
~Tidak ada salahnya merubah dirimu menjadi buruk rupa, asalkan orang yang mencintaimu bahagia~
Festival musim panas di Kanada biasanya dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Agustus. Acara ini akan digelar di beberapa kota di Kanada, seperti Toronto yang memiliki sejuta pesona dengan pemutaran film dari berbagai negara benua Eropa dan Amerika. Kemudian di Montreal, kota bernuansa Perancis yang memiliki pagelaran musik, pesta kembang api, dan pertunjukkan budaya.
Tidak lupa juga Vancouver yang terkenal dengan Pameran Nasional Pasifik, sebuah pameran terbesar kedua setelah New York. Pameran yang melukiskan multikulturalisme dari rakyat Kanada.
Lalu ada Quebec, kota megah nan indah yang menyelenggarakan parade musim panas selama sebelas hari dengan berbagai macam pertunjukan budaya dan seni yang ditontonkan pada para wisatawan dan penduduk lokal.
Sementara Ottawa lebih dikenal dengan festival musim dinginnya, Winterlude yang menampilkan gambaran negeri dongeng dengan pesta berseluncur di atas salju dan ukiran patung es yang bercahaya di malam hari.
Saat ini Angga dan Keisha sedang berada di Montreal. Mereka tengah berjalan santai di jalur memanjang yang memang sengaja dikhususkan untuk para pengunjung festival.
Meski suasana tampak hangat dengan berbagai macam alunan melodi yang menghibur telinga, namun tampaknya wajah Angga dalam suasana yang buruk. Wajahnya ditekuk seperti kertas kusut yang sudah tidak layak pakai karena telah diremas-remas dan siap dibuang ke tempat sampah.
"Angga," panggil Keisha mencoba membujuk suaminya. Tapi pemuda itu justru semakin mengerutkan alis dan dahinya, tangannya bersedekap di dada, dan ia membuang muka ke samping.
"Kamu pasti senangkan? Melihatku seperti ini," Ketus Angga pada Keisha, tapi perempuan itu justru mengembangkan senyum lebar pada Angga. Tidak mengambil hati ucapan suaminya saat dia sedang 'ngambek'.
Dua jam yang lalu sebelum mereka berangkat ke Montreal. Keisha telah membuat Angga marah. Hal ini tentu karena stylist yang disarankan Romi pada Keisha untuk dikenakan suaminya. Romi mengusulkan pada Keisha agar Angga menyamar menjadi orang lain jika ingin menghadiri festival tersebut.
Pada awalnya suaminya itu telah berpakaian rapi dengan tampilan terbaiknya. Namun mengingat bahwa Angga adalah seorang model yang cukup terkenal. Pada akhirnya, Keisha terpaksa mengikuti saran dari Romi untuk memaksa Angga berganti pakaian seperti yang Romi pilihkan.
Romi memilihkan baju doreng berwarna agak mencolok untuk Angga yang bukan seleranya, lalu celana yang panjang dan agak kedodoran lengkap dengan pengaitnya.
Bukan hanya itu, wajah Angga juga dihias dengan kumis palsu dan kacamata bulat seperti milik Boboho. Rambutnya disisir klimis sangat licin kemudian ditutupi oleh topi berwarna hitam yang agak menonjol ke atas.
Tidak berhenti sampai disana, hal yang mungkin membuat suaminya tambah marah adalah Romi memasang tompel hitam di pipi Angga. Membuatnya semakin terlihat konyol. Tapi tidak untuk Keisha, karena Angga masih terlihat manis walau penampilannya demikian.
"Angga, coba lihat ke sana," kata Keisha halus. Namun Angga hanya berdehem kecil tanpa ada niat sedikitpun untuk menoleh ke arah yang ditunjuk istrinya. Keisha semakin gemas dengan tingkah Angga, jadi ia langsung menangkup kedua pipi pemuda itu dan menghadapkan wajahnya ke layar LED yang ada di toko busana bergaya Victoria.
Keisha mulai meniru gaya Romi yang terbiasa memasang wajah datar dan dinginnya. "Jika Tuan Muda hanya menyamar seperti biasa, para penggemar anda akan dengan mudah mengenali anda. Dan saya yakin acara kencan anda dengan Nona Keisha akan gagal," jelas Keisha meniru suara Romi sembari menunjuk gambar Angga yang menjadi ikon dari toko tersebut.
“Jadi mohon Tuan Muda kali ini saja merubah penampilan anda.” Tambah Keisha lagi seraya menunduk hormat pada Angga seperti yang Romi lakukan saat ia membuat permintaan.
Dalam hati Angga sudah tidak dapat menahan tawanya, ia begitu senang melihat sikap Keisha yang mencoba membujuknya.
Perlahan-lahan bibir pemuda itu agak diangkat ke atas.“Ehem,” Angga mencoba mengatur suaranya.
“Untuk kali ini, aku akan mengalah.” Tutur Angga yang berhasil membuat Keisha tersenyum bahagia dan segera menggandeng lengannya. Mereka kembali berjalan melihat-lihat pameran yang hendak mereka datangi.
__ADS_1
“Kalau begitu, apa kamu sudah tidak marah lagi?” Tanya Keisha dengan nada seperti biasanya.
“Sedikit,” jawab Angga dengan sengaja memasang wajah datar. Keisha yang melihat respon Angga hanya mendengus kecil, ia tidak tahu harus bagaimana lagi mencoba membujuk suaminya.
“Lebih baik kita melihat pertunjukkan yang ada di sana, aku ingin mendengarkan musik Indie,” ajak Keisha sedikit menyesal.
Perempuan itu berjalan mendahului Angga, dan meninggalkannya di belakang. Namun tanpa disadari saat Keisha hampir sampai di depan pintu masuk pertunjukkan musik Indie, Angga langsung menarik tangan Keisha hingga membuat tubuh perempuan itu berbalik menghadapnya.
“Ada apa?” Orang-orang mulai melihat ke arah mereka, karena keduanya tepat berhenti di depan pintu masuk. Tanpa banyak bicara Angga langsung membenamkan ciuman di bibir Keisha. Hingga membuat perempuan itu mematung sesaat.
“Kalau begini, aku tidak marah.” Kata Angga sedikit tersenyum tipis seraya mengusap bibir ranum istrinya. Pemuda itu telah berhasil membuat Keisha malu di depan umum.
“Jangan lakukan itu lagi,” ucap Keisha seraya menundukkan kepalanya dan memukul lengan Angga. Tapi pemuda itu justru tertawa bahagia tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Sayang kamu mau kemana? Bukannya tadi kamu mau melihat pertunjukkan!” Panggil Angga sedikit keras di sela-sela tawanya saat melihat Keisha tiba-tiba berbalik dan berjalan menjauh dari tempat pameran tersebut.
“Istrimu pasti sangat malu Nak,” tegur seorang kakek seraya menepuk bahu Angga. Kakek itu merupakan salah satu pengunjung di sana.
“Iya, sepertinya aku sudah keterlaluan.” Jawab Angga sedikit bersalah sembari menggaruk tengkuk lehernya.
“Tidak apa-apa Nak, pasangan muda memang seperti itu,” tutur salah seorang wanita tua yang ada di sebelah kakek tadi. Terlihat jelas bahwa kakek dan nenek itu merupakan pasangan suami istri.
Meski ciuman di depan umum sudah terbiasa di luar negeri, tapi tetap saja hal tersebut membuat Keisha malu sampai ke ubun-ubun. Bagaimana tidak? Walaupun Keisha tinggal di Kanada. Tapi tetap saja ia adalah orang Asia yang mengikuti Budaya Timur.
“Sayang,” panggil Angga ramah. Dapat ditebak bahwa pemuda itu sedang mengikutinya. Langkah kaki Angga terdengar jelas dari belakang. Keisha hanya diam tanpa menanggapi panggilan Angga. Perempuan itu sedang tidak ingin melihat wajah suaminya.
“Maafkan aku,” sambung Angga lagi. Kali ini nada bicaranya terdengar serius, ia meraih tangan Keisha yang terasa dingin.
“Aku janji tidak akan melakukannya lagi,” ujar Angga tepat di telinga Keisha. Pemuda itu sedang memeluk tubuh istrinya dari belakang. Keisha hanya menghembuskan napas sejenak kemudian melepaskan dekapan tangan Angga perlahan-lahan dari bahunya.
“Jangan ulangi lagi.”
“Iya, aku tidak akan mengulanginya.” Keisha tersenyum mendengar jawaban Angga. Namun senyuman itu luntur saat pemuda itu meneruskan ucapannya.
“Aku hanya akan melakukannya di hadapan Romi dan Lianda.” Keisha langsung menarik daun telinga Angga, hingga pemuda itu mengaduh kesakitan.
“Ini sakit Nyonya,” keluh Angga. Keisha yang melihatnya pun tidak tega. Ia segera melepaskan jewerannya pada telinga Angga.
“Maafkan aku,” ucap Keisha lirih. Namun Angga justru tertawa senang. Pemuda itu mendekatkan dirinya ke arah perempuan yang dicintainya dan membisikkan sesuatu di sana.
__ADS_1
“Ini tidak sakit sayang, hanya sedikit memerah. Jangan khawatir, lagi pula ini tidak akan seberapa dibanding hukuman yang akan kamu berikan jika ___ kita melakukannya di hadapan Kakek dan Ayah mertua.” Suaranya semakin tidak terdengar diujung kalimat.
Sebelum istrinya menyadari arti dari ucapannya barusan. Angga buru-buru mencium pipi Keisha. Pemuda itu tersenyum lebar sembari membenarkan kacamata dan kumisnya yang hampir terjatuh.
“Kenapa kamu menyebut Kakek dan Ayah?”
“Aku tidak mengatakan apa-apa sayang, kamu pasti salah dengar.” Elak Angga tetap santai menaruh kedua tangannya di belakang kepalanya.
“Tapi__.”
“Jangan terlalu dipikirkan sayang, lebih baik kita menikmati pesta kembang apinya.” Angga menarik tangan Keisha, membawa perempuan itu mendekat ke arah kerumunan dan mencari tempat yang sesuai untuk menikmati pertunjukkan kembang api yang akan segera dilaksanakan.
Menjelang tengah malam, kembang api itu dinyalakan. Saat warna-warni dari petasan itu menghiasi hamparan langit yang luas, para pengunjung mulai mengambil ponsel mereka untuk mengabadikan momen indah tersebut.
“Angga bisakah kamu memotretnya untukku?”
Angga masih belum menjawab, sejak tadi pemuda itu memang sudah memegang ponsel bersiap memotret jika pesta kembang apinya dimulai. Namun, karena terlalu fokus menatap wajah Keisha yang tengah asik memandang langit. Ia justru lupa tujuan awalnya, dan berakhir memotret perempuan di sampingnya.
“Apa sudah selesai? Aku ingin melihatnya.” Keisha mencoba meraih ponsel Angga, namun pemuda itu segera memasukkannya ke dalam kantung celananya.
“Ah itu, Nyonya. Maksudku sayang, nanti akan aku tunjukkan saat sudah mencetak gambarnya,” kata Angga gugup seraya tersenyum konyol seperti biasanya. Keisha yang menyadari kalau Angga berbuat kesalahan tidak mendesaknya lagi.
“Jika kamu tidak berhasil memotretnya, tidak apa-apa, aku akan memintanya pada salah satu pengunjung di sini.” Kata Keisha seraya membenarkan kumis Angga yang sedikit agak miring.
“Sebenarnya____.” Angga mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan menunjukkan hasil foto yang ia ambil tadi. Beberapa gambar Keisha saat sedang tersenyum dari samping.
“Maafkan aku,” kata Angga sembari menundukkan kepalanya. Keisha yang melihat Angga mulai bersedih pun segera mengangkat dagunya dan tersenyum tulus.
Salah satu tangan perempuan itu memeluk leher Angga dan yang lainnya menyalakan layar kamera. Ketika wajah Angga dan dirinya sudah terlihat di kamera, Keisha segera menekan tombol merah hingga ponsel itu mengeluarkan bunyi ‘cekrek’ dan berhasil mendapatkan sebuah gambar.
“Ini baru benar, aku menyukainya.” Puji Keisha seraya menunjukkan foto mereka berdua pada pemuda itu.
Angga langsung memeluk tubuh Keisha begitu erat hingga ia tidak sadar topinya ikut terjatuh. “Aku mencintaimu Nyonya,” kata Angga senang. “Aku juga,” balas Keisha seraya mengusap punggung Angga yang lebar.
Malam itu mereka menghabiskan waktu berdua di Montreal, menikmati festival musim panas yang masih berlanjut. Mereka membuat banyak kenangan untuk mengobati rasa rindu mereka untuk beberapa waktu ke depan. Karena hari esok pemuda itu harus kembali ke Singapura.
Mohon Maaf Reader karena kemarin gak sempat update. 🙏🙏
Sana juga mau memberitahu kalau MOW sudah menjadi 'audio book'. Jadi jika kalian lagi malas baca bisa mendengarkan audio booknya. InsyaAllah suaranya Dubbernya dek 'Putri Auliya' enak didengar🤗🤗
__ADS_1