
...~Tidak ada yang menginginkanku atau mengerti tentang diriku. Kecuali dia, perempuan penyuka Mawar Kuning~...
...(Julian Fernandez)...
......***......
Dua puluh tahun lalu, tepat pada hari ulang tahunku yang ke -17.
"Kita sudah menjual semuanya! Tidak ada lagi yang tersisa! Semua habis untuk pengobatan Julian!"
Suara menggelegar itu datang dari ruang lain. Saat Julian baru kembali ke rumah karena dokter mengizinkannya. Namun, bukan sambutan hangat yang ia terima melainkan pertengkaran kedua orang tuanya. Bahkan, pemuda itu masih memakai seragam rumah sakit.
"Kita bisa jual rumah ini. Asal Julian tetap bisa berobat." Wanita yang telah merawat Julian memohon, meminta ketulusan dari sang suami. "Sementara sampai aku bisa mendapatkan pekerjaan kita bisa tinggal di kontrakan," tawarnya lagi memelas.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut lelaki berkumis tipis itu. Dia merupakan seorang sopir taksi, gajinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya semenjak Julian didiagnosa memiliki gagal ginjal dan kerusakan tulang sumsung. Setiap hari anak mereka memakan biaya untuk cuci darah dan keperluan administrasi lainnya.
"Hah, baiklah kita jual rumah ini. Semoga uangnya cukup untuk beberapa bulan ke depan."
Tampak sinar kebahagiaan muncul di wajah istrinya. Ia senang, begitulah kasih ibu kepada anak mereka. Karena meski tidur tanpa atap pun asal anaknya bisa hidup menghirup udara segar di muka bumi ia sudah bahagia.
Deritan pintu tanpa sengaja terdengar. Kedua orang dewasa itu menoleh, melihat ke arah ambang pintu. Di mana sosok pemuda berdiri di sana menatap mereka dengan tatapan bersalah.
"Julian," ucap pasangan suami istri itu bersamaan.
Pemuda yang dipanggil mengangkat wajah memberikan seulas senyum. "Maaf atas semuanya," ungkapnya berbalik lalu beralih pergi. Kehadirannya di tengah-tengah keluarga asuhnya hanya menjadi beban belaka. Padahal ia bukan anak kandung mereka. Namun, dengan sangat perhatian dan sayang keduanya telah menyayangi Julian layaknya anak sendiri.
__ADS_1
"Julian!"
"Nak jangan pergi!"
Mobil taksi yang kebetulan lewat di depan rumah menjadi sarana Julian kabur dari sana. Ia tidak ingin menyengsarakan kedua orang tuanya lagi.
Hampir dua jam berkendara, mobil taksi berhenti di dekat taman bunga. Lingkungan cukup sepi, tampak lenggang dengan rerumputan yang basah karena gerimis mulai turun.
"Total biaya perjalanan 150 dollar."
Julian merogoh saku celananya, ah ia lupa kalau tidak punya uang. "Paman, bisa saya menyicilnya nanti." Raut sang sopir mengeras. "Kalau tidak punya uang seharusnya tidak usah naik," ketusnya.
Tidak lama setelahnya Julian turun, sopir itu menancap gas meninggalkannya dengan marah-marah. "Aku harus mencari pekerjaan untuk bertahan hidup," monolognya berjalan ke taman duduk di kursi sambil bersilang tangan.
Gigi Julian bergemelutuk, menahan hawa dingin lebih dari tiga puluh menit. Dia meringkuk menggunakan kedua tangannya untuk memeluk lutut.
'Kau harus menjaga kesehatanmu.'
Pesan dari dokter Gazen teringat. Ia ceroboh, saat ini dirinya justru kehujanan. Melihat sekeliling tidak ada tempat berteduh. Jika ke kafe ia tidak punya uang untuk memesan minuman.
Tiga puluh menit Julian berteduh di kursi taman, mencoba berlindung di sedikit dedaunan. Namun, hujan tetap membasahinya karena helaian Akasia pun tak mampu meneduhkan dirinya dari gerimis..
Saat tubuhnya menggigil dengan muka pucat pasi, bayangan seseorang datang menghampiri. Sosok itu membawa payung transparan. Di tangannya ada sebuket Mawar Kuning. Dia memiliki mata yang indah berambut panjang hitam legam.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya. Julian termangu hanya menatap pada Keisha. Mahasiswi dari NSCAD University of Canada. Jurusan Jewelry Desaign. "Kau demam?" Keisha panik, perempuan itu menyentuh dahi remaja tersebut. Hari ini ada upacara penyambutan mahasiswi baru, kebetulan perayaan itu dilakukan di dekat kafe di sini.
__ADS_1
"Saya tidak apa-apa." Julian mengalihkan pandangannya, ia baru sadar terlalu lama menatap wanita berjaket itu. "Anda tidak perlu cemas," tambah Julian lagi memalingkan muka bersikap acuh.
"Pakai ini, aku akan memanggil taksi."
Tanpa bisa menolak Keisha telah menaruh jaketnya di punggung Julian, memberikan payungnya. Perempuan itu kembali ke jalan raya mencari taksi yang lewat. Ia menggerakkan tangannya menghadang semua kendaraan roda empat.
'Apa dia bodoh? Kenapa dia menolong orang asing?'
Bibir Julian yang sebelumnya tetap tertutup perlahan tersenyum tipis, saat melihat Keisha seperti orang gila yang mencari taksi di tengah hujan.
'Tapi ini terasa hangat.'
Kepala Julian bersandar pada lututnya menjadikan jaket Keisha sebagai tumpuan tidur. Walau hujan mendera ia tidak lagi merasakan dingin sedikit pun. Mungkin inilah awal kisah dari cintanya secara sepihak. Laki-laki remaja yang tak pernah bersentuhan dengan perempuan bisa tersenyum hanya karena seorang yang memberinya payung dan jaket di bawah rinai hujan.
.
.
.
.
.
~Terima kasih yang sudah setia menunggu. Karena Suamiku Tunanetra telah tamat maka Sana akan fokus nulis MOW lagi.
__ADS_1