My Old Wife

My Old Wife
Semuanya telah Diketahui


__ADS_3

~Tidak ada rahasia di kehidupan  ini yang akan tetap tersimpan selamanya~ 


Keisha menggulir layar ponselnya ke sebuah kotak pesan, masih belum ada juga balasan dari Ferdian terkait berkas laporan perusahaan yang ia minta kemarin. Setengah jam yang lalu, Keisha baru saja melakukan panggilan video dengan sauminya Angga. Ia bermaksud mengurus masalah perusahaannya sebelum Angga pulang, agar pemuda itu tidak merasa khawatir padanya. 


Namun, sampai sekarang Keisha bahkan belum mendapatkan berita apa pun dari Rafi maupun Ferdian, seolah-olah kedua orang itu memang sengaja mengabaikan pesannya. 


Pada akhirnya, Keisha menghubungi Fina untuk mencari informasi tentang perusahaannya. Tapi sayang sepertinya sekertarisnya itu juga bekerjamasa dengan Ferdian dan Rafi untuk menyembunyikan sesuatu darinya. 


Hingga hanya tersisa satu pilihan yaitu Helen adiknya. Mungkin dia dapat memperoleh informasi sedikit dari Helen. Ya, sejak Helen dan Kevin resmi bercerai lima bulan yang lalu. Perempuan itu mulai terjun ke dalam dunia pekerjaan. Helen melamar menjadi salah satu karyawan di perusahaan Keisha, di bagian devisi pemasaran. 


“Kakak,” sapa Helen antusias dari balik telepon saat mengetahui Keisha yang memanggilnya. 


“Bagaimana kabarmu dan Inara?” Tanya Keisha menanyakan kabar keponakannya Inara yang kini sudah berusia kurang lebih enam belas bulan. Ketika kandungan Helen berusia sembilan bulan dia dan Angga pergi ke Kanada. Sehingga saat Helen melahirkan dia tidak ada di sana untuk menemani adiknya. 


“Inara baik-baik saja, sekarang dia sudah mulai mengoceh. Bahkan tadi pagi sebelum aku berangkat ke kantor dia memanggilku ‘Mama’. Anak itu sangat aktif sekali.” Kata Helen sembari terkekeh kecil. Keisha hanya tersenyum senang mendengar kabar adik dan keponakannya baik-baik saja. 


“Kevin?” Keisha mencoba menanyakan kabar sahabatnya itu, pasalnya sehari sebelum dia dan Helen resmi bercerai pria itu sempat menghubunginya. Terdengar jelas nada sedih dari Kevin saat itu. 


Tidak ada jawaban dari Helen, hanya dengungan ponsel sesaat. Dapat dipastikan bahwa Helen cukup enggan untuk menjawabnya. 


“Kak Kevin baik, di akhir pekan dia datang ke rumah untuk bermain dengan Inara.” Jawab Helen dengan nada sedikit bergetar. Terlukis jelas kepedihan di kata-katanya. 


 “Bagaimana dengan Ayah dan Ibu? Apa mereka baik-baik saja?” Ucap Keisha cepat-cepat untuk mengalihkan perhatian Helen pada topik Kevin tadi. 

__ADS_1


“Mereka berdua baik, semenjak Inara lahir. Ayah semakin sering berada di rumah, Ibu juga menjadi cerewet karena Inara sangat nakal.” Tutur Helen sedikit antusias. Keisha pun tersenyum mendengarnya. 


“Oh ya Kak, ada apa menelponku?” Keisha hampir lupa tujuan awalnya menghubungi adiknya jika bukan perempuan itu yang menanyakan hal tersebut. 


“Helen bisa kau kirim laporan penjualan dan pemasukan bulan terakhir? Kakak membutuhkannya.” Hening sejenak, tampaknya Helen juga berniat sama, tidak mau memberikan berkas yang ia minta. 


“Helen, kirimkan saja berkasnya. Kakak sudah tahu jika terjadi sesuatu di perusahaan.” 


“Baik Kak,” ucap Helen terdengar berat. 


“Terimakasih.” 


Kemudian Keisha segera mengakhiri panggilannya dengan Helen. Tidak berselang lama berkas yang ia minta masuk ke e-mailnya. Perempuan itu segera mengunduh file tersebut dan memindahkannya ke laptop untuk mengeceknya. 


Ketika matanya mulai menelisik data-data statistik yang ia baca, dapat dipastikan bahwa perusahaannya benar-benar dalam masa krisis, investasi menurun, para pemasok bahan untuk pembuatan rancangan perhiasana seperti perak, emas, intan, dan berlian hampir semuanya menarik kontrak kerjanya. Kemudian hal yang paling mengejutkan adalah penjualan yang menurun drastis padahal mereka telah mengeluarkan  rancangan perhiasan baru dengan harga yang standar. 


“Lian, bisa kau temani aku pulang ke Indonesia?” 


Sementara itu kini Angga dan Romi sedang berada di kafe untuk menemui Tuan Wilson. Lima belas menit yang lalu mereka baru tiba di Ottawa. Sebelum mereka tiba di rumah, Tuan Wilson menghubungi Angga agar cucunya itu mau bertemu dengannya.


“Katakan, ada urusan apa Kakek menemuiku?” Angga tersenyum manis ke arah Tuan Wilson seraya menyesap milk coffee yang ia pesan beberapa menit yang lalu. Tuan Wilson hanya menatap Angga datar tanpa ada senyum sedikitpun di bibirnya.


“Berhentilah melawanku, maka aku akan memaafkanmu.” Tutur Tuan Wilson singkat, matanya menatap tajam ke arah Angga. Namun, orang yang ditatap hanya bersikap biasa saja. Berbeda dengan Romi dan Jemy yang sudah menahan napas karena merasa takut. 

__ADS_1


Angga tidak segera menjawab perintah dari Kakeknya, ia justru asik menikmati minuman yang ada di tangannya. Melihat tingkah dari cucunya yang mengabaikannya membuat Tuan Wilson semakin mengatupkan rahangnya karena marah. 


“Jika kamu tidak melakukannya, maka dapat ku pastikan perusahaan istrimu akan hancur besok.” Kata Tuan Wilson sedikit menekan dan terdengar mengancam. Angga hanya menghembuskan napas sejenak kemudian dia mengeluarkan ponselnya dari saku menunjukkan rekaman yang ia miliki.


“Apa Kakek ingin terkena skandal lagi?” Angga menunjukkan bukti rekaman saat Tuan Wilson mengancamnya dan menyuruhnya menceraikan istrinya. 


Namun sikap Tuan Wilson terlihat tenang tidak merasa takut sama sekali terhadap bukti yang ditunjukkan Angga. Kakek tua itu justru menyerahkan beberapa berkas pada Angga. 


“Lakukan apa maumu, aku tidak peduli. Skandalku dengan Ammely Thompson sudah berakhir. Hal kecil seperti ini tidak akan dapat mengancamku.” Tutur Tuan Wilson dingin, dia beralih menatap Romi mencoba memperingatkannya untuk tidak ikut campur. 


Satu jam yang lalu skandal Tuan Wilson dengan Ammely Thompson telah diurus oleh orang-orang dari pihak Ammely. Kekuasaan Ayah Ammely dalam bidang pemerintahan mampu menyelesaikan hal kecil seperti ini dengan mudah. 


“Jemy, hubungi perusahaan rekan bisnis kita yang ada di Singapura dan Indonesia untuk segera melakukan penarikan modal dari Jewelry Group.” Perintah Tuan Wilson mutlak, Jemy mengangguk mengerti dan segera melakukan panggilan seperti yang diperintahkan Tuannya tadi. 


Napas Angga naik turun, tangannya terkepal kuat rasanya ia ingin memukul pria tua dihadapannya ini. Namun Angga menahannya mengingat kedaannya akan semakin runyam jika ia melakukan hal tersebut. 


Romi sudah berkeringat dingin, jantungnya berdetak cukup kuat. Romi tahu betul bagaimana kekuasaan Tuan Wilson, sekali dia menginginkan sesuatu pasti itu akan terpenuhi. 


“Tuan anda tidak perlu melakukan sampai sejauh ini,” tutur Romi mengingatkan namun seperti biasa itu hanya menjadi angin lalu bagi Tuan Wilson. Angga sudah tidak dapat menahan emosinya jadi tanpa berpikir panjang ia bangun dari duduknya dan menarik kerah kemeja Tuan Wilson dengan kasar. Hampir saja Angga melayangkan tinju pada wajah Tuan Wilson jika seseorang tidak menahannya. 


“Angga hentikan,” peringatan itu berasal dari suara seseorang yang dia kenal.


“Nyonya?” Ujar Angga cukup terkejut saat mengetahui bahwa istrinya Keisha telah berada di pintu masuk Kafe dengan pakaian formal yang selalu melekat ditubuhnya saat perempuan itu bekerja di kantor dulu.   

__ADS_1


Sana mohon maaf yang sebesar-besarnya bagi para reader yang sudah menunggu MOW sejak semalam🙏🙏


   


__ADS_2