My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 40 Aku Cinta Kamu


__ADS_3

...~Sekian banyak wanita, tapi cuma Ella yang membuat Eliot menjaga hatinya~...


...(My Ella)...


...Eliot Naver...


...***...


Kedua mata mereka mengunci, mencari celah untuk membaca pikiran masing-masing. Ella menelisik raut muka lelaki itu yang kini diam tak mengatakan apa pun. Hening, hanya ini yang menyapa mereka.


"Aku bisa melaporkanmu ke kantor polisi atas tuduhan penguntitan."


Sorot amarah meletup di manik hazel Ella, rambutnya tertiup angin malam. Eliot yang melihatnya tersenyum tipis. Dia mulai menggerakkan tangan menggunakan bahasa isyarat.


Perlahan pemuda itu mendekat, mengikis jarak yang ada. Dia berhenti di bawah tiang lampu, menyisakan satu meter dengan tubuh Ella. Jari tengah Eliot menunjuk jantungnya.


[Aku.]


Kemudian Eliot menyilangkan kedua tangannya di dada seolah-olah memeluk seseorang.


[Cinta]


Selanjutnya ia menunjuk Ella dengan senyuman manis nan hangat.


[Kamu]


Semilir angin berhembus, butiran salju jatuh di atas kepala. Langit cerah berawan, di sana Ella mematung. Melihat sosok pria memakai jaket tebal cukup lusuh yang baru saja menyatakan cinta padanya. Semesta seolah-olah bungkam, enggan bersuara. Ia memperlambat laju waktu hingga satu menit pun terasa begitu lama.


"Hahahaha.... " tawa Ella terdengar keras. Matanya menatap tajam Eliot.


Gadis itu memegangi perutnya tertawa terpingkal-pingkal. Sesaat kemudian, dia kembali melihat Eliot, meremehkannya.


"Kau gila! Tidak waras! Dan pembohong besar!"


Eliot menggelengkan kepala kencang menolak keras apa yang dituduhkan Ella. Dia mencoba mendekat tapi tangan Ella memberikan jarak.

__ADS_1


"Cukup! Jangan membual dengan hal seperti cinta! Karena aku membencinya!"


Tak menghiraukan Ella, tangan Eliot meraih bahu perempuan itu memeluknya erat. Dia bisa merasakan punggung Ella yang bergetar hebat. "Lepaskan!" Ella memberontak mendorong tubuh Eliot menjauh. Namun, Eliot tak melepaskannya. Dia justru semakin menenggelamkan Ella dalam dekapannya merasakan detak jantungnya yang berdebar luar biasa.


"Dasar psikopat!" umpat Ella melukai bahu Eliot dengan menggigitnya lalu menampar wajah pria itu kasar. "Jangan pernah menyentuhku!" teriaknya lantang. Dia berlari meninggalkan Eliot, menghapus area bibirnya bekas gigitan tadi. Lidahnya berdecak kesal, mulai mendidih.


'Ella, Ibu akan selalu mencintai Ella walaupun semua orang tidak mau berteman dengan Ella.'


Kaki Ella lebar melangkah, tasnya terpelanting ke sana ke mari mengikuti kecepatan larinya.


"Pembohong!" tukasnya marah mengenang Sahira.


'Jika Ella tidak punya teman maka Ibu akan menjadi teman Ella'


"Pembohong! Dasar pembohong!"


Tubuh Ella semakin menghilang dari pandangan Eliot. Wanita itu pergi meninggalkannya di persimpangan jalan. Eliot memegangi dadanya, sesak dan sakit mulai menggerayangi hatinya. Memakan cintanya seperkian detik yang pilu.


[Aku mencintaimu Ella]


Udara malam yang dingin membelai kulit Julian. Dia keluar dari restoran Paman Gio menaiki bus kota menuju ke suatu tempat. Dering ponsel panggilan dari Dokter Zen tidak berhenti terdengar. Lelaki itu duduk di kursi baris kedua, menatap jendela kaca yang buram.


Julian melihat lampu-lampu jalan yang terang berwarna-warni, ada beberapa petugas yang menyekop tumpukan salju yang menebal. "Obat," gumamnya mulai merogoh saku jaket yang menyimpan beberapa kapsul pil putih. Dalam sekali teguk ia menelannya mentah-mentah.


Lima belas menit pening kepala Julian mulai mereda. Dia bisa bernapas tenang. Bus telah berhenti di halte. Segera Julian turun berjalan ke utara menuju pada sebuah bangunan rumah sakit lama. Ada beberapa orang pasien berlalu lalang ditemani sang suster.


Lelaki itu masuk lewat gerbang samping, langsung mencari taman kecil kebun Lili yang saat ini tidak mekar karena tertutup salju. "Hati-hati sayang," suara halus seorang ibu-ibu menasihati putranya yang berlari dengan seragam rumah sakit kebiruan.


"Kakak suka Rose Lili?" suara khas anak berusia sepuluh tahun menyahut. Bocah itu duduk di samping Julian yang sedang memandang taman kecil yang kering. "Iya," timpal Julian singkat.


"Itu melegakan, karena Rose Lili memang cantik dan indah." Komentar bocah itu sebagai balasan.


Sekejap, Julian teringat akan wanita yang pernah mengatakan itu padanya beberapa tahun silam. "Saat kau melihat Rose Lili mekar di akhir musim dingin. Kesedihanmu akan hilang, karena dia telah membawa semua bebanmu pergi."


Kepala Julian mengangguk tanda setuju. "Saat itu kau juga akan punya hidup baru di awal musim semi." Bocah tadi tertawa kecil membenarkan. Seragam rumah sakitnya yang bercorak garis-garis mulai terlipat karena tiupan angin kencang.

__ADS_1


"Dan cinta juga datang diwaktu yang sama. Benar kan?" tanya si kecil memangku tangan. Senyum Julian tersemat, membayangkan wanita itu yang sedang bicara dengannya sekarang.


"Cinta yang tulus dan hangat untuk orang yang berarti dalam hidupmu."


"Siapa orang itu Kak?"


"Keisha."


Deg. Jantung Julian bertalu, ia tersadar. Dia bukan berbicara dengan Keisha tetapi dengan anak kecil. Bocah itu tersenyum lebar, menepuk bahunya. Memberi Julian semangat. "Kakak beruntung memliki orang yang Kakak sayang. Sementara aku, keluar dari tempat ini pun tidak bisa," ucapnya dengan senyuman hangat.


"Ah...., aku benci tubuhku. Seandainya saja aku punya tubuh yang kuat seperti anak-anak yang lain aku pasti akan gembira bermain di luar sana. Mempunyai teman banyak dan menemukan orang yang aku sayang dikemudian hari."


Omongan bocah itu mengingatkan Julian pada dirinya sendiri semasa kecil. Hal yang sama dengan apa yang ia alami dan rasakan. "Tapi aku tidak boleh menyerah, Ayah telah bekerja keras agar aku bisa mempunyai kehidupan normal seperti anak-anak lainnya. Jadi aku harus sembuh dan keluar dari sini secepat mungkin," tambahnya berdiri mengepalkan tangan ke udara.


Kekehan kecil mencuat di bibir Julian, ia turut senang mendengar semangat api yang berkobar-kobar dari anak lelaki seusianya dulu.


'Keisha apa kau masih mengingatnya? Rose Lili yang kita tanam di sini? Cinta yang tulus seperti musim semi.'


.


.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya ❤


__ADS_2