
~Saat aku berbalik melihat ke belakang, dia sudah tidak di sana. Keishaku pergi dan aku tidak tahu ia ke mana~
(As-Sana)
***
Ketika malam larut mereka baru pulang, keduanya menaiki bus kota terakhir yang menuju Ottawa. Keisha duduk di dekat jendela sementara Julian di sisi lain, banyak hal yang mereka lakukan malam ini. Hasil lukisan yang mereka gambar dibawa pulang, Julian menyimpanya sebagai koleksi.
Selama perjalanan mata sembab milik Keisha mulai bersinar lagi, air mata di muka air perempuan itu berseri. Julian selalu memperhatikannya, memastikan ia baik-baik saja. Bahkan saat bus mengisi bahan bakar terlebih dahulu serta terjebak kemacetan. Julian membiarkan kepala Keisha bersandar pada bahunya, ia bilang 'anggap aku bantalmu untuk sementara waktu sampai kita tiba di Ottawa'.
Harum shampoo Keisha sejak malam itu selalu Julian ingat, aroma tubuhnya, dan napas perempuan ini yang teratur menenangkan. Semua itu menjadi kenangan Julian yang teramat terindah sampai akhir bulan. Karena setelah hari pertama musim semi Keisha tidak pernah berkunjung lagi ke rumah sakit.
Dokter Gazen bilang wanita itu melakukan terapi ekstra untuk perut bagian dalamnya sehingga ia tidak bisa sering berkunjung ke sini.
"Kenapa kau tidak meminum obatmu?"
Julian meraba kanvas yang masih ia simpan lebih dari tiga bulan lamanya. "Dokter Gazen." Lelaki yang dipanggil berhenti mencatat perkembangan kesehatan Julian. Ia kini menatap manik kecokelatan milik remaja itu. "Bisa kau belikan aku alat lukis, aku ingin menyempurnakan lukisan ini," tuturnya menyentuh gambar wajah Keisha yang belum selesai ia lukis malam itu.
Dokter Gazen tersenyum tipis, "Kalau kau merawat tubuhmu dengan benar, aku akan membelikan satu set alat lukis lengkap untukmu," tuturnya.
"Terima kasih."
__ADS_1
"Kau masih merawat dia?"
Tentu Dokter Gazen tahu siapa yang dimaksud "dia" oleh Julian. Itu adalah Keisha, salah satu pasiennya juga dengan kasus berbeda. "Keisha mulai sembuh, ia akan pulang ke negaranya." Kedua bola mata Julian membulat sempurna, ia terkejut dengan berita dadakan itu.
"Bukankah studinya seharusnya berlangsung satu tahun lagi?"
Dokter Gazen menghampiri Julian, menepuk pundaknya. "Aku tahu kau terkejut, tapi melihat siapa Keisha kau akan tahu bagaimana kerasnya perempuan itu dalam usahanya. Aku dengar Ayahnya meminta ia kembali dengan cepat melalui jalur semester pendek."
Sedikit kenangan tentang Keisha yang mengatakan soal desain rancangan perhiasannya dengan kakak senior menjadi gerbang bagi Julian menebak kalau Keisha bukan membantu tugas kakak seniornya, melainkan ia juga mengambil mata kuliah tersebut.
"Kapan dia pergi?"
"Tadi pagi dengan penerbangan pertama."
"Besok aku akan bawa alat lukisnya, sekarang kau istirahat dan minum obatmu dengan benar," pamit Dokter Gazen menutup pintu meninggalkan Julian seorang diri di ruangan putih yang sepi.
Julian menggosok matanya dengan lengan baju, bulir bening jatuh tanpa diminta. Cuma beberapa tetes tidak lebih. Ia meraba lukisan wajah Keisha yang hanya dalam bentuk sketsa dasaran belum diwarnai. "Aku akan sembuh dan membesarkan namamu Keisha, hingga saat kau datang ke negara ini kau akan mengingatku lagi."
Dua tahun setelah kondisi Julian membaik, remaja itu mulai menekuni profesinya sebagai seorang pelukis. Ia menjelajahi setiap acara pagelaran seni dengan lukisan Keisha. Baik lukisan saat perempuan itu menangis, tersenyum, atau pun tertidur. Semua imajinasi Julian berputar hanya pada Keisha, dengan melukis ia menuangkan segala cintanya. Menganggap Keisha selalu menemaninya di setia waktu dan hari-harinya.
****
__ADS_1
Kembali ke masa sekarang.
Perlahan memori Angga tentang kenangan manis ia bersama Keisha mulai terkumpul menjadi susunan pazel yang hampir utuh. Hari ini Angga akan menghadiri acara sekolah Hasa. Pertemuan khusus orang tua dengan guru pembimbing.
"Ayah!" si Panda kecil telah siap dengan seragam kebesarannya, rompi kotak-kotak dasi kupu-kupu hitam, dan kemeja putih. Angga mengusap pucuk kepala Hasa. "Kau datang sendiri? Di mana Ibu?" tanyanya mencubit pipi gembul Hasa. Bocah itu tertawa menghadapkan wajah Angga ke belakang. "Ibu, Ayah mencarimu!" kekehnya menertawakan Angga yang tertangkap basah memandangi Keisha begitu lama.
Keisha tersenyum manis, berjalan menghampiri dua pria yang menjadi belahan hatinya.
"Ayah, berkedip Ayah!" cetus Hasa menutup kelopak mata Angga yang sedang termenung melihat penampilan istrinya yang begitu menawan. "Anak nakal," timpal Angga mencubit pinggang Hasa gemas karena putranya ini menganggu ia yang sedang menikmati senyum Keisha yang manis.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung.