My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 5 Sweet Home


__ADS_3

^^^~Bagiku Istriku adalah harta yang paling berharga. Emas, intan, dan permata tak sebanding dengannya ~^^^


Angga Wilson Andreas


***


Tepat pada pukul 11.00 pm waktu Kanada, mobil Angga memasuki pekarangan. Di sampingnya Keisha dan Hasa tengah tertidur pulas, mereka memeluk satu sama lain. Jemy datang dari depan menyambutnya, lelaki yang selalu berpenampilan rapi meski usianya tidak muda lagi menawarkan Angga bantuan untuk memarkirkan mobilnya di garasi.


“Nona Keisha dan Tuan kecil tertidur.”


Jemy dapat menangkap bayangan ibu dan anak yang saling berpelukan di samping kursi kemudi saat cucu almarhum tuannya membuka kaca jendela mobil.


Senyum tersemat di bibir Angga, pria itu melepaskan sabuk pengaman mengambil si kecil hati-hati agar dia tidak terbangun. “Biar saya yang bawa Tuan Kecil, Tuan Angga bawa Nona Keisha saja,” tawar Jemy mencoba mengambil alih Hasa dari gendongan ayahnya.


“Terima kasih Jemy.”


Perlahan Angga menaruh Hasa dalam dekapan Jemy, menepuk punggungnya pelan agar merasa nyaman. Anak itu menggeliat sebentar sebelum tenang kembali. Setelah Jemy membawa masuk putranya ke dalam, giliran Angga yang perlahan mengangkat tubuh istrinya sepelan mungkin supaya wanita bersweter hangat itu tidak terusik dalam mimpinya.


Dengan begitu hati-hati Angga menggendong tubuh Keisha, meletakkan kepala perempuan tersebut di dadanya. Lantas meminta bantuan Pak Samm untuk mengurus mobil dan membukakan pintu rumah mereka.


‘Nyonya benar-benar seperti putri tidur sekarang.’


Sesampainya di dalam Bibi Elin datang mengikuti Angga, wanita paruh baya itu mengekori majikannya menaiki tangga menuju lantai dua. Bibi Elin membukakan kamar lalu mengatur bantal dan selimut sesaat sebelum Angga membaringkan tubuh Keisha perlahan.


“Tuan, biar saya yang mengurus Ibu.”


“Tidak apa-apa Bibi, saya yang akan mengurus Ibu. Bibi bisa istirahat terlebih dahulu.”


Bibi Elin tersenyum, berpamitan keluar. Dia meninggalkan Angga yang mulai melepas sepatu Keisha serta kaus kakinya, lelaki itu juga menyelimuti istrinya dengan benar menyalakan penghangat ruangan. Bibi Elin yang melihatnya merasa senang, perempuan itu tahu tuannya memiliki cinta yang besar untuk ibu.


Tidak berselang lama Jemy datang, lelaki yang sedikit beruban itu berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Tuan Angga, bisa langsung beristirahat. Saya sudah mengganti pakain Tuan Kecil dan memastikan ia tidur dengan nyaman.”


“Jemy, kau punya gaya rambut baru. Aku menyukainya,” kekeh Angga memperhatikan orang kepercayaan sang kakek yang sekarang memotong rambutnya lebih pendek dari biasanya.


“Anda tidak perlu memujinya. Tuan Kecil yang terpaksa membuat saya melakukan ini.”


Angga mengambil kaus polos yang nyaman untuk tidur, pria itu melirik Jemy yang hendak pergi. “Itu cocok untukmu, Hasa juga tidak akan bisa menjambak rambutmu kalau seperti itu.” Jemy mengurungkan niatnya, ia berbalik membungkuk sebentar. “Semoga Tuan Kecil cepat besar, agar Tuan Angga juga merasakan apa yang saya rasakan.”


Angga tertawa, rupanya Jemy ingin membalas ucapannya. “Baiklah-baiklah semoga doamu terkabul. Selamat malam.”


Seusai menggoda Jemy, pria berparas rupawan itu merebahkan dirinya di samping sang istri. Beberapa menit berlalu dia tak bisa memejamkan mata. Entah kenapa pikirannya cukup terganggu dengan sesuatu, yang Angga sendiri tidak tahu apa itu. Ekor mata Angga melirik pada Keisha, bibirnya tersenyum tipis menyaksikan wanita yang ia cintai tertidur begitu lelap.


Dengan hati-hati Angga mendekat, memperhatikan wajah Keisha secara diam-diam. Ia bisa melihat bulu mata lentik, tahi lalat di sudut mata, kulit yang bersih dan terawat meskipun tanpa memakai make up. Kecantikan sederhana yang selalu membuat Angga berdebar setiap saat.


‘Meski orang bilang Nyonya wanita yang membosankan, tapi bagiku Nyonya memiliki daya tarik tersendiri. Tidak hanya cantik, Nyonya juga memiliki hati yang baik. Terima kasih karena saat itu Nyonya menolongku dan Ibu.'


“Selamat malam, semoga mimpi yang indah.”


***


Enam hari berlalu, akhirnya masa hukuman yang diberikan Keisha akan berakhir. Tinggal menunggu beberapa jam lagi saat ia tiba di rumah. Di sini tepat di ruangan meeting dewan direksi, tak henti-hentinya Angga menyunggingkan senyum.


Ia selalu melihat jam di pergelangan tangan menanti waktu jam pulang kerja. Laki-laki itu tak memperhatikan semua orang yang sedang mempresentasikan tentang perkembangan perusahaan selama tiga bulan ini.


“Tuan Angga, bagaimana menurut Anda?”


Lelaki yang dipanggil masih asik memangku tangan, melihat ke depan dengan senyum konyol yang Romi tahu apa artinya itu.


“Tuan Angga, apa perlu kita mengganti metode pemasaran? Atau kita tetap menggunakan metode yang sudah kita pakai saat ini?"


Tak ada jawaban, Angga masih setia menatap kosong ke depan memainkan dagunya. Romi yang duduk di samping tuan mudanya sudah tidak tahan. Suami Lianda tersebut tahu benar siapa sekarang yang bersemayam dalam benak Angga. Enggan membuat keributan, Romi menyikut lengan Angga sekilas memberinya kode kalau mereka sedang melakukan meeting penting.

__ADS_1


“Tuan Muda, bisakah Anda konsentrasi sebentar saja. Kita sedang dalam rapat,” bisik Romi halus akan tetapi nasihat Romi cuma dianggap angin lalu bagi Angga. “Ah Nyonya,” gumam tuan mudanya pelan tanpa sadar memangku tangan.


Tentu saja Romi mendengarnya, luar biasa tebakan Romi benar. Putra Tuan Sebastian tersebut tengah memikirkan nona Keisha sekarang. Tidak ingin membuat Angga malu lebih jauh lagi, Romi menyudahi acara meeting. Lelaki itu bilang rapat akan ditunda sampai besok pagi.


“Tuan Muda.”


“Iya Nyonya?”


Tangan Romi langsung menepuk jidatnya frustasi, beruntung semua karyawan dan para pemegang saham telah keluar dari ruangan itu. Hanya tersisa dia dan Angga yang berada di sana.


“Luar biasa! Anda memikirkan Nona Keisha saat kita sedang rapat.”


Bukannya marah Angga justru tertawa memajukan wajahnya membisikkan sesuatu pada orang yang dipercaya menjadi tangan kanannya, “Romi, bisakah aku pulang sekarang?”


Melihat senyum lebar Angga yang tak menyurut melunakkan hati Romi yang sebenarnya enggan memberikan izin pulang Angga lebih awal. “Pulang-pulanglah, ini perusahaan Kakek Anda. Saya tidak punya hak untuk melarang.”


Segera Angga berdiri merapikan kemejanya, pria itu bergegas keluar dari ruangan menuju tempat kerja pribadinya. Dalam sekali tebak Romi tahu, ayahnya Hasa ini hanya akan men gambil tas kerja lalu meninggalkan kantor dengan suka cita.


“Penyakit aneh Tuan Muda kembali lagi, dia sudah tidak waras.”


Romi mengenang bagaimana tingkah konyol Angga yang selalu bertindak bodoh di hadapan Keisha dulu, sampai sekarang hal itu pun tidak berubah bahkan semakin parah.


Tuan mudanya akan kehilangan akal sehatnya saat memikirkan nona Keisha. Padahal mereka tidak berpisah jauh, cuma beberapa kilo meter dan sepuluh jam dalam sehari. Namun, Angga tetap tidak bisa ditahan lebih lama di kantor. Ia akan selalu membujuk Romi untuk membiarkannya pulang terlebih dahulu.


"Mungkin lain waktu aku harus meminta Jemy ke kantor untuk membantuku," ucapnya merapikan beberapa berkas dokumen yang akan mereka gunakan untuk meeting besok pagi.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2