My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 44 Rasa yang Tumbuh III


__ADS_3

...~Disaat Keisha menangis aku yang paling terluka~...


...(Julia Fernandez)...


***


Dua buah mangkuk sup rumput laut dengan daging salmon panggang telah terhidang di meja makan keduanya. Keisha segera mengambil sendok sup menyeruputnya. Julian tersenyum tipis mulai menyantap menu hangat yang belum pernah ia cicipi.


"Setelah ini kita ke mana?" sambil memasukkan rumput laut Keisha bertanya. Wanita itu memandang Julian yang tampak lahap menikmati makanan miliknya. Mungkin remaja itu ingin memanjakan lidahnya setelah sekian lama puasa. "Makan punyaku juga, anggap saja sebagai hadiah karena kau sudah sembuh," tutur Keisha halus menyodorkan punya dia yang cuma dicicipi beberapa sendok.


Ekor mata Julian menyipit, mengembalikan mangkuk itu kepada si empunya. "Aku tidak bisa makan semuanya." Bibir Keisha ditarik ke samping melihat sikap Julian yang berpura-pura menolak. "Sudah makan saja," katanya langsung menyuapkan satu sendok ke mulut Julian.


Pantulan dari sinar lampu kuning keemasan menerpa wajah Keisha membuatnya terlihat anggun. Julian merasakan kelembutan di bibirnya, tiba-tiba pikirannya berputar pada hal yang memalukan. 'Ini seperti ciuman tidak langsung,' batin Julian mengingat sendok yang masuk ke dalam mulutnya bekas milik Keisha.


Seketika Julian terbatuk, ia terlalu berpikiran kotor. "Minum dulu, pelan-pelan," tegur Keisha memberikan segelas air putih. Remaja itu melambaikan tangan, membuat jarak dengan Keisha. Ia tersedak karena berpikir yang macam-macam.


"Lain kali jangan menyuapi orang sembarangan," tukasnya tajam.


Alis Keisha terangkat ke atas ia merasa heran, "Kenapa? Apa itu tidak enak?" hembusan napas Julian mengudara tidak mungkin ia mengatakan kalau itu seperti sebuah ciuman tidak langsung lewat perantara. Sungguh ini memalukan.


"Julian, hei apa terjadi masalah?"


Tangan Keisha melambai saat remaja itu mematung beberapa menit sedang melamun.


"Habiskan makananmu, aku tidak mau memakannya. Setelah ini kita lihat pameran," tutup Julian tegas.


Keisha cuma menghembuskan napas menyuapkan sup itu lagi ke dalam mulutnya. Ia tidak menyadari saat ini Julian mencuri-curi pandang dirinya diam-diam. Remaja itu tersenyum tipis merasa senang.

__ADS_1


Seusai mengisi perut mereka dengan sup hangat, keduanya berjalan menuju pintu gate selanjutnya. Ada beberapa lampion modern yang dipajang berwarna-warni. Para pelukis ternama berkumpul di sana mempertontonkan hasil sapuan kuas mereka.


Melihat ketertarikan Keisha pada kanvas-kanvas bergambar itu pada akhirnya Julian mengajak Keisha ikut kelas melukis dadakan. Ini biasanya dilakukan hanya untuk hiburan. Orang-orang menyebutnya menggambar kilat karena hanya sepuluh menit waktu yang diberikan.


Julian dan Keisha duduk berhadap-hadapan untuk melukis wajah masing-masing. Mereka seperti pasangan kekasih. Hanya empat tahun perbedaan usia keduanya. Keisha saat itu berusia 22 tahun sementara Julian menginjak 18 tahun.


"Tetap di posisimu, jangan banyak bergerak."


Julian menyapukan kuas catnya ke pipi Keisha, ia sedang protes sekarang. Pasalnya wanita itu terus berpindah posisi tidak menentu. Entah apa yang Keisha khawatirkan.


Namun, setelah ditegur Keisha bukannya diam ia justru menundukkan kepala menutupi wajahnya.


"Kenapa kau terus bergerak? Aku tidak bisa melukismu," sontak Julian bangkit menggenggam pergelangan tangan Keisha membuat wajah Keisha terpaksa mendongak.


"Maaf, aku menangis," tutur Keisha dengan mata sayu yang sendu. Julian tertegun, ia membuat kesalahan. Dengan cepat ia melepaskan pegangan dari Keisha. Mendudukkan dirinya kembali dengan perasaan penuh penyesalan.


Dari balik kanvas itu Julian memperhatikan bagaimana air mata Keisha mengalir tanpa diminta. Sangat menyakitkan untuk dilihat.


Sebuah sapu tangan disodorkan pada Keisha, wanita itu meraihnya lalu tersenyum manis. "Kau sangat peduli pada perempuan Julian. Aku yakin kau akan memperlakukan kekasihmu dengan baik," komentarnya tulus menggunakan sapu tangan milik Julian.


"Aku tidak butuh kekasih."


Gerakan Keisha terhenti, ia memandang remaja di depannya. "Tapi suatu saat kau pasti mempunyai perempuan yang kau sukai benar 'kan?"


Bibir Julian ditarik ke samping tersenyum hambar. 'Dan kau wanita itu Keisha, istriku di masa depan,' jawabnya dalam hati.


"Sudah merasa lega?" Keisha mengangguk berterima kasih. "Apa kau menangis untuk kekasihmu?" dengan jantung berdebar Julian menanyakannya. Ia menatap Keisha menunggu jawaban. Namun, begitu lama tidak ada suara dari perempuan itu cuma senyum yang dipaksakan.

__ADS_1


"Hanya untuk orang tidak penting, aku berdoa agar adikku bahagia."


Tanpa banyak bicara, Julian menebak mungkin wanita ini sakit di atas kebahagiaan orang lain. "Lupakan saja lelaki itu, dia bukan pria beruntung karena menyia-nyiakan dirimu. Orang sepertinya tidak pantas mendapatkan cinta."


Malam itu perkataan Julian secara tidak sadar menghapus perlahan perasaan Keisha untuk Kevin. Sahabat dan teman yang sempat ia cintai. Tadi beberapa menit lalu, Helen mengirimkan foto tentang bulan madunya bersama Kevin. Senyum dari pasangan itu cukup membuat hati Keisha teriris.


"Julian. Terima kasih banyak, kau menolongku."


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Yang mungkin rindu tulisan Sana bisa mampir ke novel Sana di apk kuning.


1) Married Miss Presdir


2) Please Love My Mom

__ADS_1


3) Suamiku Tunanetra.


Ketik saja judul ketiga novel itu untuk mencari Sana di sebelah. Salam sayang As-Sana.


__ADS_2