.


[Tuan Angga adalah orang pertama yang mengajak saya berteman. Saya terharu, dengan senang hati saya akan sering datang kemari. Saya Eliot Naver, Tuan Angga bisa memanggil saya Eliot.]

__ADS_1


Senyum Angga terbit membaca surat tersebut, ia menepuk bahu Eliot seperti yang ia lakukan pada Romi dan Jemy. Teman? Mungkin ini bisa dibilang cukup tidak masuk akal karena mereka langsung menjalin ikatan pertemanan diawal bertemu. Tapi, melihat bagaimana Eliot bersikap ramah dengan keterbatasan yang ia miliki. Entah kenapa, Angga tertarik untuk mengenal lelaki itu lebih jauh.


Saat Angga sibuk berbicara dengan Eliot, Jemy datang dari belakang. Detik itu juga suara Hasa memanggilnya dari kejauhan. Rupanya istrinya bersama Peter telah kembali setelah mengantar pesanan bunga milik pelanggan.


“Ayah!”


“Hup… panda kecil Ayah sudah datang. Apa kau bersenang-senang dengan Ibu? Hmm.”


Melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Angga dan anak kecil berusia tiga tahunan Eliot mengulas senyum. Ia senang lelaki yang baru saja menawarinya pertemanan memiliki keluarga yang utuh, seorang anak dan istri. Setidaknya, Eliot bersyukur Angga bukan orang sepertinya yang tak beruntung.


Tak ingin menganggu momen bahagia Angga dengan Hasa, Eliot pamit. Ia menitipkan pesan pada Jemy yang berada di sampingnya untuk mengatakan terima kasih kepada Angga.


.


.


.


~Bersambung

__ADS_1


Sana mengucapkan terima kasih karena masih ada yang bersedia membaca kisah MOW S2 semoga berkenan mengikuti ceritanya sampai akhir.


__ADS_2