My Old Wife

My Old Wife
Tidak Habis Pikir


__ADS_3

~Tidak semua keputusan yang terburu-buru, itu buruk. Ada kalanya hal itu justru memberikan kebaikan untukmu~


Setelah menaiki lift dan sampai di lantai lima, Angga bergegas menuju ke ruangan besar yang sudah diisi penuh oleh manusia. Fina, sekertaris Keisha menyambutnya di depan pintu utama. Perempuan itu diamanahkan oleh Tuan Heru untuk menjemput calon menantunya.


"Nona Fina, apa Anda datang untuk menjemput saya?" Tanya Angga ramah, pemuda itu berhutang budi pada Fina. Karena dia telah memberikan nomor ponsel Keisha padanya, jika tidak? Maka hubungannya dengan Keisha tidak akan sampai sejauh ini.


"Bu Keisha dan Tuan Heru sudah menunggu di dalam," jawab Fina tanpa basa-basi.


Perempuan itu selalu bersikap profesional dalam bekerja, dia mengantarkan Angga menuju ke Hall utama seperti yang diperintahkan atasannya. Baru selangkah Angga memasuki ruangan, bunyi kamera yang memotret terdengar bergantian. Mereka sedang mengambil scene yang bagus untuk surat kabar maupun majalah mereka.


Angga tidak merasa terganggu akan hal itu, dia justru berjalan dengan elegan seolah-olah dia sedang mengikuti fashion show. Langkahnya pelan dan senyum manis dibibirnya membuat para wartawan semakin antusias, mereka akan mengambil gambar yang paling bagus.


Angga kemudian berjalan menuju ke kursi di samping Keisha, posisi kursi mereka tepat berada di tengah-tengah antara Tuan Heru dan Kevin serta Nona Anggie dan asistennya Lusiana. Sementara untuk Ferdian dan Fina yang merupakan pekerja di sana berdiri tepat di samping meja panjang konferensi itu.


"Maaf Ayah mertua, aku terlambat," ucap Angga sedikit malu sembari menarik punggung kursi untuk didudukinya.


Heru hanya menatapnya tajam sesaat seperti memberikan isyarat agar pemuda itu segera dusuk di kursinya. Tanpa membuang waktu konferensi pers itu pun dimulai, wartawan mulai mengajukan berbagai macam pertanyaan, mereka berupaya untuk menggali informasi sebanyak mungkin.


"Tuan Heru, apa benar putri Anda akan melangsungkan pernikahan dengan Tuan Angga?"


"Iya benar."


"Apa Anda merestui hubungan yang dijalin oleh Nona Keisha dan Tuan Angga?"


"Aku merestuinya, siapa pun yang dinikahi putriku aku akan merestuinya. Yang terpenting bagiku adalah kebahagiaan putriku."


"Apa ini tidak menjadi masalah untuk Anda, karena mempunyai menantu yang usianya lebih muda dari Anda? Lalu bagaimana jika nanti tersebar citra buruk di kalangan teman bisnis Anda? Apa itu juga tidak masalah?"

__ADS_1


Heru menatap mata para wartawan itu secara bergantian, dia merasa bosan kalau harus membahas tentang citra dan bisnis miliknya.


"Tidak ada masalah untukku, dapat aku pastikan semuanya akan berjalan seperti biasanya. Lagi pula, aku tidak pernah mencampurkan urusan pribadi dengan masalah pekerjaan. Meskipun nantinya bisnisku mengalami kemunduran, itu bukan karena putriku ataupun menantuku. Itu murni kelalaianku dalam mengurus perusahaan."


Wartawan segera mencatat informasi yang mereka dapatkan baik melalui alat perekam maupun otak mereka.


"Apa itu berarti Anda mendukung pernikahan ini Tuan?" Tanya salah seorang wartwan mencoba menyimpulkan apa yang dia dengar dari Heru.


"Iya saya mendukung keputusan putri saya dan Angga untuk segera menikah," jawab Heru mutlak dan tegas.


Para wartawan mulai mencatat lagi. Setelah mereka cukup puas mendapatkan jawaban dari Heru. Para wartawan itu beralih menanyai Nona Anggie Nicolin, direktur dari Flow.X. Entertainment Industrie.


"Nona Anggie, saat Konferensi Pers semalam Anda terlihat sedikit kesal kepada Tuan Angga, apakah Anda akan menentang hubungan yang dijalin Nona Keisha dengan model baru Anda? Apakah Anda tidak takut akan mengalami kerugian karena pasti nantinya pemuda yang sudah Anda pilih ini akan kehilangan banyak penggemarnya karena dia telah menikah? Bahkan istrinya memiliki usia yang terpaud jauh darinya."


"Saya sudah mendiskusikan ini dengan para staf saya, saya pasti khawatir kalau penggemar Angga tidak akan sebanyak dengan para model yang lain. Atau bahkan dia akan mengalami masa-masa yang berat. Tapi saya tidak dapat ikut campur dalam urusan pribadi Angga, jika dia sudah memutuskan bahwa dia akan menikahi Nona Keisha. Saya hanya bisa mendukungnya. Adapun masalah yang muncul nanti akan kami tutupi dengan hasil kerja Angga yang memuaskan di dunia permodelan. Dengan profesionalitas pekerjaannya, saya yakin publik akan segera melupakan rumor yang buruk tentang Angga."


Pertanyaan-pertanyaan lain pun juga mulai bermunculan. Hingga sampai pada beberapa pertanyaan terakhir. Dan pertanyaan ini memang disimpan oleh wartawan hanya untuk di jawab oleh pasangan tersebut.


"Iya saya mencintainya, dia adalah wanita ketiga yang saya cintai setelah Ibu dan Kakak saya," jawab Angga dengan senyum yang lebar.


"Ah rasanya saat ini aku sedang membuat pengakuan untuk Nyonya, jantungku sedikit berdebar," batin Angga.


Pemuda itu melirik ke arah Keisha, dia dapat melihat wajah Keisha dari samping. Perempuan itu meski memakai pakaian formal tetapi tetap terlihat anggun, wajahnya yang dewasa memberi makna tersendiri untuk Angga.


"Nona Keisha, Tuan Angga bilang bahwa dia mencintai Anda sepenuh hati. Apakah Anda juga mencintai Tuan Angga?"


Deg... Deg... Deg..

__ADS_1


Jantung Angga berdetak menanti jawaban wanita di sebelahnya ini, dia masih melihat wajah Keisha dari samping menunggu jawaban calon istrinya. Namun lebih dari dua menit perempuan itu, tidak membuka suaranya.


"Tuan, calon istriku ini terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya di depan publik," kata Angga mengubah topik.


"Tidak ada alasan untukku tidak menyukai pasanganku," jawab Keisha.


Angga yang mendengarnya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Keisha. Pernyataan Keisha barusan seolah-olah adalah kunci untuknya membuka hati perempuan itu. Sementara itu, bagi Keisha hal tersebut merupakan hal yang wajar untuk menyukai pasangan sendiri. Meskipun sekarang dia tidak mencintai Angga tapi mereka akan segera menikah, jadi dia harus belajar mencintainya. Walaupun pada awalnya itu akan terasa sulit olehnya, namun tidak ada salahnya untuk mencobanya. Karena pemuda ini sudah menyelamatkan nyawanya.


"Nyonya, terimakasih," ucap Angga kecil tepat di daun telinga Keisha, dan hanya perempuan itu yang dapat mendengarnya.


Mata Keisha masih menatap ke depan kamera, melihat para wartawan itu yang mulai memotret dirinya dan Angga. Acara konferensi pers itu pada akhirnya berakhir dengan damai, tidak ada aksi ricuh dan drama lainnya. Nona Anggie juga mengucapkan terimakasih kepada wartawan yang terlihat tenang. Mereka semua menarik napas lega. Kini hanya ada Keisha, Angga, Nona Anggie, Tuan Heru, Kevin, Ferdian dan Fina di ruangan itu. Ketegangan mereka telah berakhir.


"Tuan Heru, saya ingin meminta satu hal pada Anda," kata Nona Anggie membuka pembicaraan.


"Saya ingin Angga dan putri Anda segera menikah, agar karir Angga juga segera di mulai. Saya ingin sebelum Angga secara resmi bekerja dengan kami dia sudah menjadi menantu Anda. Jadi jika suatu saat mulai muncul rumor tidak baik tentang Angga dan putri Anda, kita dapat menghadapinya dengan tenang. Karena hubungan mereka sudah sah secara hukum," jelas Nona Anggie lagi.


"Aku sudah mempertimbangkannya," kata Heru seraya menyandarkan kepalanya di kursi, kepalanya masih merasa pening sebab acara konferensi pers tadi.


"Kita akan melangsungkan pernikahan mereka satu pekan lagi," ujar Heru sembari mengusap wajahnya kasar.


"Iya itu lebih baik," kata Nona Anggie menimpali.


"Tapi, ada satu masalah. Angga harus segera meminta restu pada keluarganya." Ucap Heru sembari memandang ke arah pemuda itu dengan serius.


"Terutama Ayahmu, Tuan Sebastian." Sambung Heru lagi.


__________________^_^

__ADS_1


Ini EPS 2 untuk hari ini yaa... 🤗🤗


Semoga suka😚😚


__ADS_2